Archive for October, 2010

Nopels

Sebenernya beberapa novel ini udah saya baca beberapa waktu lalu, tapi pengen saya tulisin aja biar saya inget apa isinya. Oke ini dia…

To Kill a Mockingbird

Ini adalah salah satu novel klasik modern yang sering masuk 100 besar novel terbaik sepanjang masa berbagai versi (BBC, Times, dll). Hebatnya, novel ini adalah tulisan pertama sang penulis, Harper Lee, yang langsung dianugerahi penghargaan Pulitzer. Dan saya bilang sih novel ini memang sangat layak untuk itu.

Dari sudut pandang gadis enam tahun, novel ini bercerita tentang kondisi pada saat itu yang kental akan rasialisme. Tentang keluarga dan kehidupan sosial di masa pertengahan abad 19. Yang menjadikan novel ini menarik menurut saya jelas alur ceritanya, ketika idealisme harus bertarung dengan kondisi masyarakat yang ada. Karena puncak cerita berkembang ketika tokoh ayah yang bekerja sebagai pengacara memilih untuk membela seorang pemuda berkulit hitam atas dakwaan pemerkosaan terhadap gadis kulit putih.

Selain dari segi cerita, menurut saya latar dan penokohannya juga disampaikan dengan baik. Mungkin karena (walaupun dibantah oleh penulisnya) banyak orang-orang di sekitar penulis yang menganggap novel ini mirip kisah sang penulis di masa kecilnya, jadi semacam autobiografi lah. Mungkin karena itu penulis bisa sangat menghayati tulisannya. Apapun itu, buat saya ini salah satu novel cantik yang menawarkan kaya pesan moral namun tetap dibungkus dalam bahasa yang ringan.

“They’re certainly entitled to think that, and they’re entitled to full respect for their opinions… but before I can live with other folks I’ve got to live with myself.  The one thing that doesn’t abide by majority rule is a person’s conscience.” By  Atticus Finch.
“I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand.  It’s when you know you’re licked before you begin but you begin anyway and you see it through no matter what.  You rarely win, but sometimes you do.” By Atticus Finch.

Makasih buat Mia yang udah minjemin buku ini di subuh-subuh sebelum kita berangkat kerja :P

The Alchemist

Wooo ini buku Paolo Coelho pertama yang saya baca, habisnya penasaran banyak banget yang suka sama novel ini (bahkan teman yang setau saya jarang nangis bisa dibuat nangis, siapa cobaaaa…) hingga akhirnya saya beli juga ni buku. Ternyata pas saya cari-cari buku ini juga sering masuk di 100 besar novel terbaik, walau peringkatnya masih cukup jauh di bawah To Kill a Mockingbird.

Jadi apa isi novel ini? Hmm kalau saya bilang sih yang paling menarik dan bikin orang-orang suka pada novel ini karena novel ini bertaburan hikmah, walau saya merasa itu common wisdom. Jadi novel ini bercerita tentang perjalanan seorang pemuda, tentang mimpinya, tentang perjuangannya, tentang hati, tentang kepercayaan. Sebenarnya buku ini mengangkat tema yang cukup berat, tapi dituturkan dengan cukup ringan, hingga tidak terkesan menggurui.

Tapi entahlah, saya (dan amisu, hyaaa ntahvava kami serupa XD) kurang menyukai novel ini. Saya pribadi membandingkan novel ini dengan dengan The Road To Mecca (karena sama-sama bercerita tentang perjalanan) dan saya masih merasa The Road To Mecca menang, selain lebih kaya akan penuturan budaya (di sepanjang novel akan terasa penuturan tentang budaya dan kebiasaan beberapa daerah), lebih menyejarah (latar belakangnya beberapa peperangan), lebih “bercerita” (entah kenapa saya malah hampir melongo setelah menamatkan The Alchemist, “what… that’s it?”), dan lebih menyentuh (huaaa saya nangis di beberapa scene). Tapi sekali lagi itu subjektif sih :P

Bumi Manusia (Buku pertama Tetralogi Buru)

Hiyaaaa bukunya Pramoedya Ananta Toer lagi! Setelah baca yang ini dan yang ini, akhirnya ada rejeki buat beli buku yang cukup fenomenal ini. Dibanding buku sebelumnya yang pernah saya baca yang berlatar belakang abad lampau, buku ini lebih “dekat” karena berlatar masa kebangkitan nasional di awal abad 19. Dan seperti yang umum diketahui, novel ini ditulis dalam pengasingan.

Novel ini bercerita tentang seorang pemuda yang mendapatkan pendidikan ala Belanda. Yak, buku ini memang bercerita tentang seseorang yang nyata adanya, seorang tokoh pers bernama Raden Tirto Adhi Soerjo. Perkenalannya dengan sebuah keluarga semi Belanda membawanya “berpetualang”. Apa yang menarik? Wooo kalo buku Pram pasti analisis sejarahnya. Saya terkagum-kagum dengan bahasa dan alur ceritanya, seolah saya dilempar ke masa lalu untuk mengetahui tidak hanya perkembangan budaya tapi yang lebih menarik buat saya adalah bagaimana pola pikir orang-orang Belanda, pribumi biasa, dan pribumi ningrat pada masa itu.

Karena ini tetralogi, jadi ceritanya masih bersambung, dan saya masih terseok-seok membaca buku bagian keduanya, hehe. Tapi after all, saya acungi jempol untuk buku ini. Saya merasa lebih mengenal negeri ini dan tingkat nasionalisme saya (wuidih) cukup meningkat setelah membaca buku ini. Well, moga suatu saat Pramoedya tidak hanya jadi salah satu kandidat pemenang Nobel Sastra, karena bagi saya beliau layak menjadi pemenangnya. Oya kabar-kabarnya novel ini akan dibuat filmnya, doh moga filmnya tidak mengecewakan….

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.”

The Golden Compass

Walau udah nonton filmnya beberapa tahun silam, tapi saya baru baca novelnya, dan kesimpulannya: I’ve got nothing from the movie :D . Yak seperti biasa, jika ada film berbasis novel, maka saya pasti lebih suka novelnya, hmm walau ada beberapa pengecualian sih.

Oke cerita dalam novel ini lebih bersifat fiksi. Buku ini berkisah seputar perjalanan seorang gadis bernama Lyra yang dipercaya sebagai penyelamat, namun tak ada yang boleh memberitahukan apa yang harus ia lakukan. Nah di buku pertama ini, Lyra dan daemonnya berusaha menyelamatkan sahabatnya. Upayanya itu tanpa ia sangka telah membawanya berpetualang menempuh bahaya hingga menemukan dunia baru.

Apa yang menarik? Hmm… sulit saya identifikasi mana bagian terbaik dari novel ini. Tapi bagi saya alur cerita, penokohan, dan latar digambarkan dengan baik. Buku ini memiliki ending yang cukup mengejutkan dan kejutannya itu sangat beruntun hingga orang yang suka membaca dari belakang rasanya tidak akan tertantang lagi untuk membaca dari awal.

Oya, sampai sekarang saya masih bingung kenapa novel ini diberi judul “The Golden Compass” karena katanya sih hal itu tidak merujuk ke alethiometer (suatu device yang cukup jadi pusat cerita di novel ini). Padahal penulisnya, Philip Pullman tadinya memberi judul Northern Lights untuk buku pertama ini dan The Golden Compasses untuk keseluruhan trilogi (sekarang lebih dikenal dengan His Dark Materials). Apa saya yang salah memahami ya :D .

Yak apapun itu, setelah baca buku pertamanya saya langsung penasaran dengan buku keduanya. Karena tidak seperti Harry Potter yang memberikan satu konklusi di setiap akhir bukunya, saya tidak menemukan konklusi apa-apa pada buku pertama ini hingga saya menyimpulkan bahwa saya harus membaca ketiganya dulu, moga tidak mengecewakan :P

A Thousand Splendid Suns

Hmm, padahal belum baca The Kite Runner XD. Yak ini novel yang saya baca dalam tempo berbulan-bulan, bukan hanya kendala bahasa (haha English saya memang buruk) tapi novel ini juga ketinggalan di Bandung setelah saya berdomisili beberapa bulan di Jakarta (huh ngeles :P ).

Katanya sih buku ini ceritanya nggak jauh-jauh dari The Kite Runner, tentang perang di Afghanistan, kondisi masyarakat, sosial dan budayanya. Secara lebih spesifik novel ini bercerita tentang perjuangan dua orang wanita yang menjadi demikian dekat karena pengaruh perang dan suami mereka.

Buku ini memberikan saya gambaran lain tentang pola pikir orang-orang Afghanistan, pandangan mereka terhadap Taliban, terhadap Rusia, dan juga Amerika. Buku ini juga membuat saya baru mengetahui sedemikian buruknya perlakuan terhadap wanita yang Allahu’alam entah benar-benar terjadi atau tidak.

Bagi saya novel ini tidak terlalu menarik sih, rasanya terlalu bertele-tele dan ala sinetron :P . Endingnya pun tidak spesial karena dibuat terlalu panjang sementara di tengah-tengah cerita didominasi oleh kesedihan dan suasana suram. Hanya saja buku ini membuat saya bersyukur saya hidup di Indonesia, alam di mana Islam hidup dalam suasana moderat.

“One could not count the moons that shimmer on her roofs,or the thousand splendid suns that hide behind her walls.”

———————————————–

Wooot kok bacaannya novel semua ini? Hehe iya nih lagi malas baca yang berat-berat (padahal bukunya Bumi Manusia cukup berat kok dari segi massa :D ), eh tapi ditengah-tengah saya masih sempetin baca buku-buku tentang kehamilan dan anak kok, tapi rasanya gimanaaa gitu kalo saya bahas disini :P . Yah mudah-mudahan kemalasan ini segera berakhir dan saya bisa membaca buku yang lebih berbobot setelah ini :)

Ah ya berhubung tengah terjadi berbagai bencana di Indonesia ini, saya ikut berbela sungkawa. Jika ada yang memandangnya sebagai azab, maka saya ingin ikut beristighfar karena mungkin saya ikut andil dalam dosa negara ini. Jika ada yang memandangnya sebagai ujian, maka saya berharap saya ikut lolos dalam ujian ini karena toh ujian bukan hanya untuk yang dalam kesempitan tapi juga untuk yang dalam kelapangan.


Gara-Gara Kaskus

Spoiler alert: tulisan ini nggak akan banyak membahas tentang kaskus :P

Akhir-akhir ini jadi lumayan rajin ngaskus, seringnya nongkrong di lounge. Ada banyak artikel yang bikin saya menemukan “wow” karena keunikannya, ada banyak artikel yang ngasih masukan dan membuat saya berpikir, namun banyak juga artikel yang nampaknya hanya sampah. Ya… dan seringkali sampah-sampah itu membuat saya terpikir akan masa depan si adek yang akan segera lahir ini.

Pergaulan, terutama dengan lawan jenis. Tak hanya sekali saya menemukan orang yang tanpa malu mengungkapkan aib-nya dan mempostingnya untuk sekadar dapat cendol atau bahkan mencari bata (doh yang nggak suka ngaskus mungkin kurang paham ya :D ). Dan jauh lebih sering lagi orang yang memposting aib orang lain yang bahkan tak mereka kenal. Tak perlulah post-nya dibaca, dilihat sekilas judul thread-nya pun sudah menjelaskan hal itu. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa para pelaku aib ini masih pelajar/mahasiswa.

Cinta, sayang, dks (dan kata sejenisnya) sering mereka jadikan alasan, pembenaran. Jika benar cinta alasannya maka berpikirlah beribu kali sebelum berdua-duaan karena setan mudah memperdaya saat itu. Sebelumnya berpikirlah beribu kali sebelum memutuskan berpacaran, karena pada umumnya berdua-duaan yang berbahaya itu bersama pacar bukan? Dan berpikirlah beribu-ribu kali sebelum jatuh cinta, karena kalau bukan karena jatuh cinta maka secara logis kemungkinannya lebih kecil untuk pacaran dan berdua-duaan. Mungkin terlalu digeneralisasi, tapi sulit bagi saya untuk menjabarkan yang sifatnya kasuistis.

Saya sendiri bersyukur bahwa saya tidak jatuh cinta pada suami saya, tapi saya mencintainya. Cinta yang saya yakini sebagai kata kerja, dan karena itu ia menjadi suatu usaha tersendiri. Saya bersyukur tidak mengenal suami saya sampai waktu-waktu dimana kami memutuskan untuk menikah. Saya bahkan bersyukur baru mengetahui sosok suami saya saat ia berkunjung ke rumah untuk memperkenalkan diri pada orang tua saya. Saya bersyukur karena saya memilih untuk mencintai bukan untuk jatuh cinta.

Teringat kisah Umar bin Abdul Aziz yang jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya melarangnya untuk menikah lagi. Di saat-saat kekhalifahannya, beliau bekerja sangat keras hingga sakit. Pada saat sakit itulah sang istri yang ingin memberikan dukungan mengizinkannya menikahi sang gadis. Namun rupanya karena cinta dan cinta yang lebih tinggi, beliau justru menolaknya dan justru menikahkan sang gadis dengan pemuda lain. Entah benar atau tidak, tapi saya merasakan adanya pergeseran dari “jatuh cinta” menjadi “mencintai” pada kisah tersebut. Cinta yang lebih bermakna. (kisah selengkapnya bisa dibaca dari artikel “Cinta Di Atas Cinta” oleh Anis Matta Lc.)

Saya tidak berharap cendol, dan kalau ada yang melempar bata juga saya terima-terima saja. Toh itu adalah pilihan… untuk mencintai atau jatuh cinta, dan sebagaimana biasanya… pilihan selalu disertai dengan konsekuensi.

Allahu’alam bishawab


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.