Archive

Author Archive

Haaah… Baru Baca??!!?

October 22, 2009 anis 6 comments

Beberapa waktu ini saya membaca beberapa buku yang… “Ya ampun telat banget baru baca buku itu”. Yak to the point saja, ini beberapa bukunya:

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

Biar Kuncupnya Mekar Jadi BungaWow wow, buku apa ini? Kalau Anda berpikir ini buku untuk wanita, maka Anda tidak sepenuhnya benar. Well, buku ini adalah kumpulan tulisan dari Anis Matta, Lc. yang pernah dimuat di kolom ayah Majalah Ummi. Namanya juga kolom ayah, jelas pangsa tulisan ini adalah para ayah/suami. Tapi karena dimuat di Majalah Ummi (1997-1998), tulisan-tulisan ini sebenarnya juga agar para ibu/istri mengetahui sudut pandang seorang ayah/suami.

Hoho… jadi apa isinya? Hmm Pak Anis sendiri bilang, “Saya sedang mewakili diri saya sendiri di sini, dan bukan sekadar pikiran-pikiran saya. Maka mengalirlah tulisan-tulisan itu, dan setiap kata di dalamnya adalah sepotong hati dan seuntai anak pikiran sekaligus. Setiap kata membahasakan denyut nadi kehidupan saya.”

Buku ini menarik buat saya karena seperti tujuannya, saya bisa melihat sisi lain dari pikiran, perasaan yang dimiliki laki-laki. Dan saya pikir buku ini memang layak dibaca oleh laki-laki yang sudah menikah ataupun yang akan menikah untuk mempersiapkan beberapa sendi kehidupan rumah tangganya.

Dan seperti biasa, seperti tulisan Anis Matta yang lain… bahasanya itu loooo… saya bener-bener suka cara beliau meramu setiap untaian kata pengandaian yang manis hingga jika dimaknai akan menjadi suatu hikmah mendalam. Dan kalau biasanya saya nggak begitu suka buku pernikahan yang mehek-mehek, well, untuk yang satu ini saya nggak bisa bilang ini mehek-mehek… ini bukan tipe buku yang melenakan tentang fantasi yang indah mengenai sesuatu yang bernama pernikahan.

Maka begitulah seharusnya Anda mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna ini terangkum dalam kata ini; menghidupkan.

Hidup ini adalah simponi yang kita mainkan dengan indah. Maka duduklah sejenak bersama pasangan Anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri; apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama Anda? Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya, “Dan nafas cintanya meniup kuncupku maka ia mekar menjadi bunga.”

Anne of Green Gables

Anne of Green GablesNah yang satu ini adalah novel yang dibeliin amisu, karena itu novelnya berbahasa Inggris XD. Novel ini bercerita tentang Anne, seorang gadis panti asuhan yang tidak sengaja datang ke sebuah rumah. Awalnya ia tak diinginkan, namun karena segala kelebihan yang sekaligus kekurangannya, semua orang yang menemuinya bisa mencintainya.

Novel karya Lucy Maud Montgomery ini masuk dalam jajaran all time top 100 best novels versi BBC. Maklum novel ini termasuk novel “tua”, usianya sejak pertama kali diterbitkan sampai sekarang sudah mencapai 100 tahun.  Karena itu setting ceritanya pun ada di masa awal abad ke 19.

Kekuatan novel ini kalau kata saya sih ada dalam pembahasaan dan pengkarakteran yang kuat pada setiap tokoh. Bahasa yang digunakan nggak jarang hiperbolis, tapi justru itu yang membuat menarik. Tapi yang lebih penting, pembahasaannya sangat deskriptif, dan menurut saya ini adalah salah satu hal yang penting dalam sebuah narasi. Dan penokohan Anne sangat baik, saya suka cara Anne mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, kadang menggelitik dan kadang membuat kita berpikir akan kebenaran kata-katanya.

Sayangnya, menurut saya novel ini cenderung membosankan. Ceritanya datar dan plain banget. Secara keseluruhan cerita ini “hanya” mengenai riak-riak keseharian Anne. Tidak ada satu bagian konflik hidupnya yang benar-benar ditonjolkan, karena itu nggak ada klimaks dalam ceritanya.

Oya novel ini juga ada sekuelnya, masih terusan dari kehidupan Anne ketika menjelang dewasa, menikah dan punya anak. Nah karena kebayangnya novel ini bakal mirip dengan novel pertama, saya belum baca terusannya, walo amisu beli sepaket lengkap (maaf ya :D ).

Well, that is one of the things to find out sometime. Isn’t it splendid to think of all the things there are to find out about? It just makes me feel glad to be alive—it’s such an interesting world. It wouldn’t be half so interesting if we know all about everything, would it? There’d be no scope for imagination then, would there?

Arok Dedes

Arok DedesWoooo… kalo Anne agak ringan, nah ini novel yang cukup berat. Hmmm bukannya berat gimana sih, tapi kalo dibilang ini tulisannya Pramoedya Ananta Toer, pasti penggemar tulisan beliau bisa nangkap kenapa ini agak berat.

