Cuplikan 1 “Balthasar’s Odyssey, Nama Tuhan yang Keseratus”
Senin, 28 Desember 1665
Aku mengajak serta Marta dan Hatem, dan dompet yang cukup penuh untuk memenuhi tuntutan seperti biasa. Abdellatif menerimaku dengan sopan di kantor yang suram yang ia huni bersama tiga pegawai lainnya yang sedang menerima “klien” mereka sendiri saat aku tiba. Ia memberi tanda padaku untuk mendekat, lalu berkata sangat lirih bahwa ia telah melihat dalam semua catatan yang bisa didapatnya, tetapi tak mampou menemukan orang yang kucari. Aku berterima kasih padanya karena telah merepotkannya dan bertanya padanya dengan tangan di dalam dompetku, berapakah biaya penyelidikan itu. Ia menyaringkan suaranya untuk menjawab.
“Biayanya 200 aspre!”
Itu mengejutkanku sebagai sebuah jumlah yang besar, walaupun bukannya tak masuk akal atau diharapkan. Aku tak ingin berdebat dan hanya meletakkan uang itu ke tangannya. Ia berterima kasih padaku dan bangkit untuk menunjukkan padaku jalan keluar. Itu sungguh mengejutkanku. Ia tak merasa harus berdiri ketika aku masuk, atu memintaku duduk, jadi mengapa kini ia harus menggandeng tanganku seakan-akan aku ini seorang kawan lama atau seorang dermawan?
Begitu kami sampai di luar ia memberikan kembali uang yang baru kuberikan padanya, melipatkan jemariku agar menggenggam keping-keping uang itu, dan berkata, “Anda tak berutang apapun padaku. Aku hanya memeriksa buku besar dan itu menjadi bagian dari pekerjaanku dimana aku telah digaji. Selamat tinggal, dan semoga Tuhan melindungi dan membantu Anda mencari apa yang Anda cari.”
Aku tercenung. Aku bertanya-tanya apakah ia sungguh-sungguh bertobat atau hanya memainkan tipuan Turki lainnya untuk mencoba mendapatkan lebih banyak uang dariku. Haruskah aku memaksanya mengambil sesuatu, atau hanya berlalu dengan kata-kata terima kasih, seperti yang tampaknya ia sarankan? Namun Marta dan Hatem yang menyaksikan semua ini memuji-muji orang itu seakan-akan mereka baru saja menyaksikan sebuah keajaiban.
“Tuhan memberkati Anda! Anda orang baik, pelayan Sultan terbaik! Semoga Yang Maha Kuasa melindungi Anda dan keluarga Anda!”
“Berhenti!” teriaknya. “Apakah kalian ingin aku mati? Pergilah, dan jangan biarkan aku melihat kalian lagi!”
Maka kami pun pergi, membawa serta pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.
————-singkat cerita esoknya Balthasar kembali menemui Abdellatif————–
“Jika Anda disini untuk memberikan 200 aspre, maka Anda menyia-nyiakan waktu Anda,” ujarnya.
“Tidak,” sahutku. “Aku datang untuk kembali mengucapkan terima kasih atas kebaikan Anda. Kemarin kawan-kawanku sempat keberatan karena aku tak mengatakan betapa aku sangat berterima kasih pada Anda. Aku sudah berbulan-bulan mengurus hal ini, dan setiap kali melakukannya aku selalu berlalu sambil mengumpat. Namun, dengan Anda, aku berlalu dengan mengucap syukur pada Tuhan dan pemerintah, meski aku tidak semakin dekat dengan tujuanku karenanya. Sangat ganjil di zaman sekarang ini bisa menemui seseorang yang bermartabat. Aku bisa memahami pujian kawan-kawanku terhadap Anda, tetapi itu hanya menyinggung kebersahajaan Anda, dan Anda meminta mereka berhenti.”
Aku belum juga mempertanyakan apa yang sudah ada diujung lidahku. Lelaki itu tersenyum, mengembuskan napas berat, dan menepuk bahuku.
“Aku tidak bersahaja. Aku hanya berhati-hati saja,” ujarnya.
Ia terdiam sejenak dan tampak menimbang-nimbang kalimatnya. Kemudian ia memandang ke sekelilingnya untuk memastikan tak ada seorang pun yang mengawasi kami.
“Di tempat sebagian besar orang memperlakukan uang dengan wajar, siapapun yang menolaknya akan dilihat orang lain sebagai ancaman, Mungkin saja ada orang yang melapor. Dan mereka akan melakukan apa pun untuk menyingkirkannya. Aku baru saja diperingatkan, ‘Jika kau ingin mempertahankan kepalamu di atas kedua bahumu, lakukan apa yang kami lakukan dan jangan bersikap seakan-akan kau ini lebih baik atau lebih buruk dari kami semua.’ Maka, karena aku sama sekali tidak ingin mati, meski aku juga tidak ingin berbuat dosa dan mendapat hukumannya, aku lebih memilih bersikap seperti yang kulakukan pada Anda kemarin. Di tempat ini, aku menjual diriku, dan di luar aku menebus harga diriku.”
Betapa kita hidup di zaman yang aneh, tatkala kebaikan harus menyamarkan diri di balik pakaian lusuh setan!
Mungkin memang telah tiba saatnya dunia ini kiamat.
Recent Comments