Archive

Archive for October, 2007

Kunjung Kampung

October 22, 2007 anis 2 comments

Malam kedua lebaran, seperti biasanya keluargaku berkunjung ke rumah kakek-nenek di Singaparna, Tasikmalaya. Di sana berkumpul hampir semua paman dan bibiku.

Sedikit menyedihkan, karena tinggal satu kakakku yang belum menikah, dan ia pun tak ikut ke Tasik, maka aku yang jadi sasaran pertanyaan, “Kapan nikah?”, “Siapa calonnya? Udah ada?”, “Mudah-mudahan dimudahkan jodohnya,” bahkan kakekku sampai berkata, “Sekolah jangan lama-lama!”…. Hiks hiks…. Eh bukan ini yang ingin kubahas.

Saat itu keluargaku hendak mengunjungi sanak yang lain, yang masih berada di daerah Tasik. Kami mengendarai mobil masuk ke desa yang makin kecil. Anak-anak yang tengah bermain petasan tradisional (dibuat dari bambu) berhenti sejenak untuk mengejar mobil kami sekadar untuk menyentuhnya. Ck ck ck… serasa sinetron orang kota masuk desa.

Karena tidak tahu pasti alamatnya, kakakku turun untuk bertanya pada seorang bapak yang tengah mencangkul. Ternyata ia tidak tahu karena ia pendatang baru, tapi ia tidak hanya berkata tidak tahu, ia mengetuk pintu tetangganya untuk bertanya. Ketika tetangganya tak juga membuka pintu, mungkin karena tak ada di rumah, ia mengetuk pintu rumah yang lain. Hal yang mungkin biasa ia lakukan untuk membantu orang lain. Tapi bagiku (yang sudah jarang menemukan orang yang mau bolak-balik untuk membantu orang yang bahkan tak ia kenal) apa yang diperbuat bapak itu adalah luar biasa.

Yang lebih mengagumkan, orang-orang yang bukan pendatang baru di sana saling mengenal, karena itu dengan mudah kami bisa menemukan rumah sanak saudara kami itu. Aku malu, karena kadang ditanya alamat tetangga yang satu komplek denganku pun aku tak tahu.

Setelah sampai, sanak saudara kami itu menyambut kami dengan luar biasa. Padahal sudah bertahun-tahun kami tak bertemu. Tak ada rasa sungkan dan kagok, mereka mwnunjukkan keakraban walau dipenuhi dengan kesederhanaan. Lagi-lagi hal itu membuatku malu, kadang aku sulit akrab dengan teman, bahkan masih sering lupa nama teman yang sudah lama dikenal.

Itulah hal yang membuatku takjub setiap kali bertandang ke kampung (Tasik yang ditinggali keluarga kakek ada di daerah pedesaan). Orang-orangnya…. Ya, orang-orang tulus, ramah, dan selalu siap membantu. Orang-orang sederhana, lugu, dan polos. Orang-orang yang sulit kutemui di kota, bahkan di kampus di mana orang-orangnya merupakan orang-orang terpelajar. Orang-orang yang bahkan jarang kutemui dalam diriku sendiri.

Categories: moment Tags: ,

Lebaran Mereka

October 22, 2007 anis 2 comments

15 Oktober 2007_3 Syawal 1428

Jangan terlalu lama melihat langit, karena langit terlalu indah dan sinar mentarinya menyilaukan. Lihatlah tanah… tanah yang hitam, berdebu, dan kadang berlumpur, tapi ternyata itulah yang kauinjak. Jangan terlalu lama melihat ke atas, karena itu bisa membuatmu jadi manusia serakah. Lihatlah ke bawah dan kau akan menemukan banyak hal untuk kau syukuri.

Menjelang Ramadhan berakhir dan euphoria menjelang Idul Fitri mulai terasa, entah kenapa saya justru berpikir tentang orang-orang yang “tidak merayakannya”. Ya, entah karena pekerjaan mereka, atau karena “keterbatasan” mereka dalam merayakannya.

Banyak orang yang saya temui ketika hari H, tapi masih juga bertugas sebagaimana biasanya bahkan lebih keras justru karena moment Idul Fitri. Sebutlah polisi, yang bahkan di satu ketika di kawasan Nagrek, mereka “rela” mengenakan topeng badut untuk menghibur para pengguna jalan yang dilanda macet. Padahal para pengguna jalan itu notabene tengah “merayakan” Idul Fitri dengan bermacet-macet ria untuk mudik, tidak seperti para badut jadi-jadian itu.

