Kunjung Kampung
Malam kedua lebaran, seperti biasanya keluargaku berkunjung ke rumah kakek-nenek di Singaparna, Tasikmalaya. Di sana berkumpul hampir semua paman dan bibiku.
Sedikit menyedihkan, karena tinggal satu kakakku yang belum menikah, dan ia pun tak ikut ke Tasik, maka aku yang jadi sasaran pertanyaan, “Kapan nikah?”, “Siapa calonnya? Udah ada?”, “Mudah-mudahan dimudahkan jodohnya,” bahkan kakekku sampai berkata, “Sekolah jangan lama-lama!”…. Hiks hiks…. Eh bukan ini yang ingin kubahas.
Saat itu keluargaku hendak mengunjungi sanak yang lain, yang masih berada di daerah Tasik. Kami mengendarai mobil masuk ke desa yang makin kecil. Anak-anak yang tengah bermain petasan tradisional (dibuat dari bambu) berhenti sejenak untuk mengejar mobil kami sekadar untuk menyentuhnya. Ck ck ck… serasa sinetron orang kota masuk desa.
Karena tidak tahu pasti alamatnya, kakakku turun untuk bertanya pada seorang bapak yang tengah mencangkul. Ternyata ia tidak tahu karena ia pendatang baru, tapi ia tidak hanya berkata tidak tahu, ia mengetuk pintu tetangganya untuk bertanya. Ketika tetangganya tak juga membuka pintu, mungkin karena tak ada di rumah, ia mengetuk pintu rumah yang lain. Hal yang mungkin biasa ia lakukan untuk membantu orang lain. Tapi bagiku (yang sudah jarang menemukan orang yang mau bolak-balik untuk membantu orang yang bahkan tak ia kenal) apa yang diperbuat bapak itu adalah luar biasa.
Yang lebih mengagumkan, orang-orang yang bukan pendatang baru di sana saling mengenal, karena itu dengan mudah kami bisa menemukan rumah sanak saudara kami itu. Aku malu, karena kadang ditanya alamat tetangga yang satu komplek denganku pun aku tak tahu.
Setelah sampai, sanak saudara kami itu menyambut kami dengan luar biasa. Padahal sudah bertahun-tahun kami tak bertemu. Tak ada rasa sungkan dan kagok, mereka mwnunjukkan keakraban walau dipenuhi dengan kesederhanaan. Lagi-lagi hal itu membuatku malu, kadang aku sulit akrab dengan teman, bahkan masih sering lupa nama teman yang sudah lama dikenal.
Itulah hal yang membuatku takjub setiap kali bertandang ke kampung (Tasik yang ditinggali keluarga kakek ada di daerah pedesaan). Orang-orangnya…. Ya, orang-orang tulus, ramah, dan selalu siap membantu. Orang-orang sederhana, lugu, dan polos. Orang-orang yang sulit kutemui di kota, bahkan di kampus di mana orang-orangnya merupakan orang-orang terpelajar. Orang-orang yang bahkan jarang kutemui dalam diriku sendiri.
Recent Comments