Archive

Posts Tagged ‘keluarga’

Keluarga…

July 16, 2008 anis 4 comments

Tinggal jauh dari keluarga dan harus menumpang tinggal di beberapa keluarga yang saya kunjungi ternyata memberikan saya pengalaman yang bagi saya cukup menarik.

Memperhatikan budaya yang berbeda, kebiasaan yang tidak sama, suasana yang tidak biasa… semuanya demikian menarik. Pertama, saya tinggal bersama keluarga pamannya Reisha yang berlatar belakang budaya Minang, tapi karena lama tinggal di Surabaya, budaya Jawa juga terlihat dari sisi-sisi kesehariannya… terutama bahasanya. Kedua, keluarga bibi-paman saya yang latar belakang budayanya Sunda-Madura. Ketiga, sempat beberapa hari tinggal di sebuah keluarga rekan kakak saya yang latar belakang budayanya full Jawa Timur.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujuraat: 13)

Hal yang menjadikan ini menarik adalah memperhatikan interaksi antar anggota keluarga. Terutama peran ayah….

Allahumaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fuanhu

Categories: moment Tags:

another mitsaaqan ghaliidza

May 11, 2008 anis 11 comments

Aku menunduk mencoba untuk merenung dengan takzhim. Entah kenapa begitu banyak hal yang melintas di benakku. Ayahku yang mungkin tengah menyaksikan kami dari alam sana… mama yang telah berjuang membesarkan kami sendirian…. Dan ke-Maha-Besar-an-NYA yang telah menjadikan suatu mitsaaqan ghaliiza….

“Abdi nikahkeun anjeun sareng putri teges Bapak…..”

“Tarima Abdi nikah sareng putri teges Bapak….”

Dan air mata ini mulai meluncur perlahan diantara riuh suara hamdalah di sekitarku. Dan sekali lagi suatu perjanjian yang berat telah terucapkan. Read more…

Categories: moment, perception Tags:

Pembicaraan Yang “Tidak-Tidak”

March 19, 2008 anis 20 comments

Mozart – Oboe Concerto – 1st Movement masih mengalun lembut dari speaker laptop sementara sequence diagram yang telah saya selesaikan baru diagram ke-14 dari 52 diagram.Tiba-tiba kakak tertua saya yang sedang ada di rumah masuk ke kamar dan mengajak ngobrol, awalnya hanya pembicaraan normal sampai ia mulai mengatakan yang “tidak-tidak”. Ummm mungkin wajar, karena di rumah ia sudah seperti “pengganti” ayah saya yang sudah lama meninggal… tapi bagi saya tetap saja isi pembicarannya itu “tidak-tidak”…..

K: “Nis, kalau kamu udah punya calon, ya nikah aja…”

Read more…

Categories: moment Tags:

Beberapa Perilaku Ponakan

January 27, 2008 anis 1 comment

Pingin cerita tentang ponakan saya yang usianya baru tiga tahun. Ponakan yang pernah bilang kalau cita-citanya adalah jadi kambing ompong ^_^. Ini adalah beberapa perilakunya yang menurut saya cukup menonjol,

1. Kalimat favoritnya saat terpojok, “Ah, Bi Anis mah galak, nggak mau main sama Bi Anis!”

Padahal siapa juga yang mau main sama dia (jahat sekali saya ini). Suatu bentuk eksistensi diri, ingin danggap penting. Ternyata hal seperti ini secara jujur telah terbentuk pada anak kecil ya. Read more…

Categories: perception Tags:

Kunjung Kampung

October 22, 2007 anis 2 comments

Malam kedua lebaran, seperti biasanya keluargaku berkunjung ke rumah kakek-nenek di Singaparna, Tasikmalaya. Di sana berkumpul hampir semua paman dan bibiku.

Sedikit menyedihkan, karena tinggal satu kakakku yang belum menikah, dan ia pun tak ikut ke Tasik, maka aku yang jadi sasaran pertanyaan, “Kapan nikah?”, “Siapa calonnya? Udah ada?”, “Mudah-mudahan dimudahkan jodohnya,” bahkan kakekku sampai berkata, “Sekolah jangan lama-lama!”…. Hiks hiks…. Eh bukan ini yang ingin kubahas.

Saat itu keluargaku hendak mengunjungi sanak yang lain, yang masih berada di daerah Tasik. Kami mengendarai mobil masuk ke desa yang makin kecil. Anak-anak yang tengah bermain petasan tradisional (dibuat dari bambu) berhenti sejenak untuk mengejar mobil kami sekadar untuk menyentuhnya. Ck ck ck… serasa sinetron orang kota masuk desa.

Karena tidak tahu pasti alamatnya, kakakku turun untuk bertanya pada seorang bapak yang tengah mencangkul. Ternyata ia tidak tahu karena ia pendatang baru, tapi ia tidak hanya berkata tidak tahu, ia mengetuk pintu tetangganya untuk bertanya. Ketika tetangganya tak juga membuka pintu, mungkin karena tak ada di rumah, ia mengetuk pintu rumah yang lain. Hal yang mungkin biasa ia lakukan untuk membantu orang lain. Tapi bagiku (yang sudah jarang menemukan orang yang mau bolak-balik untuk membantu orang yang bahkan tak ia kenal) apa yang diperbuat bapak itu adalah luar biasa.

Yang lebih mengagumkan, orang-orang yang bukan pendatang baru di sana saling mengenal, karena itu dengan mudah kami bisa menemukan rumah sanak saudara kami itu. Aku malu, karena kadang ditanya alamat tetangga yang satu komplek denganku pun aku tak tahu.

Setelah sampai, sanak saudara kami itu menyambut kami dengan luar biasa. Padahal sudah bertahun-tahun kami tak bertemu. Tak ada rasa sungkan dan kagok, mereka mwnunjukkan keakraban walau dipenuhi dengan kesederhanaan. Lagi-lagi hal itu membuatku malu, kadang aku sulit akrab dengan teman, bahkan masih sering lupa nama teman yang sudah lama dikenal.

Itulah hal yang membuatku takjub setiap kali bertandang ke kampung (Tasik yang ditinggali keluarga kakek ada di daerah pedesaan). Orang-orangnya…. Ya, orang-orang tulus, ramah, dan selalu siap membantu. Orang-orang sederhana, lugu, dan polos. Orang-orang yang sulit kutemui di kota, bahkan di kampus di mana orang-orangnya merupakan orang-orang terpelajar. Orang-orang yang bahkan jarang kutemui dalam diriku sendiri.

Categories: moment Tags: ,

Alas Kaki

October 22, 2007 anis 1 comment

Euphoria pra Idul Fitri semakin terasa. Kelurgaku pun jadi “korban”. Beberapa hari menjelang lebaran aku diperintahkan mama untuk membeli sandal baru, sebuah sandal “wanita yang manis”. Wajar sih karena sandal yang kumiliki hanya sebuah sandal gunung, itupun sudah bertahan selama hampir enam tahun menemaniku. Sebenarnya malas, karena sampai sekarang aku tak juga bisa merasa nyaman menggunakan sandal “wanita yang manis”. Ya, selama ini aku lebih suka mengenakan sepatu kets dan sandal gunung atau bahkan sandal jepit.

Tapi daripada berseteru (ya, aku terkadang berseteru dengan mama karena penampilanku yang “urakan”. Biasanya kami akan berseteru menjelang saat-saat aku harus menghadiri undangan pernikahan teman, hehehe) akhirnya aku hanya berkata dengan pasrah, “Ya, kalau nemu yang cocok, kalau nggak ada yang cocok nggak usah ya.” Mama mengiyakan, juga dengan pasrah.

Maka dengan menyeret langkahku, aku mengunjungi pusat pertokoan yang paling dekat dengan rumah, malas juga kalau harus jauh-jauh, karena aku sudah merasa tak akan menemukan yang cocok (hahaha, ya iyalah nggak akan nemu yang cocok, karena yang kuinginkan adalah sandal gunung lagi, dan mama pasti marah kalau aku membelinya).

Aku masuk-keluar toko yang satu ke toko yang lain. Tak ada yang menarik, karena bagiku model-modelnya memang norak, seringkali aku lebih tertarik pada sandal untuk laki-laki (duh… untuk masalah penampilan ternyata sifat maskulinku masih cukup tinggi, tapi sampai sekarang aku tak merasa itu adalah masalah… hehehe).

Sampai aku berpapasan dengan seorang laki-laki tua. Laki-laki itu mendorong sebuah gerobak kosong. Aku menunduk dan bisa kulihat ia berjalan tanpa alas kaki. Aku beristighfar. Masih banyak orang yang tidak seberuntung diriku. Seketika aku merasa sangat malu dan memutuskan untuk tidak membeli sandal apapun (walau akhirnya membeli kaus kaki yang notabene merupakan alas kaki juga, hehehehe).

Ya, bukankah kita tak memerlukan alas kaki apapun untuk melangkah ke syurga-Nya?

Categories: intermezzo, moment Tags: ,

Teman-Teman Ponakanku

October 4, 2007 anis 1 comment

Agustus 2007

Liburan akhir semester. Saya meluangkan waktu untuk menemani dua ponakan saya yang juga sedang dalam masa liburan. Setelah sedikit berolah raga di kolam, saya mengajak mereka ke kampus ITB. Sebenarnya saya ingin mulai mengenalkan mereka pada kampus yang bisa menjadi awal cita-cita banyak orang, ya, agar mereka punya cita-cita, tapi mereka hanya bisa menikmati patung-patung di halaman gedung FSRD.

Eh sebenarnya bukan itu yang ingin saya ceritakan. Yang ingin saya ceritakan adalah cerita-cerita mereka saat di perjalanan. Banyak hal yang mereka ceritakan, tapi yang paling saya ingat adalah tentang kondisi teman-teman mereka di sekolah.

”Iya, si X, Y, Z tuh orangnya pilih-pilih temen. Yang jadi temen mereka tuh yang cantik-cantik, yang orang kaya…” kata ponakan saya semangat.

”He eh, pilih temennya tuh yang putih, yang punya HP,” ponakan yang satunya menyahut.

”Aku juga diajak, tapi gara-gara dia pingin nyontek PR…”

“Mereka juga pacar-pacaran gitu…”

Mereka pun mulai bercerita tentang cinta-cinta monyet teman-teman mereka. Saya hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita mereka. Padahal mereka sekolah di SD Islam, ternyata gitu juga yah?

Kok kayak sinetron yah? Saya pikir cerita-cerita macam itu hanya ada di sinetron murahan buatan Indonesia. Ya, sinetron-sinetron nggak mutu yang ceritanya ngalor ngidul, ngutara nyelatan nggak puguh. Hanya tentang cintaaaaaa….. mulai orang dewasa, anak kuliahan, anak SMA, SMP, bahkan SD. Walau ceritanya dikemas dengan keanehan-keanehan tersendiri, mulai dari yang hidupnya selalu sengsara, ditentang orang tua, saudara kembar yang berbeda nasib, sampai yang bisa berubah jadi monyet, tapi tetap saja semuanya berpangkal pada yang namanya cinta lawan jenis.

Sebenarnya yang benar itu apa sih? Kehidupan nyata yang diangkat jadi cerita sinetron atau cerita sinetron yang diadopsi oleh masyarakat jadi habbit mereka?

Kalaupun benar cerita sinetron atau film nggak mutu itu diangkat dari kehidupan nyata, dengan alibi untuk menunjukkan fakta dan membuat masyarakat sadar, kok ya nggak ada semacam kesimpulan dan solusi untuk permasalahannya gitu… ceritanya hanya mengumbar hal-hal nggak penting, tak ada suatu pencerdasan… tak ada usaha untuk pembentukan kesadaran.

Kalaupun benar cerita sinetron atau film nggak mutu itu diangkat dari kehidupan nyata, bukankah hanya sebagian kecil masyarakat yang mengalami kejadian mirip cerita itu? Lalu bagaimana dengan yang tidak?

Jika sinetron mengumbar kekayaan, rumah mewah, mobil untuk setiap anggota keluarga, jabatan direktur utama perusahaan terkenal. Hal itu notabene hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana dengan jumlah masyarakat miskin yang justru makin bertambah di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini?

Jika sinetron mengumbar cinta syahwat lain jenis (apalagi sejenis), yang saya yakini hanya terjadi sedemikian parahnya di kota-kota besar. Lalu bagaimana dengan masyarakat di daerah-daerah? Bagaimana dengan remaja lugu yang masih berusaha mencari jati diri? Bagaimana dengan anak-anak SD yang masih mudah ”ditulisi”? Apa mereka hanya akan menjadi korban?

Categories: moment, perception Tags: ,