Para wartawan, kameramen, jurnalis, dan petugas televisi lainnya. Bagaimana ya Idul Fitri mereka, sementara mereka terus menyediakan berbagai tayangan untuk orang-orang yang merayakan lebaran?

Setelah berkunjung ke sanak saudara, saya sempat menginap di hotel. Dan pemandangan orang-orang yang tidak merayakan lebaran kembali bertebaran di mata saya. Ya, para petugas hotel itu masih juga sibuk, bahkan lebih sibuk karena masa Idul Fitri adalah masa liburan. Padahal mereka melayani orang-orang yang “merayakan” Idul Fitri tidak seperti mereka. Hal itu terjadi juga di banyak tempat wisata yang lain.

Dalam sebuah koran yang saya baca, saya menemukan lagi sosok lain yang “merayakan” lebaran justru dengan menyapu jalanan. Ia menyapu jalan lebih lama dan lebih luas dari biasanya justru karena petugas yang lain libur untuk merayakan lebaran.

Masih di koran juga, para penghuni panti jompo “merayakan” lebaran dengan sepi. Tak ada ketupat atau kari ayam. Tak ada ramai-ramai silaturahim, karena bahkan sanak keluarga mereka pun tak juga datang untuk menjenguk.

Dan masih saya pertanyakan, bagaimana ya Idul Fitri yang “dirayakan” para anak jalanan? Apa mereka merayakannya juga? Atau “cukup kenyang” melihat orang lain yang merayakannya? Apa yang mereka makan saat saya makan opor ayam plus sambal goreng kentang? Apa yang mereka kenakan saat saya mengenakan baju baru? Apa mereka menerima ucapan selamat Idul Fitri ketika saya mendapat lebih dari 40 SMS?

Lalu bagaimana dengan para ayah yang tidak mampu? Yang mungkin salah satunya diberitakan di TV dengan kriminalitas beralasan untuk merayakan Idul Fitri? Hatinya mungkin teriris ketika anaknya menatap sedih temannya yang “merayakan” Idul Fitri dengan segala yang baru, yang dibeli dengan uang.

Bagaimana dengan ibu yang tidak bisa memasakkan masakan enak saat Idul Fitri, bukan karena ia tidak jago memasak, tapi yang ada di dapurnya hanya ada beras bahkan mungkin tak ada apapun.

Bagaimana ya, Idul Fitri para penghuni LP? Apa mereka merayakan Idul Fitri karena mendapat keringanan hukuman dari pemerintah? Apa Ramadhan berdampak pada mereka?

Bagaimana ya? Sementara sebuah tulisan di sebuah koran mengkalkulasikan pengeluaran masyarakat Bandung dalam mengisi Ramadhan dan Idul Fitri mencapai angka 900 miliar?

Dan masih banyak lagi orang-orang yang ingin saya tanyai tentang cara mereka “merayakan” Idul Fitri. Tak pelak saya bertanya pada diri saya sendiri, “Gimana kamu merayakannya Nis?” Apa dengan cukup dengan berbahagia masih bisa menikmati masakan mama yang luar biasa enak… ketupat, kari ayam, sambal goring kentang, acar dan berbagai kue kering? Cukup dengan senang masih bisa mengunjungi nenek dan kakek serta sanak keluarga yang lain? Cukup dengan senyum terkembang setiap kali bersilaturahim dengan tetangga atau menerima SMS? Cukup dengan bersenang-senang menikmati liburan bersama kelurga?

Ternyata saya sendiri pun masih tak banyak bersyukur atas apa yang saya miliki, saya terima, saya lakukan. Banyak hal yang luput dari rasa syukur saya. Banyak, bahkan terlalu banyak. Nikmat-Nya memang tidak pernah bisa terukur, tapi bukan merupakan kesalahan jika kita berusaha “menghitung-hitungnya”.

Dan kau, bagaimana kau “merayakan” lebaran? Setujukah bahwa lebaran bukan untuk dirayakan?

Categories: perception Tags:

Alas Kaki

October 22, 2007 anis 1 comment

Euphoria pra Idul Fitri semakin terasa. Kelurgaku pun jadi “korban”. Beberapa hari menjelang lebaran aku diperintahkan mama untuk membeli sandal baru, sebuah sandal “wanita yang manis”. Wajar sih karena sandal yang kumiliki hanya sebuah sandal gunung, itupun sudah bertahan selama hampir enam tahun menemaniku. Sebenarnya malas, karena sampai sekarang aku tak juga bisa merasa nyaman menggunakan sandal “wanita yang manis”. Ya, selama ini aku lebih suka mengenakan sepatu kets dan sandal gunung atau bahkan sandal jepit.

Tapi daripada berseteru (ya, aku terkadang berseteru dengan mama karena penampilanku yang “urakan”. Biasanya kami akan berseteru menjelang saat-saat aku harus menghadiri undangan pernikahan teman, hehehe) akhirnya aku hanya berkata dengan pasrah, “Ya, kalau nemu yang cocok, kalau nggak ada yang cocok nggak usah ya.” Mama mengiyakan, juga dengan pasrah.

Maka dengan menyeret langkahku, aku mengunjungi pusat pertokoan yang paling dekat dengan rumah, malas juga kalau harus jauh-jauh, karena aku sudah merasa tak akan menemukan yang cocok (hahaha, ya iyalah nggak akan nemu yang cocok, karena yang kuinginkan adalah sandal gunung lagi, dan mama pasti marah kalau aku membelinya).

Aku masuk-keluar toko yang satu ke toko yang lain. Tak ada yang menarik, karena bagiku model-modelnya memang norak, seringkali aku lebih tertarik pada sandal untuk laki-laki (duh… untuk masalah penampilan ternyata sifat maskulinku masih cukup tinggi, tapi sampai sekarang aku tak merasa itu adalah masalah… hehehe).

Sampai aku berpapasan dengan seorang laki-laki tua. Laki-laki itu mendorong sebuah gerobak kosong. Aku menunduk dan bisa kulihat ia berjalan tanpa alas kaki. Aku beristighfar. Masih banyak orang yang tidak seberuntung diriku. Seketika aku merasa sangat malu dan memutuskan untuk tidak membeli sandal apapun (walau akhirnya membeli kaus kaki yang notabene merupakan alas kaki juga, hehehehe).

Ya, bukankah kita tak memerlukan alas kaki apapun untuk melangkah ke syurga-Nya?

Categories: intermezzo, moment Tags: ,

Bolehkah Menangis?

October 22, 2007 anis 2 comments

29 Ramadhan 1428

kewajiban yang telah menjadi kebutuhan lalu mulai terasa sebagai kenikmatan

Aku cengeng? Ya, memang. Aku bisa dengan mudahnya menangis, saat terjadi sesuatu, mendengar sesuatu, bahkan sekadar nonton film India (bodoh sekali bukan? Hahaha… tapi bukan sembarang film India kok, film India yang kutangisi berjudul Baghban, ceritanya tentang berbakti pada orang tua). Aku bahkan tak malu menangis di depan temanku bahkan di jalan (aku pernah beberapa kali menangis [walau hanya berkaca-kaca] sepanjang perjalanan pulang dari sekolah). Aku juga sering menangis membaca tulisanku sendiri, bukankah itu aneh?

Tapi hari itu aku benar-benar memohon untuk bisa menangis. Aku berkali-kali berdoa untuk bisa menangis. Dari sore hari aku berusaha untuk menangis tapi hingga dini hari sekitar pukul 01.00 aku belum juga dianugerahi tangisan yang kupinta. Beberapa kali mataku memang sempat berkaca-kaca, tapi tidak seperti yang kuharapkan, karena penyebabnya hanya mata yang perih atau batuk yang kutahan.

Aku terus meminta dan memohon. Rasanya seperti dihukum untuk tak bisa menangis malam itu. Padahal malam itu aku merasa harus menangis. Aku harus menangis untuk banyak alasan. Dan salah satu alasanku karena ini malam pertama di tahun ini, sekaligus malam terakhir, malam terakhir yang mungkin tak akan kujumpai lagi mungkin seumur hidupku. Aku mulai merasa ini hukuman. Aku, yang biasanya bisa dengan mudah menangis bahkan untuk alasan yang tidak penting, tak diizinkan menangis di malam yang demikian penting tahun ini. Ini hukuman untukku, untuk setiap lakuku, untuk setiap waktu yang kusiakan.

