Archive

Archive for the ‘review’ Category

Haaah… Baru Baca??!!?

October 22, 2009 anis 6 comments

Beberapa waktu ini saya membaca beberapa buku yang… “Ya ampun telat banget baru baca buku itu”. Yak to the point saja, ini beberapa bukunya:

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

Biar Kuncupnya Mekar Jadi BungaWow wow, buku apa ini? Kalau Anda berpikir ini buku untuk wanita, maka Anda tidak sepenuhnya benar. Well, buku ini adalah kumpulan tulisan dari Anis Matta, Lc. yang pernah dimuat di kolom ayah Majalah Ummi. Namanya juga kolom ayah, jelas pangsa tulisan ini adalah para ayah/suami. Tapi karena dimuat di Majalah Ummi (1997-1998), tulisan-tulisan ini sebenarnya juga agar para ibu/istri mengetahui sudut pandang seorang ayah/suami.

Hoho… jadi apa isinya? Hmm Pak Anis sendiri bilang, “Saya sedang mewakili diri saya sendiri di sini, dan bukan sekadar pikiran-pikiran saya. Maka mengalirlah tulisan-tulisan itu, dan setiap kata di dalamnya adalah sepotong hati dan seuntai anak pikiran sekaligus. Setiap kata membahasakan denyut nadi kehidupan saya.”

Buku ini menarik buat saya karena seperti tujuannya, saya bisa melihat sisi lain dari pikiran, perasaan yang dimiliki laki-laki. Dan saya pikir buku ini memang layak dibaca oleh laki-laki yang sudah menikah ataupun yang akan menikah untuk mempersiapkan beberapa sendi kehidupan rumah tangganya.

Dan seperti biasa, seperti tulisan Anis Matta yang lain… bahasanya itu loooo… saya bener-bener suka cara beliau meramu setiap untaian kata pengandaian yang manis hingga jika dimaknai akan menjadi suatu hikmah mendalam. Dan kalau biasanya saya nggak begitu suka buku pernikahan yang mehek-mehek, well, untuk yang satu ini saya nggak bisa bilang ini mehek-mehek… ini bukan tipe buku yang melenakan tentang fantasi yang indah mengenai sesuatu yang bernama pernikahan.

Maka begitulah seharusnya Anda mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna ini terangkum dalam kata ini; menghidupkan.

Hidup ini adalah simponi yang kita mainkan dengan indah. Maka duduklah sejenak bersama pasangan Anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri; apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama Anda? Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya, “Dan nafas cintanya meniup kuncupku maka ia mekar menjadi bunga.”

Anne of Green Gables

Anne of Green GablesNah yang satu ini adalah novel yang dibeliin amisu, karena itu novelnya berbahasa Inggris XD. Novel ini bercerita tentang Anne, seorang gadis panti asuhan yang tidak sengaja datang ke sebuah rumah. Awalnya ia tak diinginkan, namun karena segala kelebihan yang sekaligus kekurangannya, semua orang yang menemuinya bisa mencintainya.

Novel karya Lucy Maud Montgomery ini masuk dalam jajaran all time top 100 best novels versi BBC. Maklum novel ini termasuk novel “tua”, usianya sejak pertama kali diterbitkan sampai sekarang sudah mencapai 100 tahun.  Karena itu setting ceritanya pun ada di masa awal abad ke 19.

Kekuatan novel ini kalau kata saya sih ada dalam pembahasaan dan pengkarakteran yang kuat pada setiap tokoh. Bahasa yang digunakan nggak jarang hiperbolis, tapi justru itu yang membuat menarik. Tapi yang lebih penting, pembahasaannya sangat deskriptif, dan menurut saya ini adalah salah satu hal yang penting dalam sebuah narasi. Dan penokohan Anne sangat baik, saya suka cara Anne mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, kadang menggelitik dan kadang membuat kita berpikir akan kebenaran kata-katanya.

Sayangnya, menurut saya novel ini cenderung membosankan. Ceritanya datar dan plain banget. Secara keseluruhan cerita ini “hanya” mengenai riak-riak keseharian Anne. Tidak ada satu bagian konflik hidupnya yang benar-benar ditonjolkan, karena itu nggak ada klimaks dalam ceritanya.

Oya novel ini juga ada sekuelnya, masih terusan dari kehidupan Anne ketika menjelang dewasa, menikah dan punya anak. Nah karena kebayangnya novel ini bakal mirip dengan novel pertama, saya belum baca terusannya, walo amisu beli sepaket lengkap (maaf ya :D ).

Well, that is one of the things to find out sometime. Isn’t it splendid to think of all the things there are to find out about? It just makes me feel glad to be alive—it’s such an interesting world. It wouldn’t be half so interesting if we know all about everything, would it? There’d be no scope for imagination then, would there?

Arok Dedes

Arok DedesWoooo… kalo Anne agak ringan, nah ini novel yang cukup berat. Hmmm bukannya berat gimana sih, tapi kalo dibilang ini tulisannya Pramoedya Ananta Toer, pasti penggemar tulisan beliau bisa nangkap kenapa ini agak berat.

Seperti tulisan disini, berbeda dari Anne, kekuatan Pramoedya justru ada pada ceritanya. Pada penelitian sejarahnya. Pada kedalaman budayanya. Pada peramuan narasi  para tokoh dalam sejarah yang mungkin sudah kita kenal sejak SMP, tapi dulu mungkin terasa membosankan. Membuat saya berpikir, harusnya buku sejarah dibuat dalam karya sastra seperti ini saja ya :P

Well, dari judulnya jelas kan novel ini mengusung siapa? Yak yak… novel ini bercerita tentang pemberontakan yang dipimpin oleh Ken Arok atas pemerintahan Tunggul Ametung yang tidak memuaskan masyarakat. Kalo tentang hal itu, kayaknya banyak orang yang tau, tapi saya sendiri baru tau kenapa pemberontakan itu terjadi, bagaimana itu dimulai, bagaimana pertentangan antara penganut Syiwa dan Wisnu, bagaimana penggambaran kasta-kasta dan gejolak masyarakat dalam masa ketika tingkatan kasta-kasta itu dipaksa menjadi blur. Dan dengan semua itulah novel ini menjadi sangat menarik.

Saya bener-bener suka bagaimana sejarah begitu hidup dalam sebuah cerita. Bagaimana sebuah budaya benar-benar tergambarkan. Rasanya penelitiannya begitu mendalam, sampai-sampai Pramoedya menggambarkan ciri fisik seorang kasta brahmana dengan kasta sudra yang berbeda.

Dan tentu saja hal menarik lainnya adalah intrik politik dalam novel itu. Yang masih juga berlaku sampai saat ini (memang dimaksudkan sebagai cerminan sih :P ), ketika konflik kepentingan berlangsung. Ketika kekuasaan menjadi sesuatu yang membuat seseorang berubah meski awalnya terasa sangat manusiawi.

Yak, Pramoedya benar-benar penulis yang baik menurut saya, dan saya ragu akan ada penulis lain yang bisa menyampaikan sejarah, budaya, politik, agama, dan romantisme dalam saat yang bersamaan.

Thanks to my father in law who has lend me this book and explained about Javanese culture eagerly ^^.

Menjadi Manusia Pembelajar

Menjadi Manusia PembelajarHuwaaaa… ini buku yang sangat terlambat saya baca. Padahal teman-teman SMA saya sudah memperkenalkan penulisnya pada saya sejak kami masih sekolah. Siapa mang penulisnya? Andrias Harefa. Seorang pendobrak yang tidak menyukai bagaimana pendidikan formal di Indonesia berlangsung, sampai ia memutuskan untuk berhenti kuliah padahal “hanya” tinggal menyelesaikan skripsinya.

Sistem yang menjadikan pendidik hanya berfungsi sebagai pengajar. Ketika guru adalah penguasa di depan kelas dan siswa harus duduk dan menerima setiap apa yang dikatakannya. Yang menjadikan manusia-manusia Indonesia kehilangan kreatifitasnya dan akhirnya hanya mampu menjadi pekerja yang berpikir untuk bekerja di perusahaan sampai pensiun, dan kemudian ongkang-ongkang di hari tua meski mungkin kenyataannya tidak seperti itu.

Intinya buku ini mengajak kita jadi manusia pembelajar yang tidak hanya “belajar” pada institusi pendidikan. Mengajak kita untuk berpikir tentang hakikat hidup; membedakan pembelajaran, pengajaran dan pelatihan; menjadi manusia dewasa yang merdeka; menjadi pemimpin hingga akhirnya bisa menjadi guru bangsa. Bukan dalam taraf teknis, tapi dalam tataran konsep. Ini menjadikan buku ini berbeda dari buku-buku pengembangan diri pada umumnya.

Buku yang worth to read menurut saya (walo belum saya beresin nih :D ), saya suka cara berpikir penulis yang menjungkir-balikkan  kondisi ideal. Saya juga suka nulikan-nukilan yang diambil dari berbagai orang yang belum pernah saya ketahui, namun begitu mengena. Dari segi bahasa, siap-siap aja untuk mendapati kata-kata yang kadang terasa terlalu jujur :P .

“Saya harap buku ini dapat menjadi warisan bagi kedua putri saya yang masih balita, terutama agar kelak mereka tidak pernah kecil hati karena ayahnya bukan sarjana, bukan doctor, tetapi “hanya” (berusaha menjadi) manusia pembelajar” –Andrias Harefa—

“Aku bukan Hatta, aku bukan Soekarno, bukan Syahrir, bukan Natsir, bukan Marx, dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan… aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari  dan terus-menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus-menerus berproses menjadi aku. Aku adalah aku pada saat sakratul maut” –Ahmad Wahib–

Digital Fortress

Digital FortressGNA… OMG… saya baru baca? Hahaha iya, padahal meski novel ini tergolong “baru” tapi sepertinya orang-orang di sekeliling saya sudah membacanya. Apalagi karena novel ini bercerita tentang kriptografi yang notabene merupakan salah satu mata kuliah di program studi saya.

Nah karena pasti udah banyak yang baca, saya nggak akan berkomentar panjang. Novel ini menarik, sepertinya sangat nyata dalam dunia intelijen. Banyak hal menegangkan, banyak hal tak terduga. Tapi buat saya juga rasanya terlalu banyak “kebetulan baik” yang terjadi dalam novel ini. Ceritanya diramu sangat baik, tapi menurut saya sih penokohannya kurang mantap :P .

Gyaaa… ini buku Dan Brown pertama yang saya baca, punya amisu yang saya culik dari Malang, sayangnya saya lupa menculik novel-novel Dan Brown lain yang dimilikinya :D

Hufff huff, masih banyak buku yang pengen saya baca… masih banyak e-book ngantri di hard disc, masih numpuk buku di rak kakak, tapi sepertinya masih lama juga saya bisa menyelesaikan si ** agar saya bisa membaca dengan agak luang :(

Categories: review Tags:

Berasa Wisata Kuliner

June 27, 2008 anis 16 comments

Yosh, seudah hampir dua minggu berada di Surabaya, rasanya udah cukup banyak jenis makanan “asing” yang udah saya coba… hehehe secara setiap makan siang kami selama KP, RAM (Reisha-Anis-Mita, pen) selalu mencari tempat makan yang berbeda dan berusaha menemukan makanan yang baru ^_____^.

Dan ini beberapa diantaranya:

1. Rujak Cingur

Sampai saat ini, inilah makanan yang menempati posisi teratas ranking makanan teraneh yang saya coba hehehe… ya gimana nggak? Di Bandung itu (dan orang Bukittinggi/Minang serta Medan pun menyetujui) yang namanya rujak ya isinya buah-buahan. Read more…

Categories: review Tags:

Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources

June 2, 2008 anis 13 comments

Kalau ditanya, siapa aja tokoh di film Ayat-Ayat Cinta, dan siapa pemerannya, mungkin banyak diantara kita yang hapal. Tapi kalau ditanya… siapa aja sahabat Rasul yang dijamin masuk surga? Atau siapa aja assabiquunal awwaluun? Atau siapa aja putra-putri nabi? Saya pun belum tentu lancar menjawabnya.

Malu… ya…. Padahal ada banyak pelajaran ketika kita belajar sirah nabi. Padahal ada banyak hal yang mengharu hijau (pinjem istilah orang ini) dalam setiap kisah perjalanan beliau. Padahal ada banyak yang harus diteladani. Ada banyak hal yang menjadikan kuat dan menguatkan.

Saya memang nangis baca novel Ayat-Ayat Cinta (pas si Fahri mimpi ketemu Ibnu Mas’ud yang tentu aja nggak ada di filmnya :p, tapi anehnya saya nggak nangis pas Maria meninggal :p). Tapi seingat saya, baca Sirah Nabawiyah memaksa saya menangis lebih “banyak”.

Jadi di resensi kali ini, saya pingin cerita tentang salah satu buku tentang Rasulullah. Yup buku karya seorang muallaf bernama asli Martin Lings ini mungkin memang terlihat biasa aja, nggak jauh beda sama buku tentang Rasulullah yang lain. Yang membuat saya pingin baca adalah karena si penulisnya seorang muallaf asal Inggris :) dan buku ini udah diterjemahin ke lebih dari 10 bahasa.

Buku ini nggak “senovel” buku Dialah Muhammad, tapi nggak juga “seanalitik” Sirah Nabawiyah karya Al-Buthy apalagi Manhaj Harakiy-nya Al-Ghadban. Mungkin cukup mirip sama Sirah Nabawiyah-nya Mubarakfurry.

Yang saya suka dari buku ini adalah, saya dapat cukup banyak hal baru yang nggak saya temui dari keempat buku yang saya tulis di atas (walau dari keempat buku itu saya dapat hal yang lain juga, yaaah intinya saling melengkapi lah). Salah satunya adalah silsilah yang cukup lengkap. Kalau dulu saya bingung denger Khadijah bilang ke Rasulullah, “Wahai anak pamanku…” kirain itu cuma istilah Arab doang buat romantis-romantisan :p, ternyata emang mereka masih ada ikatan darah.

Hal lain yang saya suka adalah cara si penulis menyisip-nyisipkan ayat Al Qur’an. Rasanya pas dan manis. Selain itu, gaya bahasanya nggak berlebihan, dan apa adanya.

Walau ada beberapa pendapat yang mempermasalahkan beberapa isi dari buku ini, menurut saya itu justru menambah daya tarik untuk mengkajinya lebih dalam yang mana yang benar (gyahahaha, iya gitu Nis? sok sokan banget :p).

Dan jangan salah sangka dulu ya, karena sebenarnya saya belum selesai baca buku ini, tapi udah pingin posting tentang buku ini :D

I miss u yaa Rasulullah…

Categories: review Tags:

Road To Mecca

April 17, 2008 anis 2 comments

Pernah baca buku ini? Sebenernya udah cukup lama saya baca buku ini, tapi entah kenapa akhir-kahir ini kepikiran lagi, dan pingin nulisin tentang buku ini.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Isinya tentang apa? Yaaa perjalanan menuju Mekah… hehe, secara eksplisit

sih begitu, tapi secara implisit… subtantivelyindeed… novel ini mengisahkan perjalanan seorang manusia bernama Leopold Weiss alias Muhammad Asad (si pengarang sendiri) menuju Islam.

Walaupun dibawakan dengan alur yang maju mundur maju mundur maju terus mundur lagi, dan walau nggak se-nyastra Leo Tolstoy atau Pramoedya Ananta Toer, tapi karena latar belakang si pengarang yang merupakan seorang jurnalis, penuturannya tetap nikmat dikemil dengan bahasa yang mudah dicerna (ini bacaan atau cemilan???).

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Di beberapa scene, saya nangis… terutama saat si penulis bertemu seseorang dalam mimpinya. Orang yang kemudian membawanya menuju sebuah jalan. Menurut penakwilan seorang ulama, orang dalam mimpinya itu adalah Rasulullah…. Padahal kalau saya nggak salah, saat ia bermimpi, ia masih seorang Yahudi. Mimpi bertemu Rasulullah… sebuah mimpi yang saya sungguh tak berani untuk bermimpi untuk memimpikannya….

Dengan latar perang dunia 2, Leopold menceritakan pengalamannya berkelana. Kerasnya padang pasir…. Persaudaraan dalam Islam…. Ia juga sempat bertemu dengan Umar Mukhtar (Si Lion Of The Desert itu lho…) di Libya.

Dan wow, baru tau juga pas buka-buka ini, ternyata udah dibikin film lho. Huhu ada yang punya…?

Sering malu… seorang mualaf, biasanya lebih bersemangat belajar Islam lebih dari seorang muslim yang mengaku muslim sejak lahir. Sering aneh… padahal Islam itu indah, tapi banyak yang hanya melihatnya dari paradigma yang salah (nggak mau ngebahas film… :P ). Sering takut… seandainya saya….

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Q.S. Ali Imran: 102)

Categories: review Tags:

Macaronni Schootel

March 6, 2008 anis 15 comments

Wah judulnya sudah cukup menggambarkan isi dari postingan saya kali ini ya ^_^. Yup, hari ini Klub Masak Informatika (KMIF) baru aja memulai kegiatannya. Dan saya didaulat untuk jadi kontributor masakan pertama. Dan karena banyak yang pingin tau resepnya, saya posting di sini aja ya sebelum blog KMIF terwujud.

Oke, ini dia resepnya (padahal biasanya saya nggak suka tau jumlah takarannya, jadi ini agak2 ngasal ya :p)

Bahan:

Macaronni 250gr, ayam 250gr, telur 4 butir, keju secukupnya, susu cair 250ml, bawang bombay satu buletan, bawang putih 2 siung, minyak sayur secukupnya, minyak wijen secukupnya, mentega buat olesan secukupnya, daun basil (klo g ada bisa diganti oregano, ga ada juga? ya udah pake seledri aja…) secukupnya

Bumbu:

Garam, merica, pala bubuk, bumbu kaldu

Cara Memasak:

      • rebus macaronni sampai agak lunak, tapi jangan terlalu lunak juga soalnya tahap memasaknya nggak cuma sekali. Jangan lupa pakai sedikit garam dan minyak waktu merebus. Kalau udah cukup lunak ditiriskan
      • rebus juga ayamnya. kalau udah empuk terus ayamnya dicincang
      • tumis bawang putih dan bawang bombay yang udah dicincang halus sampai harum
      • masukin minyak wijen (bisa juga dipake sejak awal numis, jadi nggak perlu pake minyak sayur)
      • masukin ayam cincang, tumis sampai agak kecokelatan
      • masukin susu
      • masukin macaronni
      • masukin bumbu (garam, merica, bumbu kaldu, pala bubuk sesuai selera) aduk sampai rata. Masukin juga daun basil-nya (yang klo ga ada bisa diganti ma oregano ato seledri)
      • masak sampai adonan agak mengental. Kalo dah agak kental matiin kompor dan diamkan adonan beberapa saat sampai agak dingin
      • kalo udah dingin, masukin telur (yang udah dikocok sebelumnya). Kenapa telur baru dimasukin klo udah dingin? Biar nggak matang telurnya :)
      • terus masukin juga keju parut sesuai selera (mau agak asin ya keju-nya yang banyak) aduk adonan sampai merata
      • olesi pinggan tahan panas (ciyee bahasanya) dengan mentega. Masukin adonan, terus taburi keju parut di atasnya sesuka hati.
      • panggang sampai matang (yaaa sekitar 15-30 menit deh)
      • makan…. :p sajikan dengan sambal cabe

          Dan tereret teret inilah jadinya

          macaronni schootelpoto203.jpg

          Nampak enakkah?

          Sebenernya pingin bikin yang agak simple sih buat pertemuan perdana ini, yaaa semacam teri goreng tepung, tapi bahan yang ada di rumah yang bisa kutemukan cuma si macaronni itu, lengkap dengan tanggal kadaluarsa yang tinggal beberapa bulan lagi… sayang klo mama lupa, bisa-bisa tamatlah riwayat si macaronni di dalam tong sampah.

          Saya bikin sendiri masakan serumit ini? Hummm, sebenernya dibantu mama sih, soalnya beliau nggak bisa saya minta keluar dari dapur, dan berkeras klo saya masih perlu banyak belajar. Dan beliau benar :( karena dengan penuh kemenangan, beliau tersenyum gara-gara teknik mencincang bawang saya masih jauh di bawah standar beliau… ukyuuu

          Tapi saya tetep ambil bagian besar kok dalam memasak ini, dan bisa diuji (halah…)

          Oke, see u next time dengan resep yang lain (tapi keknya bakal langsung di blog KMIF deh)

          BTW teman-teman namanya jadi KMIF yah???

          Categories: review Tags:

          Setan Angka

          January 29, 2008 anis 3 comments

          Setan AngkaBTW rajin banget sih saya posting? Maaf ya, buat yang bosen nggak usah baca aja :p

          Yup, kali ini mau cerita tentang sebuah buku berjudul Setan Angka karya Hans Magnus Enzenberger. Buku ini bukan tentang setan dan hal-hal mistis macam uka-uka, bukan juga tentang angka-angka yang dipercaya punya “kekuatan gaib”, dan bukan buat nakut-nakutin Matematika kok… justru mengetengahkan Matematika dan angka sebagai sesuatu yang bisa dipandang dari sisi lain.

          Buku ini bener-bener menggabungkan sisi lain dari cara memahami Matematika dengan khayalan yang mungkin cuma dilakukan oleh anak kecil. Read more…

          Categories: review Tags:

          Arus Balik dan Makna Kepahlawanan

          December 30, 2007 anis 4 comments

          Arus Balik karya Pramoedya Ananta ToerSuka tulisan Pramoedya Ananta Toer? Kalau ya, pasti nggak akan ngelewatin novelnya yang satu ini: Arus Balik. Novel lama sih, tahun 95, tapi seperti tulisan Pramoedya yang lain, novel ini tetap asyik dikunyah kapanpun.

          Saya penggemar Pramoedya? Bukan, bahkan novel ini baru novel pertama-nya yang saya baca (masalahnya nggak punya, dan belum punya link buat minjem ^^’). Lagipula saya nggak hobi baca, cuma gara-gara saya hobi nulis, saya harus rajin baca buat referensi yang akan saya tulis, yah seperti teko yang harus berisi kalau mau nuang air ke gelas (ini merendah atau justru sok-sokan? >_<).

          Di luar konteks kisah hidupnya yang juga menarik disimak, novel ini cukup menarik terutama buat penggemar sejarah, sastra atau sekadar kata-kata tentang alam yang puitis (karena memang ini yang jadi salah satu penyebab saya bertahan membaca novel yang hampir setebal buku AI itu [sekitar 700 halaman], kekuatan personifikasi yang memang melekat pada diri Pramoedya).

          Arus Balik, secara general, bercerita tentang upaya mengembalikan arus dari selatan ke utara yang pernah terjadi pada masa kejayaan Majapahit (di novel ini diceritakan bahwa pada masa kejayaannya, Majapahit dapat mempengaruhi bangsa-bangsa di utara lho, jadi sedikit bertanya, “Wah, emang iya ya?” à Anis, Anis kok skeptis dengan bangsa sendiri sih?). Karena arus yang melanda pada saat itu berubah menjadi arus utara ke selatan, pemikiran, budaya, teknologi, hampir semuanya…. Dan yang saya pikir, novel ini “menantang” orang-orang kini untuk menyelesaikan upaya “arus balik” yang belum juga purna (atau bahkan belum dimulai ya? Atau bahkan kita tak pernah berpikir tentang itu, “Ya so what gitu, yang penting saya nyaman dengan kondisi saya, tak peduli saya ikut arus yang mana…”).

          Oke cukup pembukaannya, saya sebenarnya ingin membahas makna yang saya tangkap (dengan susah payah >_<) setelah membaca novel itu: kepahlawanan. Novel itu bercerita tentang sepasang orang ndeso bernama Wiranggaleng dan Idayu dan usaha mereka mempertahankan idealisme mereka di tengah perubahan yang mendesak mereka: kehadiran Peranggi (Portugis), dalam setting Nusantara lama, kekalutan perebutan kekuasaan, upaya menyatukan nusantara kembali seperti pada jaman Majapahit, “kekaguman” akan bangsa berkulit putih dan peralatan canggihnya (meriam), dan usaha mengusir penjajah atau berkompromi dengan mereka.

          Singkat cerita, Galeng yang tadinya seorang petani sederhana, setelah melalui beragam kemelut, berhasil menjadi seorang panglima besar demi mempertahankan Nusantara dari tangan penjajah (kalau mau tahu cerita lengkapnya baca aja ya, hehe tapi jangan pinjam sama saya, soalnya saya juga pinjam ^^’). Ia sesungguhnya sangat mampu menjadi bagian dari buku sejarah yang beredar di kalangan siswa SD sebagai pahlawan Nasional (jika Galeng bukan tokoh fiktif, karena yang saya tangkap, novel itu dibuat berdasarkan pengamatan dan penelitian yang cukup mendetail), namun idealisme-nya justru membuatnya “hanya” dikenang oleh orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya.

          Menjadi pahlawan, memang sebuah pilihan. Bukan hanya mengenai bakat dan kesempatan, ia juga mewakili keterdesakan kebutuhan akan hadirnya pahlawan itu sendiri, dan pastinya seperti yang sudah disebutkan: pilihan.

          Bukan, bagi saya pahlawan bukan berarti seseorang yang memiliki sayap hingga bisa terbang, atau bisa melayang dengan jaring laba-laba, atau lainnya (karena itu termasuk kategori superhero bukan hero, ya kan?). Di mata saya pahlawan lebih pada seseorang yang dengan kemampuan yang ia miliki, kesempatan yang menghampirinya, dan pilihan sadar yang ia buat, ia berani menjawab kebutuhan lingkungannya, dengan beragam konsekuensi yang akan menghampirinya.

          Sayang, saya jarang menemukan orang seperti Galeng yang demikian sederhana namun memegang kuat apa yang ia yakini sehingga “rela” melepaskan godaan menjadi seorang pahlawan besar untuk kemudian “cukup” menjadi pahlawan di hati orang-orang yang ia cintai. Bukan, saya bukannya menyalahkan orang-orang yang memang memiliki kapabilitas untuk menjadi pahlawan bagi banyak orang (walau tidak meniatkan dirinya untuk dielukan sebagai “pahlawan”). Saya hanya menyayangkan keinginan berlebihan untuk meraih prestige sebagai pahlawan namun melupakan orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi “korban kepahlawanan” pertamanya. Sehingga justru orang terdekatnyalah yang menjadi musuhnya.

          Allahu’alam bishawab

          Untuk seseorang yang masih juga ingin dielukan sebagai pahlawan untuk setiap kebaikan kecil yang ia lakukan. (wah siapa tuh Nis? Ya… saya sendiri! >_<)

          Categories: perception, review Tags:

          Budaya “Positif”, Kok “Negatif”?

          November 2, 2007 anis 3 comments

          Ada space antara aksi dan reaksi manusia, space itu bernama pilihan

          Ada banyak kebiasaan aneh yang secara sadar atau tidak sadar berkembang di sekitar kita, bahkan sadar atau tidak masih saya lakukan. Saya menyoroti dua kebiasaan aneh dalam tulisan ini. Kebiasaan itu adalah:

          1. Memuji

          Suatu hari saya berada di sebuah sekre menunggu rapat sambil merangkum hasil kuesioner. Seorang teman datang, “Eh hari ini kuis X ya?”

          “Dosennya sih bilang gitu,” jawab saya karena memang sang dosen menyuruh kami membaca bab satu dan dua serta bersiap untuk kuis.

          Kemudian teman saya itu meminjam buku saya. Saya tak menggunakan buku itu saat itu, karena saya harus menyelesaikan rangkuman kuesioner hari ini, maka rencana saya untuk membaca saya tunda (alasan… padahal mah malas belajar ^_^). Teman saya itu mulai membaca buku.

          Lalu beberapa orang yang juga berada di sekre itu mulai berkomentar, kira-kira komentarnya seperti berikut, “Wah rajin bener baca buku X, seumur-umur gw belum baca tuh buku, emang angkatan 2005 keren!”

          Dan setelah komentar itu meluncur, selang beberapa menit teman saya berhenti membaca. Ia menutup buku X itu sambil berterima kasih saya telah meminjamkannya.

          Saya tak berkomentar. Tapi saya merasa ada yang salah. Apa teman saya terpengaruh komentar itu? Saya tidak tahu…

          Tapi hal semacam itu sangat sering terjadi. Misalnya ketika ada orang ke perpustakaan lalu dipuji dengan kalimat, “Deuh rajin bener”. Atau yang suka ke masjid lalu lewat dipuji dengan, “Duh bau surga, bau surga…”

          Kalau saya lihat sih sebenernya nggak ada masalah. Yang dipuji harusnya berterima kasih karena sudah didoakan. Dan yang memuji juga kalau niatnya memang memuji ya nggak masalah. Tapi masalahnya adalah ketika yang memuji bukan berniat untuk memuji dan yang dipuji adalah orang yang takut dianggap freak.

          Walau hal itu nggak berlaku untuk semua orang. Saya menemukan banyak orang di sekeliling saya yang dapat memfilter “saya sosial” yang negatif untuk mempertahankan “saya diri” yang positif demi “saya ideal” yang mereka idamkan, karena mereka punya tujuan hidup dan bisa mengesampingkan hal-hal diluar tujuan hidup mereka. Tapi tidak jarang saya temukan orang-orang yang belum steady dengan tujuan hidup mereka sehingga mudah terbawa lingkungan.

          Jadi jika memang berniat memuji, pujilah dengan tulus, walau mungkin orang yang dipuji menangkap lain dari yang kita maksud, toh niat kita memang benar. Dan kalau kita dipuji, ya bersyukurlah, walau orang yang memuji terlihat tidak tulus, toh kita kan nggak tahu niat mereka.

          1. Menyemangati

          Budaya yang satu ini terasa ketika kita berada dalam kelompok untuk mengerjakan sesuatu. Tugas kelompok misalnya. Si A bilang, “Ayo B semangat!”, si B bilang, “Semangat C!” si C bilang, “D ayo semangat!” dan seterusnya (tergantung jumlah orang dalam kelompok, 3 untuk MatKul SI dan IB, 4 untuk OS dan BD, hehe apa sih?).

          Memang menyemangati sih, tapi seringkali kalimat semangat itu terasa seperti, “Semangat ya ngerjainnya, saya nggak bisa bantu banyak, dan cuma bisa bantu dengan doa! Pokoknya aku padamu lah!”

          Nggak berlaku untuk semuanya sih, tapi itu yang sering saya rasakan ketika saya sendiri mengucapkan kalimat semangat itu. Walau pada kenyataannya kita seringkali memang bekerja sama.

          Sekali lagi nggak ada yang salah kalau yang mengucapkan memang benar-benar memberi semangat tanpa tujuan lain, dan yang diberi semangat tidak berpikiran buruk.

          Tapi itulah menariknya, setiap kita mungkin memiliki persepsi yang berbeda-beda. Bukan masalah, ketika kita bisa mempertahankan yang positif sebagai positif dan jauh lebih baik ketika kita bisa mengubah yang negatif jadi positif.


          N.B. Punten pisan kalau ada yang merasa jadi pemeran di cerita saya ini :D … sebenernya saya masih jadi pemeran utamanya kok :D

          Categories: perception, review Tags: