Archive

Archive for April, 2008

matahariku

April 28, 2008 anis 3 comments

Matahariku
Tak ada yang ingin kupinta, tapi tolong tunjukkan sang bumi
Bumi yang di pelatarannya tergambar berlikunya jalan
Lalu tunjukkan padaku jalan yang benar
Jalan yang dengannya aku menemukan
indah untuk kupandang, merdu untuk kudengar, sejuk untuk kuhirup, hangat untuk kurasa
Dan bersinarlah untukku, berikan aku kehangatan untuk kuat menapaki jalan itu
Tapi tunjukkan pula padaku jalan yang salah
Jalan yang dengannya aku hanya menemukan gelisah dan kecewa
Dan teriklah untukku, untuk mencegahku menuju jalan itu Read more…

Categories: poem Tags:

Time Of Your Life

April 18, 2008 anis 4 comments

Another turning point, a fork stuck in the road
Time grabs you by the wrist, directs you where to go
So make the best of this test, and don’t ask why
It’s not a question, but a lesson learned in time

It’s something unpredictable, but in the end it’s right.
I hope you had the time of your life.

So take the photographs, and still frames in your mind
Hang it on a shelf in good health and good time
Tattoos of memories and dead skin on trial
For what it’s worth it was worth all the while

It’s something unpredictable, but in the end it’s right.
I hope you had the time of your life.

It’s something unpredictable, but in the end it’s right.
I hope you had the time of your life.

It’s something unpredictable, but in the end it’s right.
I hope you had the time of your life.

(Green Day)

everyone who bored, stumble, tired of something called “6″
it’s just one of many time of our life
I hope you had the time of your life :)

Categories: intermezzo Tags:

Road To Mecca

April 17, 2008 anis 2 comments

Pernah baca buku ini? Sebenernya udah cukup lama saya baca buku ini, tapi entah kenapa akhir-kahir ini kepikiran lagi, dan pingin nulisin tentang buku ini.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Isinya tentang apa? Yaaa perjalanan menuju Mekah… hehe, secara eksplisit

sih begitu, tapi secara implisit… subtantivelyindeed… novel ini mengisahkan perjalanan seorang manusia bernama Leopold Weiss alias Muhammad Asad (si pengarang sendiri) menuju Islam.

Walaupun dibawakan dengan alur yang maju mundur maju mundur maju terus mundur lagi, dan walau nggak se-nyastra Leo Tolstoy atau Pramoedya Ananta Toer, tapi karena latar belakang si pengarang yang merupakan seorang jurnalis, penuturannya tetap nikmat dikemil dengan bahasa yang mudah dicerna (ini bacaan atau cemilan???).

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Di beberapa scene, saya nangis… terutama saat si penulis bertemu seseorang dalam mimpinya. Orang yang kemudian membawanya menuju sebuah jalan. Menurut penakwilan seorang ulama, orang dalam mimpinya itu adalah Rasulullah…. Padahal kalau saya nggak salah, saat ia bermimpi, ia masih seorang Yahudi. Mimpi bertemu Rasulullah… sebuah mimpi yang saya sungguh tak berani untuk bermimpi untuk memimpikannya….

Dengan latar perang dunia 2, Leopold menceritakan pengalamannya berkelana. Kerasnya padang pasir…. Persaudaraan dalam Islam…. Ia juga sempat bertemu dengan Umar Mukhtar (Si Lion Of The Desert itu lho…) di Libya.

Dan wow, baru tau juga pas buka-buka ini, ternyata udah dibikin film lho. Huhu ada yang punya…?

Sering malu… seorang mualaf, biasanya lebih bersemangat belajar Islam lebih dari seorang muslim yang mengaku muslim sejak lahir. Sering aneh… padahal Islam itu indah, tapi banyak yang hanya melihatnya dari paradigma yang salah (nggak mau ngebahas film… :P ). Sering takut… seandainya saya….

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Q.S. Ali Imran: 102)

Categories: review Tags:

Ciri-Ciri Manusia Indonesia

April 9, 2008 anis 4 comments

Dalam sebuah kuliahnya, dosen PPKn saya bercerita tentang ciri-ciri manusia Indonesia yang pernah ditulis oleh Mochtar Lubis (1986). Lengkapnya ada di sini

Sepertinya bisa ditambahkan satu lagi:

enggan/takut/entah-kenapa-tak-jua berubah :)

Buktinya, walau sudah ditulis berpuluh tahun yang lalu, ciri-ciri itu masih juga dipakai oleh dosen saya sebagai referensi, dan bagi saya pun ciri-ciri itu memang masih secara signifikan ada pada diri saya  :(

Categories: perception Tags:

Memangnya Ke Mana Ibunya?

April 9, 2008 anis 6 comments

Seorang gadis manis masuk ke dalam angkot yang saya naiki (lagi-lagi kisah di angkot… huhu gimana lagi, klo saya hitung-hitung, saya sudah menjalani hidup saya selama sekitar setengah tahun di angkot :D ). Di belakangnya, dua orang laki-laki mengikutinya memasuki sang angkot. Sepertinya salah satu dari laki-laki itu mengenal keluarga sang gadis.

Gadis itu mengenakan seragam sebuah sekolah menengah kejuruan. Matanya sayu (bukan sayang uang :P ) dan sendu (dan bukan seneng duit :D ). Walau masih putih, seragamnya terlihat agak lusuh, mungkin karena ada bercak hitam seperti bekas cat di bagian bahunya. Kalau saja kulitnya putih terawat, dan rambutnya agak panjang, maka ia tak ubahnya gadis Jepang di video klip Konayuki (saya masih normal kan klo suka ngeliatin cewek cantik???? >_<).

Salah satu laki-laki itu mulai membuka pembicaraan dengan gadis itu, mulai dari pertanyaan standar, seperti, “Mau ke mana?” “Masih sekolah, atau kerja?” sampai pertanyaan yang tidak saya duga, “Ibu di mana sekarang?” (sebenarnya dalam bahasa Sunda sih, tapi saya Indonesiakan :D , saya baik ya, memperhatikan pembaca yang bukan orang Sunda… hueeekkss :D )

Dan gadis itu menggeleng, “Nggak tahu…”

Laki-laki yang bertanya sedikit berbisik pada laki-laki satunya, “Kasihan, ibunya udah nggak tahu di mana, nggak sayang sama anak-anaknya.”

Dan dari sisa pembicaraan mereka, saya hanya bisa menangkap kalau gadis itu memang ditinggal ibunya, sementara ayahnya hanya sesekali pulang karena bekerja di Jakarta. Jadi berpikir, memangnya ke mana ibunya? Pertanyaan saya itu membawa saya ke berbagai kemungkinan… kemungkinan yang pada akhirnya membuat saya bersyukur memiliki keluarga yang sangat baik.

“Give thanks to Allah, for the moon and the stars… prays in all day full, what is and what was… Take hold of your iman, dont givin to shaitan. Oh you who believe please give thanks to Allah.” (Give thanks to Allah, Michael Jackson)

Categories: moment Tags: