Archive

Archive for December 30, 2007

Kangen Rapat

December 30, 2007 anis 5 comments

Setelah rindu kekejaman, sekarang kangen rapat, manusia aneh macam apa sih si Anis ini? Ehehehe, iya, walau masih cukup sering rapat, tapi saya rindu suasana rapat yang saya sukai. Rapat yang kondusif, dimana para pesertanya melakukan brainstorming secara sehat. Bukan hanya brainstorming tentang hal-hal teknis, tapi juga brainstorming hal-hal filosofis dalam bentuk yang lebih ilmiah, didasarkan pada pemahaman dan seringkali diambil dari referensi buku (yang menjadi input pengetahuan baru bagi peserta lainnya).

Read more…

Categories: perception Tags:

Rindu Kekejaman

December 30, 2007 anis 1 comment

Suatu ketika seorang teman menuliskan “merindukan seseorang yang mau mengingatkan” di status YM-nya. Ia kemudian membuka percakapan dengan saya dengan cerita pembuka mengenai Khalifah Umar bin Khattab yang bersedih karena khawatir akan kesalahannya namun tak ada yang mau mengingatkan karena statusnya sebagai khalifah. Sambil cengengesan (cengengesan… kenapa kamu susah sekali serius Nis?), saya menjawab, “Wah emang kamu salah apa? Saya mau kok jadi Hudzaifah-nya”, karena di lanjutan ceritanya, Hudzaifah pun bertanya pada khalifah Umar mengapa ia bersedih, dan ketika ia tahu penyebab kesedihan sang khalifah, ia bersedia dan akan dengan senang hati meluruskan sang khalifah jika sang khalifah tersalah, dan khalifah pun menjadi sangat gembira karenanya.

Padahal di luar hal tersebut, saya pun tengah rindu pada sosok-sosok “kejam” yang senantiasa menatap penuh kecurigaan, menyindir, mengirimi SMS, bahkan mengintimidasi saya ketika saya berbuat kesalahan. Padahal saya merasa saat ini saya melakukan banyak sekali kesalahan. Apa mungkin saking banyaknya kesalahan saya, tak ada lagi orang-orang “kejam” yang dianugerahkan untuk saya? Atau saya yang sudah terlalu ndablek sehingga “kekejaman” mereka hanya saya anggap angin lalu?

Read more…

Categories: perception Tags:

Arus Balik dan Makna Kepahlawanan

December 30, 2007 anis 7 comments

Arus Balik karya Pramoedya Ananta ToerSuka tulisan Pramoedya Ananta Toer? Kalau ya, pasti nggak akan ngelewatin novelnya yang satu ini: Arus Balik. Novel lama sih, tahun 95, tapi seperti tulisan Pramoedya yang lain, novel ini tetap asyik dikunyah kapanpun.

Saya penggemar Pramoedya? Bukan, bahkan novel ini baru novel pertama-nya yang saya baca (masalahnya nggak punya, dan belum punya link buat minjem ^^’). Lagipula saya nggak hobi baca, cuma gara-gara saya hobi nulis, saya harus rajin baca buat referensi yang akan saya tulis, yah seperti teko yang harus berisi kalau mau nuang air ke gelas (ini merendah atau justru sok-sokan? >_<).

Di luar konteks kisah hidupnya yang juga menarik disimak, novel ini cukup menarik terutama buat penggemar sejarah, sastra atau sekadar kata-kata tentang alam yang puitis (karena memang ini yang jadi salah satu penyebab saya bertahan membaca novel yang hampir setebal buku AI itu [sekitar 700 halaman], kekuatan personifikasi yang memang melekat pada diri Pramoedya).

Arus Balik, secara general, bercerita tentang upaya mengembalikan arus dari selatan ke utara yang pernah terjadi pada masa kejayaan Majapahit (di novel ini diceritakan bahwa pada masa kejayaannya, Majapahit dapat mempengaruhi bangsa-bangsa di utara lho, jadi sedikit bertanya, “Wah, emang iya ya?” à Anis, Anis kok skeptis dengan bangsa sendiri sih?). Karena arus yang melanda pada saat itu berubah menjadi arus utara ke selatan, pemikiran, budaya, teknologi, hampir semuanya…. Dan yang saya pikir, novel ini “menantang” orang-orang kini untuk menyelesaikan upaya “arus balik” yang belum juga purna (atau bahkan belum dimulai ya? Atau bahkan kita tak pernah berpikir tentang itu, “Ya so what gitu, yang penting saya nyaman dengan kondisi saya, tak peduli saya ikut arus yang mana…”).

Oke cukup pembukaannya, saya sebenarnya ingin membahas makna yang saya tangkap (dengan susah payah >_<) setelah membaca novel itu: kepahlawanan. Novel itu bercerita tentang sepasang orang ndeso bernama Wiranggaleng dan Idayu dan usaha mereka mempertahankan idealisme mereka di tengah perubahan yang mendesak mereka: kehadiran Peranggi (Portugis), dalam setting Nusantara lama, kekalutan perebutan kekuasaan, upaya menyatukan nusantara kembali seperti pada jaman Majapahit, “kekaguman” akan bangsa berkulit putih dan peralatan canggihnya (meriam), dan usaha mengusir penjajah atau berkompromi dengan mereka.

Singkat cerita, Galeng yang tadinya seorang petani sederhana, setelah melalui beragam kemelut, berhasil menjadi seorang panglima besar demi mempertahankan Nusantara dari tangan penjajah (kalau mau tahu cerita lengkapnya baca aja ya, hehe tapi jangan pinjam sama saya, soalnya saya juga pinjam ^^’). Ia sesungguhnya sangat mampu menjadi bagian dari buku sejarah yang beredar di kalangan siswa SD sebagai pahlawan Nasional (jika Galeng bukan tokoh fiktif, karena yang saya tangkap, novel itu dibuat berdasarkan pengamatan dan penelitian yang cukup mendetail), namun idealisme-nya justru membuatnya “hanya” dikenang oleh orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya.

Menjadi pahlawan, memang sebuah pilihan. Bukan hanya mengenai bakat dan kesempatan, ia juga mewakili keterdesakan kebutuhan akan hadirnya pahlawan itu sendiri, dan pastinya seperti yang sudah disebutkan: pilihan.

Bukan, bagi saya pahlawan bukan berarti seseorang yang memiliki sayap hingga bisa terbang, atau bisa melayang dengan jaring laba-laba, atau lainnya (karena itu termasuk kategori superhero bukan hero, ya kan?). Di mata saya pahlawan lebih pada seseorang yang dengan kemampuan yang ia miliki, kesempatan yang menghampirinya, dan pilihan sadar yang ia buat, ia berani menjawab kebutuhan lingkungannya, dengan beragam konsekuensi yang akan menghampirinya.

Sayang, saya jarang menemukan orang seperti Galeng yang demikian sederhana namun memegang kuat apa yang ia yakini sehingga “rela” melepaskan godaan menjadi seorang pahlawan besar untuk kemudian “cukup” menjadi pahlawan di hati orang-orang yang ia cintai. Bukan, saya bukannya menyalahkan orang-orang yang memang memiliki kapabilitas untuk menjadi pahlawan bagi banyak orang (walau tidak meniatkan dirinya untuk dielukan sebagai “pahlawan”). Saya hanya menyayangkan keinginan berlebihan untuk meraih prestige sebagai pahlawan namun melupakan orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi “korban kepahlawanan” pertamanya. Sehingga justru orang terdekatnyalah yang menjadi musuhnya.

Allahu’alam bishawab

Untuk seseorang yang masih juga ingin dielukan sebagai pahlawan untuk setiap kebaikan kecil yang ia lakukan. (wah siapa tuh Nis? Ya… saya sendiri! >_<)

Categories: perception, review Tags: