Agustus 2007
Liburan akhir semester. Saya meluangkan waktu untuk menemani dua ponakan saya yang juga sedang dalam masa liburan. Setelah sedikit berolah raga di kolam, saya mengajak mereka ke kampus ITB. Sebenarnya saya ingin mulai mengenalkan mereka pada kampus yang bisa menjadi awal cita-cita banyak orang, ya, agar mereka punya cita-cita, tapi mereka hanya bisa menikmati patung-patung di halaman gedung FSRD.
Eh sebenarnya bukan itu yang ingin saya ceritakan. Yang ingin saya ceritakan adalah cerita-cerita mereka saat di perjalanan. Banyak hal yang mereka ceritakan, tapi yang paling saya ingat adalah tentang kondisi teman-teman mereka di sekolah.
”Iya, si X, Y, Z tuh orangnya pilih-pilih temen. Yang jadi temen mereka tuh yang cantik-cantik, yang orang kaya…” kata ponakan saya semangat.
”He eh, pilih temennya tuh yang putih, yang punya HP,” ponakan yang satunya menyahut.
”Aku juga diajak, tapi gara-gara dia pingin nyontek PR…”
“Mereka juga pacar-pacaran gitu…”
Mereka pun mulai bercerita tentang cinta-cinta monyet teman-teman mereka. Saya hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita mereka. Padahal mereka sekolah di SD Islam, ternyata gitu juga yah?
Kok kayak sinetron yah? Saya pikir cerita-cerita macam itu hanya ada di sinetron murahan buatan Indonesia. Ya, sinetron-sinetron nggak mutu yang ceritanya ngalor ngidul, ngutara nyelatan nggak puguh. Hanya tentang cintaaaaaa….. mulai orang dewasa, anak kuliahan, anak SMA, SMP, bahkan SD. Walau ceritanya dikemas dengan keanehan-keanehan tersendiri, mulai dari yang hidupnya selalu sengsara, ditentang orang tua, saudara kembar yang berbeda nasib, sampai yang bisa berubah jadi monyet, tapi tetap saja semuanya berpangkal pada yang namanya cinta lawan jenis.
Sebenarnya yang benar itu apa sih? Kehidupan nyata yang diangkat jadi cerita sinetron atau cerita sinetron yang diadopsi oleh masyarakat jadi habbit mereka?
Kalaupun benar cerita sinetron atau film nggak mutu itu diangkat dari kehidupan nyata, dengan alibi untuk menunjukkan fakta dan membuat masyarakat sadar, kok ya nggak ada semacam kesimpulan dan solusi untuk permasalahannya gitu… ceritanya hanya mengumbar hal-hal nggak penting, tak ada suatu pencerdasan… tak ada usaha untuk pembentukan kesadaran.
Kalaupun benar cerita sinetron atau film nggak mutu itu diangkat dari kehidupan nyata, bukankah hanya sebagian kecil masyarakat yang mengalami kejadian mirip cerita itu? Lalu bagaimana dengan yang tidak?
Jika sinetron mengumbar kekayaan, rumah mewah, mobil untuk setiap anggota keluarga, jabatan direktur utama perusahaan terkenal. Hal itu notabene hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat Indonesia. Lalu bagaimana dengan jumlah masyarakat miskin yang justru makin bertambah di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini?
Jika sinetron mengumbar cinta syahwat lain jenis (apalagi sejenis), yang saya yakini hanya terjadi sedemikian parahnya di kota-kota besar. Lalu bagaimana dengan masyarakat di daerah-daerah? Bagaimana dengan remaja lugu yang masih berusaha mencari jati diri? Bagaimana dengan anak-anak SD yang masih mudah ”ditulisi”? Apa mereka hanya akan menjadi korban?
Recent Comments