Makna Sebuah Kehilangan
Awan hitam masih menggelayut manja di pelataran langit. Seakan memahami bahwa terik tak akan cukup indah di siang hari itu. Wanita itu tertatih menghampiri sesosok tubuh pria yang ditutupi sehelai kain tradisional. Perlahan dibukanya kain yang menutupi bagian wajah pria itu. Matanya nanar menatapi wajah pria yang cinta saja tak cukup untuk mendefinisikan perasaannya pada pria itu. Putih, kaku, namun seberkas cahaya dan seulas senyum samar membuat hatinya agak berlega hati. Ia kembali menutup kain itu, entah apakah ia menyadari dengan sungguh hati bahwa itulah kali terakhir ia menatap wajah pria yang telah menemani hidupnya hampir 60 tahun lamanya.
Jam berganti jam, perlahan ia mulai semakin menyadari apa yang terjadi padanya. Tatkala ia berbaring, tak ada sosok yang menemaninya di tempat tidur. Ketika azan berkumandang, tak ada yang pamit padanya untuk menuju masjid. Saat pagi menjelang tak ada lagi sosok yang meneguk perlahan segelas kopi di kursi pinggir pintu belakang. Tak ada, tak ada lagi yang mendengarkan cerita-ceritanya tentang ini dan itu. Tak ada suara batuk yang dulu sering membuatnya terbangun di malam hari. Tak ada suara tawa yang terkekeh renyah lagi. Tak ada, dan semakin lama semakin banyak “tak ada” yang ia sadari.
Semua sudut ruangan adalah kenangan bersamanya. Setiap jam dalam semua hari dipenuhi adanya ia dan tingkahnya. Dan setiap kali menyadari itu, perlahan sebentuk buliran bening mengalir lembut di pipi keriputnya. Buliran bening itu kemudian ditingkahi beribu penyesalannya. Sesal akan setiap kemarahan, kekesalan, atau lakunya yang lain yang mungkin menyakiti pria itu. Sesal itu kemudian dilanjutkan dengan jutaan jika… andai… kalau saja…. Namun ia tahu dan ia berusaha menyadarkan dirinya bahwa ia telah ikhlas akan kepergian pria itu, dan yakin bahwa pria itupun telah mengikhlaskan dan memaafkan kealpaannya.
Di sudut yang lain, putra-putrinya tak kalah kehilangan. Sama sepertinya, ribuan sesal menyesaki mereka. Sesal akan bakti yang rasanya tak mencukupi walau memang tak akan pernah mumpuni. Sesal karena tak sempat meminta maaf secara langsung. Sesal akan ini dan itu. Dan jutaan andai pun lagi-lagi menyergap. Namun mereka pun sadar bahwa segalanya adalah kehendak-Nya, dan hal yang tersisa bagi mereka adalah ikhlas, doa, dan usaha menjadi anak shaleh demi menjadi amal jariyah.
Dan seisi rumah itu sesungguhnya disesaki oleh rasa kehilangan, yang juga menyempilkan rasa sesal.
Mungkin itulah sebuah makna kehilangan. Kehilangan yang seringkali diikuti oleh penyesalan. Hal yang membuat saya berpikir untuk melakukan hal-hal yang ingin dan harus saya lakukan sebelum saya kehilangan lagi orang-orang yang saya cintai. Walau menyadari tak pernah ada yang sempurna, minimal saya ingin sering-sering berkata maaf dan ingin sering-sering menyisipkan kalimat bahwa saya mencintai kalian karena-Nya, insya Allah.
Jadi, karena saya sendiri mungkin jadi orang yang lebih dahulu dipanggil-Nya, dengan ini saya ingin mengucapkan maaf atas semuanya, dan bahwa sesungguhnya dengan izin-Nya, saya ingin mencintai kalian karena-Nya.
“Apa yang ada jarang disyukuri… Apa yang tiada sering dirisaukan… Nikmat yang dikecap baru kan terasa jika hilang… Apa yang diburu timbul rasa jemu jika sudah di dalam genggaman…”
Seringkali kita melupakan bagaimana dekatnya diri kita dengan kematian, semoga setidaknya kita selalu berusaha menyadari dan bergerak atas kesadaran bahwa kematian adalah hal tersekat dalam kehidupan ini,.
assa.
keren ukhti, kita emang hrs mnsyukuri apa yg udah kita punya sblm apa2 itu hilang di hadapan kita. pnyesalan cm gambaran dr gagalny kita utk mnsyukuri apa2 trsebut..
wass.
Aww.
Salam ukhuwah n slm kenal ya!
Memang kita akan tau betapa besarnya yang lupa kita syukuri ketika kita kehilangan nikmat itu. Utk tu Qt hrs slg mengingatkan n menasehati agar Qt tak lp bersyukur………..
Mdh2n Qt semakin srg bersyukur agar Allah menambah nikmat-Nya. ^_^