Akhir Maret 2007
Hari itu setelah kuliah pagi, saya berkunjung ke SMA untuk menghadiri sebuah acara DKM. Karena jam tiga ada kuliah lagi, saya pamit duluan dan segera nongkrong di angkot Kelapa-Dago.
Di perjalanan kembali ke kampus, saya berpapasan dengan rombongan kecil mahasiswa, mereka mengacung-acungkan kertas berukuran A3, dan semuanya mengenakan jas hijau tua, jas almamater ITB. Ooh mereka lagi ngadain aksi toh! Saya cuma bisa ngasih semangat dalam hati.
Ternyata pak supir dan seorang penumpang yang duduk di samping pak supir ikut memperhatikan rombongan kecil itu.
“Lagi demo naon nya?” tanya pak supir.
“Kayaknya sih demo itu, masalah pembangunan di Punclut, KBU, Kawasan Bandung Utara.” Jawab si penumpang.
Aku ikut menikmati pembicaraan itu, ya saat itu memang sedang masalah KBU sedang hangat dibicarakan. Pembangunan di kawasan itu kabarnya bisa merusak daerah resapan air. Dan lagi uang ganti untuk masyarakat dikatakan minim.
“Ooh meni sepi nya?” tanya pak supir lagi.
Ya, memang sangat sepi, hanya satu mobil bak terbuka yang ditumpangi sekitar lima sampai tujuh orang. Lalu di belakang mobil ada beberapa orang yang berjalan kaki.
“Yaah, kalau dulu jaman saya mahasiswa, kalau ada demo kayak gini semua mahasiswa tuh turun. Sekarang mah mahasiswanya kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang, bobogohan wae di kost-an.” Komentar sang penumpang pedas.
Saya sedikit panas mendengarnya. Ya, walau merasa tidak termasuk mahasiswa kupu-kupu (karena nggak mungkin kuliah-pulang kuliah-pulang karena rumah saya jauh), apalagi bobogohan di kost-an (ya iyalah, orang saya nggak nge-kost ^_^), tapi memang harus saya akui peran saya sebagai mahasiswa belum benar-benar saya lakonkan dengan baik.
Sebelum turun dalam perjalanan singkat itu, saya masih sempat mendengar pak supir berkomentar, “Ya iyalah kayak gitu, da ayeuna mah nu karuliahna oge anak-anak kaya.”
Saya hanya tersenyum miris. Teringat wawancara yang pernah saya lakukan untuk tugas PPAB HMIF waktu masih tingkat satu. Tugas itu untuk mewawancarai petinggi-petinggi kabinet KM. Waktu itu kelompok saya kebagian mewawancarai Menteri PM (Pengabdian Masyarakat). Banyak hal yang diutarakan oleh beliau, tapi yang paling saya ingat adalah ketika beliau mengungkapkan analisis beliau ketika ditanyakan mengapa demo selalu sepi. Intinya beliau mengatakan karena mahasiswa sekarang tak merasakan langsung kesulitan yang dirasakan masyarakat. Jika masyarakat menengah ke bawah sudah merasa sangat kesulitan dengan naiknya harga BBM, maka mahasiswa ITB yang sekarang mayoritas merupakan kelas menengah ke atas tak akan merasakan langsung beban itu, kalaupun merasakan, karena masih mampu, ya tidak akan merasa begitu terbebani.
Apa itu benar ya? Saya memang sering dengar tentang kekritisan mahasiswa “jaman dulu”. Jaman ketika diskusi adalah pemandangan biasa di sudut-sudut kampus, bahkan mereka rela berdiskusi sampai pagi menjelang. Jaman ketika ada seorang anak SMA yang bahkan ingin masuk ITB karena melihat mahasiswanya melakukan aksi. Jaman ketika mahasiswanya hidup sederhana (bahkan saya pernah dengar ada mahasiswa yang tak mampu membeli buku, ia kemudian menginap di kost-an temannya, ia menunggu temannya selesai belajar. Ketika temannya sudah tertidur, baru ia meminjam buku milik temannya itu)
Atau ini memang bukan jamannya lagi? Apa diskusi sudah merupakan hal yang kuno, makanya bukan diskusi yang ditemui di sudut kampus tapi pasangan-pasangan yang sedang berasyik masyuk?
Ya, banyak yang beralasan, “Buat apa sih aksi? Bikin ricuh aja, lebih baik kan tindakan nyata aja! Konkret aja deh!” Saya pribadi sangat setuju dengan kata-kata itu, konkret… tapi benarkah orang-orang yang berkata konkret itu sudah menkonkretkan kalimatnya? Jika ya syukurlah, jika tidak….
Banyak juga yang berkata, “Udah bukan jamannya lagi yang kayak gitu, apalagi beban akademis yang makin menggila, udah nggak ada waktu lagi.”
Saya hanya bisa berkomentar, duh kasian bener mahasiswa sekarang, saking sibuknya, mereka udah nggak bisa lagi nonton di bioskop, kasian banget nggak bisa jalan-jalan di mall, kasian mereka nggak ada waktu buat baca komik.
Lalu sebenarnya mahasiswa itu harusnya gimana sih? Wah klo itu sih jangan tanya saya, tanya aja sama orang-orang yang bikin perguruan tinggi dan menjadikan manusia-manusia yang masuk ke dalamnya jadi bernama mahasiswa! ^_^
Hahaha… tulisan yang aneh bukan? Nggak ada konklusinya, ya biar pada nyari sendiri, pencarian oleh diri biasanya lebih “lucu dan menarik”.
Klo pak supir tadi bisa berkomentar, kira-kira dia bakal bilang “Euh goreng tungtung!” ^_^
Recent Comments