Seperti tulisan disini, berbeda dari Anne, kekuatan Pramoedya justru ada pada ceritanya. Pada penelitian sejarahnya. Pada kedalaman budayanya. Pada peramuan narasi  para tokoh dalam sejarah yang mungkin sudah kita kenal sejak SMP, tapi dulu mungkin terasa membosankan. Membuat saya berpikir, harusnya buku sejarah dibuat dalam karya sastra seperti ini saja ya :P

Well, dari judulnya jelas kan novel ini mengusung siapa? Yak yak… novel ini bercerita tentang pemberontakan yang dipimpin oleh Ken Arok atas pemerintahan Tunggul Ametung yang tidak memuaskan masyarakat. Kalo tentang hal itu, kayaknya banyak orang yang tau, tapi saya sendiri baru tau kenapa pemberontakan itu terjadi, bagaimana itu dimulai, bagaimana pertentangan antara penganut Syiwa dan Wisnu, bagaimana penggambaran kasta-kasta dan gejolak masyarakat dalam masa ketika tingkatan kasta-kasta itu dipaksa menjadi blur. Dan dengan semua itulah novel ini menjadi sangat menarik.

Saya bener-bener suka bagaimana sejarah begitu hidup dalam sebuah cerita. Bagaimana sebuah budaya benar-benar tergambarkan. Rasanya penelitiannya begitu mendalam, sampai-sampai Pramoedya menggambarkan ciri fisik seorang kasta brahmana dengan kasta sudra yang berbeda.

Dan tentu saja hal menarik lainnya adalah intrik politik dalam novel itu. Yang masih juga berlaku sampai saat ini (memang dimaksudkan sebagai cerminan sih :P ), ketika konflik kepentingan berlangsung. Ketika kekuasaan menjadi sesuatu yang membuat seseorang berubah meski awalnya terasa sangat manusiawi.

Yak, Pramoedya benar-benar penulis yang baik menurut saya, dan saya ragu akan ada penulis lain yang bisa menyampaikan sejarah, budaya, politik, agama, dan romantisme dalam saat yang bersamaan.

Thanks to my father in law who has lend me this book and explained about Javanese culture eagerly ^^.

Menjadi Manusia Pembelajar

Menjadi Manusia PembelajarHuwaaaa… ini buku yang sangat terlambat saya baca. Padahal teman-teman SMA saya sudah memperkenalkan penulisnya pada saya sejak kami masih sekolah. Siapa mang penulisnya? Andrias Harefa. Seorang pendobrak yang tidak menyukai bagaimana pendidikan formal di Indonesia berlangsung, sampai ia memutuskan untuk berhenti kuliah padahal “hanya” tinggal menyelesaikan skripsinya.

Sistem yang menjadikan pendidik hanya berfungsi sebagai pengajar. Ketika guru adalah penguasa di depan kelas dan siswa harus duduk dan menerima setiap apa yang dikatakannya. Yang menjadikan manusia-manusia Indonesia kehilangan kreatifitasnya dan akhirnya hanya mampu menjadi pekerja yang berpikir untuk bekerja di perusahaan sampai pensiun, dan kemudian ongkang-ongkang di hari tua meski mungkin kenyataannya tidak seperti itu.

Intinya buku ini mengajak kita jadi manusia pembelajar yang tidak hanya “belajar” pada institusi pendidikan. Mengajak kita untuk berpikir tentang hakikat hidup; membedakan pembelajaran, pengajaran dan pelatihan; menjadi manusia dewasa yang merdeka; menjadi pemimpin hingga akhirnya bisa menjadi guru bangsa. Bukan dalam taraf teknis, tapi dalam tataran konsep. Ini menjadikan buku ini berbeda dari buku-buku pengembangan diri pada umumnya.

Buku yang worth to read menurut saya (walo belum saya beresin nih :D ), saya suka cara berpikir penulis yang menjungkir-balikkan  kondisi ideal. Saya juga suka nulikan-nukilan yang diambil dari berbagai orang yang belum pernah saya ketahui, namun begitu mengena. Dari segi bahasa, siap-siap aja untuk mendapati kata-kata yang kadang terasa terlalu jujur :P .

“Saya harap buku ini dapat menjadi warisan bagi kedua putri saya yang masih balita, terutama agar kelak mereka tidak pernah kecil hati karena ayahnya bukan sarjana, bukan doctor, tetapi “hanya” (berusaha menjadi) manusia pembelajar” –Andrias Harefa—

“Aku bukan Hatta, aku bukan Soekarno, bukan Syahrir, bukan Natsir, bukan Marx, dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan… aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari  dan terus-menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus-menerus berproses menjadi aku. Aku adalah aku pada saat sakratul maut” –Ahmad Wahib–

Digital Fortress

Digital FortressGNA… OMG… saya baru baca? Hahaha iya, padahal meski novel ini tergolong “baru” tapi sepertinya orang-orang di sekeliling saya sudah membacanya. Apalagi karena novel ini bercerita tentang kriptografi yang notabene merupakan salah satu mata kuliah di program studi saya.

Nah karena pasti udah banyak yang baca, saya nggak akan berkomentar panjang. Novel ini menarik, sepertinya sangat nyata dalam dunia intelijen. Banyak hal menegangkan, banyak hal tak terduga. Tapi buat saya juga rasanya terlalu banyak “kebetulan baik” yang terjadi dalam novel ini. Ceritanya diramu sangat baik, tapi menurut saya sih penokohannya kurang mantap :P .

Gyaaa… ini buku Dan Brown pertama yang saya baca, punya amisu yang saya culik dari Malang, sayangnya saya lupa menculik novel-novel Dan Brown lain yang dimilikinya :D

Hufff huff, masih banyak buku yang pengen saya baca… masih banyak e-book ngantri di hard disc, masih numpuk buku di rak kakak, tapi sepertinya masih lama juga saya bisa menyelesaikan si ** agar saya bisa membaca dengan agak luang :(

Categories: review Tags:

M-nya Besar

August 16, 2009 anis 16 comments

Sebenernya canggung juga nulis cerita tentang ini, tapi karena diminta sebagai pelengkap cerita ini dari sudut pandang yang lain, maka yah inilah.

“Siapa ya pria malang yang bakal jadi suami saya,” sepertinya itu gumaman batin yang sering saya lontarkan kalau mengingat-ingat pernikahan. Sungguh bukan doa, tapi saya hanya merasa bahwa saya punya kekurangan yang sangat banyak hingga saat itu saya merasa perlu untuk mengasihani seseorang yang kelak menjadi suami saya. Tapi Allah ternyata mengabulkan gumaman hati saya, alih-alih pria malang, Allah menjadikan seorang pria Malang sebagai suami saya.

Dan cerita pun bergulir hingga sampai hari yang bersejarah (setidaknya bersejarah bagi kami berdua). Pagi itu saya sudah duduk di ruang rias, sambil terus mengutak-atik handphone memastikan keberadaan beberapa orang terkait. Ibu perias dengan sigapnya mengolas-oles wajah saya. Entah berapa macam bahan kimia yang dioleskannya, saya sendiri sampai heran sebanyak itukah zat yang harus dipasangkan pada muka saya. Hingga akhirnya riasan selesai dan saya merasa seperti ondel-ondel yang siap tampil….

Sebetulnya saya ingin mengikuti acara dari awal, tapi karena riasan yang belum selesai, saya terpaksa hanya mendengar sayup-sayup ketika Al-Qur’an mulai dibacakan. Dan ketika riasan selesai, saya didudukkan di belakang panggung dan bisa mulai mendengar keseluruhan acara dengan lebih khidmat.

“Saya terima nikahnya….”

Apaaaa???? Sudah ijab kabul? Dan meski otak ini baru selesai menangkap fakta tersebut, rasa-rasanya air mata ini ingin segera tumpah. Ya Allah, Ya Rabb, hanya dengan kalimat itu Ya Rabb, Engkau mengubah kedudukan kami. Ya Rabb, benarkah? Sebuah mitsaaqan ghalidza telah diucapkan, dan kali ini menyangkut diri hamba? Tanggung jawab… pemenuhan separuh agama… kewajiban… sebuah janji… amanah… semua hal itu berputar-putar di kepala saya.

Tapi air mata yang ingin segera tumpah itu harus saya tahan. Kasihan ibu perias kalau saya merusak riasan yang dibuatnya lebih dari dua jam hanya dalam waktu beberapa menit. MC pun memberi aba-aba bagi saya untuk keluar dari persembunyian. Seolah teroris yang sedang dicari, saya disambut dengan teriakan oleh segenap teman dan sahabat yang telah hadir.

Ia menyambut saya. Penuh gugup saya menyambut dan mencium tangannya. Setelah bertahun-tahun saya menjaga diri saya dari sekadar menyentuh lawan jenis, sekarang hanya dengan kalimat yang baru saja ia lafazkan, semuanya menjadi halal, dan itu merupakan momentum yang terasa demikian ganjil bagi saya.

Khutbah nikah dibacakan. Terasa semakin berat kewajiban yang siap menyambut kami. Air mata semakin sulit saya tahan hingga berkali-kali saya harus menyusut sudut mata yang basah sebelum ia tumpah dan mengaliri celak hitam untuk kemudian menghitamkan pipi saya.

Dan pada saat acara sungkeman, akhirnya air mata tak dapat saya bending lagi. Saya biarkan ia membanjiri pipi saya, seiring beribu perasaan yang juga membanjiri hati saya. Dosa, tak berbakti, kelakuan saya yang hanya merepotkan, perasaan tak berguna dan bersalah, segala hal yang telah mama dan keluarga saya lakukan untuk saya, semuanya membayang di pelupuk mata. Mama dan kakak tertua saya, maaf dan terima kasih untuk semuanya. Dan tak lupa kerinduan pada ayah… semuanya menjadi tumpah ruah bersama tangisan. Dan ketika itu kakak tertua saya hanya mampu membisikkan, “Sabar…!” di telinga saya.

Awalnya saya tidak paham mengapa harus “sabar” yang dipilih kakak saya pada waktu yang memang sangat singkat itu. Tapi setelah beberapa lama mengarungi kehidupan baru, saya mulai paham bahwa saya memang sangat memerlukan kata itu. Jika ada yang berkata pernikahan adalah sesuatu yang indah, itu benar, tapi keindahan itu memerlukan sesuatu untuk jadi bayarannya, dan kesabaran merupakan salah satu mahar untuk keindahan tersebut.

Dan sekarang inilah kami, ia disana dan saya disini, masih berusaha menghapus jenak-jenak keterasingan di antara kami. Masih berusaha belajar untuk saling memenuhi agama kami. Masih berusaha belajar untuk jadi manusia yang lebih baik dengan segala keterbatasan kami. Masih berusaha bersinergi untuk menjadi bagian dari peradaban yang lebih baik. Masih berusaha…. Masih belajar….

Kami yakin ke depan semuanya akan lebih berat untuk kami hadapi, tapi juga yakin bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian yang tidak sanggup untuk kami tanggung. Inilah jawaban doa istikharah kami selama ini.

Dan saya pun berdoa, semoga pria Malang ini tidak menjadi malang karena menikahi saya….

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu”. (HR Al Bukhari)

Categories: moment

13 Hari

August 10, 2009 anis 6 comments

Meski tidak genap dua pekan, seharusnya 13 hari merupakan waktu yang cukup lama. Kenyataannya 13 hari masih jauh dari cukup bagiku untuk mengenalmu. Namun paling tidak sudah cukup banyak hal-hal yang kutemukan….

Hal yang paling membuatku bangga bukanlah ketika kau bisa menjawab semua pertanyaanku. Bukan ketika kutemukan transkripmu hanya dipenuhi A dan B. Bukan ketika kau berkutat dengan buku dan dalam separuh waktu bacaku kau melibas bacaan yang kubaca. Meski itu semua memang membuatku bangga, tapi aku jauh lebih bangga ketika dalam shalat berjama’ah kau membacakan surat baru pertanda hafalanmu bertambah.

Hal yang paling membuatku bahagia bukanlah ketika menemukan kenyataan bahwa kita sama-sama menyukai F1. Bukan ketika kau membelikanku beberapa hadiah. Bukan ketika kau mengajakku berpetualang menjelajah ruang dan rasa. Meski itu semua memang membuatku bahagia, tapi aku merasa jauh lebih bahagia melihatmu bangun lebih pagi dariku untuk qiyamul lail, ketika kau membangunkanku untuk bergabung denganmu untuk menghadap-Nya.

Hal yang paling membuatku terharu bukanlah ketika kau memegang tanganku saat aku hampir terjatuh. Bukan saat kau meminta maaf ketika kau salah. Bukan ketika kau membantuku mencuci piring. Meski ya… itu semua membuatku sangat terharu, tapi ketika kau menghentikan bacaan Qur’an-mu untuk mendengar koreksi dariku, itu jauh lebih membuatku terharu.

Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari mengenalmu, tapi mengenalmu kini adalah pekerjaan seumur hidupku. Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari sempurna, tapi ketika Dia menitipkanku padamu aku yakin Dia ingin menyempurnakanku dengan keberadaanmu.

Categories: moment

A Little Girls Question

March 19, 2009 anis 13 comments

(In order to learn English, since my English was horrible XD)

I’d capture a story about a little girl. I guessed her age were about three to four years at that time. Once she was looking upon the sky. A beautiful night sky with a lovely full moon and scattered stars. Then a thought cross of her mind, she found something to ask. Therefore, she decided to ask straightaway, without waiting any seconds to keep the question in her mind. Then she said, “Why moon always follow after me wherever I go?”

People who had listened to her question were laughing at her. They maybe think that she was so funny. Moon doesn’t follow anyone. Moon doesn’t even have any feet to walk. People kept laugh at her and didn’t realize that something might go wrong. Well, maybe there was nothing wrong. Neither the question, nor peoples who laugh at her. Maybe the question was very cute, so was her expression when she asked that. But the girl had grasped something that she shouldn’t even catch.

From that day, if she had any question to ask, she would think many… many times before she got the question came out her mind and transformed into words. Scare, shame, always come around her when she think she have to ask. She scared that the question might very fool so it would only bother the others. She would feel ashamed if her question was just the things that had been explained.

When she at the elementary school, she went with a car. She saw trees in a range formation. Some of them are in front of the others. She was watching it, and trying to understand that when she was moving with the car, the trees were doing the same thing in her sight. The frontage trees seemed leaving her faster than the back one. In her sight, she found that the back range trees following her before they actually going backward. She got the “aha” about her own question that she had asked many years ago. It should have been explained by the theory about time, velocity, and distance. Moon might didn’t following her that night, the distance between moon and her that made it seemed to move and go along her.

Therefore, she decided to find and answer her own question. She lived in her own mind. She often wonders about the answers that others would give for her questions. She has trying to figure out and answering her own questions so many years in her life. She made self-addressed questions. If someone asked, she would try to guessing and answering the question, even the question wasn’t for her.

Then she grew old. She still kept her question about “following moon”. She never lost her curiosity about many things yet still tried to answer her questions by herself. She learned so many things in her life, but so many questions that should have been asked just being threw by her. Time goes by and latter on, she found that she had wasted so many times because of her fatuity.

Nobody knows what would happen if peoples who listened her question didn’t laugh at her, neither she would. Nobody knows what would happen if the people answered her question appropriately. If they just pretended not to hear her question. If they just smiled at her and said, “You’ll find out why moon is chasing after you”. If they made a joke for her by saying, “Yeah… look… it is coming after you… watch out!! Oh no it is becoming bigger and bigger!! Be careful… it may fall into you!! Noooo… booom… kazoom!!!!”

Well for me, her story was inspiring. Our action, no matter how small it was, it could affect others. I believe that every action was neutral yet every reaction that made something become negative or positive. There was a space between every action and every reaction… something called selection. I’m hoping that I could give my best reaction for every action that came to me, especially when it related to children.

Categories: moment

Mindful Of Death, A Powerful Tools

February 23, 2009 anis 6 comments

Membuka-buka koleksi lagu-lagu yang entah sengaja atau tidak tersimpan di laptop ternyata cukup menyenangkan. Mengantarkan pada masa-masa ketika lagu-lagu tersebut sering diputar, makna dan suasana yang dibawanya. Hal itu mengantarkan saya untuk membuka lagi dua buah lagu yang sering saya putar kalau lagi bebal-bebalnya dan dalam kondisi pingin “insyaf instant” XD.

Yang pertama lagu yang tampaknya super jadul yang entah saya dapat darimana. Judulnya pun walau singkat cukup mengerikan…. “Kematian” dari Suara Persaudaraan. Yang kedua, tak kalah mengerikannya “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” yang dilantunkan Alm. Chrisye. Here’s the brief for the songs:

Kematian, Suara Persaudaraan

Berbekallah untuk hari yang sudah pasti, sungguh kematian adalah muara manusia.
Relakah dirimu menyertai segolongan orang, mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa.
Rasulullah bersabda perbanyaklah mengingat akan pemusnah segala kenikmatan dunia.
Itulah kematian yang kan pasti datang kita tak tahu kapan waktunya kan menjelang.
Menangislah hai sahabat karena takut kan Allah niscaya engkau kan berada dalam naunganNya.
Di hari kiamat di saat tiada naungan untuk manusia selain naunganNya.
Dalam ampunanNya dalam maghfirahNya dosa pun berguguran bak daun dari pepohonan

Ketika Tangan dan Kaki Berkata, Alm. Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci kata tak ada lagi.
Akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita.
Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya.
Berkata kaki kita ke mana saja ia melangkahnya.
Tidak tahu kita bila harinya tanggung jawab tiba.
Rabbana, tangan kami… kaki kami… mulut kami… mata hati kami…..
Luruskanlah… kukuhkanlah… di jalan cahaya sempurna.
Mohon karunia kepada kami hamba-Mu yang hina

Walau menurut Abu Sangkan, menangis karena mendengar lagu seperti itu hanya “kesadaran sesaat” atau keinsyafan karena “nada melankolis”, tapi buat saya memaknai kata-kata dalam lagu seperti itu lumayan efektif untuk mengingatkan kembali betapa singkatnya hidup ini. Tentang betapa rapuhnya kehidupan yang kita lalui. Tentang masa persinggahan untuk pencarian bekal. Tentang betapa masih banyaknya hal yang saya sia-siakan. Tentang menumpuknya dosa yang saya panggul. Tentang masih bodohnya saya akan makna “perintah dan larangan-Nya”. Tentang orang-orang di sekeliling saya… yang saya cintai, yang saya sakiti, serta yang saya cintai dan sakiti sekaligus.

Membuat saya bisa kembali mempertanyakan apa makna hidup yang saya jalani. Untuk apa saya diciptakan. Siapa saya? Apa tujuan saya? Dan bagaimana mencapainya? Membawa saya kembali bermimpi untuk menjadikan hidup saya lebih bermakna dari sekadar siklus:

HIDUP -> masa-masa di rumah -> sekolah -> bekerja -> menikah -> punya keturunan -> MATI

Kembali mempertanyakan benarkah hidup ini karena singkat maka harus dimanfaatkan untuk menikmati sebisa mungkin dunia ini? Benarkah kita mampu melalui siklus: muda hura-hura à tua kaya raya à mati masuk surga? Benarkah tidak ada konsekuensi dari setiap apa yang kita lakukan di dunia ini? Benarkah hidup ini kita yang mengatur? Benarkah “we own our life, it’s our and only we who have the full authorized to aim it”?

Jika jawabannya ya, rasanya akan muncul banyak pertanyaan yang tak terjawabkan dalam pikiran saya. Tapi jika jawabannya tidak, pertanyaan yang belum mampu saya jawab hanya satu: sejauh mana saya menyiapkan bekal untuk kematian saya?

Categories: perception Tags:

Makna Sebuah Kehilangan

January 6, 2009 anis 3 comments

Awan hitam masih menggelayut manja di pelataran langit. Seakan memahami bahwa terik tak akan cukup indah di siang hari itu. Wanita itu tertatih menghampiri sesosok tubuh pria yang ditutupi sehelai kain tradisional. Perlahan dibukanya kain yang menutupi bagian wajah pria itu. Matanya nanar menatapi wajah pria yang cinta saja tak cukup untuk mendefinisikan perasaannya pada pria itu. Putih, kaku, namun seberkas cahaya dan seulas senyum samar membuat hatinya agak berlega hati. Ia kembali menutup kain itu, entah apakah ia menyadari dengan sungguh hati bahwa itulah kali terakhir ia menatap wajah pria yang telah menemani hidupnya hampir 60 tahun lamanya.

Jam berganti jam, perlahan ia mulai semakin menyadari apa yang terjadi padanya. Tatkala ia berbaring, tak ada sosok yang menemaninya di tempat tidur. Ketika azan berkumandang, tak ada yang pamit padanya untuk menuju masjid. Saat pagi menjelang tak ada lagi sosok yang meneguk perlahan segelas kopi di kursi pinggir pintu belakang. Tak ada, tak ada lagi yang mendengarkan cerita-ceritanya tentang ini dan itu. Tak ada suara batuk yang dulu sering membuatnya terbangun di malam hari. Tak ada suara tawa yang terkekeh renyah lagi. Tak ada, dan semakin lama semakin banyak “tak ada” yang ia sadari.

Semua sudut ruangan adalah kenangan bersamanya. Setiap jam dalam semua hari dipenuhi adanya ia dan tingkahnya. Dan setiap kali menyadari itu, perlahan sebentuk buliran bening mengalir lembut di pipi keriputnya. Buliran bening itu kemudian ditingkahi beribu penyesalannya. Sesal akan setiap kemarahan, kekesalan, atau lakunya yang lain yang mungkin menyakiti pria itu. Sesal itu kemudian dilanjutkan dengan jutaan jika… andai… kalau saja…. Namun ia tahu dan ia berusaha menyadarkan dirinya bahwa ia telah ikhlas akan kepergian pria itu, dan yakin bahwa pria itupun telah mengikhlaskan dan memaafkan kealpaannya.

Di sudut yang lain, putra-putrinya tak kalah kehilangan. Sama sepertinya, ribuan sesal menyesaki mereka. Sesal akan bakti yang rasanya tak mencukupi walau memang tak akan pernah mumpuni. Sesal karena tak sempat meminta maaf secara langsung. Sesal akan ini dan itu. Dan jutaan andai pun lagi-lagi menyergap. Namun mereka pun sadar bahwa segalanya adalah kehendak-Nya, dan hal yang tersisa bagi mereka adalah ikhlas, doa, dan usaha menjadi anak shaleh demi menjadi amal jariyah.

Dan seisi rumah itu sesungguhnya disesaki oleh rasa kehilangan, yang juga menyempilkan rasa sesal.

Mungkin itulah sebuah makna kehilangan. Kehilangan yang seringkali diikuti oleh penyesalan. Hal yang membuat saya berpikir untuk melakukan hal-hal yang ingin dan harus saya lakukan sebelum saya kehilangan lagi orang-orang yang saya cintai. Walau menyadari tak pernah ada yang sempurna, minimal saya ingin sering-sering berkata maaf dan ingin sering-sering menyisipkan kalimat bahwa saya mencintai kalian karena-Nya, insya Allah.

Jadi, karena saya sendiri mungkin jadi orang yang lebih dahulu dipanggil-Nya, dengan ini saya ingin mengucapkan maaf atas semuanya, dan bahwa sesungguhnya dengan izin-Nya, saya ingin mencintai kalian karena-Nya.

“Apa yang ada jarang disyukuri… Apa yang tiada sering dirisaukan… Nikmat yang dikecap baru kan terasa jika hilang… Apa yang diburu timbul rasa jemu jika sudah di dalam genggaman…”

Categories: Uncategorized

Mukrab, Sebuah Catatan Pinggir 2

December 28, 2008 anis 6 comments

Pendahuluan: Haduh, basi nian ini postingan, sebenarnya ini saya tulis sehari setelah mukrab, tapi baru ada kesempatan untuk ngepost sekarang. Yah, walau mukrab sudah berlalu, tapi pesan dalam postingan ini mudah-mudahan tidak akan berlalu dengan mudahnya :)

Dua pasang mata bulat bening itu tengah saling menjelajah. Bermain kemudian bertengkar, menggoda lalu menjerit manja. Si kakak tengah memainkan kaki sementara si adik belum juga berhenti terbatuk ketika si ibu menyapaku.

“Punten Neng, bisa minta uang buat ongkos?”

Dalam hati terbersit ketidakikhlasan, bukankah ini cara meminta-minta yang sangat umum dijumpai? Tapi akhirnya kukeluarkan juga sejumlah uang, “Mau kemana Bu? Emang Ibu tinggal di mana?”

“Ibu mah kemana-mana, nggak punya tempat tinggal, tidur juga di emperan sama anak-anak,” ia menatap sejenak kedua putri lucunya, yang kelucuannya sedikit tertutupi oleh baju dan muka mereka yang kotor coreng-moreng, “ini mau ke Caringin ke tempat saudara, siapa tahu mau nampung,” ujar sang ibu sambil tak henti berterima kasih atas uang yang tak seberapa itu.

Uang yang diterima si ibu serta merta direbut si kakak, nampak jelas anak itu sangat senang sekaligus sangat jarang melihat apalagi menggenggam uang. Si adik lalu meronta-ronta meminta bagian dari kakaknya.

Turun dari angkot pikiranku masih mengelana, mengapa begitu menyedihkan negeri ini. Ketika yang miskin tak punya harga diri hingga minta-minta dan berputus asa untuk berusaha, hingga tak punya kebanggaan lagi untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sementara itu yang kaya semakin tak punya hati, menjadikan harta sebagai tujuan bahkan tuhan, membenarkan apa yang salah dan menyalahkan yang apa benar.

Aku menatap bungkusan di tanganku, sebentuk kepala Doraemon yang akan digunakan untuk properti acara himpunan bernama Mukrab. Pengelanaan otakku sampai pada satu titik dimana aku mempertanyakan, “Di luar konteks niat sang ibu meminta-minta, apa pikiran itu masih bentuk halus dari ketidakikhlasanku?”

Ya Allah, padahal begitu mudah aku mengeluarkan uang untuk hal yang lain. Padahal uang yang kukeluarkan untuk membuat kepala Doraemon itu besarnya 3x lipat uang yang kuberikan pada sang ibu, dan aku mengeluarkan uang itu dengan senang hati. Padahal aku tahu pasti kepala Doraemon itu hanya akan berakhir di sebuah tong sampah di kampus. Padahal aku tahu pasti pemilik dua pasang mata bulat bening itu lebih membutuhkan uang untuk sekadar mengisi perut mereka.

Dan pengelanaan pikiranku berakhir pada suatu titik: Bahwa kita seringkali merasa ringan mengeluarkan jumlah uang yang besar untuk sesuatu yang mungkin sepele, sementara terasa begitu berat untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang sama untuk hal yang mungkin lebih beresensi. Tak hanya uang… waktu, pikiran, tenaga pun ternyata memiliki nasib yang sama: lebih terasa ringan untuk dicurahkan pada hal yang mungkin esensinya lebih rendah.

Pengelanaan pikiranku terhenti pada pertanyaan: Begitu kesat dan keras kah hatiku hingga memberi dalam jumlah sekecil itu terasa berat?

Categories: moment, perception

Mukrab, Sebuah Catatan Pinggir 1

December 12, 2008 anis 4 comments

Sejak kecil saya memang dilanda sebuah “penyakit” aneh. Penyakit itu bernama “tidak suka akan keramaian tertentu”. Entah kenapa, tapi memang itulah yang terjadi. Waktu SD, ketika ada pagelaran budaya, saat yang lain tampil untuk menari atau menyanyi di panggung, saya lebih suka diam di kelas membuka-buka buku atau ngobrol dengan teman yang juga ada di kelas.

Waktu SMP, setiap ada acara di kenaikan kelas atau perpisahan yang menampilkan band, atau persembahan kelas seperti menyanyi atau menari juga saya lebih memilih diam di sebuah sekre untuk menulis sesuatu. Dan tak jauh beda, begitupun kehidupan SMA saya, ketika ada acara-acara seperti itu, maka jangan heran kalau saya ada di pojokan masjid atau mushala. Jika saya memaksakan diri atau tanpa sadar telah hadir di acara seperti itu, saya selalu dirundung perasaan kesepian-di-tengah-keramaian secara tiba-tiba. Dan ketika menyendiri atau tiba-tiba merasa kesepian itu, pasti selalu ada masa dimana saya tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas.

Apa saya punya penyakit ayan? Ummm, mungkin saja ya, hehehe? Tapi kalau saya ayan, seharusnya di mana pun terdapat keramaian saya akan kejang-kejang, di pasar, di acara-acara di masjid, di lapangan…. Dan bentuknya kejang-kejang kan bukan menangis?

Seorang teman bilang, mungkin ini hanya karena saya tidak biasa. Benarkah? Kalau karena tidak biasa, kenapa ini terjadi sejak kecil? Bukankah masa kecil harusnya jadi masa penyesuaian? Lagipula sebenarnya saya tidak bermasalah untuk menikmati musik atau tarian tradisional misalnya, malah saya menyukainya.

Entahlah saya sendiri juga aneh dengan kebiasaan saya ini. Penyakit saya ini membuat saya tak bisa mendengar suara musik tertentu yang berdentum-dentum. Tak bisa menikmati sajian tari atau drama tertentu. Tapi jauh dalam hati, saya juga bersyukur akan keanehan saya ini, karena entah mengapa, dalam bentuk yang mungkin aneh dan tak biasa, saya merasa ada yang melindungi saya.

Jadi mungkin karena keanehan saya inilah, saya sangat jarang berpartisipasi dalam acara-acara angkatan. Dan ketika kemarin ada acara mukrab terakhir, saya merasa sedikit bersalah karena tak pernah menghadiri mukrab sebelumnya. Dan saya putuskan untuk membuat sesuatu saja untuk mukrab terakhir ini: kepala Doraemon. Karena jika saya paksakan untuk hadir pun, saya khawatir hanya akan membuat orang-orang merasa khawatir pada saya yang tiba-tiba menangis tak jelas. Jadi maaf untuk semua teman-teman angkatan karena partisipasi saya pada acara-acara angkatan memang tak pernah berarti atau bahkan tak pernah ada.

Hoalah, kok nampak sangat melankolis ya, hehehe… ampuuunnn

Categories: perception

Bersih Karena Kotor, Kotor Karena Bersih

October 31, 2008 anis 5 comments

Hihihi… lama banget nggak ngisi blog, sekalinya ngisi malah berniat nyampah… huaaa

Oke, jadi ceritanya selama tiga hari ada sesosok maag yang menyerang hingga seorang oknum AKH terpaksa tidak menghadiri beberapa kuliahnya. Nah salahnya, alih-alih belajar, atau baca-baca pdf yang udah numpuk buat __, atau hal positif lainnya, si AKH ini malah menghabiskan waktunya untuk menonton berbagai film kartun. Beberapa jam ia habiskan untuk menonton Spongebob, Fairly Odd Parents, Chibi Maruko Chan, Time Quest, Avatar, Hey Arnold, Rugrats, dll. Halah halah….

Tapi ternyata ada hal menarik yang didapatnya dari sepotong cerita Spongebob. Ceritanya Spongebob dan Patrick yang persahabatannya sangat kental tiba-tiba bertengkar gara-gara perbedaan mereka. Patrick sangat bangga dengan badannya yang bau, kotor, penuh keringat dan hal-hal menjijikan lainnya yang diekspose dengan gambar yang juga sangat menjijikan (kok bisa mereka punya ide menggambar hal sedemikian ya…). Sementara Spongebob sangat terobsesi dengan kebersihan, baginya tampil mengkilap adalah segalanya.

Mereka lalu terlibat dalam sebuah peperangan, Spongebob berusaha membersihkan Patrick dengan sabun dan alat-alat lain, sementara Patrick tentu saja menghindar. Sampai pada akhirnya Patrick berhasil dibersihkan dengan gelembung sabun dari tubuh Spongebob, sementara Spongebob justru dihujani tong sampah oleh Patrick.

Tapi kaliamt Spongebob selanjutnya yang menarik, kira-kira ia berkata “Terima kasih Patrick dengan ini aku bisa berminggu-minggu membersihkan diri, dan kaupun bisa berlama-lama mandi lumpur lagi. Bukankah kita tahu bersih karena adanya kotor dan kita kotor karena tahu kebersihan…”

Entahlah, tapi bagi saya kalimat itu menarik, walaupun sudah sering mendengarnya rasanya lucu mendengarnya dari sosok Spongebob. Yup, hal yang sejenis, kita tidak tahu kaya kalau tidak ada yang miskin. Kita tidak tahu beruntung jika tak ada sial. Kita tidak tahu sukses jika tak pernah ada gagal. Yup… begitulah Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan (pas Google nyari ayat ini kok nemunya malah blog-nya undangan orang-orang mau nikah ya >.<)

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).

Categories: intermezzo, perception

Ia Datang…

September 2, 2008 anis 8 comments

Dan ia pun datang kembali, dan setiap kali ia datang entah kenapa seringkali aku justru merasa malu atas banyak hal.  Setiap kali ia menjelang, aku mencorat-coret catatanku mencoba mereka-reka hal yang akan kuberikan atasnya.

Khatam x kali, hafidz juz xx, dhuha x kali sepekan, baca buku xxxxxxxx, dan sebagainya dan sebagainya…

Namun di setiap kali ia pergi, catatan itu kubiarkan menguap entah ke mana. Di setiap kali ia pergi, aku hanya bisa menangis karena kepergiannya. Dan aku tak bisa menahannya pergi. Dan aku hanya bisa berdoa moga dipertemukan kembali dengannya.

Dan ya, Ia Yang Maha Pemurah sekali lagi mempertemukanku dengannya. Dalam sebuah rasa malu yang sangat. Entah mungkin menganggap diri terlalu hina menginjakkan diri pada waktu yang dimilikinya.

“Ini salah akademis yang terlalu padat, tugas besar, kuliah nggak berhenti-berhenti…” dan aku pun memaki. Padahal kesibukan macam apakah yang kulalui dibandingkan kesibukan Rasulullah, para shahabat, para tabi’in…. Kesibukan apakah yang kulalui hingga melalaikah kehadirannya?

Ya Rabb, jangan biarkan hamba menyia-nyiakannya lagi…. Ya Rabb, izinkan hamba memuliakannya, hingga jika ini kedatangan terakhirnya untuk hamba, tak perlu ada sesal karena dengan izin-Mu hamba ingin menjadikannya Ramadhan terbaik….

bismillahhirrahmaanirrahiim

Categories: Uncategorized