Home > poem > Dungu Menunggu

Dungu Menunggu

Ke mana? Ke mana setiap detik kerinduanku pada syurga?

Kubuang ke mana kekhawatiranku terhadap neraka?

Ketika aku tiba-tiba menjadi seorang penentang yang nyata dalam segala kelemahan dan ketidakberdayaanku

Ke mana air mata yang mengiringi takut, harap, dan cinta tertinggi hanya untuk-Nya?

Kupungut dari mana tawa lena yang melenakan?

Ketika aku tak juga tersadar dari tidurku yang terjaga, dari kesunyian, kesendirian dan kemunafikan

Ketika kaki ini semakin sulit untuk melangkah

Dianya diperparah oleh segala yang menjadi sebab yang disebab-sebabkan

Ketika tangan ini semakin sulit bekerja

Dianya diperparah oleh segala apa yang tak tahu apa-apa selain tak tahu

Ketika hati ini beku dan membatu

Dianya diperparah oleh segala yang ia pertentangkan dalam dianya sendiri

Aku menunggu

Diam dalam diam yang dalam

Ini akan berakhir dan senyum geli akan adalah penutupnya

Aku menunggu

Sunyi dalam sepi yang menulikan

Berharap satu eposide buruk segera berganti tayangan

Aku hanya menunggu

Dalam segala kedunguanku akan arti menunggu

Karena yang kutunggu adalah diri

Diri dari diri yang menunggu

Bandung, 27 Juli 2007

Categories: poem Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.