Home > moment > Berharap Pada Manusia? Kecewa

Berharap Pada Manusia? Kecewa

Pertengahan Ramadhan 1423 di akhir Bulan Desember 2002

Jam hampir menunjukkan pukul 20.00, diujung jalan bisa kulihat temanku sudah menaiki angkot yang akan mengantarnya pulang. Sementara angkot putih-kuning-hijau jurusan Panghegar-Dipati Ukur belum juga muncul. Ya, kami baru pulang dari acara buka bersama DKM dua sekolah, sekolahku dan sekolah yang gedungnya tepat di sebelah gedung sekolahku.

Semenit, dua menit, angkot itu tak muncul juga di jalan Belitung yang sepi dan gelap malam itu. Dari arah belakang, seorang teman laki-laki yang juga baru menghadiri acara yang sama menyebrangi jalan raya di depanku hingga kami berseberangan. Sementara dari arah kanan tiba-tiba muncul dua motor besar… masing-masing ditumpangi tiga laki-laki berbadan besar, beberapa dari mereka mengenakan anting dan bertato. Jantungku berdegup kencang ketika dua motor itu tiba-tiba berhenti di depanku. Kakiku lemas ketika salah satu dari laki-laki itu turun dan mulai bertanya, ”Mau ke mana Dik?”

Beberapa kali aku melirik teman di seberangku. Aku tahu ia melihatku dan kejadian yang menimpaku. Tapi ia bergeming. Aku hanya bisa beristighfar dengan jantung yang semakin bertalu-talu dan lutut yang hampir tak bisa kugerakkan walau masih bisa kutahan air mataku. Ya Rabb apa yang akan terjadi pada hamba? Ya Rabb lindungi hamba. Dengan polos dan antara sadar dan tidak aku hanya menjawab, ”pulang”.

Kulirik lagi teman di seberangku. Angkot yang ia tunggu datang, dan ia naik. Sungguh, terbersit rasa kecewa. Dan kini hanya bisa beristighfar dan berdo’a…

”Wah salah jalan,” sayup aku mendengar seorang laki-laki berbadan besar itu berkata pelan pada teman-temannya. Dan kemudian mereka pergi begitu saja.

Allahu akbar! Aku hanya bisa memekik dalam hati. Dan air mataku mulai meleleh, karena ketakutan dan karena syukur yang tak terkira.

Dan sekarang aku sangat bersyukur karena teman laki-laki itu meninggalkanku. Tadinya aku sangat berharap ia menyebrangi jalan ke arahku. Aku tak berharap ia menegur laki-laki berbadan besar itu, apalagi untuk kemudian membuat keributan. Aku hanya berharap ia memastikan aku baik-baik saja. Tapi ternyata ia pergi saat kedua motor itu masih berada di hadapanku. Walau esoknya ia menceritakan pada temannya alasan kenapa ia pergi meninggalkanku, dan aku belajar memahaminya.

Kejadian itu membuatku belajar bahwa ketika kita berharap pada manusia, maka hanya kecewa yang mungkin didapat. Mau bagaimana lagi, manusia hanya makhluk yang lemah, penuh keterbatasan. Dan sungguh hanya Ia tempat bergantung, tempat mengembalikan semuanya. Karena Ia Yang Maha Penolong.

Pun ketika kita membutuhkan manusia lain sebagai makhluk sosial, aku belajar untuk menyadari bahwa hanya Ia yang mampu menggerakkan hati orang lain untuk membantu kita.

Karena Ia Maha Pembolak-Balik hati….. Karena Ia yang paling memahami ciptaan-Nya, maka aku harus banyak belajar untuk hanya bergantung pada-Nya.

Categories: moment Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.