Beberapa Perilaku Ponakan
Pingin cerita tentang ponakan saya yang usianya baru tiga tahun. Ponakan yang pernah bilang kalau cita-citanya adalah jadi kambing ompong ^_^. Ini adalah beberapa perilakunya yang menurut saya cukup menonjol,
1. Kalimat favoritnya saat terpojok, “Ah, Bi Anis mah galak, nggak mau main sama Bi Anis!”
Padahal siapa juga yang mau main sama dia (jahat sekali saya ini). Suatu bentuk eksistensi diri, ingin danggap penting. Ternyata hal seperti ini secara jujur telah terbentuk pada anak kecil ya.
2. 2. Sangat takut pada speaker masjid (kadang dia juga takut pada speaker di acara-acara macam nikahan) dan topeng (mungkin hanya topeng tertentu sih, khususnya topeng yang jadi properti untuk menari di masa saya SMP)
Lucu, ketakutan yang dialami oleh anak kecil adalah ketakutan pada hal-hal sederhana yang sifatnya tidak abstrak. Mungkin berbeda dengan orang dewasa yang ketakutannya lebih banyak pada hal yang sifatnya abstrak… takut miskin, takut nggak lulus, takut nggak diterima, dll. Ternyata kalau saya perhatikan, secengeng apapun anak kecil terhadap ketakutan-ketakutannya, orang dewasa punya lebih banyak ketakutan. Dan tidak jarang cara anak kecil menanggulangi ketakutannya justru lebih menyenangkan dibanding orang dewasa menanggulangi ketakutannya.
3. 3. Pecinta mobil, dan hapal berbagai jenis mobil
Lucu banget, dia pernah tidur siang dan tiba-tiba terbangun gara-gara ingat mobil-mobilan yang baru dibelinya. Seperti poin no 2, anak kecil juga mencintai sesuatu yang sifatnya tidak abstrak. Maka saya sering bertanya, jika kita sangat mencintai hal-hal yang bersifat fisik, apakah kita masih kekanakan ya?
4. 4. Kalimat rayuannya, “Kan Alif sayang sama Bi Anis…”
Sangat bertentangan dengan poin no 1. Biasanya ia mengatakan hal ini kalau lagi leyeh-leyeh di pangkuan saya. Ya, walau masih kecil, ternyata perasaan seperti itu memang sudah dianugerahkan ya…. Tapi yang membuat saya geli, adalah bagaimana ia mengekspresikannya secara jujur dan sederhana, tanpa banyak babibu, seringkali tanpa kalimat pengantar.
5. 5. Suka mengajukan pertanyaan aneh berulang-ulang
Seringkali merasa kesal kalau ia mulai mengoceh dan bertanya tanpa henti. Kalau sudah kesal biasanya saya “usir” dengan menakutinya pakai topeng (saya ini memang jahat sekali…). Padahal itu menunjukkan keingintahuannya yang besar. Bukankah kita percaya bahwa “pertanyaan paling bodoh adalah pertanyaan yang tidak diajukan”. Hummm… ternyata butuh kesabaran ya untuk jadi orang tua yang baik.
6. 6. Merebut benda yang sedang asyik dimainkan orang lain
Seperti anak kecil pada umumnya, jika benda itu sudah ditangannya, lalu orang lain memainkan benda yang lain, maka ia akan merebutnya juga sampai tangannya kepenuhan dan tak bisa lagi merebut apapun dan akhirnya menangis. Serakah? Kalau untuk orang dewasa mungkin ya, tapi untuk anak kecil… sekali lagi menurut saya itu hanya suatu cara untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Ia hanya ingin diperhatikan dan dianggap penting.
Sebenarnya masih banyak perilakunya yang sering membuat saya tertawa walau lebih sering membuat gemas (inginnya meremas dan ngucek-ngucek). Apa yang paling saya suka dari ponakan saya itu? Selain menciumi pipinya yang empuk, saya tentu saja sangat suka mengganggunya hingga ia mengeluarkan statement di poin 1 dengan lengkingan ultrasonik, hahaha….
Hummm… anak itu memang merupakan berkah, tapi ternyata jadi orang tua itu tidak mudah ya? Dan saya pikir sangat baik kalau kita menyiapkan diri jadi orang tua sejak dini, walaupun mungkin belum berpikir ke arah sana. Tapi dimensi pendidikan anak itu luas kok. Jangan dulu melihat pada hal-hal yang rumit, contoh sederhananya ya… melatih kesabaran.
anis:
saya tentu saja sangat suka mengganggunya hingga ia mengeluarkan statement di poin 1 dengan lengkingan ultrasonik
ckckckck…iya anis jahat nih..kerjaannya gangguin orang..hihihihihi…
nis, kalo lengkingan ultrasonik bukannya malah jadi ga kedengeran ya?