Home > moment > Ternyata Susu!!!

Ternyata Susu!!!

Setelah tidak begitu sukses dengan puding, esoknya tanpa menyerah sampai titik darah penghabisan (halah…) saya masak lagi. Kali ini korban saya adalah spaghetti.

Spaghetti, saya cukup sering memasak pasta jenis ini, tapi entah kenapa rasa sausnya kurang mak nyuss. Tanpa kenal lelah demi sesosok daging cincang di lemari es yang merengek ingin dimakan, maka saya mulai memutar otak untuk mencari cara membuatnya enak. (berlebihan banget ya…)

Seperti biasa spaghetti direbus, jangan lupa tambahkan sedikit minyak sayur agar tidak lengket dan sedikit garam agar cepat lunak dan agar rasa spaghetti tidak hambar. Jangan terlalu lembek, karena jika sausnya siap, spaghetti akan dimasak lagi untuk meresapkan sausnya. Lagipula, lebih enak kalau agak kenyal.

Untuk sausnya, pertama tumis bawang bombay yang sudah dicincang. Kalau mau lebih sehat, tumis dengan menggunakan minyak wijen. Kenapa bawang bombay? Kenapa ya… mungkin citarasanya lain kalau pakai bawang merah apalagi bawang putih. Yang jelas kalau udah pakai bawang bombay, nggak perlu lagi pakai bawang merah, vice versa. Tapi kalau penasaran kenapa, ya… coba saja pakai jenis bawang yang lain, asal jangan bawang daun, karena yang ini jelas nggak cocok kalau ditumis.

Setelah bawangnya harum (kalau numisnya pakai minyak wijen, bedakan wangi minyak dengan wangi bawang ya! And feel it!) lalu masukkan daging cincang. Nah yang satu ini bisa diganti dengan apapun yang ada di rumah, pakai ikan, ayam, udang, bahkan tahu, cuma jelas rasanya bakal lain >_<, dan pastinya bisa juga ditambahkan berbagai macam jenis bahan makanan yang lain untuk kombinasi. Tapi jangan asal campur ya, harus diperhatikan juga apa yang kira-kira cocok! Perhatikan juga ukurannya, jangan sampai masukkin bahan makanan segede-gede gambreng ke dalam saus, karena jelas namanya nggak akan pantas disebut saus lagi, jadi cincang dulu bahan-bahan itu ya! Yang sering saya tambahkan adalah sawi putih, wortel, atau kentang. Mungkin kalau mau sausnya ada rasa manis-manisnya dan segar bisa pakai tomat, buncis atau jagung pipilan (wah patut dicoba nih untuk “Cooking Adventure” selanjutnya).

Kalau daging udah sedikit berubah warna jadi kecokelatan, masukkan susu cair. Nah, biasanya saya menggunakan air biasa untuk mengempukkan dan mematangkan semua jenis bahan makanan dalam saus (oh ya, susu bisa diganti pakai santan). Dan ternyata susu itu yang membuat saus lebih gurih, dan lebih mix and match dengan sang saus. Ternyata inilah yang selama ini saya cari sebagai biang keladi kekurang-enakkan saus spaghetti saya.

Perhatikan lamanya memasak saus, kalau kelamaan… vitamin dari sayurannya nanti hilang (bukan iklan xxxxzone…), tapi ada beberapa jenis makanan yang memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk matang, kentang misalnya. Untuk menyiasatinya, coba rebus kentang secara terpisah terlebih dahulu.

Oke… lalu bumbunya? Saus tomat jelas… tambahkan agak banyak kalau mau agak asam. Garam, gula, lada, dan bumbu kaldu (sapi atau ayam nggak terlalu masalah). Kalau mau agak menyengat, coba pakai lada hitam jangan lada putih. Dan kalau punya oregano bubuk, coba deh ditambahkan, nggak ngubah rasa secara signifikan sih, tapi cukup mengubah baunya dan mungkin mengubah selera makan juga. Buat saya, hal paling penting dalam memasak adalah citarasa dari bumbu, jadi just imagine it, taste it, feel it!

Kalau suka dan kalau saus terlalu cair, setelah saus mendidih, tambahkan telur. Katanya, menambah telur di masakan berkuah sebelum mendidih bisa mengakibatkan bau amis telur tercium. Langsung orak-arik sang telur begitu ia mendarat di panci ya, kalau nggak, bisa-bisa dia jadi telur rebus.

Nah sekarang aduk-aduk sampai mengental. Kalau sudah, campur saus dengan spaghetti, masak sampai cukup meresap. Sajikan dengan keju cheddar parut dan saus cabe. Lho kenapa keju dan saus cabenya nggak ditambahkan saat dimasak? Keju parut pasti aneh kalau dimasak dengan saus. Sementara saus cabe ditambahkan setelah matang agar bisa ditambahkan sesuai selera. Selain itu penyajian dengan keju parut yang ditaburkan di atas spaghetti, dan saus cabe yang dituang tipis-tipis melingkar diatasnya akan membuat perpaduan warna yang cukup menarik. Yup user lebih menyukai interface yang menarik kan?

Voila! Jadilah spaghetti yang cukup bisa diadu dengan spaghetti buatan restoran. (diadu doang, kalau kalah sih… ya masih kalah….)

Sayang karena saking enaknya sampai-sampai habis secepat halilintar… sampai gambarnya lupa diambil (hahaha bohong deng). Dan jangan tanya takarannya, karena masakan khas saya adalah “tanpa takaran” alias ngasal asal enak >_<.