Ketika hampir semua orang di sekitarku menangis. Aku frustasi, aku memaksakan diriku untuk menangis, tapi tak juga kurasakan tangis yang biasanya. Hanya tenggorokan yang tercekat, dan mata yang dipejamkan, tapi tak juga kurasakan air mata yang mengalir. Dan semua orang semakin tenggelam dalam tangisannya.

Aku pasrah, mungkin ini harga yang harus kubayar untuk dosaku. Aku bahkan tak bisa menangisi kondisiku yang tak bisa menangis. Aku pasrah, dan hanya bisa berdoa semoga usahaku untuk menangis malam itu ternilai. Aku pasrah dan menyerahkan semuanya.

Rasanya aku menyerah, aku terlalu egois dan sombong karena bisa dengan mudah menangis selama ini. Aku menyerah, dan mulai kusadari permintaanku untuk menangis begitu bodoh. Kenapa aku harus meminta untuk bisa menangis? Kenapa aku tak meminta rahmat, hidayah dan maghfirah-Nya? Kenapa aku tak meminta untuk bisa memahami atau merenungi ayat-ayat yang dibacakan sang imam? Kenapa aku tak meminta ampunan untuk dosa-dosaku? Kenapa malam itu aku tak meminta lailatul qadar? Kenapa aku harus meminta untuk menangis?

Setelah lama bergelut dengan diriku sendiri. Rakaat terakhir aku menangis. Selain karena doa khatam yang luar biasa, aku menangisi kebodohanku. Aku menangisi kebodohanku. Dan aku menangis karena syukur yang tak terkira bahwa aku diizinkan menangis walau hanya sebentar di malam itu.

Categories: moment Tags:

Epilog Sajadah

October 10, 2007 anis Leave a comment

Hanya malam biasa seperti malam-malam biasanya
Malam ketika semua terasa sepi dan senyap tanpa suara

Malam ketika Ia mengabulkan do’a
Malam ketika malaikat diutus turun ke bumi
Malam ketika aku rindu suara isak tangis
Malam ketika aku masih terlipat rapi dalam lemari
Malam ketika aku melihatmu masih pulas dalam balutan selimut hangat

Bandung, 27 Juli 2007

Categories: poem Tags:

Dungu Menunggu

October 10, 2007 anis Leave a comment

Ke mana? Ke mana setiap detik kerinduanku pada syurga?

Kubuang ke mana kekhawatiranku terhadap neraka?

Ketika aku tiba-tiba menjadi seorang penentang yang nyata dalam segala kelemahan dan ketidakberdayaanku

Ke mana air mata yang mengiringi takut, harap, dan cinta tertinggi hanya untuk-Nya?

Kupungut dari mana tawa lena yang melenakan?

Ketika aku tak juga tersadar dari tidurku yang terjaga, dari kesunyian, kesendirian dan kemunafikan

Ketika kaki ini semakin sulit untuk melangkah

Dianya diperparah oleh segala yang menjadi sebab yang disebab-sebabkan

Ketika tangan ini semakin sulit bekerja

Dianya diperparah oleh segala apa yang tak tahu apa-apa selain tak tahu

Ketika hati ini beku dan membatu

Dianya diperparah oleh segala yang ia pertentangkan dalam dianya sendiri

Aku menunggu

Diam dalam diam yang dalam

Ini akan berakhir dan senyum geli akan adalah penutupnya

Aku menunggu

Sunyi dalam sepi yang menulikan

Berharap satu eposide buruk segera berganti tayangan

Aku hanya menunggu

Dalam segala kedunguanku akan arti menunggu

Karena yang kutunggu adalah diri

Diri dari diri yang menunggu

Bandung, 27 Juli 2007

Categories: poem Tags:

Puisi Cinta

October 10, 2007 anis 2 comments

Ada satu puisi cinta yang sampai sekarang selalu saya ingat. Walau saya juga penggemar puisi cinta “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono yang liriknya :

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

tapi puisi yang satu ini tak hanya saya gemari tapi juga saya tangisi….

Jika cinta adalah ketertawanan

Maka tawankah aku dengan cinta-Mu

Agar tak ada lagi yang mampu menawanku

Jika rindu adalah rasa sakit yang tak bermuara

Maka penuhilah rasa sakitku dengan kerinduan kepada-Mu

Dan jadikanlah kematianku sebagai muara pertemuanku dengan-Mu

Sesungguhnya hati ini hanya cukup untuk satu cinta

Jika ku tak memenuhinya dengan cinta-Mu

Akan kupalingkan kemana lagi wajahku?

Yusuf Qardhawi

Apa yang terasa?

Kalau saya, waktu pertama baca puisi itu, saya kagum atas rimanya. Saya menikmatinya seperti seorang pendengar yang mendengarkan pujangga kawakan pujaannya.

Semakin saya baca, saya semakin menyukai diksinya. Pilihan kata yang pas dan terasa manis. Saya menikmatinya seperti seorang murid yang mendengarkan guru favoritnya mengajar hingga setiap kata ia perhatikan.

Semakin saya renungi, saya makin gandrung dengan maknanya. Makna yang terkandung dalam rangkaian diksi yang berrima. Saya menikmatinya seperti seorang pesakitan yang mendengarkan dokter yang dipercaya akan menyembuhkannya.

Ya… cinta…. kalau Ti Pat Kay (si panglima yang dikutuk jadi siluman babi dalam cerita Son Go Ku alias kera sakti) bisa berkata, “Dari dulu memang begitulah cinta, deritanya tiada akhir…” maka saya bisa bilang, “Cintanya salah tuh!”

Ya, cinta adalah ketertawanan. Ketika kita jatuh cinta, maka pikiran kita tertawan oleh ia yang kita cinta. Kita akan mulai sering melamun, dan memikirkan ia yang kita cinta. Bahkan laku kita pun mulai tertawan, karena ingin terlihat sempurna (dan kalaupun ingin terlihat apa adanya, itupun karena ingin diperhatikan) oleh ia yang tercinta. Tapi seringkali kita tak menyadari bahwa kita telah jadi tawanan, karena cinta seringkali merupakan lena yang melenakan.

Ya, rindu itu menyakitkan. Karena menyiksa… karena tersiksa oleh keinginan untuk bertemu, untuk berinteraksi dengan ia yang tercinta. Mungkin karena itu banyak yang sulit tidur, tak enak makan, karena rasa rindu. Dan takkan pernah puas, walau berapa lama pun bertemu, ketika berpisah, sang rindu kembali menghantui… kembali menyakiti…. tapi seringkali kita tak menyadari bahwa kita tersakiti, karena kita menikmati rasa sakit itu dengan lamunan-lamunan yang tiada akhir.

Ya, hati ini hanya cukup untuk satu cinta. Satu cinta bukan berarti satu orang, tapi pilihan antara “cinta yang benar” dan “cinta yang salah”. Dan ketika kita memilih “cinta yang salah”, maka jangan hidup di dunia yang diciptakan oleh Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”. Maka jangan makan dengan anugerah Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”. Maka bersembunyilah, jangan sampai engkau ketahuan memiliki “cinta yang salah” oleh Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”, karena Ia Maha Pencemburu.

Maafkan hamba-Mu ini Ya Rabb jika ternyata, sadar ataupun tidak, ada “cinta yang salah” yang menjangkiti hati ini.

Categories: perception, poem Tags:

Alat Ukur Kelembutan Hati

October 10, 2007 anis 3 comments

Alat ukur kelembutan hati? Emang ada? Siapa yang ngerancang Sistem Informasi-nya? Itu termasuk Artificial Intelligence ya? Bikinnya pakai Basis Data? Operating System-nya pakai memory management yang monoprogramming ya? Bisa dipasarkan jadi usaha kecil? (duh kalau ada yang nanya kayak gitu pasti dah keracunan mata kuliah tingkat tiga! Siap UTS deh!^_^)

Kelembutan hati… apaan sih? Apa hati ayam yang dimasak jadi sambal goreng rasanya lembut? (waduh puasa…) atau hati yang nggak bisa menetrasi racun saking lembutnya? Atau Hepatitis kah? Walah bukan….!

Emang sulit mendefinisikan kelembutan hati, tapi buat saya ada beberapa hal yang bisa jadi indikator kelembutan hati saya.

1. kalau saya lagi naik Mercedes Benz (duh gaya banget) berbentuk kotak bertuliskan “DAMRI”, dan saya dapat tempat duduk, terus ada orang naik dan nggak kebagian tempat duduk. Saya ngerasa hati saya sedang dalam kondisi baik kalau saya dengan senang hati (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan) ngasihin kursi tempat duduk saya buat orang lain, terutama orang tua, yang nggak kebagian tempat duduk itu.

2. kalau saya lagi naik angkot, saya ngerasa hati saya dalam kondisi yang baik kalau saya mau geser ke belakang (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan) pas ada penumpang yang baru naik walau tempat tujuan saya tinggal sekerjap mata lagi.

3. kalau ada orang, terutama orang yang udah lebih dari separuh baya, bawa barang banyak. Saya ngerasa hati saya dalam kondisi yang baik kalau saya mau menghampirinya dan bertanya, “Bisa saya bantu?” (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan).

4. kalau ada orang yang terlihat membutuhkan. Saya merasa hati saya sedang dalam kondisi baik kalau saya mau memberi sesuatu (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan) yang saya suka sama orang tersebut.

5. kalau ada waktu senggang, saya ngerasa hati saya sedang dalam kondisi yang baik kalau saya (tanpa ngedumel atau ngerasa hebat) memanfaatkan waktu itu buat hal-hal yang bermanfaat.

6. kalau harus membicarakan masalah-masalah serius dan berat, semisal amanah, tanggung jawab, kewajiban, dll. Saya ngerasa hati saya sedang dalam kondisi baik kalau saya (tanpa ngedumel atau ngerasa hebat) bisa nangis karena ketakutan atas apa yang harus saya pertanggungjawabkan.

7. kalau ngeliat ada sampah tergeletak, saya ngerasa hati saya sedang dalam kondisi yang baik kalau saya (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan) memungut sampah itu dan memasukkannya ke tempat sampah.

Dan sebenernya masih banyak kondisi lain yang bisa jadi parameter… banyak… banyak banget… tapi syetan itu pinter. Bisa aja ketika kita merasa hati kita dalam kondisi yang baik, justru itu dilakukan syetan biar kita merasa puas, merasa hebat.

Termasuk ketika saya nulis ini. Hahahaha bisa aja saya nulis ini emang karena saya sombong. Dan bisa jadi ketika saya bilang kalau saya sombong karena nulis ini, itupun karena saya pingin dibilang nggak sombong. Dan bisa jadi ketika saya bilang kalau saya pingin dibilang nggak sombong gara-gara bilang saya sombong karena nulis ini, itupun karena saya pingin dianggap keren. Dan bisa jadi ketika saya bilang saya pingin dianggap keren gara-gara bilang saya nggak sombong karena bilang saya sombong untuk tulisan ini, itupun karena saya pingin dianggap ikhlas. Dan bisa jadi ketika saya bilang pingin dianggap ikhlas (euleuh euleuh iraha beresna?)

Ya begitulah ikhlas itu berlapis-lapis. Jadi yang bener-bener tahu kita tuh ikhlas atau nggak, ya cuma Sang Pemilik hati. Jadi yang saya tulis itu cuma catatan kecil, yang buat saya bisa jadi pengukur kelembutan hati saya (walau nggak mutlak dan saklek), tapi yang lebih penting, itu tak hanya bisa jadi pengukur tingkat kelembutan hati. Jika dipaksakan untuk dilaksanakan, insya Allah bisa juga jadi alat pembuat lembut hati.

Pembuat lembut hati? Wah yang ini buatan software house mana? Siapa yang ngerancang Sistem Informasi-nya? aaarrgghh jangan mulai lagi!

Categories: perception Tags: ,

Menjadi Kuat?

October 10, 2007 anis Leave a comment

Awal Oktober 2007, akhir Ramadhan 1428

Hari itu saya baru berangkat ke kampus sekitar jam setengah sebelas, padahal ada janji sama teman jam sebelas, dan perjalanan dari rumah sampai kampus makan waktu sekitar satu jam. Dasar anak telatan bukan teladan! Anis… Anis… kapan kamu mau jadi muslim seutuhnya kalau gini terus?

Ketika hendak menyebrang, seorang bocah, kira-kira berusia sepuluh tahun, melintas di samping saya. Ia menenteng dua karung besar dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang sebuah tongkat berpengait. Salah satu bungkusan besar itu berisi besi yang tampaknya berasal dari bemper mobil tua. Bajunya lusuh dan ia melangkah tanpa alas kaki. Tapi ia tak nampak berkeluh.

Selama beberapa menit saya bergeming. Beberapa kali bertanya dalam hati apa yang bisa saya bantu? Apa ada yang bisa saya bantu? Tapi kalimat itu tak terucapkan. Begitu menyakitkan. Saya masih bergeming, meredakan gemuruh agar tak sampai luruh air yang mulai bergenang di pelupuk mata.

Dan dalam perjalanan ke kampus saya kembali melihat bocah di pinggir jalan. Kali ini tak hanya satu, tapi banyak. Mereka mengerumuni seorang pedagang es krim. Beberapa dari mereka mulai asyik menjilati es krim warna merah itu. Ada yang menenteng kecrekan dari tutup botol, ada yang menenteng gitar kecil, ada juga yang mengenakan pakaian badut-badutan.

Mereka tidak shaum? Tanya saya pada diri saya sendiri, lalu bagian lain dalam diri saya menjawab, “Dasar bodoh, bahkan mereka mungkin tak pernah mengenal agama!” ya… kemiskinan dekat dengan kemusyrikan…..

Lalu dimana saya? Bukankah seorang muslim harusnya jadi rahmatan lil ‘aalamin? Tapi ternyata saya baru mampu menyediakan banyak air mata untuk mereka, walau kadang hanya tertumpah untuk hal yang tak perlu.

Sering, bahkan terlalu sering saya berkata pada diri saya sendiri bahwa saya harus kuat. Saya harus kuat, agar saya bisa menguatkan orang-orang di sekitar saya. Tapi seringkali itu hanya beredar di medan kata-kata, belum di medan amal nyata (padahal saya orang Bandung bukan Medan J).

Akademis saya… bisa saya bilang buruk untuk ukuran anak Teknik Informatika ITB. Ilmu dan pemahaman keislaman saya mengalami stagnasi, dan belum juga teraplikasikan. Berbagai kebiasaan buruk masih bersarang dalam diri saya. Lalu saya mau kuat gimana? Mau jadi rahmatan lil ‘aalamin aja masih sering terlambat… Padahal saya ingin sekali suatu saat bisa berkata dengan haru dan jujur…

”Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai dari pada diri kami sendiri. Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami, dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami. Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.

Sungguh, kami berbuat di jalan ini untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami. Kami adalah milik kalian wahai saudara-saudara tercinta. Sesaat pun kami kami tak akan pernah menjadi musuh kalian.”

Categories: moment, perception Tags:

Mahasiswa Kupu-Kupu

October 10, 2007 anis 7 comments

Akhir Maret 2007

Hari itu setelah kuliah pagi, saya berkunjung ke SMA untuk menghadiri sebuah acara DKM. Karena jam tiga ada kuliah lagi, saya pamit duluan dan segera nongkrong di angkot Kelapa-Dago.

Di perjalanan kembali ke kampus, saya berpapasan dengan rombongan kecil mahasiswa, mereka mengacung-acungkan kertas berukuran A3, dan semuanya mengenakan jas hijau tua, jas almamater ITB. Ooh mereka lagi ngadain aksi toh! Saya cuma bisa ngasih semangat dalam hati.

Ternyata pak supir dan seorang penumpang yang duduk di samping pak supir ikut memperhatikan rombongan kecil itu.

“Lagi demo naon nya?” tanya pak supir.

“Kayaknya sih demo itu, masalah pembangunan di Punclut, KBU, Kawasan Bandung Utara.” Jawab si penumpang.

Aku ikut menikmati pembicaraan itu, ya saat itu memang sedang masalah KBU sedang hangat dibicarakan. Pembangunan di kawasan itu kabarnya bisa merusak daerah resapan air. Dan lagi uang ganti untuk masyarakat dikatakan minim.

“Ooh meni sepi nya?” tanya pak supir lagi.

Ya, memang sangat sepi, hanya satu mobil bak terbuka yang ditumpangi sekitar lima sampai tujuh orang. Lalu di belakang mobil ada beberapa orang yang berjalan kaki.

“Yaah, kalau dulu jaman saya mahasiswa, kalau ada demo kayak gini semua mahasiswa tuh turun. Sekarang mah mahasiswanya kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang, bobogohan wae di kost-an.” Komentar sang penumpang pedas.

Saya sedikit panas mendengarnya. Ya, walau merasa tidak termasuk mahasiswa kupu-kupu (karena nggak mungkin kuliah-pulang kuliah-pulang karena rumah saya jauh), apalagi bobogohan di kost-an (ya iyalah, orang saya nggak nge-kost ^_^), tapi memang harus saya akui peran saya sebagai mahasiswa belum benar-benar saya lakonkan dengan baik.

Sebelum turun dalam perjalanan singkat itu, saya masih sempat mendengar pak supir berkomentar, “Ya iyalah kayak gitu, da ayeuna mah nu karuliahna oge anak-anak kaya.”

Saya hanya tersenyum miris. Teringat wawancara yang pernah saya lakukan untuk tugas PPAB HMIF waktu masih tingkat satu. Tugas itu untuk mewawancarai petinggi-petinggi kabinet KM. Waktu itu kelompok saya kebagian mewawancarai Menteri PM (Pengabdian Masyarakat). Banyak hal yang diutarakan oleh beliau, tapi yang paling saya ingat adalah ketika beliau mengungkapkan analisis beliau ketika ditanyakan mengapa demo selalu sepi. Intinya beliau mengatakan karena mahasiswa sekarang tak merasakan langsung kesulitan yang dirasakan masyarakat. Jika masyarakat menengah ke bawah sudah merasa sangat kesulitan dengan naiknya harga BBM, maka mahasiswa ITB yang sekarang mayoritas merupakan kelas menengah ke atas tak akan merasakan langsung beban itu, kalaupun merasakan, karena masih mampu, ya tidak akan merasa begitu terbebani.

Apa itu benar ya? Saya memang sering dengar tentang kekritisan mahasiswa “jaman dulu”. Jaman ketika diskusi adalah pemandangan biasa di sudut-sudut kampus, bahkan mereka rela berdiskusi sampai pagi menjelang. Jaman ketika ada seorang anak SMA yang bahkan ingin masuk ITB karena melihat mahasiswanya melakukan aksi. Jaman ketika mahasiswanya hidup sederhana (bahkan saya pernah dengar ada mahasiswa yang tak mampu membeli buku, ia kemudian menginap di kost-an temannya, ia menunggu temannya selesai belajar. Ketika temannya sudah tertidur, baru ia meminjam buku milik temannya itu)

Atau ini memang bukan jamannya lagi? Apa diskusi sudah merupakan hal yang kuno, makanya bukan diskusi yang ditemui di sudut kampus tapi pasangan-pasangan yang sedang berasyik masyuk?

Ya, banyak yang beralasan, “Buat apa sih aksi? Bikin ricuh aja, lebih baik kan tindakan nyata aja! Konkret aja deh!” Saya pribadi sangat setuju dengan kata-kata itu, konkret… tapi benarkah orang-orang yang berkata konkret itu sudah menkonkretkan kalimatnya? Jika ya syukurlah, jika tidak….

Banyak juga yang berkata, “Udah bukan jamannya lagi yang kayak gitu, apalagi beban akademis yang makin menggila, udah nggak ada waktu lagi.”

Saya hanya bisa berkomentar, duh kasian bener mahasiswa sekarang, saking sibuknya, mereka udah nggak bisa lagi nonton di bioskop, kasian banget nggak bisa jalan-jalan di mall, kasian mereka nggak ada waktu buat baca komik.

Lalu sebenarnya mahasiswa itu harusnya gimana sih? Wah klo itu sih jangan tanya saya, tanya aja sama orang-orang yang bikin perguruan tinggi dan menjadikan manusia-manusia yang masuk ke dalamnya jadi bernama mahasiswa! ^_^

Hahaha… tulisan yang aneh bukan? Nggak ada konklusinya, ya biar pada nyari sendiri, pencarian oleh diri biasanya lebih “lucu dan menarik”.

Klo pak supir tadi bisa berkomentar, kira-kira dia bakal bilang “Euh goreng tungtung!” ^_^

Categories: moment, perception Tags: