Home > perception > Mindful Of Death, A Powerful Tools

Mindful Of Death, A Powerful Tools

February 23, 2009 anis Leave a comment Go to comments

Membuka-buka koleksi lagu-lagu yang entah sengaja atau tidak tersimpan di laptop ternyata cukup menyenangkan. Mengantarkan pada masa-masa ketika lagu-lagu tersebut sering diputar, makna dan suasana yang dibawanya. Hal itu mengantarkan saya untuk membuka lagi dua buah lagu yang sering saya putar kalau lagi bebal-bebalnya dan dalam kondisi pingin “insyaf instant” XD.

Yang pertama lagu yang tampaknya super jadul yang entah saya dapat darimana. Judulnya pun walau singkat cukup mengerikan…. “Kematian” dari Suara Persaudaraan. Yang kedua, tak kalah mengerikannya “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” yang dilantunkan Alm. Chrisye. Here’s the brief for the songs:

Kematian, Suara Persaudaraan

Berbekallah untuk hari yang sudah pasti, sungguh kematian adalah muara manusia.
Relakah dirimu menyertai segolongan orang, mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa.
Rasulullah bersabda perbanyaklah mengingat akan pemusnah segala kenikmatan dunia.
Itulah kematian yang kan pasti datang kita tak tahu kapan waktunya kan menjelang.
Menangislah hai sahabat karena takut kan Allah niscaya engkau kan berada dalam naunganNya.
Di hari kiamat di saat tiada naungan untuk manusia selain naunganNya.
Dalam ampunanNya dalam maghfirahNya dosa pun berguguran bak daun dari pepohonan

Ketika Tangan dan Kaki Berkata, Alm. Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci kata tak ada lagi.
Akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita.
Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya.
Berkata kaki kita ke mana saja ia melangkahnya.
Tidak tahu kita bila harinya tanggung jawab tiba.
Rabbana, tangan kami… kaki kami… mulut kami… mata hati kami…..
Luruskanlah… kukuhkanlah… di jalan cahaya sempurna.
Mohon karunia kepada kami hamba-Mu yang hina

Walau menurut Abu Sangkan, menangis karena mendengar lagu seperti itu hanya “kesadaran sesaat” atau keinsyafan karena “nada melankolis”, tapi buat saya memaknai kata-kata dalam lagu seperti itu lumayan efektif untuk mengingatkan kembali betapa singkatnya hidup ini. Tentang betapa rapuhnya kehidupan yang kita lalui. Tentang masa persinggahan untuk pencarian bekal. Tentang betapa masih banyaknya hal yang saya sia-siakan. Tentang menumpuknya dosa yang saya panggul. Tentang masih bodohnya saya akan makna “perintah dan larangan-Nya”. Tentang orang-orang di sekeliling saya… yang saya cintai, yang saya sakiti, serta yang saya cintai dan sakiti sekaligus.

Membuat saya bisa kembali mempertanyakan apa makna hidup yang saya jalani. Untuk apa saya diciptakan. Siapa saya? Apa tujuan saya? Dan bagaimana mencapainya? Membawa saya kembali bermimpi untuk menjadikan hidup saya lebih bermakna dari sekadar siklus:

HIDUP -> masa-masa di rumah -> sekolah -> bekerja -> menikah -> punya keturunan -> MATI

Kembali mempertanyakan benarkah hidup ini karena singkat maka harus dimanfaatkan untuk menikmati sebisa mungkin dunia ini? Benarkah kita mampu melalui siklus: muda hura-hura à tua kaya raya à mati masuk surga? Benarkah tidak ada konsekuensi dari setiap apa yang kita lakukan di dunia ini? Benarkah hidup ini kita yang mengatur? Benarkah “we own our life, it’s our and only we who have the full authorized to aim it”?

Jika jawabannya ya, rasanya akan muncul banyak pertanyaan yang tak terjawabkan dalam pikiran saya. Tapi jika jawabannya tidak, pertanyaan yang belum mampu saya jawab hanya satu: sejauh mana saya menyiapkan bekal untuk kematian saya?

Categories: perception Tags:
  1. February 23, 2009 at 8:10 pm | #1

    Subhanallah, memang hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan pertanyaan yang belum tentu kesemuanya akan kita temukan jawabannya selama kita hidup,.

    yup, tapi hidup memang harus terus diisi dengan pertanyaan agar kita terus berusaha mencari tau :)

  2. February 23, 2009 at 8:11 pm | #2

    assa.
    nice post ukhti, mnurut gw jelas selalu ada konsekuensi dr sgala apa yg kita lakukan di dunia ini, dan emang hiudp kita jelas kita yg ngatur, tp dua hal itu akan berujung kepada banyak ato tidakny bekal yg akan kita persiapkan menjelang kematian..
    wass.

    (klo assa dijawabnya enaknya apa ya wa’al aja ya? :D )
    ummm hidup kita jelas kita yang ngatur? :-?
    klo kata saya hidup kita ya udah ada yang ngatur, cuma kita gak tau, yah konsep takdir gitu deh :P
    Allahu’alam bishawab

  3. February 24, 2009 at 3:33 pm | #3

    Ada banyak hal yang bisa membuat kita berpikir tentang hidup. Tapi mungkin hanya sedikit yang bisa sadar sesadar-sadarnya tentang hakikat hdup itu. Saya barangkali termasuk golongan yang banyak, bukan yang sedikit. Semoga Allah SWT memberi petunjuk ….

    Salam kenal, nice post :)

    salam kenal juga, makasih udah mampir
    ummm, yup memang sedikit dan ternyata dari sedikit orang itu juga mungkin hanya sedikit waktu yang mereka sisihkan untuk mengingat hal itu…
    dan saya juga masih termasuk golongan yang banyak… jadi mari kita berusaha bersama (jadi komik gini XD)

  4. February 27, 2009 at 2:27 am | #4

    the answer is no. that’s why people believe in God.

  5. April 10, 2009 at 11:37 pm | #5

    assalamualayk teh anis… udah lama ga maen ke blog teteh… xD
    seperti biasa postingannya teteh keren-keren… saya suka deh. hehehe…
    udah ah. jadi speechless. keep writing! :D

  6. July 10, 2009 at 1:48 pm | #6

    aniiiis…assalamualaikum…

    kalo kata bimbo mah “penuhi hati dengan cinta, ingatkan diri saat untuk berpisah…”

    blognya di link ke blogku yaaa

    dan…selamat dulu dong buat yang akan melepas masa lajang, semoga dikarunia keluarga sakinah mawaddah warahmah…amiin

  1. No trackbacks yet.