Archive

Archive for December, 2008

Mukrab, Sebuah Catatan Pinggir 2

December 28, 2008 anis 6 comments

Pendahuluan: Haduh, basi nian ini postingan, sebenarnya ini saya tulis sehari setelah mukrab, tapi baru ada kesempatan untuk ngepost sekarang. Yah, walau mukrab sudah berlalu, tapi pesan dalam postingan ini mudah-mudahan tidak akan berlalu dengan mudahnya :)

Dua pasang mata bulat bening itu tengah saling menjelajah. Bermain kemudian bertengkar, menggoda lalu menjerit manja. Si kakak tengah memainkan kaki sementara si adik belum juga berhenti terbatuk ketika si ibu menyapaku.

“Punten Neng, bisa minta uang buat ongkos?”

Dalam hati terbersit ketidakikhlasan, bukankah ini cara meminta-minta yang sangat umum dijumpai? Tapi akhirnya kukeluarkan juga sejumlah uang, “Mau kemana Bu? Emang Ibu tinggal di mana?”

“Ibu mah kemana-mana, nggak punya tempat tinggal, tidur juga di emperan sama anak-anak,” ia menatap sejenak kedua putri lucunya, yang kelucuannya sedikit tertutupi oleh baju dan muka mereka yang kotor coreng-moreng, “ini mau ke Caringin ke tempat saudara, siapa tahu mau nampung,” ujar sang ibu sambil tak henti berterima kasih atas uang yang tak seberapa itu.

Uang yang diterima si ibu serta merta direbut si kakak, nampak jelas anak itu sangat senang sekaligus sangat jarang melihat apalagi menggenggam uang. Si adik lalu meronta-ronta meminta bagian dari kakaknya.

Turun dari angkot pikiranku masih mengelana, mengapa begitu menyedihkan negeri ini. Ketika yang miskin tak punya harga diri hingga minta-minta dan berputus asa untuk berusaha, hingga tak punya kebanggaan lagi untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sementara itu yang kaya semakin tak punya hati, menjadikan harta sebagai tujuan bahkan tuhan, membenarkan apa yang salah dan menyalahkan yang apa benar.

Aku menatap bungkusan di tanganku, sebentuk kepala Doraemon yang akan digunakan untuk properti acara himpunan bernama Mukrab. Pengelanaan otakku sampai pada satu titik dimana aku mempertanyakan, “Di luar konteks niat sang ibu meminta-minta, apa pikiran itu masih bentuk halus dari ketidakikhlasanku?”

Ya Allah, padahal begitu mudah aku mengeluarkan uang untuk hal yang lain. Padahal uang yang kukeluarkan untuk membuat kepala Doraemon itu besarnya 3x lipat uang yang kuberikan pada sang ibu, dan aku mengeluarkan uang itu dengan senang hati. Padahal aku tahu pasti kepala Doraemon itu hanya akan berakhir di sebuah tong sampah di kampus. Padahal aku tahu pasti pemilik dua pasang mata bulat bening itu lebih membutuhkan uang untuk sekadar mengisi perut mereka.

Dan pengelanaan pikiranku berakhir pada suatu titik: Bahwa kita seringkali merasa ringan mengeluarkan jumlah uang yang besar untuk sesuatu yang mungkin sepele, sementara terasa begitu berat untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang sama untuk hal yang mungkin lebih beresensi. Tak hanya uang… waktu, pikiran, tenaga pun ternyata memiliki nasib yang sama: lebih terasa ringan untuk dicurahkan pada hal yang mungkin esensinya lebih rendah.

Pengelanaan pikiranku terhenti pada pertanyaan: Begitu kesat dan keras kah hatiku hingga memberi dalam jumlah sekecil itu terasa berat?

Categories: moment, perception

Mukrab, Sebuah Catatan Pinggir 1

December 12, 2008 anis 4 comments

Sejak kecil saya memang dilanda sebuah “penyakit” aneh. Penyakit itu bernama “tidak suka akan keramaian tertentu”. Entah kenapa, tapi memang itulah yang terjadi. Waktu SD, ketika ada pagelaran budaya, saat yang lain tampil untuk menari atau menyanyi di panggung, saya lebih suka diam di kelas membuka-buka buku atau ngobrol dengan teman yang juga ada di kelas.

Waktu SMP, setiap ada acara di kenaikan kelas atau perpisahan yang menampilkan band, atau persembahan kelas seperti menyanyi atau menari juga saya lebih memilih diam di sebuah sekre untuk menulis sesuatu. Dan tak jauh beda, begitupun kehidupan SMA saya, ketika ada acara-acara seperti itu, maka jangan heran kalau saya ada di pojokan masjid atau mushala. Jika saya memaksakan diri atau tanpa sadar telah hadir di acara seperti itu, saya selalu dirundung perasaan kesepian-di-tengah-keramaian secara tiba-tiba. Dan ketika menyendiri atau tiba-tiba merasa kesepian itu, pasti selalu ada masa dimana saya tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas.

Apa saya punya penyakit ayan? Ummm, mungkin saja ya, hehehe? Tapi kalau saya ayan, seharusnya di mana pun terdapat keramaian saya akan kejang-kejang, di pasar, di acara-acara di masjid, di lapangan…. Dan bentuknya kejang-kejang kan bukan menangis?

Seorang teman bilang, mungkin ini hanya karena saya tidak biasa. Benarkah? Kalau karena tidak biasa, kenapa ini terjadi sejak kecil? Bukankah masa kecil harusnya jadi masa penyesuaian? Lagipula sebenarnya saya tidak bermasalah untuk menikmati musik atau tarian tradisional misalnya, malah saya menyukainya.

Entahlah saya sendiri juga aneh dengan kebiasaan saya ini. Penyakit saya ini membuat saya tak bisa mendengar suara musik tertentu yang berdentum-dentum. Tak bisa menikmati sajian tari atau drama tertentu. Tapi jauh dalam hati, saya juga bersyukur akan keanehan saya ini, karena entah mengapa, dalam bentuk yang mungkin aneh dan tak biasa, saya merasa ada yang melindungi saya.

Jadi mungkin karena keanehan saya inilah, saya sangat jarang berpartisipasi dalam acara-acara angkatan. Dan ketika kemarin ada acara mukrab terakhir, saya merasa sedikit bersalah karena tak pernah menghadiri mukrab sebelumnya. Dan saya putuskan untuk membuat sesuatu saja untuk mukrab terakhir ini: kepala Doraemon. Karena jika saya paksakan untuk hadir pun, saya khawatir hanya akan membuat orang-orang merasa khawatir pada saya yang tiba-tiba menangis tak jelas. Jadi maaf untuk semua teman-teman angkatan karena partisipasi saya pada acara-acara angkatan memang tak pernah berarti atau bahkan tak pernah ada.

Hoalah, kok nampak sangat melankolis ya, hehehe… ampuuunnn

Categories: perception