29 Ramadhan 1428
kewajiban yang telah menjadi kebutuhan lalu mulai terasa sebagai kenikmatan
Aku cengeng? Ya, memang. Aku bisa dengan mudahnya menangis, saat terjadi sesuatu, mendengar sesuatu, bahkan sekadar nonton film India (bodoh sekali bukan? Hahaha… tapi bukan sembarang film India kok, film India yang kutangisi berjudul Baghban, ceritanya tentang berbakti pada orang tua). Aku bahkan tak malu menangis di depan temanku bahkan di jalan (aku pernah beberapa kali menangis [walau hanya berkaca-kaca] sepanjang perjalanan pulang dari sekolah). Aku juga sering menangis membaca tulisanku sendiri, bukankah itu aneh?
Tapi hari itu aku benar-benar memohon untuk bisa menangis. Aku berkali-kali berdoa untuk bisa menangis. Dari sore hari aku berusaha untuk menangis tapi hingga dini hari sekitar pukul 01.00 aku belum juga dianugerahi tangisan yang kupinta. Beberapa kali mataku memang sempat berkaca-kaca, tapi tidak seperti yang kuharapkan, karena penyebabnya hanya mata yang perih atau batuk yang kutahan.
Aku terus meminta dan memohon. Rasanya seperti dihukum untuk tak bisa menangis malam itu. Padahal malam itu aku merasa harus menangis. Aku harus menangis untuk banyak alasan. Dan salah satu alasanku karena ini malam pertama di tahun ini, sekaligus malam terakhir, malam terakhir yang mungkin tak akan kujumpai lagi mungkin seumur hidupku. Aku mulai merasa ini hukuman. Aku, yang biasanya bisa dengan mudah menangis bahkan untuk alasan yang tidak penting, tak diizinkan menangis di malam yang demikian penting tahun ini. Ini hukuman untukku, untuk setiap lakuku, untuk setiap waktu yang kusiakan.
Ketika hampir semua orang di sekitarku menangis. Aku frustasi, aku memaksakan diriku untuk menangis, tapi tak juga kurasakan tangis yang biasanya. Hanya tenggorokan yang tercekat, dan mata yang dipejamkan, tapi tak juga kurasakan air mata yang mengalir. Dan semua orang semakin tenggelam dalam tangisannya.
Aku pasrah, mungkin ini harga yang harus kubayar untuk dosaku. Aku bahkan tak bisa menangisi kondisiku yang tak bisa menangis. Aku pasrah, dan hanya bisa berdoa semoga usahaku untuk menangis malam itu ternilai. Aku pasrah dan menyerahkan semuanya.
Rasanya aku menyerah, aku terlalu egois dan sombong karena bisa dengan mudah menangis selama ini. Aku menyerah, dan mulai kusadari permintaanku untuk menangis begitu bodoh. Kenapa aku harus meminta untuk bisa menangis? Kenapa aku tak meminta rahmat, hidayah dan maghfirah-Nya? Kenapa aku tak meminta untuk bisa memahami atau merenungi ayat-ayat yang dibacakan sang imam? Kenapa aku tak meminta ampunan untuk dosa-dosaku? Kenapa malam itu aku tak meminta lailatul qadar? Kenapa aku harus meminta untuk menangis?
Setelah lama bergelut dengan diriku sendiri. Rakaat terakhir aku menangis. Selain karena doa khatam yang luar biasa, aku menangisi kebodohanku. Aku menangisi kebodohanku. Dan aku menangis karena syukur yang tak terkira bahwa aku diizinkan menangis walau hanya sebentar di malam itu.
Recent Comments