Home > perception, review > Budaya “Positif”, Kok “Negatif”?

Budaya “Positif”, Kok “Negatif”?

Ada space antara aksi dan reaksi manusia, space itu bernama pilihan

Ada banyak kebiasaan aneh yang secara sadar atau tidak sadar berkembang di sekitar kita, bahkan sadar atau tidak masih saya lakukan. Saya menyoroti dua kebiasaan aneh dalam tulisan ini. Kebiasaan itu adalah:

  1. Memuji

Suatu hari saya berada di sebuah sekre menunggu rapat sambil merangkum hasil kuesioner. Seorang teman datang, “Eh hari ini kuis X ya?”

“Dosennya sih bilang gitu,” jawab saya karena memang sang dosen menyuruh kami membaca bab satu dan dua serta bersiap untuk kuis.

Kemudian teman saya itu meminjam buku saya. Saya tak menggunakan buku itu saat itu, karena saya harus menyelesaikan rangkuman kuesioner hari ini, maka rencana saya untuk membaca saya tunda (alasan… padahal mah malas belajar ^_^). Teman saya itu mulai membaca buku.

Lalu beberapa orang yang juga berada di sekre itu mulai berkomentar, kira-kira komentarnya seperti berikut, “Wah rajin bener baca buku X, seumur-umur gw belum baca tuh buku, emang angkatan 2005 keren!”

Dan setelah komentar itu meluncur, selang beberapa menit teman saya berhenti membaca. Ia menutup buku X itu sambil berterima kasih saya telah meminjamkannya.

Saya tak berkomentar. Tapi saya merasa ada yang salah. Apa teman saya terpengaruh komentar itu? Saya tidak tahu…

Tapi hal semacam itu sangat sering terjadi. Misalnya ketika ada orang ke perpustakaan lalu dipuji dengan kalimat, “Deuh rajin bener”. Atau yang suka ke masjid lalu lewat dipuji dengan, “Duh bau surga, bau surga…”

Kalau saya lihat sih sebenernya nggak ada masalah. Yang dipuji harusnya berterima kasih karena sudah didoakan. Dan yang memuji juga kalau niatnya memang memuji ya nggak masalah. Tapi masalahnya adalah ketika yang memuji bukan berniat untuk memuji dan yang dipuji adalah orang yang takut dianggap freak.

Walau hal itu nggak berlaku untuk semua orang. Saya menemukan banyak orang di sekeliling saya yang dapat memfilter “saya sosial” yang negatif untuk mempertahankan “saya diri” yang positif demi “saya ideal” yang mereka idamkan, karena mereka punya tujuan hidup dan bisa mengesampingkan hal-hal diluar tujuan hidup mereka. Tapi tidak jarang saya temukan orang-orang yang belum steady dengan tujuan hidup mereka sehingga mudah terbawa lingkungan.

Jadi jika memang berniat memuji, pujilah dengan tulus, walau mungkin orang yang dipuji menangkap lain dari yang kita maksud, toh niat kita memang benar. Dan kalau kita dipuji, ya bersyukurlah, walau orang yang memuji terlihat tidak tulus, toh kita kan nggak tahu niat mereka.

  1. Menyemangati

Budaya yang satu ini terasa ketika kita berada dalam kelompok untuk mengerjakan sesuatu. Tugas kelompok misalnya. Si A bilang, “Ayo B semangat!”, si B bilang, “Semangat C!” si C bilang, “D ayo semangat!” dan seterusnya (tergantung jumlah orang dalam kelompok, 3 untuk MatKul SI dan IB, 4 untuk OS dan BD, hehe apa sih?).

Memang menyemangati sih, tapi seringkali kalimat semangat itu terasa seperti, “Semangat ya ngerjainnya, saya nggak bisa bantu banyak, dan cuma bisa bantu dengan doa! Pokoknya aku padamu lah!”

Nggak berlaku untuk semuanya sih, tapi itu yang sering saya rasakan ketika saya sendiri mengucapkan kalimat semangat itu. Walau pada kenyataannya kita seringkali memang bekerja sama.

Sekali lagi nggak ada yang salah kalau yang mengucapkan memang benar-benar memberi semangat tanpa tujuan lain, dan yang diberi semangat tidak berpikiran buruk.

Tapi itulah menariknya, setiap kita mungkin memiliki persepsi yang berbeda-beda. Bukan masalah, ketika kita bisa mempertahankan yang positif sebagai positif dan jauh lebih baik ketika kita bisa mengubah yang negatif jadi positif.


N.B. Punten pisan kalau ada yang merasa jadi pemeran di cerita saya ini :D … sebenernya saya masih jadi pemeran utamanya kok :D

Categories: perception, review Tags:
  1. November 5, 2007 at 12:19 am | #1

    Iya nih,
    maaf kalo pas kerja kelompok Basis Data saya cuman bisa nyemangatin…..

    Ya ampun pet, emang saya ngapain di kelompok OS? :D

  2. November 6, 2007 at 4:52 am | #2

    - Ow ow ow… Kayanya aku kenal buku X. Pasti buku yang multifungsi yang pernah ku bahas di blog :)

    - Wew, iya ih, Anis… Sering bilang “Semangat…”. :)

    - Hmm… Dunia zaman sekarang (apa coba?)… Kadang mau berbuat yang ‘positif’ harus tahan dengan ‘pujian’ atau ‘penyemangat’

    wah wah SHa penebak jitu! ya maaf ya Sha seringnya bilang semangat yang kayak gitu :( maaf Bu Ketu…

  3. hanoi
    April 18, 2008 at 3:57 pm | #3

    pengin nambahin aja, kata seorang teteh, pujian dan semangat dari teteh mentor itu sangat positif lho *kira2 berapa ya muatannya?*… hhe.
    semangati kami semua ya teh…heu. lama sekali tidak bersua nih… =)
    btw, mungkin ada baiknya kata “semangat” itu diganti sama… “ada yang bisa saya bantu?”
    alangkah indahnya ukhuwah… =)
    ya udah, karena biasanya kalo nulis apa2 saya akhiri dengan kata “semangat”, sekarang hanoi ganti…
    ayo teh, ada yang bisa hanoi bantu??? =))

    wah jadi malu sama adikku ini…
    iya lama tak bersua, tapi tahun ini kan ke ITB (keukeuh :p)
    gt ya, kata “semangat” diganti jadi “ada yang bisa saya bantu?”… jadi klo ada kalimat “saya sedang ber-ada yang bisa saya bantu?” jangan aneh ya :P
    yang hanoi bisa bantu? tolong titip salam buat semua temen2 yah, miss u all… mohon maafkan kelalaian saya… lagi bingung ngatur jadwal nih

  1. No trackbacks yet.