A Little Girls Question
(In order to learn English, since my English was horrible XD)
I’d capture a story about a little girl. I guessed her age were about three to four years at that time. Once she was looking upon the sky. A beautiful night sky with a lovely full moon and scattered stars. Then a thought cross of her mind, she found something to ask. Therefore, she decided to ask straightaway, without waiting any seconds to keep the question in her mind. Then she said, “Why moon always follow after me wherever I go?”
People who had listened to her question were laughing at her. They maybe think that she was so funny. Moon doesn’t follow anyone. Moon doesn’t even have any feet to walk. People kept laugh at her and didn’t realize that something might go wrong. Well, maybe there was nothing wrong. Neither the question, nor peoples who laugh at her. Maybe the question was very cute, so was her expression when she asked that. But the girl had grasped something that she shouldn’t even catch.
From that day, if she had any question to ask, she would think many… many times before she got the question came out her mind and transformed into words. Scare, shame, always come around her when she think she have to ask. She scared that the question might very fool so it would only bother the others. She would feel ashamed if her question was just the things that had been explained.
When she at the elementary school, she went with a car. She saw trees in a range formation. Some of them are in front of the others. She was watching it, and trying to understand that when she was moving with the car, the trees were doing the same thing in her sight. The frontage trees seemed leaving her faster than the back one. In her sight, she found that the back range trees following her before they actually going backward. She got the “aha” about her own question that she had asked many years ago. It should have been explained by the theory about time, velocity, and distance. Moon might didn’t following her that night, the distance between moon and her that made it seemed to move and go along her.
Therefore, she decided to find and answer her own question. She lived in her own mind. She often wonders about the answers that others would give for her questions. She has trying to figure out and answering her own questions so many years in her life. She made self-addressed questions. If someone asked, she would try to guessing and answering the question, even the question wasn’t for her.
Then she grew old. She still kept her question about “following moon”. She never lost her curiosity about many things yet still tried to answer her questions by herself. She learned so many things in her life, but so many questions that should have been asked just being threw by her. Time goes by and latter on, she found that she had wasted so many times because of her fatuity.
Nobody knows what would happen if peoples who listened her question didn’t laugh at her, neither she would. Nobody knows what would happen if the people answered her question appropriately. If they just pretended not to hear her question. If they just smiled at her and said, “You’ll find out why moon is chasing after you”. If they made a joke for her by saying, “Yeah… look… it is coming after you… watch out!! Oh no it is becoming bigger and bigger!! Be careful… it may fall into you!! Noooo… booom… kazoom!!!!”
Well for me, her story was inspiring. Our action, no matter how small it was, it could affect others. I believe that every action was neutral yet every reaction that made something become negative or positive. There was a space between every action and every reaction… something called selection. I’m hoping that I could give my best reaction for every action that came to me, especially when it related to children.
12 comments March 19, 2009
Mindful Of Death, A Powerful Tools
Membuka-buka koleksi lagu-lagu yang entah sengaja atau tidak tersimpan di laptop ternyata cukup menyenangkan. Mengantarkan pada masa-masa ketika lagu-lagu tersebut sering diputar, makna dan suasana yang dibawanya. Hal itu mengantarkan saya untuk membuka lagi dua buah lagu yang sering saya putar kalau lagi bebal-bebalnya dan dalam kondisi pingin “insyaf instant” XD.
Yang pertama lagu yang tampaknya super jadul yang entah saya dapat darimana. Judulnya pun walau singkat cukup mengerikan…. “Kematian” dari Suara Persaudaraan. Yang kedua, tak kalah mengerikannya “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” yang dilantunkan Alm. Chrisye. Here’s the brief for the songs:
Kematian, Suara Persaudaraan
Berbekallah untuk hari yang sudah pasti, sungguh kematian adalah muara manusia.
Relakah dirimu menyertai segolongan orang, mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa.
Rasulullah bersabda perbanyaklah mengingat akan pemusnah segala kenikmatan dunia.
Itulah kematian yang kan pasti datang kita tak tahu kapan waktunya kan menjelang.
Menangislah hai sahabat karena takut kan Allah niscaya engkau kan berada dalam naunganNya.
Di hari kiamat di saat tiada naungan untuk manusia selain naunganNya.
Dalam ampunanNya dalam maghfirahNya dosa pun berguguran bak daun dari pepohonan
Ketika Tangan dan Kaki Berkata, Alm. Chrisye
Akan datang hari mulut dikunci kata tak ada lagi.
Akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita.
Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya.
Berkata kaki kita ke mana saja ia melangkahnya.
Tidak tahu kita bila harinya tanggung jawab tiba.
Rabbana, tangan kami… kaki kami… mulut kami… mata hati kami…..
Luruskanlah… kukuhkanlah… di jalan cahaya sempurna.
Mohon karunia kepada kami hamba-Mu yang hina
Walau menurut Abu Sangkan, menangis karena mendengar lagu seperti itu hanya “kesadaran sesaat” atau keinsyafan karena “nada melankolis”, tapi buat saya memaknai kata-kata dalam lagu seperti itu lumayan efektif untuk mengingatkan kembali betapa singkatnya hidup ini. Tentang betapa rapuhnya kehidupan yang kita lalui. Tentang masa persinggahan untuk pencarian bekal. Tentang betapa masih banyaknya hal yang saya sia-siakan. Tentang menumpuknya dosa yang saya panggul. Tentang masih bodohnya saya akan makna “perintah dan larangan-Nya”. Tentang orang-orang di sekeliling saya… yang saya cintai, yang saya sakiti, serta yang saya cintai dan sakiti sekaligus.
Membuat saya bisa kembali mempertanyakan apa makna hidup yang saya jalani. Untuk apa saya diciptakan. Siapa saya? Apa tujuan saya? Dan bagaimana mencapainya? Membawa saya kembali bermimpi untuk menjadikan hidup saya lebih bermakna dari sekadar siklus:
HIDUP -> masa-masa di rumah -> sekolah -> bekerja -> menikah -> punya keturunan -> MATI
Kembali mempertanyakan benarkah hidup ini karena singkat maka harus dimanfaatkan untuk menikmati sebisa mungkin dunia ini? Benarkah kita mampu melalui siklus: muda hura-hura à tua kaya raya à mati masuk surga? Benarkah tidak ada konsekuensi dari setiap apa yang kita lakukan di dunia ini? Benarkah hidup ini kita yang mengatur? Benarkah “we own our life, it’s our and only we who have the full authorized to aim it”?
Jika jawabannya ya, rasanya akan muncul banyak pertanyaan yang tak terjawabkan dalam pikiran saya. Tapi jika jawabannya tidak, pertanyaan yang belum mampu saya jawab hanya satu: sejauh mana saya menyiapkan bekal untuk kematian saya?
5 comments February 23, 2009
Makna Sebuah Kehilangan
Awan hitam masih menggelayut manja di pelataran langit. Seakan memahami bahwa terik tak akan cukup indah di siang hari itu. Wanita itu tertatih menghampiri sesosok tubuh pria yang ditutupi sehelai kain tradisional. Perlahan dibukanya kain yang menutupi bagian wajah pria itu. Matanya nanar menatapi wajah pria yang cinta saja tak cukup untuk mendefinisikan perasaannya pada pria itu. Putih, kaku, namun seberkas cahaya dan seulas senyum samar membuat hatinya agak berlega hati. Ia kembali menutup kain itu, entah apakah ia menyadari dengan sungguh hati bahwa itulah kali terakhir ia menatap wajah pria yang telah menemani hidupnya hampir 60 tahun lamanya.
Jam berganti jam, perlahan ia mulai semakin menyadari apa yang terjadi padanya. Tatkala ia berbaring, tak ada sosok yang menemaninya di tempat tidur. Ketika azan berkumandang, tak ada yang pamit padanya untuk menuju masjid. Saat pagi menjelang tak ada lagi sosok yang meneguk perlahan segelas kopi di kursi pinggir pintu belakang. Tak ada, tak ada lagi yang mendengarkan cerita-ceritanya tentang ini dan itu. Tak ada suara batuk yang dulu sering membuatnya terbangun di malam hari. Tak ada suara tawa yang terkekeh renyah lagi. Tak ada, dan semakin lama semakin banyak “tak ada” yang ia sadari.
Semua sudut ruangan adalah kenangan bersamanya. Setiap jam dalam semua hari dipenuhi adanya ia dan tingkahnya. Dan setiap kali menyadari itu, perlahan sebentuk buliran bening mengalir lembut di pipi keriputnya. Buliran bening itu kemudian ditingkahi beribu penyesalannya. Sesal akan setiap kemarahan, kekesalan, atau lakunya yang lain yang mungkin menyakiti pria itu. Sesal itu kemudian dilanjutkan dengan jutaan jika… andai… kalau saja…. Namun ia tahu dan ia berusaha menyadarkan dirinya bahwa ia telah ikhlas akan kepergian pria itu, dan yakin bahwa pria itupun telah mengikhlaskan dan memaafkan kealpaannya.
Di sudut yang lain, putra-putrinya tak kalah kehilangan. Sama sepertinya, ribuan sesal menyesaki mereka. Sesal akan bakti yang rasanya tak mencukupi walau memang tak akan pernah mumpuni. Sesal karena tak sempat meminta maaf secara langsung. Sesal akan ini dan itu. Dan jutaan andai pun lagi-lagi menyergap. Namun mereka pun sadar bahwa segalanya adalah kehendak-Nya, dan hal yang tersisa bagi mereka adalah ikhlas, doa, dan usaha menjadi anak shaleh demi menjadi amal jariyah.
Dan seisi rumah itu sesungguhnya disesaki oleh rasa kehilangan, yang juga menyempilkan rasa sesal.
Mungkin itulah sebuah makna kehilangan. Kehilangan yang seringkali diikuti oleh penyesalan. Hal yang membuat saya berpikir untuk melakukan hal-hal yang ingin dan harus saya lakukan sebelum saya kehilangan lagi orang-orang yang saya cintai. Walau menyadari tak pernah ada yang sempurna, minimal saya ingin sering-sering berkata maaf dan ingin sering-sering menyisipkan kalimat bahwa saya mencintai kalian karena-Nya, insya Allah.
Jadi, karena saya sendiri mungkin jadi orang yang lebih dahulu dipanggil-Nya, dengan ini saya ingin mengucapkan maaf atas semuanya, dan bahwa sesungguhnya dengan izin-Nya, saya ingin mencintai kalian karena-Nya.
“Apa yang ada jarang disyukuri… Apa yang tiada sering dirisaukan… Nikmat yang dikecap baru kan terasa jika hilang… Apa yang diburu timbul rasa jemu jika sudah di dalam genggaman…”
3 comments January 6, 2009
Mukrab, Sebuah Catatan Pinggir 2
Pendahuluan: Haduh, basi nian ini postingan, sebenarnya ini saya tulis sehari setelah mukrab, tapi baru ada kesempatan untuk ngepost sekarang. Yah, walau mukrab sudah berlalu, tapi pesan dalam postingan ini mudah-mudahan tidak akan berlalu dengan mudahnya
Dua pasang mata bulat bening itu tengah saling menjelajah. Bermain kemudian bertengkar, menggoda lalu menjerit manja. Si kakak tengah memainkan kaki sementara si adik belum juga berhenti terbatuk ketika si ibu menyapaku.
“Punten Neng, bisa minta uang buat ongkos?”
Dalam hati terbersit ketidakikhlasan, bukankah ini cara meminta-minta yang sangat umum dijumpai? Tapi akhirnya kukeluarkan juga sejumlah uang, “Mau kemana Bu? Emang Ibu tinggal di mana?”
“Ibu mah kemana-mana, nggak punya tempat tinggal, tidur juga di emperan sama anak-anak,” ia menatap sejenak kedua putri lucunya, yang kelucuannya sedikit tertutupi oleh baju dan muka mereka yang kotor coreng-moreng, “ini mau ke Caringin ke tempat saudara, siapa tahu mau nampung,” ujar sang ibu sambil tak henti berterima kasih atas uang yang tak seberapa itu.
Uang yang diterima si ibu serta merta direbut si kakak, nampak jelas anak itu sangat senang sekaligus sangat jarang melihat apalagi menggenggam uang. Si adik lalu meronta-ronta meminta bagian dari kakaknya.
Turun dari angkot pikiranku masih mengelana, mengapa begitu menyedihkan negeri ini. Ketika yang miskin tak punya harga diri hingga minta-minta dan berputus asa untuk berusaha, hingga tak punya kebanggaan lagi untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sementara itu yang kaya semakin tak punya hati, menjadikan harta sebagai tujuan bahkan tuhan, membenarkan apa yang salah dan menyalahkan yang apa benar.
Aku menatap bungkusan di tanganku, sebentuk kepala Doraemon yang akan digunakan untuk properti acara himpunan bernama Mukrab. Pengelanaan otakku sampai pada satu titik dimana aku mempertanyakan, “Di luar konteks niat sang ibu meminta-minta, apa pikiran itu masih bentuk halus dari ketidakikhlasanku?”
Ya Allah, padahal begitu mudah aku mengeluarkan uang untuk hal yang lain. Padahal uang yang kukeluarkan untuk membuat kepala Doraemon itu besarnya 3x lipat uang yang kuberikan pada sang ibu, dan aku mengeluarkan uang itu dengan senang hati. Padahal aku tahu pasti kepala Doraemon itu hanya akan berakhir di sebuah tong sampah di kampus. Padahal aku tahu pasti pemilik dua pasang mata bulat bening itu lebih membutuhkan uang untuk sekadar mengisi perut mereka.
Dan pengelanaan pikiranku berakhir pada suatu titik: Bahwa kita seringkali merasa ringan mengeluarkan jumlah uang yang besar untuk sesuatu yang mungkin sepele, sementara terasa begitu berat untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang sama untuk hal yang mungkin lebih beresensi. Tak hanya uang… waktu, pikiran, tenaga pun ternyata memiliki nasib yang sama: lebih terasa ringan untuk dicurahkan pada hal yang mungkin esensinya lebih rendah.
Pengelanaan pikiranku terhenti pada pertanyaan: Begitu kesat dan keras kah hatiku hingga memberi dalam jumlah sekecil itu terasa berat?
6 comments December 28, 2008
Mukrab, Sebuah Catatan Pinggir 1
Sejak kecil saya memang dilanda sebuah “penyakit” aneh. Penyakit itu bernama “tidak suka akan keramaian tertentu”. Entah kenapa, tapi memang itulah yang terjadi. Waktu SD, ketika ada pagelaran budaya, saat yang lain tampil untuk menari atau menyanyi di panggung, saya lebih suka diam di kelas membuka-buka buku atau ngobrol dengan teman yang juga ada di kelas.
Waktu SMP, setiap ada acara di kenaikan kelas atau perpisahan yang menampilkan band, atau persembahan kelas seperti menyanyi atau menari juga saya lebih memilih diam di sebuah sekre untuk menulis sesuatu. Dan tak jauh beda, begitupun kehidupan SMA saya, ketika ada acara-acara seperti itu, maka jangan heran kalau saya ada di pojokan masjid atau mushala. Jika saya memaksakan diri atau tanpa sadar telah hadir di acara seperti itu, saya selalu dirundung perasaan kesepian-di-tengah-keramaian secara tiba-tiba. Dan ketika menyendiri atau tiba-tiba merasa kesepian itu, pasti selalu ada masa dimana saya tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas.
Apa saya punya penyakit ayan? Ummm, mungkin saja ya, hehehe? Tapi kalau saya ayan, seharusnya di mana pun terdapat keramaian saya akan kejang-kejang, di pasar, di acara-acara di masjid, di lapangan…. Dan bentuknya kejang-kejang kan bukan menangis?
Seorang teman bilang, mungkin ini hanya karena saya tidak biasa. Benarkah? Kalau karena tidak biasa, kenapa ini terjadi sejak kecil? Bukankah masa kecil harusnya jadi masa penyesuaian? Lagipula sebenarnya saya tidak bermasalah untuk menikmati musik atau tarian tradisional misalnya, malah saya menyukainya.
Entahlah saya sendiri juga aneh dengan kebiasaan saya ini. Penyakit saya ini membuat saya tak bisa mendengar suara musik tertentu yang berdentum-dentum. Tak bisa menikmati sajian tari atau drama tertentu. Tapi jauh dalam hati, saya juga bersyukur akan keanehan saya ini, karena entah mengapa, dalam bentuk yang mungkin aneh dan tak biasa, saya merasa ada yang melindungi saya.
Jadi mungkin karena keanehan saya inilah, saya sangat jarang berpartisipasi dalam acara-acara angkatan. Dan ketika kemarin ada acara mukrab terakhir, saya merasa sedikit bersalah karena tak pernah menghadiri mukrab sebelumnya. Dan saya putuskan untuk membuat sesuatu saja untuk mukrab terakhir ini: kepala Doraemon. Karena jika saya paksakan untuk hadir pun, saya khawatir hanya akan membuat orang-orang merasa khawatir pada saya yang tiba-tiba menangis tak jelas. Jadi maaf untuk semua teman-teman angkatan karena partisipasi saya pada acara-acara angkatan memang tak pernah berarti atau bahkan tak pernah ada.
Hoalah, kok nampak sangat melankolis ya, hehehe… ampuuunnn
4 comments December 12, 2008
Bersih Karena Kotor, Kotor Karena Bersih
Hihihi… lama banget nggak ngisi blog, sekalinya ngisi malah berniat nyampah… huaaa
Oke, jadi ceritanya selama tiga hari ada sesosok maag yang menyerang hingga seorang oknum AKH terpaksa tidak menghadiri beberapa kuliahnya. Nah salahnya, alih-alih belajar, atau baca-baca pdf yang udah numpuk buat __, atau hal positif lainnya, si AKH ini malah menghabiskan waktunya untuk menonton berbagai film kartun. Beberapa jam ia habiskan untuk menonton Spongebob, Fairly Odd Parents, Chibi Maruko Chan, Time Quest, Avatar, Hey Arnold, Rugrats, dll. Halah halah….
Tapi ternyata ada hal menarik yang didapatnya dari sepotong cerita Spongebob. Ceritanya Spongebob dan Patrick yang persahabatannya sangat kental tiba-tiba bertengkar gara-gara perbedaan mereka. Patrick sangat bangga dengan badannya yang bau, kotor, penuh keringat dan hal-hal menjijikan lainnya yang diekspose dengan gambar yang juga sangat menjijikan (kok bisa mereka punya ide menggambar hal sedemikian ya…). Sementara Spongebob sangat terobsesi dengan kebersihan, baginya tampil mengkilap adalah segalanya.
Mereka lalu terlibat dalam sebuah peperangan, Spongebob berusaha membersihkan Patrick dengan sabun dan alat-alat lain, sementara Patrick tentu saja menghindar. Sampai pada akhirnya Patrick berhasil dibersihkan dengan gelembung sabun dari tubuh Spongebob, sementara Spongebob justru dihujani tong sampah oleh Patrick.
Tapi kaliamt Spongebob selanjutnya yang menarik, kira-kira ia berkata “Terima kasih Patrick dengan ini aku bisa berminggu-minggu membersihkan diri, dan kaupun bisa berlama-lama mandi lumpur lagi. Bukankah kita tahu bersih karena adanya kotor dan kita kotor karena tahu kebersihan…”
Entahlah, tapi bagi saya kalimat itu menarik, walaupun sudah sering mendengarnya rasanya lucu mendengarnya dari sosok Spongebob. Yup, hal yang sejenis, kita tidak tahu kaya kalau tidak ada yang miskin. Kita tidak tahu beruntung jika tak ada sial. Kita tidak tahu sukses jika tak pernah ada gagal. Yup… begitulah Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan (pas Google nyari ayat ini kok nemunya malah blog-nya undangan orang-orang mau nikah ya >.<)
“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
5 comments October 31, 2008
Ia Datang…
Dan ia pun datang kembali, dan setiap kali ia datang entah kenapa seringkali aku justru merasa malu atas banyak hal. Setiap kali ia menjelang, aku mencorat-coret catatanku mencoba mereka-reka hal yang akan kuberikan atasnya.
Khatam x kali, hafidz juz xx, dhuha x kali sepekan, baca buku xxxxxxxx, dan sebagainya dan sebagainya…
Namun di setiap kali ia pergi, catatan itu kubiarkan menguap entah ke mana. Di setiap kali ia pergi, aku hanya bisa menangis karena kepergiannya. Dan aku tak bisa menahannya pergi. Dan aku hanya bisa berdoa moga dipertemukan kembali dengannya.
Dan ya, Ia Yang Maha Pemurah sekali lagi mempertemukanku dengannya. Dalam sebuah rasa malu yang sangat. Entah mungkin menganggap diri terlalu hina menginjakkan diri pada waktu yang dimilikinya.
“Ini salah akademis yang terlalu padat, tugas besar, kuliah nggak berhenti-berhenti…” dan aku pun memaki. Padahal kesibukan macam apakah yang kulalui dibandingkan kesibukan Rasulullah, para shahabat, para tabi’in…. Kesibukan apakah yang kulalui hingga melalaikah kehadirannya?
Ya Rabb, jangan biarkan hamba menyia-nyiakannya lagi…. Ya Rabb, izinkan hamba memuliakannya, hingga jika ini kedatangan terakhirnya untuk hamba, tak perlu ada sesal karena dengan izin-Mu hamba ingin menjadikannya Ramadhan terbaik….
bismillahhirrahmaanirrahiim
8 comments September 2, 2008
Cuplikan 1 “Balthasar’s Odyssey, Nama Tuhan yang Keseratus”
Senin, 28 Desember 1665
Aku mengajak serta Marta dan Hatem, dan dompet yang cukup penuh untuk memenuhi tuntutan seperti biasa. Abdellatif menerimaku dengan sopan di kantor yang suram yang ia huni bersama tiga pegawai lainnya yang sedang menerima “klien” mereka sendiri saat aku tiba. Ia memberi tanda padaku untuk mendekat, lalu berkata sangat lirih bahwa ia telah melihat dalam semua catatan yang bisa didapatnya, tetapi tak mampou menemukan orang yang kucari. Aku berterima kasih padanya karena telah merepotkannya dan bertanya padanya dengan tangan di dalam dompetku, berapakah biaya penyelidikan itu. Ia menyaringkan suaranya untuk menjawab.
“Biayanya 200 aspre!”
Itu mengejutkanku sebagai sebuah jumlah yang besar, walaupun bukannya tak masuk akal atau diharapkan. Aku tak ingin berdebat dan hanya meletakkan uang itu ke tangannya. Ia berterima kasih padaku dan bangkit untuk menunjukkan padaku jalan keluar. Itu sungguh mengejutkanku. Ia tak merasa harus berdiri ketika aku masuk, atu memintaku duduk, jadi mengapa kini ia harus menggandeng tanganku seakan-akan aku ini seorang kawan lama atau seorang dermawan?
Begitu kami sampai di luar ia memberikan kembali uang yang baru kuberikan padanya, melipatkan jemariku agar menggenggam keping-keping uang itu, dan berkata, “Anda tak berutang apapun padaku. Aku hanya memeriksa buku besar dan itu menjadi bagian dari pekerjaanku dimana aku telah digaji. Selamat tinggal, dan semoga Tuhan melindungi dan membantu Anda mencari apa yang Anda cari.”
Aku tercenung. Aku bertanya-tanya apakah ia sungguh-sungguh bertobat atau hanya memainkan tipuan Turki lainnya untuk mencoba mendapatkan lebih banyak uang dariku. Haruskah aku memaksanya mengambil sesuatu, atau hanya berlalu dengan kata-kata terima kasih, seperti yang tampaknya ia sarankan? Namun Marta dan Hatem yang menyaksikan semua ini memuji-muji orang itu seakan-akan mereka baru saja menyaksikan sebuah keajaiban.
“Tuhan memberkati Anda! Anda orang baik, pelayan Sultan terbaik! Semoga Yang Maha Kuasa melindungi Anda dan keluarga Anda!”
“Berhenti!” teriaknya. “Apakah kalian ingin aku mati? Pergilah, dan jangan biarkan aku melihat kalian lagi!”
Maka kami pun pergi, membawa serta pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.
————-singkat cerita esoknya Balthasar kembali menemui Abdellatif————–
“Jika Anda disini untuk memberikan 200 aspre, maka Anda menyia-nyiakan waktu Anda,” ujarnya.
“Tidak,” sahutku. “Aku datang untuk kembali mengucapkan terima kasih atas kebaikan Anda. Kemarin kawan-kawanku sempat keberatan karena aku tak mengatakan betapa aku sangat berterima kasih pada Anda. Aku sudah berbulan-bulan mengurus hal ini, dan setiap kali melakukannya aku selalu berlalu sambil mengumpat. Namun, dengan Anda, aku berlalu dengan mengucap syukur pada Tuhan dan pemerintah, meski aku tidak semakin dekat dengan tujuanku karenanya. Sangat ganjil di zaman sekarang ini bisa menemui seseorang yang bermartabat. Aku bisa memahami pujian kawan-kawanku terhadap Anda, tetapi itu hanya menyinggung kebersahajaan Anda, dan Anda meminta mereka berhenti.”
Aku belum juga mempertanyakan apa yang sudah ada diujung lidahku. Lelaki itu tersenyum, mengembuskan napas berat, dan menepuk bahuku.
“Aku tidak bersahaja. Aku hanya berhati-hati saja,” ujarnya.
Ia terdiam sejenak dan tampak menimbang-nimbang kalimatnya. Kemudian ia memandang ke sekelilingnya untuk memastikan tak ada seorang pun yang mengawasi kami.
“Di tempat sebagian besar orang memperlakukan uang dengan wajar, siapapun yang menolaknya akan dilihat orang lain sebagai ancaman, Mungkin saja ada orang yang melapor. Dan mereka akan melakukan apa pun untuk menyingkirkannya. Aku baru saja diperingatkan, ‘Jika kau ingin mempertahankan kepalamu di atas kedua bahumu, lakukan apa yang kami lakukan dan jangan bersikap seakan-akan kau ini lebih baik atau lebih buruk dari kami semua.’ Maka, karena aku sama sekali tidak ingin mati, meski aku juga tidak ingin berbuat dosa dan mendapat hukumannya, aku lebih memilih bersikap seperti yang kulakukan pada Anda kemarin. Di tempat ini, aku menjual diriku, dan di luar aku menebus harga diriku.”
Betapa kita hidup di zaman yang aneh, tatkala kebaikan harus menyamarkan diri di balik pakaian lusuh setan!
Mungkin memang telah tiba saatnya dunia ini kiamat.
2 comments August 17, 2008
Kerinduan Itu….
Kembali ke Bandung… rasanya begitu menyenangkan. Rasanya ada begitu banyak hal yang saya rindukan selama hampir dua bulan kepergian saya.
Perjalanan KP saya memang sangat menyenangkan. Dilalui penuh dengan canda tawa, ke-GJ-an, dan jalan-jalan yang menyenangkan. Berwisata budaya dengan mengenal tradisi dan kebiasaan teman-teman KP, keluarga mereka, dan masyarakat di sekitar.
Tapi tetap rasanya ada yang hilang….
Bali, 4 Agustus 2008. Suasana hati saya sedang tidak enak, melihat lingkungan yang membuat saya agak mual, mendengar sapaan-sapaan yang membuat saya sedih, dan ditambah lagi jempol saya harus nyelip di pintu taksi ketika saya menutupnya dengan cukup keras, hingga sampai sekarang lukanya masih berbekas.
Sampai beberapa saat kemudian, seorang teman menyapa lewat YM. Seorang teman yang memang “rajin” mengingatkan saya yang nakal. Tanpa babibu beliau mengucapkan selamat jalan-jalan, dan setelah itu beliau langsung bercerita kondisi Bandung dan teman-teman yang sedang berjuang di kota tercinta.
Dan air mata saya luruh seketika itu juga. Bahkan sedikit tergugu. Yaa Rabb, sudah terlalu lama hamba-Mu ini lalai dari mengingati-Mu. Sungguh… kesenangan, kelapangan merupakan ujian juga. Dan saya menatap jempol saya… Yaa Rabb jika ini merupakan peringatan dari-Mu, jika ini hukuman dari kelalaian hamba-Mu ini, maka hamba sungguh bersyukur karenanya….
Terima kasih Yaa Rabb, karena masih menghadiahkan luka ini untuk hamba. Terima kasih karena memberikan hamba teman yang begitu baik. Terima kasih karena hamba masih dianugerahi kerinduan terhadap sesuatu yang bernama GHIRAH.
Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya,”Kapan seorang hamba bisa istirahat?” Beliau menjawab, ”Ketika kakinya menginjak surga…!”2 comments August 11, 2008
Keluarga…
Tinggal jauh dari keluarga dan harus menumpang tinggal di beberapa keluarga yang saya kunjungi ternyata memberikan saya pengalaman yang bagi saya cukup menarik.
Memperhatikan budaya yang berbeda, kebiasaan yang tidak sama, suasana yang tidak biasa… semuanya demikian menarik. Pertama, saya tinggal bersama keluarga pamannya Reisha yang berlatar belakang budaya Minang, tapi karena lama tinggal di Surabaya, budaya Jawa juga terlihat dari sisi-sisi kesehariannya… terutama bahasanya. Kedua, keluarga bibi-paman saya yang latar belakang budayanya Sunda-Madura. Ketiga, sempat beberapa hari tinggal di sebuah keluarga rekan kakak saya yang latar belakang budayanya full Jawa Timur.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujuraat: 13)
Hal yang menjadikan ini menarik adalah memperhatikan interaksi antar anggota keluarga. Terutama peran ayah….
Allahumaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fuanhu
4 comments July 16, 2008