M-nya Besar
Sebenernya canggung juga nulis cerita tentang ini, tapi karena diminta sebagai pelengkap cerita ini dari sudut pandang yang lain, maka yah inilah.
“Siapa ya pria malang yang bakal jadi suami saya,” sepertinya itu gumaman batin yang sering saya lontarkan kalau mengingat-ingat pernikahan. Sungguh bukan doa, tapi saya hanya merasa bahwa saya punya kekurangan yang sangat banyak hingga saat itu saya merasa perlu untuk mengasihani seseorang yang kelak menjadi suami saya. Tapi Allah ternyata mengabulkan gumaman hati saya, alih-alih pria malang, Allah menjadikan seorang pria Malang sebagai suami saya.
Dan cerita pun bergulir hingga sampai hari yang bersejarah (setidaknya bersejarah bagi kami berdua). Pagi itu saya sudah duduk di ruang rias, sambil terus mengutak-atik handphone memastikan keberadaan beberapa orang terkait. Ibu perias dengan sigapnya mengolas-oles wajah saya. Entah berapa macam bahan kimia yang dioleskannya, saya sendiri sampai heran sebanyak itukah zat yang harus dipasangkan pada muka saya. Hingga akhirnya riasan selesai dan saya merasa seperti ondel-ondel yang siap tampil….
Sebetulnya saya ingin mengikuti acara dari awal, tapi karena riasan yang belum selesai, saya terpaksa hanya mendengar sayup-sayup ketika Al-Qur’an mulai dibacakan. Dan ketika riasan selesai, saya didudukkan di belakang panggung dan bisa mulai mendengar keseluruhan acara dengan lebih khidmat.
“Saya terima nikahnya….”
Apaaaa???? Sudah ijab kabul? Dan meski otak ini baru selesai menangkap fakta tersebut, rasa-rasanya air mata ini ingin segera tumpah. Ya Allah, Ya Rabb, hanya dengan kalimat itu Ya Rabb, Engkau mengubah kedudukan kami. Ya Rabb, benarkah? Sebuah mitsaaqan ghalidza telah diucapkan, dan kali ini menyangkut diri hamba? Tanggung jawab… pemenuhan separuh agama… kewajiban… sebuah janji… amanah… semua hal itu berputar-putar di kepala saya.
Tapi air mata yang ingin segera tumpah itu harus saya tahan. Kasihan ibu perias kalau saya merusak riasan yang dibuatnya lebih dari dua jam hanya dalam waktu beberapa menit. MC pun memberi aba-aba bagi saya untuk keluar dari persembunyian. Seolah teroris yang sedang dicari, saya disambut dengan teriakan oleh segenap teman dan sahabat yang telah hadir.
Ia menyambut saya. Penuh gugup saya menyambut dan mencium tangannya. Setelah bertahun-tahun saya menjaga diri saya dari sekadar menyentuh lawan jenis, sekarang hanya dengan kalimat yang baru saja ia lafazkan, semuanya menjadi halal, dan itu merupakan momentum yang terasa demikian ganjil bagi saya.
Khutbah nikah dibacakan. Terasa semakin berat kewajiban yang siap menyambut kami. Air mata semakin sulit saya tahan hingga berkali-kali saya harus menyusut sudut mata yang basah sebelum ia tumpah dan mengaliri celak hitam untuk kemudian menghitamkan pipi saya.
Dan pada saat acara sungkeman, akhirnya air mata tak dapat saya bending lagi. Saya biarkan ia membanjiri pipi saya, seiring beribu perasaan yang juga membanjiri hati saya. Dosa, tak berbakti, kelakuan saya yang hanya merepotkan, perasaan tak berguna dan bersalah, segala hal yang telah mama dan keluarga saya lakukan untuk saya, semuanya membayang di pelupuk mata. Mama dan kakak tertua saya, maaf dan terima kasih untuk semuanya. Dan tak lupa kerinduan pada ayah… semuanya menjadi tumpah ruah bersama tangisan. Dan ketika itu kakak tertua saya hanya mampu membisikkan, “Sabar…!” di telinga saya.
Awalnya saya tidak paham mengapa harus “sabar” yang dipilih kakak saya pada waktu yang memang sangat singkat itu. Tapi setelah beberapa lama mengarungi kehidupan baru, saya mulai paham bahwa saya memang sangat memerlukan kata itu. Jika ada yang berkata pernikahan adalah sesuatu yang indah, itu benar, tapi keindahan itu memerlukan sesuatu untuk jadi bayarannya, dan kesabaran merupakan salah satu mahar untuk keindahan tersebut.
Dan sekarang inilah kami, ia disana dan saya disini, masih berusaha menghapus jenak-jenak keterasingan di antara kami. Masih berusaha belajar untuk saling memenuhi agama kami. Masih berusaha belajar untuk jadi manusia yang lebih baik dengan segala keterbatasan kami. Masih berusaha bersinergi untuk menjadi bagian dari peradaban yang lebih baik. Masih berusaha…. Masih belajar….
Kami yakin ke depan semuanya akan lebih berat untuk kami hadapi, tapi juga yakin bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian yang tidak sanggup untuk kami tanggung. Inilah jawaban doa istikharah kami selama ini.
Dan saya pun berdoa, semoga pria Malang ini tidak menjadi malang karena menikahi saya….
“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu”. (HR Al Bukhari)
Recent Comments