Yup memasak adalah petualangan… petualangan hati, otak dan tangan untuk mencapai kepuasan sang lidah dan perut. Dan seperti kata Gusteau di film Ratatouille, “Everyone can cook!” yang diartikan oleh Anton Ego sebagai, “Not everyone can become a great artist, but a great artist can come from anywhere” … so why don’t you try to cook?

Tapi bagaimanapun yang namanya berlebihan itu tidak baik. Apalagi berlebihan untuk sang perut. (Iya Nis, katanya mau diet? Hahaha saya diet? Kayaknya nggak deh… saya lebih suka menikmati apa yang bisa saya nikmati daripada menyiksa diri untuk tidak memakan apa yang ingin saya makan. Bagi saya yang penting tidak berlebihan)

Categories: moment Tags:
  1. January 27, 2008 at 8:14 am | #1

    tampak enak..
    wah udh mulai masak2…saya belum nih :(

    iya ayooo masak!

  2. January 29, 2008 at 2:27 am | #2

    wah..jadi pengen spagheti..
    saya juga kalo masak sausnya suka emg kurang manyuss.
    saya coba ah pake susu seperti saran anis..
    eh, tp biar kuahnya biar kental gimana yah?

    jangan terlalu banyak aja susunya, untuk sekitar 250 gr daging sapi cincang, susunya segelas aja. lagian nanti mengental sendiri kok, klo nggak kental juga pakai telur atau klo mau ditambah sedikit terigu, tapi jangan kebanyakan ya… nanti aneh rasanya klo kebanyakan terigu… oke met masak!

  3. February 11, 2008 at 7:18 am | #3

    Salam kenal… numpang lewat, dari blognya teh detri. Tadinya cuma mo liat liat… tapi eh… ada resep masakan, kebetulan saya suka masak.

    Afwan nih… itu beneran dimasukin telur? yang saya tau sih kalo kuah pengen kental dimasukin maizena yang dicairkan. Mungkin memang karena rasanya enak ya… tapi perasaan resep spageti yang biasa saya liat nggak ada telurnya sih.
    tukeran pengalaman deh…
    Ini link artikel saya tentang memasak:
    http://ardee.cmsku.org/category/masak/

    Wassalamualaikum

    wa’alaykummussalam warahmatullah
    iya memang untuk mengentalkan pakai maizena, tapi beda jenis kekentalannya kalau ditambah telur. coba aja masak sejenis sup terus ditambah telur, hummm misalnya yang sering dilakukan anak kost… masak mi pakai telur, ya seperti itu… jadi kentalnya bukan kekentalan seperti sirup… coba aja ya…
    hehe, nggak pernah liat resep spaghetti pakai telur? mungkin karena saya emang suka nyoba yang nggak-nggak kali ya, jadi jarang juga liat resep :)
    sughoi, suka masak juga ya?

  4. March 3, 2008 at 8:18 am | #4

    nis…kalo resep spagetti-ku mah rada beda… bagi2 ya..

    bikin saus:
    masukkan bawang bombang yang sdh dipotong2. tumis sampai harum (dan agak layu kalo sukanya yang mateng)
    masukin daging cincang, tunggu agak mateng. ga usah pake susu karena ntar keenceran. soalnya dagingnya kan juga mengeluarkan air.
    masukin saos tomat 1 botol kecil (plus tomat beneran potong dadu kalo mau agak seger)
    kasih garam, merica bubuk, dan………OREGANO (ini bumbu yang bikin citarasanya beda dari masakan indonesia. harumnya khas ^^)

    Hehe….cuma share aja…^^

    gak jauh beda kok ghin? cume beda di susu doang :)

  5. hanoi
    May 14, 2008 at 1:58 pm | #5

    wah…teh anis rajin masak dan mencoba resep. jadi inget percakapan dengan dini *hayo.inget ga teh sama adik mentornya*.
    waktu itu lagi ngomongin acara lomba masak akhwat *yg udah lama diomongin tapi ga jadi-jadi*
    dini: hanoi. jadi perempuan tuh harus pinter masak.
    hanoi: iya…
    dini: iya tau, biar suaminya nanti ga kabur.
    hanoi: ??!!
    daan entah knapa blakangan ini akhwat2 jadi suka ngomongin suami…wawawah…

    ngomongin suami???? iiiiiihhhh kalian mengerikaaaannnn!!!!!
    perasaan dulu zaman saya SMA nggak gt deh… kami dulu masih lucu (dan sampai sekarang juga saya masih lucu :P )

  6. edy
    June 23, 2008 at 3:53 am | #6

    itu kan buatan sendiri dan tanpa bahan pengawet. kalo disimpan di kulkas sausnya tahan berapa lama mba ?

    thx

    ummm sebenernya karena saya masih amatiran, saya kurang tau juga mas… hehehe soalnya seringkali seudah makan langsung abis sama saya orang rumah, hehehe

    tapi saya perkirakan sih karena pakai susu bisa sekitar 1-2 hari, tapi kalau mau dimakan, dihangatkan dulu ya, spaghetti nggak enak kalau dimakan dingin :)

  7. Mama pya
    October 30, 2009 at 6:53 am | #7

    Wah ini dia jawaban atas kebibungan ku skrg ini. Lg msk spagetti nih eeh saosnya asem sem sem, tq ya. Blm dcoba si tp minimal bs lgs aku coba.

    • October 30, 2009 at 8:49 pm | #8

      wah sama-sama, mudah-mudahan jadi enak ya :)

  1. No trackbacks yet.