Archive

Archive for March, 2008

Pembicaraan Yang “Tidak-Tidak”

March 19, 2008 anis 20 comments

Mozart – Oboe Concerto – 1st Movement masih mengalun lembut dari speaker laptop sementara sequence diagram yang telah saya selesaikan baru diagram ke-14 dari 52 diagram.Tiba-tiba kakak tertua saya yang sedang ada di rumah masuk ke kamar dan mengajak ngobrol, awalnya hanya pembicaraan normal sampai ia mulai mengatakan yang “tidak-tidak”. Ummm mungkin wajar, karena di rumah ia sudah seperti “pengganti” ayah saya yang sudah lama meninggal… tapi bagi saya tetap saja isi pembicarannya itu “tidak-tidak”…..

K: “Nis, kalau kamu udah punya calon, ya nikah aja…”

Read more…

Categories: moment Tags:

Once Upon A Time In Angkot

March 17, 2008 anis 5 comments

Awal Maret

Pagi itu saya buru-buru naik angkot jurusan Caheum-Ledeng, lumayan masih kosong, jadi saya bisa memposisikan diri di tempat duduk paling pojok. Kenapa paling pojok? Ummm soalnya saya bersiap untuk sejenak membiarkan mata tertutup setelah malamnya sedikit berjuang mempertahankan dirinya untuk melek.

Saat saya naik, hanya ada dua penumpang, sepasang suami istri setengah baya. Tak lama naik dua orang ibu kira-kira usianya 50-an. Dengan susah payah mereka berusaha menaikkan karung besar ke dalam angkot. Kemudian dengan ramahnya mereka menawari sepasang suami istri itu, isi karung mereka yang ternyata ubi. Ubi itu mereka beli dari Jatinangor, dan hendak mereka jual.

Tak berapa lama setelah kedua ibu itu, naik pula seorang gadis muda, sepertinya  masih kuliah. Dan karena sudah menunggu cukup lama, sopir akhirnya memutuskan untuk memberangkatkan kami.

Sampai di sebuah lampu merah, seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun mendekati angkot kami. Bajunya lusuh, rambutnya merah tak beraturan. Tangan kecilnya menengadah menanti recehan yang diulurkan dari penumpang, sambil berkata lirih dengan kosa kata yang tak jelas. Ibu sang anak berdiri tak jauh darinya. Ia menggendong bayi, adik dari anak kecil itu.

Setelah angkot yang saya naiki berlalu agak jauh, komentar-komentar mulai bermunculan dari para penumpang. Suami istri itu berkomentar, “Kasihan ya, masih kecil”. Sementara dua orang ibu penjual ubi berkomentar, “Tega betul ibunya, padahal sesusah apapun kan itu tetap anaknya…”. Sang gadis beda lagi komentarnya, “Emang bisanya bikin anak doang, ngurusnya nggak bisa…”. Sementara saya hanya merem melek sambil tersenyum simpul pada setiap orang yang minta persetujuan saya terhadap komentarnya.

Hummm… apa yang ditangkap? Menurut saya, kejadian itu merepresentasikan sebagian dari sikap dominan yang ada di masyarakat. Sepasang suami istri menurut saya merepresentasikan mayoritas penduduk yang ada di zona nyaman. Mereka memandang “kasihan” pada dua ibu penjual ubi dan si anak kecil, karena memang mereka tak pernah merasakan hal yang dirasakan si penjualubi dan si anak. Tapi sayangnya “kasihan” itu hanya sampai di lisan, tak ada pengejawantahan lain dari “kasihan” itu. Saya pikir itu juga yang terjadi di sebagian besar masyarakat. Kurangnya inisiasi untuk benar-benar bergerak.

Dua orang ibu penjual ubi merepresentasikan masyarakat menengah ke bawah yang tak menyerah dengan keadaan. Mereka terus berjuang mempertahankan harga diri mereka, bahwa “saya masih mampu, dan tak perlu belas kasihan orang lain”. Mereka mengasihani si anak kecil dan ibunya dengan cara yang lain, bukan karena miskin, tapi kasihan karena mereka tak bisa lagi mempertahankan harga diri. Mungkin karena itulah komentar yang keluar adalah “perbandingan” antara kondisi diri mereka dengan dirinya. Menurut saya, masyarakat jenis ini sudah jarang ada di kota. Masyarakat jenis ini banyaknya di daerah dan pedesaan, dimana mereka hidup masih dengan “ciri khas Indonesia yang sering didengungkan saat SD: gotong royong, ramah, dll.”

Menurut saya si gadis merepresentasikan masyarakat “terpelajar” yang bisanya hanya berkomentar. Komentarnya mungkin berbobot, tapi rapuh. Masyarakat yang hanya bisa memandang dari satu sisi untuk kemudian men-judge berdasarkan apa yang ia lihat. Ia tak pernah tahu, dan mungkin tak mau tahu kenapa si ibu tega membiarkan anaknya yang masih kecil berkeliaran di antara mobil yang berlalu lalang, mengemis, padahal anak itu adalah “anaknya”… darah dagingnya, yang pada masyarakat menengah ke atas begitu dimanja dan dilindungi. Ia hanya melihat pada “bagaimana seharusnya” untuk kemudian membandingkan pada apa yang ia lihat dan mengharuskan apa yang ia lihat untuk menjadi “seperti seharusnya”.

Si ibu dan si anak jelas merepresentasikan masyarakat bawah yang menyerah pada keadaan… yang sayangnya semakin mudah ditemui. Saya yakin kondisi mereka tak hanya stimulus dari kondisi internal mereka yang memang miskin. Kondisi eksternal mereka (dimana kita termasuk di dalamnya) menurut saya punya andil dalam kehidupan mereka.

Lalu saya merepresentasikan apa? Ummm… mungkin saya merepresentasikan masyarakat yang apatis, yang memikirkan  hal-hal seperti… “tugas kuliah saya lebih penting daripada semua pembahasan itu…”

Allahu’alam bishawab

NB: … merindukan seseorang yang di dalam kulkas rumahnya tersedia banyak susu kemasan, setiap harinya ia menyimpan dua sampai tiga susu dalam tasnya untuk ia berikan pada anak kecil malang yang ia temui (seperti anak kecil berusia empat tahun dalam cerita di atas) saat motornya berhenti di perempatan jalan…

Categories: moment Tags:

Tempat Buat Menyepi

March 14, 2008 anis 14 comments

Ketika kadar melankolis sedang meninggi, atau muak sama tugas yang nggak berhenti kek kereta, atau mulai autis… apa yang sering dilakukan? Kalau saya sih kadang “menyepi” di suatu tempat. Nah, sayangnya, di labtek V ini saya nggak nemu tempat yang bener-bener nyaman buat “menyepi”. Tapi guess what… saya nemu tempat yang lumayan asik buat “menyepi” di ITB ini. Walau sebenernya ya… biasa aja sih, tapi lumayan lah daripada lumayan dong (eeekk… nggak jelas…).

Di mana? Nah yang itu tebak sendiri ya… klo saya kasi tau ntar pada berdatangan minta tanda tangan saya, jadinya saya nggak bisa “menyepi” lagi deh… (aaarrrggghhh…. ketidakjelasan semakin memuncak).

Oke ini clues-nya

image007.jpg

Nah foto di atas ini menunjukkan apa yang tergambar klo kita menatap lurus ke depan… walaupun sebenernya nggak ada benda optik yang dapat menangkap sesuatu lebih indah dibanding mata….

image005.jpg

Nah tuh keliatan ada si labtek V :P ini klo kita menatap ke arah kanan

Hayooo di manakah saya? Saya kasih hadiah deh buat yang berhasil nebak saya ada di mana. Hadiahnya apa ya? Ummm gimana klo seporsi mashed potato buatan saya? Atau hadiahnya saya doain deh tiap habis saya shalat selama sepekan, (hadiah yang aneh ya :P kek do’a saya tuh makbul aja, padahal banyak dosa). Hehehe apa ada yang mau ya? :P

Oh ya, kuis berhadiah ini nggak berlaku buat NIM 13505125, soalnya anak ini tau dan udah ke tempat ini bersama saya :P juga nggak berlaku buat anak jurusan yang kuliahnya di gedung tempat saya berada ini, walaupun keknya nggak akan ada yang baca deh anak jurusan itu :P

Mudah-mudahan next time nemu tempat yang lebih indah lagi….

Rabbana maa khalaqta haadzaa baathilaa… subhanaka faqinaa ‘adzaa bannar

Categories: intermezzo Tags:

Macaronni Schootel

March 6, 2008 anis 15 comments

Wah judulnya sudah cukup menggambarkan isi dari postingan saya kali ini ya ^_^. Yup, hari ini Klub Masak Informatika (KMIF) baru aja memulai kegiatannya. Dan saya didaulat untuk jadi kontributor masakan pertama. Dan karena banyak yang pingin tau resepnya, saya posting di sini aja ya sebelum blog KMIF terwujud.

Oke, ini dia resepnya (padahal biasanya saya nggak suka tau jumlah takarannya, jadi ini agak2 ngasal ya :p)

Bahan:

Macaronni 250gr, ayam 250gr, telur 4 butir, keju secukupnya, susu cair 250ml, bawang bombay satu buletan, bawang putih 2 siung, minyak sayur secukupnya, minyak wijen secukupnya, mentega buat olesan secukupnya, daun basil (klo g ada bisa diganti oregano, ga ada juga? ya udah pake seledri aja…) secukupnya

Bumbu:

Garam, merica, pala bubuk, bumbu kaldu

Cara Memasak:

      • rebus macaronni sampai agak lunak, tapi jangan terlalu lunak juga soalnya tahap memasaknya nggak cuma sekali. Jangan lupa pakai sedikit garam dan minyak waktu merebus. Kalau udah cukup lunak ditiriskan
      • rebus juga ayamnya. kalau udah empuk terus ayamnya dicincang
      • tumis bawang putih dan bawang bombay yang udah dicincang halus sampai harum
      • masukin minyak wijen (bisa juga dipake sejak awal numis, jadi nggak perlu pake minyak sayur)
      • masukin ayam cincang, tumis sampai agak kecokelatan
      • masukin susu
      • masukin macaronni
      • masukin bumbu (garam, merica, bumbu kaldu, pala bubuk sesuai selera) aduk sampai rata. Masukin juga daun basil-nya (yang klo ga ada bisa diganti ma oregano ato seledri)
      • masak sampai adonan agak mengental. Kalo dah agak kental matiin kompor dan diamkan adonan beberapa saat sampai agak dingin
      • kalo udah dingin, masukin telur (yang udah dikocok sebelumnya). Kenapa telur baru dimasukin klo udah dingin? Biar nggak matang telurnya :)
      • terus masukin juga keju parut sesuai selera (mau agak asin ya keju-nya yang banyak) aduk adonan sampai merata
      • olesi pinggan tahan panas (ciyee bahasanya) dengan mentega. Masukin adonan, terus taburi keju parut di atasnya sesuka hati.
      • panggang sampai matang (yaaa sekitar 15-30 menit deh)
      • makan…. :p sajikan dengan sambal cabe

          Dan tereret teret inilah jadinya

          macaronni schootelpoto203.jpg

          Nampak enakkah?

          Sebenernya pingin bikin yang agak simple sih buat pertemuan perdana ini, yaaa semacam teri goreng tepung, tapi bahan yang ada di rumah yang bisa kutemukan cuma si macaronni itu, lengkap dengan tanggal kadaluarsa yang tinggal beberapa bulan lagi… sayang klo mama lupa, bisa-bisa tamatlah riwayat si macaronni di dalam tong sampah.

          Saya bikin sendiri masakan serumit ini? Hummm, sebenernya dibantu mama sih, soalnya beliau nggak bisa saya minta keluar dari dapur, dan berkeras klo saya masih perlu banyak belajar. Dan beliau benar :( karena dengan penuh kemenangan, beliau tersenyum gara-gara teknik mencincang bawang saya masih jauh di bawah standar beliau… ukyuuu

          Tapi saya tetep ambil bagian besar kok dalam memasak ini, dan bisa diuji (halah…)

          Oke, see u next time dengan resep yang lain (tapi keknya bakal langsung di blog KMIF deh)

          BTW teman-teman namanya jadi KMIF yah???

          Categories: review Tags: