Archive

Archive for the ‘moment’ Category

M-nya Besar

August 16, 2009 anis 16 comments

Sebenernya canggung juga nulis cerita tentang ini, tapi karena diminta sebagai pelengkap cerita ini dari sudut pandang yang lain, maka yah inilah.

“Siapa ya pria malang yang bakal jadi suami saya,” sepertinya itu gumaman batin yang sering saya lontarkan kalau mengingat-ingat pernikahan. Sungguh bukan doa, tapi saya hanya merasa bahwa saya punya kekurangan yang sangat banyak hingga saat itu saya merasa perlu untuk mengasihani seseorang yang kelak menjadi suami saya. Tapi Allah ternyata mengabulkan gumaman hati saya, alih-alih pria malang, Allah menjadikan seorang pria Malang sebagai suami saya.

Dan cerita pun bergulir hingga sampai hari yang bersejarah (setidaknya bersejarah bagi kami berdua). Pagi itu saya sudah duduk di ruang rias, sambil terus mengutak-atik handphone memastikan keberadaan beberapa orang terkait. Ibu perias dengan sigapnya mengolas-oles wajah saya. Entah berapa macam bahan kimia yang dioleskannya, saya sendiri sampai heran sebanyak itukah zat yang harus dipasangkan pada muka saya. Hingga akhirnya riasan selesai dan saya merasa seperti ondel-ondel yang siap tampil….

Sebetulnya saya ingin mengikuti acara dari awal, tapi karena riasan yang belum selesai, saya terpaksa hanya mendengar sayup-sayup ketika Al-Qur’an mulai dibacakan. Dan ketika riasan selesai, saya didudukkan di belakang panggung dan bisa mulai mendengar keseluruhan acara dengan lebih khidmat.

“Saya terima nikahnya….”

Apaaaa???? Sudah ijab kabul? Dan meski otak ini baru selesai menangkap fakta tersebut, rasa-rasanya air mata ini ingin segera tumpah. Ya Allah, Ya Rabb, hanya dengan kalimat itu Ya Rabb, Engkau mengubah kedudukan kami. Ya Rabb, benarkah? Sebuah mitsaaqan ghalidza telah diucapkan, dan kali ini menyangkut diri hamba? Tanggung jawab… pemenuhan separuh agama… kewajiban… sebuah janji… amanah… semua hal itu berputar-putar di kepala saya.

Tapi air mata yang ingin segera tumpah itu harus saya tahan. Kasihan ibu perias kalau saya merusak riasan yang dibuatnya lebih dari dua jam hanya dalam waktu beberapa menit. MC pun memberi aba-aba bagi saya untuk keluar dari persembunyian. Seolah teroris yang sedang dicari, saya disambut dengan teriakan oleh segenap teman dan sahabat yang telah hadir.

Ia menyambut saya. Penuh gugup saya menyambut dan mencium tangannya. Setelah bertahun-tahun saya menjaga diri saya dari sekadar menyentuh lawan jenis, sekarang hanya dengan kalimat yang baru saja ia lafazkan, semuanya menjadi halal, dan itu merupakan momentum yang terasa demikian ganjil bagi saya.

Khutbah nikah dibacakan. Terasa semakin berat kewajiban yang siap menyambut kami. Air mata semakin sulit saya tahan hingga berkali-kali saya harus menyusut sudut mata yang basah sebelum ia tumpah dan mengaliri celak hitam untuk kemudian menghitamkan pipi saya.

Dan pada saat acara sungkeman, akhirnya air mata tak dapat saya bending lagi. Saya biarkan ia membanjiri pipi saya, seiring beribu perasaan yang juga membanjiri hati saya. Dosa, tak berbakti, kelakuan saya yang hanya merepotkan, perasaan tak berguna dan bersalah, segala hal yang telah mama dan keluarga saya lakukan untuk saya, semuanya membayang di pelupuk mata. Mama dan kakak tertua saya, maaf dan terima kasih untuk semuanya. Dan tak lupa kerinduan pada ayah… semuanya menjadi tumpah ruah bersama tangisan. Dan ketika itu kakak tertua saya hanya mampu membisikkan, “Sabar…!” di telinga saya.

Awalnya saya tidak paham mengapa harus “sabar” yang dipilih kakak saya pada waktu yang memang sangat singkat itu. Tapi setelah beberapa lama mengarungi kehidupan baru, saya mulai paham bahwa saya memang sangat memerlukan kata itu. Jika ada yang berkata pernikahan adalah sesuatu yang indah, itu benar, tapi keindahan itu memerlukan sesuatu untuk jadi bayarannya, dan kesabaran merupakan salah satu mahar untuk keindahan tersebut.

Dan sekarang inilah kami, ia disana dan saya disini, masih berusaha menghapus jenak-jenak keterasingan di antara kami. Masih berusaha belajar untuk saling memenuhi agama kami. Masih berusaha belajar untuk jadi manusia yang lebih baik dengan segala keterbatasan kami. Masih berusaha bersinergi untuk menjadi bagian dari peradaban yang lebih baik. Masih berusaha…. Masih belajar….

Kami yakin ke depan semuanya akan lebih berat untuk kami hadapi, tapi juga yakin bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian yang tidak sanggup untuk kami tanggung. Inilah jawaban doa istikharah kami selama ini.

Dan saya pun berdoa, semoga pria Malang ini tidak menjadi malang karena menikahi saya….

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu”. (HR Al Bukhari)

Categories: moment

13 Hari

August 10, 2009 anis 6 comments

Meski tidak genap dua pekan, seharusnya 13 hari merupakan waktu yang cukup lama. Kenyataannya 13 hari masih jauh dari cukup bagiku untuk mengenalmu. Namun paling tidak sudah cukup banyak hal-hal yang kutemukan….

Hal yang paling membuatku bangga bukanlah ketika kau bisa menjawab semua pertanyaanku. Bukan ketika kutemukan transkripmu hanya dipenuhi A dan B. Bukan ketika kau berkutat dengan buku dan dalam separuh waktu bacaku kau melibas bacaan yang kubaca. Meski itu semua memang membuatku bangga, tapi aku jauh lebih bangga ketika dalam shalat berjama’ah kau membacakan surat baru pertanda hafalanmu bertambah.

Hal yang paling membuatku bahagia bukanlah ketika menemukan kenyataan bahwa kita sama-sama menyukai F1. Bukan ketika kau membelikanku beberapa hadiah. Bukan ketika kau mengajakku berpetualang menjelajah ruang dan rasa. Meski itu semua memang membuatku bahagia, tapi aku merasa jauh lebih bahagia melihatmu bangun lebih pagi dariku untuk qiyamul lail, ketika kau membangunkanku untuk bergabung denganmu untuk menghadap-Nya.

Hal yang paling membuatku terharu bukanlah ketika kau memegang tanganku saat aku hampir terjatuh. Bukan saat kau meminta maaf ketika kau salah. Bukan ketika kau membantuku mencuci piring. Meski ya… itu semua membuatku sangat terharu, tapi ketika kau menghentikan bacaan Qur’an-mu untuk mendengar koreksi dariku, itu jauh lebih membuatku terharu.

Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari mengenalmu, tapi mengenalmu kini adalah pekerjaan seumur hidupku. Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari sempurna, tapi ketika Dia menitipkanku padamu aku yakin Dia ingin menyempurnakanku dengan keberadaanmu.

Categories: moment

A Little Girls Question

March 19, 2009 anis 13 comments

(In order to learn English, since my English was horrible XD)

I’d capture a story about a little girl. I guessed her age were about three to four years at that time. Once she was looking upon the sky. A beautiful night sky with a lovely full moon and scattered stars. Then a thought cross of her mind, she found something to ask. Therefore, she decided to ask straightaway, without waiting any seconds to keep the question in her mind. Then she said, “Why moon always follow after me wherever I go?”

People who had listened to her question were laughing at her. They maybe think that she was so funny. Moon doesn’t follow anyone. Moon doesn’t even have any feet to walk. People kept laugh at her and didn’t realize that something might go wrong. Well, maybe there was nothing wrong. Neither the question, nor peoples who laugh at her. Maybe the question was very cute, so was her expression when she asked that. But the girl had grasped something that she shouldn’t even catch.

From that day, if she had any question to ask, she would think many… many times before she got the question came out her mind and transformed into words. Scare, shame, always come around her when she think she have to ask. She scared that the question might very fool so it would only bother the others. She would feel ashamed if her question was just the things that had been explained.

When she at the elementary school, she went with a car. She saw trees in a range formation. Some of them are in front of the others. She was watching it, and trying to understand that when she was moving with the car, the trees were doing the same thing in her sight. The frontage trees seemed leaving her faster than the back one. In her sight, she found that the back range trees following her before they actually going backward. She got the “aha” about her own question that she had asked many years ago. It should have been explained by the theory about time, velocity, and distance. Moon might didn’t following her that night, the distance between moon and her that made it seemed to move and go along her.

Therefore, she decided to find and answer her own question. She lived in her own mind. She often wonders about the answers that others would give for her questions. She has trying to figure out and answering her own questions so many years in her life. She made self-addressed questions. If someone asked, she would try to guessing and answering the question, even the question wasn’t for her.

Then she grew old. She still kept her question about “following moon”. She never lost her curiosity about many things yet still tried to answer her questions by herself. She learned so many things in her life, but so many questions that should have been asked just being threw by her. Time goes by and latter on, she found that she had wasted so many times because of her fatuity.

Nobody knows what would happen if peoples who listened her question didn’t laugh at her, neither she would. Nobody knows what would happen if the people answered her question appropriately. If they just pretended not to hear her question. If they just smiled at her and said, “You’ll find out why moon is chasing after you”. If they made a joke for her by saying, “Yeah… look… it is coming after you… watch out!! Oh no it is becoming bigger and bigger!! Be careful… it may fall into you!! Noooo… booom… kazoom!!!!”

Well for me, her story was inspiring. Our action, no matter how small it was, it could affect others. I believe that every action was neutral yet every reaction that made something become negative or positive. There was a space between every action and every reaction… something called selection. I’m hoping that I could give my best reaction for every action that came to me, especially when it related to children.

Categories: moment

Mukrab, Sebuah Catatan Pinggir 2

December 28, 2008 anis 6 comments

Pendahuluan: Haduh, basi nian ini postingan, sebenarnya ini saya tulis sehari setelah mukrab, tapi baru ada kesempatan untuk ngepost sekarang. Yah, walau mukrab sudah berlalu, tapi pesan dalam postingan ini mudah-mudahan tidak akan berlalu dengan mudahnya :)

Dua pasang mata bulat bening itu tengah saling menjelajah. Bermain kemudian bertengkar, menggoda lalu menjerit manja. Si kakak tengah memainkan kaki sementara si adik belum juga berhenti terbatuk ketika si ibu menyapaku.

“Punten Neng, bisa minta uang buat ongkos?”

Dalam hati terbersit ketidakikhlasan, bukankah ini cara meminta-minta yang sangat umum dijumpai? Tapi akhirnya kukeluarkan juga sejumlah uang, “Mau kemana Bu? Emang Ibu tinggal di mana?”

“Ibu mah kemana-mana, nggak punya tempat tinggal, tidur juga di emperan sama anak-anak,” ia menatap sejenak kedua putri lucunya, yang kelucuannya sedikit tertutupi oleh baju dan muka mereka yang kotor coreng-moreng, “ini mau ke Caringin ke tempat saudara, siapa tahu mau nampung,” ujar sang ibu sambil tak henti berterima kasih atas uang yang tak seberapa itu.

Uang yang diterima si ibu serta merta direbut si kakak, nampak jelas anak itu sangat senang sekaligus sangat jarang melihat apalagi menggenggam uang. Si adik lalu meronta-ronta meminta bagian dari kakaknya.

Turun dari angkot pikiranku masih mengelana, mengapa begitu menyedihkan negeri ini. Ketika yang miskin tak punya harga diri hingga minta-minta dan berputus asa untuk berusaha, hingga tak punya kebanggaan lagi untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sementara itu yang kaya semakin tak punya hati, menjadikan harta sebagai tujuan bahkan tuhan, membenarkan apa yang salah dan menyalahkan yang apa benar.

Aku menatap bungkusan di tanganku, sebentuk kepala Doraemon yang akan digunakan untuk properti acara himpunan bernama Mukrab. Pengelanaan otakku sampai pada satu titik dimana aku mempertanyakan, “Di luar konteks niat sang ibu meminta-minta, apa pikiran itu masih bentuk halus dari ketidakikhlasanku?”

Ya Allah, padahal begitu mudah aku mengeluarkan uang untuk hal yang lain. Padahal uang yang kukeluarkan untuk membuat kepala Doraemon itu besarnya 3x lipat uang yang kuberikan pada sang ibu, dan aku mengeluarkan uang itu dengan senang hati. Padahal aku tahu pasti kepala Doraemon itu hanya akan berakhir di sebuah tong sampah di kampus. Padahal aku tahu pasti pemilik dua pasang mata bulat bening itu lebih membutuhkan uang untuk sekadar mengisi perut mereka.

Dan pengelanaan pikiranku berakhir pada suatu titik: Bahwa kita seringkali merasa ringan mengeluarkan jumlah uang yang besar untuk sesuatu yang mungkin sepele, sementara terasa begitu berat untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang sama untuk hal yang mungkin lebih beresensi. Tak hanya uang… waktu, pikiran, tenaga pun ternyata memiliki nasib yang sama: lebih terasa ringan untuk dicurahkan pada hal yang mungkin esensinya lebih rendah.

Pengelanaan pikiranku terhenti pada pertanyaan: Begitu kesat dan keras kah hatiku hingga memberi dalam jumlah sekecil itu terasa berat?

Categories: moment, perception

Keluarga…

July 16, 2008 anis 4 comments

Tinggal jauh dari keluarga dan harus menumpang tinggal di beberapa keluarga yang saya kunjungi ternyata memberikan saya pengalaman yang bagi saya cukup menarik.

Memperhatikan budaya yang berbeda, kebiasaan yang tidak sama, suasana yang tidak biasa… semuanya demikian menarik. Pertama, saya tinggal bersama keluarga pamannya Reisha yang berlatar belakang budaya Minang, tapi karena lama tinggal di Surabaya, budaya Jawa juga terlihat dari sisi-sisi kesehariannya… terutama bahasanya. Kedua, keluarga bibi-paman saya yang latar belakang budayanya Sunda-Madura. Ketiga, sempat beberapa hari tinggal di sebuah keluarga rekan kakak saya yang latar belakang budayanya full Jawa Timur.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujuraat: 13)

Hal yang menjadikan ini menarik adalah memperhatikan interaksi antar anggota keluarga. Terutama peran ayah….

Allahumaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fuanhu

Categories: moment Tags:

Malang

June 23, 2008 anis 11 comments

Bukan, kami belum jalan-jalan ke Malang kok (insya Allah akan… hehehe aamiiin). Malang itu ngikut-ngikut Bolang, hehe udah nemu kepanjangannya? Yosh, mahasiswa petualang hahaha, terdengar menjijikkan, tapi yah terserahlah.

Lho emang di Surabaya KP apa jalan-jalan? Yah sekali merengkuh dayung dua tiga tempat wisata pulau terlewati :D

Hahaha… jadi setelah (padahal baru aja… ) 4 hari KP, maka pada hari Sabtu saya dan seorang teman memutuskan untuk keliling Surabaya. Jadi sehari sebelumnya, kami bertanya pada Mbah Gugel, “Mbah… dimanakah tempat-tempat wisata di Surabaya?” dan dengan sigap Mbah Gugel memuntahkan sebuah peta wisata beserta trayek mikrolet di Surabaya. Malam harinya, dengan penuh pertimbangan, kami mencari tempat wisata mana saja yang akan kami sambangi. Dan setelah melalui debat yang cukup alot (duh mudah-mudahan teman saya nggak baca, soalnya saya banyak membesar-besarkan isi postingan kali ini :D ) terpilihlah 3 tempat wisata untuk kami kunjungi.

Tet teret teret…. inilah road-map nya Read more…

Categories: moment Tags:

another mitsaaqan ghaliidza

May 11, 2008 anis 11 comments

Aku menunduk mencoba untuk merenung dengan takzhim. Entah kenapa begitu banyak hal yang melintas di benakku. Ayahku yang mungkin tengah menyaksikan kami dari alam sana… mama yang telah berjuang membesarkan kami sendirian…. Dan ke-Maha-Besar-an-NYA yang telah menjadikan suatu mitsaaqan ghaliiza….

“Abdi nikahkeun anjeun sareng putri teges Bapak…..”

“Tarima Abdi nikah sareng putri teges Bapak….”

Dan air mata ini mulai meluncur perlahan diantara riuh suara hamdalah di sekitarku. Dan sekali lagi suatu perjanjian yang berat telah terucapkan. Read more…

Categories: moment, perception Tags:

Memangnya Ke Mana Ibunya?

April 9, 2008 anis 6 comments

Seorang gadis manis masuk ke dalam angkot yang saya naiki (lagi-lagi kisah di angkot… huhu gimana lagi, klo saya hitung-hitung, saya sudah menjalani hidup saya selama sekitar setengah tahun di angkot :D ). Di belakangnya, dua orang laki-laki mengikutinya memasuki sang angkot. Sepertinya salah satu dari laki-laki itu mengenal keluarga sang gadis.

Gadis itu mengenakan seragam sebuah sekolah menengah kejuruan. Matanya sayu (bukan sayang uang :P ) dan sendu (dan bukan seneng duit :D ). Walau masih putih, seragamnya terlihat agak lusuh, mungkin karena ada bercak hitam seperti bekas cat di bagian bahunya. Kalau saja kulitnya putih terawat, dan rambutnya agak panjang, maka ia tak ubahnya gadis Jepang di video klip Konayuki (saya masih normal kan klo suka ngeliatin cewek cantik???? >_<).

Salah satu laki-laki itu mulai membuka pembicaraan dengan gadis itu, mulai dari pertanyaan standar, seperti, “Mau ke mana?” “Masih sekolah, atau kerja?” sampai pertanyaan yang tidak saya duga, “Ibu di mana sekarang?” (sebenarnya dalam bahasa Sunda sih, tapi saya Indonesiakan :D , saya baik ya, memperhatikan pembaca yang bukan orang Sunda… hueeekkss :D )

Dan gadis itu menggeleng, “Nggak tahu…”

Laki-laki yang bertanya sedikit berbisik pada laki-laki satunya, “Kasihan, ibunya udah nggak tahu di mana, nggak sayang sama anak-anaknya.”

Dan dari sisa pembicaraan mereka, saya hanya bisa menangkap kalau gadis itu memang ditinggal ibunya, sementara ayahnya hanya sesekali pulang karena bekerja di Jakarta. Jadi berpikir, memangnya ke mana ibunya? Pertanyaan saya itu membawa saya ke berbagai kemungkinan… kemungkinan yang pada akhirnya membuat saya bersyukur memiliki keluarga yang sangat baik.

“Give thanks to Allah, for the moon and the stars… prays in all day full, what is and what was… Take hold of your iman, dont givin to shaitan. Oh you who believe please give thanks to Allah.” (Give thanks to Allah, Michael Jackson)

Categories: moment Tags:

Pembicaraan Yang “Tidak-Tidak”

March 19, 2008 anis 20 comments

Mozart – Oboe Concerto – 1st Movement masih mengalun lembut dari speaker laptop sementara sequence diagram yang telah saya selesaikan baru diagram ke-14 dari 52 diagram.Tiba-tiba kakak tertua saya yang sedang ada di rumah masuk ke kamar dan mengajak ngobrol, awalnya hanya pembicaraan normal sampai ia mulai mengatakan yang “tidak-tidak”. Ummm mungkin wajar, karena di rumah ia sudah seperti “pengganti” ayah saya yang sudah lama meninggal… tapi bagi saya tetap saja isi pembicarannya itu “tidak-tidak”…..

K: “Nis, kalau kamu udah punya calon, ya nikah aja…”

Read more…

Categories: moment Tags:

Once Upon A Time In Angkot

March 17, 2008 anis 5 comments

Awal Maret

Pagi itu saya buru-buru naik angkot jurusan Caheum-Ledeng, lumayan masih kosong, jadi saya bisa memposisikan diri di tempat duduk paling pojok. Kenapa paling pojok? Ummm soalnya saya bersiap untuk sejenak membiarkan mata tertutup setelah malamnya sedikit berjuang mempertahankan dirinya untuk melek.

Saat saya naik, hanya ada dua penumpang, sepasang suami istri setengah baya. Tak lama naik dua orang ibu kira-kira usianya 50-an. Dengan susah payah mereka berusaha menaikkan karung besar ke dalam angkot. Kemudian dengan ramahnya mereka menawari sepasang suami istri itu, isi karung mereka yang ternyata ubi. Ubi itu mereka beli dari Jatinangor, dan hendak mereka jual.

Tak berapa lama setelah kedua ibu itu, naik pula seorang gadis muda, sepertinya  masih kuliah. Dan karena sudah menunggu cukup lama, sopir akhirnya memutuskan untuk memberangkatkan kami.

Sampai di sebuah lampu merah, seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun mendekati angkot kami. Bajunya lusuh, rambutnya merah tak beraturan. Tangan kecilnya menengadah menanti recehan yang diulurkan dari penumpang, sambil berkata lirih dengan kosa kata yang tak jelas. Ibu sang anak berdiri tak jauh darinya. Ia menggendong bayi, adik dari anak kecil itu.

Setelah angkot yang saya naiki berlalu agak jauh, komentar-komentar mulai bermunculan dari para penumpang. Suami istri itu berkomentar, “Kasihan ya, masih kecil”. Sementara dua orang ibu penjual ubi berkomentar, “Tega betul ibunya, padahal sesusah apapun kan itu tetap anaknya…”. Sang gadis beda lagi komentarnya, “Emang bisanya bikin anak doang, ngurusnya nggak bisa…”. Sementara saya hanya merem melek sambil tersenyum simpul pada setiap orang yang minta persetujuan saya terhadap komentarnya.

Hummm… apa yang ditangkap? Menurut saya, kejadian itu merepresentasikan sebagian dari sikap dominan yang ada di masyarakat. Sepasang suami istri menurut saya merepresentasikan mayoritas penduduk yang ada di zona nyaman. Mereka memandang “kasihan” pada dua ibu penjual ubi dan si anak kecil, karena memang mereka tak pernah merasakan hal yang dirasakan si penjualubi dan si anak. Tapi sayangnya “kasihan” itu hanya sampai di lisan, tak ada pengejawantahan lain dari “kasihan” itu. Saya pikir itu juga yang terjadi di sebagian besar masyarakat. Kurangnya inisiasi untuk benar-benar bergerak.

Dua orang ibu penjual ubi merepresentasikan masyarakat menengah ke bawah yang tak menyerah dengan keadaan. Mereka terus berjuang mempertahankan harga diri mereka, bahwa “saya masih mampu, dan tak perlu belas kasihan orang lain”. Mereka mengasihani si anak kecil dan ibunya dengan cara yang lain, bukan karena miskin, tapi kasihan karena mereka tak bisa lagi mempertahankan harga diri. Mungkin karena itulah komentar yang keluar adalah “perbandingan” antara kondisi diri mereka dengan dirinya. Menurut saya, masyarakat jenis ini sudah jarang ada di kota. Masyarakat jenis ini banyaknya di daerah dan pedesaan, dimana mereka hidup masih dengan “ciri khas Indonesia yang sering didengungkan saat SD: gotong royong, ramah, dll.”

Menurut saya si gadis merepresentasikan masyarakat “terpelajar” yang bisanya hanya berkomentar. Komentarnya mungkin berbobot, tapi rapuh. Masyarakat yang hanya bisa memandang dari satu sisi untuk kemudian men-judge berdasarkan apa yang ia lihat. Ia tak pernah tahu, dan mungkin tak mau tahu kenapa si ibu tega membiarkan anaknya yang masih kecil berkeliaran di antara mobil yang berlalu lalang, mengemis, padahal anak itu adalah “anaknya”… darah dagingnya, yang pada masyarakat menengah ke atas begitu dimanja dan dilindungi. Ia hanya melihat pada “bagaimana seharusnya” untuk kemudian membandingkan pada apa yang ia lihat dan mengharuskan apa yang ia lihat untuk menjadi “seperti seharusnya”.

Si ibu dan si anak jelas merepresentasikan masyarakat bawah yang menyerah pada keadaan… yang sayangnya semakin mudah ditemui. Saya yakin kondisi mereka tak hanya stimulus dari kondisi internal mereka yang memang miskin. Kondisi eksternal mereka (dimana kita termasuk di dalamnya) menurut saya punya andil dalam kehidupan mereka.

Lalu saya merepresentasikan apa? Ummm… mungkin saya merepresentasikan masyarakat yang apatis, yang memikirkan  hal-hal seperti… “tugas kuliah saya lebih penting daripada semua pembahasan itu…”

Allahu’alam bishawab

NB: … merindukan seseorang yang di dalam kulkas rumahnya tersedia banyak susu kemasan, setiap harinya ia menyimpan dua sampai tiga susu dalam tasnya untuk ia berikan pada anak kecil malang yang ia temui (seperti anak kecil berusia empat tahun dalam cerita di atas) saat motornya berhenti di perempatan jalan…

Categories: moment Tags: