Archive

Posts Tagged ‘renungan’

matahariku

April 28, 2008 anis 3 comments

Matahariku
Tak ada yang ingin kupinta, tapi tolong tunjukkan sang bumi
Bumi yang di pelatarannya tergambar berlikunya jalan
Lalu tunjukkan padaku jalan yang benar
Jalan yang dengannya aku menemukan
indah untuk kupandang, merdu untuk kudengar, sejuk untuk kuhirup, hangat untuk kurasa
Dan bersinarlah untukku, berikan aku kehangatan untuk kuat menapaki jalan itu
Tapi tunjukkan pula padaku jalan yang salah
Jalan yang dengannya aku hanya menemukan gelisah dan kecewa
Dan teriklah untukku, untuk mencegahku menuju jalan itu Read more…

Categories: poem Tags:

Memangnya Ke Mana Ibunya?

April 9, 2008 anis 6 comments

Seorang gadis manis masuk ke dalam angkot yang saya naiki (lagi-lagi kisah di angkot… huhu gimana lagi, klo saya hitung-hitung, saya sudah menjalani hidup saya selama sekitar setengah tahun di angkot :D ). Di belakangnya, dua orang laki-laki mengikutinya memasuki sang angkot. Sepertinya salah satu dari laki-laki itu mengenal keluarga sang gadis.

Gadis itu mengenakan seragam sebuah sekolah menengah kejuruan. Matanya sayu (bukan sayang uang :P ) dan sendu (dan bukan seneng duit :D ). Walau masih putih, seragamnya terlihat agak lusuh, mungkin karena ada bercak hitam seperti bekas cat di bagian bahunya. Kalau saja kulitnya putih terawat, dan rambutnya agak panjang, maka ia tak ubahnya gadis Jepang di video klip Konayuki (saya masih normal kan klo suka ngeliatin cewek cantik???? >_<).

Salah satu laki-laki itu mulai membuka pembicaraan dengan gadis itu, mulai dari pertanyaan standar, seperti, “Mau ke mana?” “Masih sekolah, atau kerja?” sampai pertanyaan yang tidak saya duga, “Ibu di mana sekarang?” (sebenarnya dalam bahasa Sunda sih, tapi saya Indonesiakan :D , saya baik ya, memperhatikan pembaca yang bukan orang Sunda… hueeekkss :D )

Dan gadis itu menggeleng, “Nggak tahu…”

Laki-laki yang bertanya sedikit berbisik pada laki-laki satunya, “Kasihan, ibunya udah nggak tahu di mana, nggak sayang sama anak-anaknya.”

Dan dari sisa pembicaraan mereka, saya hanya bisa menangkap kalau gadis itu memang ditinggal ibunya, sementara ayahnya hanya sesekali pulang karena bekerja di Jakarta. Jadi berpikir, memangnya ke mana ibunya? Pertanyaan saya itu membawa saya ke berbagai kemungkinan… kemungkinan yang pada akhirnya membuat saya bersyukur memiliki keluarga yang sangat baik.

“Give thanks to Allah, for the moon and the stars… prays in all day full, what is and what was… Take hold of your iman, dont givin to shaitan. Oh you who believe please give thanks to Allah.” (Give thanks to Allah, Michael Jackson)

Categories: moment Tags:

Memulai Dengan Kematian

February 15, 2008 anis 3 comments

From those around I hear a Cry,
A muffled sob, a Hopeless sigh,
I hear their footsteps leaving slow,
And then I know my soul must Fly!

A chilly wind begins to blow,
Within my soul, from Head to Toe,
And then, Last Breath escapes my lips,
It’s Time to leave. And I must Go!

So, it is True (But it’s too Late)
They said: Each soul has its Given Date,
When it must leave its body’s core,
And meet with its Eternal Fate.

Oh mark the words that I do say,
Who knows? Tomorrow could be your Day,
At last, it comes to Heaven or Hell
Decide which now, Do NOT delay!
Come on my brothers let us pray
Decide which now, Do NOT delay!

