Mukrab, Sebuah Catatan Pinggir 2
Pendahuluan: Haduh, basi nian ini postingan, sebenarnya ini saya tulis sehari setelah mukrab, tapi baru ada kesempatan untuk ngepost sekarang. Yah, walau mukrab sudah berlalu, tapi pesan dalam postingan ini mudah-mudahan tidak akan berlalu dengan mudahnya
Dua pasang mata bulat bening itu tengah saling menjelajah. Bermain kemudian bertengkar, menggoda lalu menjerit manja. Si kakak tengah memainkan kaki sementara si adik belum juga berhenti terbatuk ketika si ibu menyapaku.
“Punten Neng, bisa minta uang buat ongkos?”
Dalam hati terbersit ketidakikhlasan, bukankah ini cara meminta-minta yang sangat umum dijumpai? Tapi akhirnya kukeluarkan juga sejumlah uang, “Mau kemana Bu? Emang Ibu tinggal di mana?”
“Ibu mah kemana-mana, nggak punya tempat tinggal, tidur juga di emperan sama anak-anak,” ia menatap sejenak kedua putri lucunya, yang kelucuannya sedikit tertutupi oleh baju dan muka mereka yang kotor coreng-moreng, “ini mau ke Caringin ke tempat saudara, siapa tahu mau nampung,” ujar sang ibu sambil tak henti berterima kasih atas uang yang tak seberapa itu.
Uang yang diterima si ibu serta merta direbut si kakak, nampak jelas anak itu sangat senang sekaligus sangat jarang melihat apalagi menggenggam uang. Si adik lalu meronta-ronta meminta bagian dari kakaknya.
Turun dari angkot pikiranku masih mengelana, mengapa begitu menyedihkan negeri ini. Ketika yang miskin tak punya harga diri hingga minta-minta dan berputus asa untuk berusaha, hingga tak punya kebanggaan lagi untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sementara itu yang kaya semakin tak punya hati, menjadikan harta sebagai tujuan bahkan tuhan, membenarkan apa yang salah dan menyalahkan yang apa benar.
Aku menatap bungkusan di tanganku, sebentuk kepala Doraemon yang akan digunakan untuk properti acara himpunan bernama Mukrab. Pengelanaan otakku sampai pada satu titik dimana aku mempertanyakan, “Di luar konteks niat sang ibu meminta-minta, apa pikiran itu masih bentuk halus dari ketidakikhlasanku?”
Ya Allah, padahal begitu mudah aku mengeluarkan uang untuk hal yang lain. Padahal uang yang kukeluarkan untuk membuat kepala Doraemon itu besarnya 3x lipat uang yang kuberikan pada sang ibu, dan aku mengeluarkan uang itu dengan senang hati. Padahal aku tahu pasti kepala Doraemon itu hanya akan berakhir di sebuah tong sampah di kampus. Padahal aku tahu pasti pemilik dua pasang mata bulat bening itu lebih membutuhkan uang untuk sekadar mengisi perut mereka.
Dan pengelanaan pikiranku berakhir pada suatu titik: Bahwa kita seringkali merasa ringan mengeluarkan jumlah uang yang besar untuk sesuatu yang mungkin sepele, sementara terasa begitu berat untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang sama untuk hal yang mungkin lebih beresensi. Tak hanya uang… waktu, pikiran, tenaga pun ternyata memiliki nasib yang sama: lebih terasa ringan untuk dicurahkan pada hal yang mungkin esensinya lebih rendah.
Pengelanaan pikiranku terhenti pada pertanyaan: Begitu kesat dan keras kah hatiku hingga memberi dalam jumlah sekecil itu terasa berat?
Very inspired, as usually…
Mungkin salah satu faktornya adalah karena efek dari uang yang dikeluarkan untuk memberi pengemis ga bisa secara langsung dirasakan oleh kita. Lain halnya jika digunakan untuk membeli sesuatu yang lebih mahal.
Makanya masih banyak orang2 yang berbuat dosa demi kesenangan sesaat didunia, walaupun itu sebenarnya g bisa dibandingkan dengan nikmat yang akan dirasakan nantinya di akhirat.
Wew, jadi kebawa serius gini…
assa.
stuju ama irfan, klo kita biasany lbh ngliat ke dampak yg trjadi apakah itu dampak yg cepat dan langsung, en kepala doraemon kan dampakny langsung dipake.. trus gw parah donk, soalny utk hal sepele aja gw susah ngluarin duit, biasa turunan suku haghag, apalafi klo bwt…
wass.
Ampuuun,.
Sedikit banyak merasa ikut bertanggungjawab nih,.
Semoga ke depannya bisa lebih baik,.
kadang saya lebih suka ngasih pengamen drpd peminta2..
gmn ya biar bs lebih ikhlas..
ah… bener2 menohok T.T
setuju ama K Irfan siy…
terkadang manusia suka yang ‘instan’
Ya ampun, kok aku baru baca sekarang ya?
Hmm, mungkin lebih tepat kalau bilang, kok Anis baru nulis ’sekarang’ ya, setelah aksi yang sama (tapi dengan reaksi yang lebih buruk) aku alami.
Hehe, lebih tepat lagi, kok aku harus masuk lubang dulu ya, baru tahu kalau lubang itu ngga boleh dimasuki, kecuali keledai terbodoh yang kata ’seseorang’ boleh dimasukki sekali, ngga kan dua kali.
Yah, sambil memperkuat prinsip diri ini. Makasih Anis.