Alas Kaki
Euphoria pra Idul Fitri semakin terasa. Kelurgaku pun jadi “korban”. Beberapa hari menjelang lebaran aku diperintahkan mama untuk membeli sandal baru, sebuah sandal “wanita yang manis”. Wajar sih karena sandal yang kumiliki hanya sebuah sandal gunung, itupun sudah bertahan selama hampir enam tahun menemaniku. Sebenarnya malas, karena sampai sekarang aku tak juga bisa merasa nyaman menggunakan sandal “wanita yang manis”. Ya, selama ini aku lebih suka mengenakan sepatu kets dan sandal gunung atau bahkan sandal jepit.
Tapi daripada berseteru (ya, aku terkadang berseteru dengan mama karena penampilanku yang “urakan”. Biasanya kami akan berseteru menjelang saat-saat aku harus menghadiri undangan pernikahan teman, hehehe) akhirnya aku hanya berkata dengan pasrah, “Ya, kalau nemu yang cocok, kalau nggak ada yang cocok nggak usah ya.” Mama mengiyakan, juga dengan pasrah.
Maka dengan menyeret langkahku, aku mengunjungi pusat pertokoan yang paling dekat dengan rumah, malas juga kalau harus jauh-jauh, karena aku sudah merasa tak akan menemukan yang cocok (hahaha, ya iyalah nggak akan nemu yang cocok, karena yang kuinginkan adalah sandal gunung lagi, dan mama pasti marah kalau aku membelinya).
Aku masuk-keluar toko yang satu ke toko yang lain. Tak ada yang menarik, karena bagiku model-modelnya memang norak, seringkali aku lebih tertarik pada sandal untuk laki-laki (duh… untuk masalah penampilan ternyata sifat maskulinku masih cukup tinggi, tapi sampai sekarang aku tak merasa itu adalah masalah… hehehe).
Sampai aku berpapasan dengan seorang laki-laki tua. Laki-laki itu mendorong sebuah gerobak kosong. Aku menunduk dan bisa kulihat ia berjalan tanpa alas kaki. Aku beristighfar. Masih banyak orang yang tidak seberuntung diriku. Seketika aku merasa sangat malu dan memutuskan untuk tidak membeli sandal apapun (walau akhirnya membeli kaus kaki yang notabene merupakan alas kaki juga, hehehehe).
Ya, bukankah kita tak memerlukan alas kaki apapun untuk melangkah ke syurga-Nya?
Nis, ayo jadi cewe yang sesungguhnya… Halah…
Allah suka yang indah kan Nis. Jadi, kalau bisa tampil rapi dan manis, kenapa milih tampil urakan? Hihi…