Dungu Menunggu
Ke mana? Ke mana setiap detik kerinduanku pada syurga?
Kubuang ke mana kekhawatiranku terhadap neraka?
Ketika aku tiba-tiba menjadi seorang penentang yang nyata dalam segala kelemahan dan ketidakberdayaanku
Ke mana air mata yang mengiringi takut, harap, dan cinta tertinggi hanya untuk-Nya?
Kupungut dari mana tawa lena yang melenakan?
Ketika aku tak juga tersadar dari tidurku yang terjaga, dari kesunyian, kesendirian dan kemunafikan
Ketika kaki ini semakin sulit untuk melangkah
Dianya diperparah oleh segala yang menjadi sebab yang disebab-sebabkan
Ketika tangan ini semakin sulit bekerja
Dianya diperparah oleh segala apa yang tak tahu apa-apa selain tak tahu
Ketika hati ini beku dan membatu
Dianya diperparah oleh segala yang ia pertentangkan dalam dianya sendiri
Aku menunggu
Diam dalam diam yang dalam
Ini akan berakhir dan senyum geli akan adalah penutupnya
Aku menunggu
Sunyi dalam sepi yang menulikan
Berharap satu eposide buruk segera berganti tayangan
Aku hanya menunggu
Dalam segala kedunguanku akan arti menunggu
Karena yang kutunggu adalah diri
Diri dari diri yang menunggu
Bandung, 27 Juli 2007
Recent Comments