Awal Maret
Pagi itu saya buru-buru naik angkot jurusan Caheum-Ledeng, lumayan masih kosong, jadi saya bisa memposisikan diri di tempat duduk paling pojok. Kenapa paling pojok? Ummm soalnya saya bersiap untuk sejenak membiarkan mata tertutup setelah malamnya sedikit berjuang mempertahankan dirinya untuk melek.
Saat saya naik, hanya ada dua penumpang, sepasang suami istri setengah baya. Tak lama naik dua orang ibu kira-kira usianya 50-an. Dengan susah payah mereka berusaha menaikkan karung besar ke dalam angkot. Kemudian dengan ramahnya mereka menawari sepasang suami istri itu, isi karung mereka yang ternyata ubi. Ubi itu mereka beli dari Jatinangor, dan hendak mereka jual.
Tak berapa lama setelah kedua ibu itu, naik pula seorang gadis muda, sepertinya masih kuliah. Dan karena sudah menunggu cukup lama, sopir akhirnya memutuskan untuk memberangkatkan kami.
Sampai di sebuah lampu merah, seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun mendekati angkot kami. Bajunya lusuh, rambutnya merah tak beraturan. Tangan kecilnya menengadah menanti recehan yang diulurkan dari penumpang, sambil berkata lirih dengan kosa kata yang tak jelas. Ibu sang anak berdiri tak jauh darinya. Ia menggendong bayi, adik dari anak kecil itu.
Setelah angkot yang saya naiki berlalu agak jauh, komentar-komentar mulai bermunculan dari para penumpang. Suami istri itu berkomentar, “Kasihan ya, masih kecil”. Sementara dua orang ibu penjual ubi berkomentar, “Tega betul ibunya, padahal sesusah apapun kan itu tetap anaknya…”. Sang gadis beda lagi komentarnya, “Emang bisanya bikin anak doang, ngurusnya nggak bisa…”. Sementara saya hanya merem melek sambil tersenyum simpul pada setiap orang yang minta persetujuan saya terhadap komentarnya.
Hummm… apa yang ditangkap? Menurut saya, kejadian itu merepresentasikan sebagian dari sikap dominan yang ada di masyarakat. Sepasang suami istri menurut saya merepresentasikan mayoritas penduduk yang ada di zona nyaman. Mereka memandang “kasihan” pada dua ibu penjual ubi dan si anak kecil, karena memang mereka tak pernah merasakan hal yang dirasakan si penjualubi dan si anak. Tapi sayangnya “kasihan” itu hanya sampai di lisan, tak ada pengejawantahan lain dari “kasihan” itu. Saya pikir itu juga yang terjadi di sebagian besar masyarakat. Kurangnya inisiasi untuk benar-benar bergerak.
Dua orang ibu penjual ubi merepresentasikan masyarakat menengah ke bawah yang tak menyerah dengan keadaan. Mereka terus berjuang mempertahankan harga diri mereka, bahwa “saya masih mampu, dan tak perlu belas kasihan orang lain”. Mereka mengasihani si anak kecil dan ibunya dengan cara yang lain, bukan karena miskin, tapi kasihan karena mereka tak bisa lagi mempertahankan harga diri. Mungkin karena itulah komentar yang keluar adalah “perbandingan” antara kondisi diri mereka dengan dirinya. Menurut saya, masyarakat jenis ini sudah jarang ada di kota. Masyarakat jenis ini banyaknya di daerah dan pedesaan, dimana mereka hidup masih dengan “ciri khas Indonesia yang sering didengungkan saat SD: gotong royong, ramah, dll.”
Menurut saya si gadis merepresentasikan masyarakat “terpelajar” yang bisanya hanya berkomentar. Komentarnya mungkin berbobot, tapi rapuh. Masyarakat yang hanya bisa memandang dari satu sisi untuk kemudian men-judge berdasarkan apa yang ia lihat. Ia tak pernah tahu, dan mungkin tak mau tahu kenapa si ibu tega membiarkan anaknya yang masih kecil berkeliaran di antara mobil yang berlalu lalang, mengemis, padahal anak itu adalah “anaknya”… darah dagingnya, yang pada masyarakat menengah ke atas begitu dimanja dan dilindungi. Ia hanya melihat pada “bagaimana seharusnya” untuk kemudian membandingkan pada apa yang ia lihat dan mengharuskan apa yang ia lihat untuk menjadi “seperti seharusnya”.
Si ibu dan si anak jelas merepresentasikan masyarakat bawah yang menyerah pada keadaan… yang sayangnya semakin mudah ditemui. Saya yakin kondisi mereka tak hanya stimulus dari kondisi internal mereka yang memang miskin. Kondisi eksternal mereka (dimana kita termasuk di dalamnya) menurut saya punya andil dalam kehidupan mereka.
Lalu saya merepresentasikan apa? Ummm… mungkin saya merepresentasikan masyarakat yang apatis, yang memikirkan hal-hal seperti… “tugas kuliah saya lebih penting daripada semua pembahasan itu…”
Allahu’alam bishawab
NB: … merindukan seseorang yang di dalam kulkas rumahnya tersedia banyak susu kemasan, setiap harinya ia menyimpan dua sampai tiga susu dalam tasnya untuk ia berikan pada anak kecil malang yang ia temui (seperti anak kecil berusia empat tahun dalam cerita di atas) saat motornya berhenti di perempatan jalan…
Recent Comments