Home > perception > Rindu Kekejaman

Rindu Kekejaman

December 30, 2007 anis Leave a comment Go to comments

Suatu ketika seorang teman menuliskan “merindukan seseorang yang mau mengingatkan” di status YM-nya. Ia kemudian membuka percakapan dengan saya dengan cerita pembuka mengenai Khalifah Umar bin Khattab yang bersedih karena khawatir akan kesalahannya namun tak ada yang mau mengingatkan karena statusnya sebagai khalifah. Sambil cengengesan (cengengesan… kenapa kamu susah sekali serius Nis?), saya menjawab, “Wah emang kamu salah apa? Saya mau kok jadi Hudzaifah-nya”, karena di lanjutan ceritanya, Hudzaifah pun bertanya pada khalifah Umar mengapa ia bersedih, dan ketika ia tahu penyebab kesedihan sang khalifah, ia bersedia dan akan dengan senang hati meluruskan sang khalifah jika sang khalifah tersalah, dan khalifah pun menjadi sangat gembira karenanya.

Padahal di luar hal tersebut, saya pun tengah rindu pada sosok-sosok “kejam” yang senantiasa menatap penuh kecurigaan, menyindir, mengirimi SMS, bahkan mengintimidasi saya ketika saya berbuat kesalahan. Padahal saya merasa saat ini saya melakukan banyak sekali kesalahan. Apa mungkin saking banyaknya kesalahan saya, tak ada lagi orang-orang “kejam” yang dianugerahkan untuk saya? Atau saya yang sudah terlalu ndablek sehingga “kekejaman” mereka hanya saya anggap angin lalu?

Mengapa rindu “dikejami”? Karena menurut saya hal itulah yang membedakan kualitas Ka’ab bin Malik hingga ia mendapat “hukuman” yang lebih berat dibanding orang lain yang tidak ikut serta ke Perang Tabuk. Karena ia adalah seorang ahli Badr, sehingga Rasulullah menganggap ia tak pantas melakukan kelalaian. Dan kualitas itu pula yang membuat Ka’ab menerima dengan ikhlas hukuman pengasingan yang membuatnya merasa seolah-olah dunia menghimpitnya, dan menolak dengan keras tawaran untuk murtad.

Ah memang tak sekualitas Ka’ab… tapi saya masih boleh berharap untuk “dikejami” kan? Ya… “kekejaman” karena cinta, karena keinginan untuk memperbaiki, untuk meluruskan, karena merasa “Kamu nggak pantas kayak gitu Nis!”

Karena kita mencintai dan membenci hanya karena-Nya….

Allahu’alam bishawab

(Aih, jangan-jangan seudah saya nulis ini, saya langsung dilemparin telur busuk, atau ditonjokkin, atau… aaaaaah…. >_<) … Duuh serius dikit napa sih?

Categories: perception Tags:
  1. mira
    December 30, 2007 at 10:05 am | #1

    jazakillah…iya teh, begitulah cemburu. ‘ke luar’ ia memang kadang dibahasakan dengan ‘jahat’, tapi sebenarnya ‘ke dalam’ ia membangun diri dan yg dicintainya untuk menjadi lebih baik…

  1. No trackbacks yet.