Oh God! Oh God! I cannot see!
My eyes are Blind! Am I still Me
Or has my soul been led astray,
And forced to pay a Priceless Fee

Alas to Dust we all return,
Some shall rejoice, while others burn,
If only I knew that before
The line grew short, and came my Turn!

And now, as beneath the sod
They lay me (with my record flawed),
They cry, not knowing I cry worse,
For, they go home, I face my God!

Read more…

Categories: moment Tags:

It’s Everywhere

January 29, 2008 anis 2 comments

Dalam suatu kuliahnya, seorang dosen mata kuliah Manajemen Industri, yang memfokuskan kuliah tersebut pada bidang usaha kecil, pernah berkata bahwa semakin jauh perjalanan kita (misalnya dari rumah ke kampus) maka semakin banyak juga peluang usaha kecil yang bisa kita temukan dan mungkin kita lakukan.

Tapi bagi saya, yang telah menempuh perjalanan sekitar 20 km bolak-balik setiap harinya dari rumah ke kampus, menemukan peluang usaha kecil itu tetap saja sulit. Mungkin berbeda dengan sang dosen yang bisa menemukan peluang usaha dengan mudah walau hanya ketika beliau berada di kampus. Apa yang membedakan kami? Read more…

Categories: perception Tags:

Stimulus Netral

January 15, 2008 anis 5 comments

Saat lagi semangat-semangatnya nulis di blog, terjadi sebuah percakapan singkat:

Anis : “Tulisannya bagus nggak?”
Mama : “Biasa aja, yang paling mending juga cuma yang ini
(OOT) Tunggu dulu, kenapa mama bisa baca blog saya? Ehehe, itu karena hobi baru beliau adalah ngebaca blog orang-orang, makanya setiap kali ada kesempatan nge-net pasti buka planet-if atau if2005. Dan pastinya beliau juga jadi ngebaca blog saya. Jadi jangan heran ya kalau mama saya kenal teman-teman dari apa yang teman-teman tulis ^_^. (OOT)

Komentar mama membuat saya jadi berpikir banyak tentang tulisan saya. Membuat saya untuk sementara kehilangan semangat menulis. Tapi kemudian teringatkan sebuah kalimat, bahwa stimulus… berupa apapun yang kita alami, harus berusaha kita pandang sebagai sesuatu yang netral. Yang menjadikan sesuatu positif atau negatif adalah cara kita merespon stimulus tersebut. Read more…

Categories: perception Tags:

XO

November 13, 2007 anis 2 comments

Setelah dua kali suatu sidang diundur karena masalah kuota sidang, ada banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran saya. Tanggung jawab, amanah, pilihan, dan yang ingin saya bicarakan di sini adalah orientasi.

Hummm… orientasi… saya sering mendengar kata ini…

Waktu pertama kali masuk ITB dan ikutan OSKM, orientasi banyak dibahas di dalamnya. Satu wacana yang paling saya sukai berasal dari ketua sie materi. Beliau nggak mempermasalahkan apakah seseorang mau study oriented (SO) kek atau organization oriented (OO) kek, bagi beliau yang penting itu vision oriented (VO). Jadi ketika bagi seseorang belajar bisa menjadi jalan untuk pemenuhan tujuan hidupnya, maka menjadi seseorang yang study oriented sama sekali bukan suatu kesalahan. Pun bagi orang yang menurutnya berorganisasi itu menjadi jalan bagi tujuan hidupnya, maka menjadi organization oriented bukan kesalahan pula.

Vision oriented? Ya, begitulah mungkin ada banyak pendapat yang lain. Tapi dengan tahu tujuan kita tahu jalan mana yang akan kita ambil kan? Jadi pada suatu ketika kita nggak akan tiba-tiba berjalan dan berhenti di suatu tempat untuk kemudian menyesali, “Bukan ini yang ingin saya raih…”

Yah apapun tujuannya, apapun orientasinya, lakukanlah… semoga orientasi kita bukan self oriented

Ketika kita hidup untuk diri kita sendiri maka kehidupan akan terasa begitu kerdil. Ia dimulai ketika kita lahir dan berakhir bersama kematian. Tapi ketika kita hidup untuk memperjuangkan sesuatu, untuk orang lain. Maka kehidupan akan terasa begitu luas. Ia dimulai bersama dimulainya kehidupan, dan berakhir bersama berakhirnya kehidupan…

Categories: perception Tags:

Lebih Dari Manusiawi?

November 5, 2007 anis 2 comments

Akhir-akhir ini kalau saya lagi senang, saya mengumbar kesenangan saya. Mulai cerita sana-sini, sampai senyam-senyum dikulum sendirian di angkot. Dan akhir-akhir ini juga, kalau saya lagi sedih, saya juga mempertontonkan kesedihan saya. Lagi-lagi saya cerita sana-sini, cemberut, bahkan (lagi-lagi) nangis (mulai dari nangis di ruang tamu, ruang tivi, di depan laptop sambil nonton Harry Potter yang akhirnya nggak ketonton, sampai lagi-lagi di angkot).

Yaaah, manusiawi sih kalau ketika kita sedih kita pingin orang lain tau kita sedih dan kalau bisa orang lain itu ikut sedih bersama kita. Iya, manusiawi kalau ketika kita senang juga, kita pingin orang lain tau kalau kita lagi senang dan ikut senang bersama kita. Hal ini saya akui sebagai suatu kebenaran, tapi seringkali terasa sebagai pembenaran bagi saya.

Pada kenyataannya saya melihat dan bertemu dengan banyak orang yang berada di luar “batas kemanusiaan” yang entah siapa yang mendefinisikannya sebagai batasan. Orang-orang yang mampu untuk menyembunyikan kesedihan mereka in order to nggak bikin orang lain ikut sedih.Orang-orang yang mampu menahan luapan kebahagiaan mereka apalagi ketika orang-orang di sekitar mereka sedang biasa saja bahkan cenderung sedih.

Saya juga banyak menemukan orang-orang yang bisa ikut sedih atas kesedihan orang lain walau dirinya sedang bahagia. Dan yang lebih luar biasa lagi saya juga menemukan kok orang-orang yang justru mampu ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain walau dirinya sedang sedih.

Hanya saja, mungkin saya memang belum sebaik mereka….

Categories: moment Tags:

Bolehkah Menangis?

October 22, 2007 anis 2 comments

29 Ramadhan 1428

kewajiban yang telah menjadi kebutuhan lalu mulai terasa sebagai kenikmatan

Aku cengeng? Ya, memang. Aku bisa dengan mudahnya menangis, saat terjadi sesuatu, mendengar sesuatu, bahkan sekadar nonton film India (bodoh sekali bukan? Hahaha… tapi bukan sembarang film India kok, film India yang kutangisi berjudul Baghban, ceritanya tentang berbakti pada orang tua). Aku bahkan tak malu menangis di depan temanku bahkan di jalan (aku pernah beberapa kali menangis [walau hanya berkaca-kaca] sepanjang perjalanan pulang dari sekolah). Aku juga sering menangis membaca tulisanku sendiri, bukankah itu aneh?

Tapi hari itu aku benar-benar memohon untuk bisa menangis. Aku berkali-kali berdoa untuk bisa menangis. Dari sore hari aku berusaha untuk menangis tapi hingga dini hari sekitar pukul 01.00 aku belum juga dianugerahi tangisan yang kupinta. Beberapa kali mataku memang sempat berkaca-kaca, tapi tidak seperti yang kuharapkan, karena penyebabnya hanya mata yang perih atau batuk yang kutahan.

Aku terus meminta dan memohon. Rasanya seperti dihukum untuk tak bisa menangis malam itu. Padahal malam itu aku merasa harus menangis. Aku harus menangis untuk banyak alasan. Dan salah satu alasanku karena ini malam pertama di tahun ini, sekaligus malam terakhir, malam terakhir yang mungkin tak akan kujumpai lagi mungkin seumur hidupku. Aku mulai merasa ini hukuman. Aku, yang biasanya bisa dengan mudah menangis bahkan untuk alasan yang tidak penting, tak diizinkan menangis di malam yang demikian penting tahun ini. Ini hukuman untukku, untuk setiap lakuku, untuk setiap waktu yang kusiakan.

Ketika hampir semua orang di sekitarku menangis. Aku frustasi, aku memaksakan diriku untuk menangis, tapi tak juga kurasakan tangis yang biasanya. Hanya tenggorokan yang tercekat, dan mata yang dipejamkan, tapi tak juga kurasakan air mata yang mengalir. Dan semua orang semakin tenggelam dalam tangisannya.

Aku pasrah, mungkin ini harga yang harus kubayar untuk dosaku. Aku bahkan tak bisa menangisi kondisiku yang tak bisa menangis. Aku pasrah, dan hanya bisa berdoa semoga usahaku untuk menangis malam itu ternilai. Aku pasrah dan menyerahkan semuanya.

Rasanya aku menyerah, aku terlalu egois dan sombong karena bisa dengan mudah menangis selama ini. Aku menyerah, dan mulai kusadari permintaanku untuk menangis begitu bodoh. Kenapa aku harus meminta untuk bisa menangis? Kenapa aku tak meminta rahmat, hidayah dan maghfirah-Nya? Kenapa aku tak meminta untuk bisa memahami atau merenungi ayat-ayat yang dibacakan sang imam? Kenapa aku tak meminta ampunan untuk dosa-dosaku? Kenapa malam itu aku tak meminta lailatul qadar? Kenapa aku harus meminta untuk menangis?

Setelah lama bergelut dengan diriku sendiri. Rakaat terakhir aku menangis. Selain karena doa khatam yang luar biasa, aku menangisi kebodohanku. Aku menangisi kebodohanku. Dan aku menangis karena syukur yang tak terkira bahwa aku diizinkan menangis walau hanya sebentar di malam itu.

Categories: moment Tags:

Epilog Sajadah

October 10, 2007 anis Leave a comment

Hanya malam biasa seperti malam-malam biasanya
Malam ketika semua terasa sepi dan senyap tanpa suara

Malam ketika Ia mengabulkan do’a
Malam ketika malaikat diutus turun ke bumi
Malam ketika aku rindu suara isak tangis
Malam ketika aku masih terlipat rapi dalam lemari
Malam ketika aku melihatmu masih pulas dalam balutan selimut hangat

Bandung, 27 Juli 2007

Categories: poem Tags:

Dungu Menunggu

October 10, 2007 anis Leave a comment

Ke mana? Ke mana setiap detik kerinduanku pada syurga?

Kubuang ke mana kekhawatiranku terhadap neraka?

Ketika aku tiba-tiba menjadi seorang penentang yang nyata dalam segala kelemahan dan ketidakberdayaanku

Ke mana air mata yang mengiringi takut, harap, dan cinta tertinggi hanya untuk-Nya?

Kupungut dari mana tawa lena yang melenakan?

Ketika aku tak juga tersadar dari tidurku yang terjaga, dari kesunyian, kesendirian dan kemunafikan

Ketika kaki ini semakin sulit untuk melangkah

Dianya diperparah oleh segala yang menjadi sebab yang disebab-sebabkan

Ketika tangan ini semakin sulit bekerja

Dianya diperparah oleh segala apa yang tak tahu apa-apa selain tak tahu

Ketika hati ini beku dan membatu

Dianya diperparah oleh segala yang ia pertentangkan dalam dianya sendiri

Aku menunggu

Diam dalam diam yang dalam

Ini akan berakhir dan senyum geli akan adalah penutupnya

Aku menunggu

Sunyi dalam sepi yang menulikan

Berharap satu eposide buruk segera berganti tayangan

Aku hanya menunggu

Dalam segala kedunguanku akan arti menunggu

Karena yang kutunggu adalah diri

Diri dari diri yang menunggu

Bandung, 27 Juli 2007

Categories: poem Tags: