Archive

Posts Tagged ‘Sosial Budaya’

Ciri-Ciri Manusia Indonesia

April 9, 2008 anis 4 comments

Dalam sebuah kuliahnya, dosen PPKn saya bercerita tentang ciri-ciri manusia Indonesia yang pernah ditulis oleh Mochtar Lubis (1986). Lengkapnya ada di sini

Sepertinya bisa ditambahkan satu lagi:

enggan/takut/entah-kenapa-tak-jua berubah :)

Buktinya, walau sudah ditulis berpuluh tahun yang lalu, ciri-ciri itu masih juga dipakai oleh dosen saya sebagai referensi, dan bagi saya pun ciri-ciri itu memang masih secara signifikan ada pada diri saya  :(

Categories: perception Tags:

Once Upon A Time In Angkot

March 17, 2008 anis 5 comments

Awal Maret

Pagi itu saya buru-buru naik angkot jurusan Caheum-Ledeng, lumayan masih kosong, jadi saya bisa memposisikan diri di tempat duduk paling pojok. Kenapa paling pojok? Ummm soalnya saya bersiap untuk sejenak membiarkan mata tertutup setelah malamnya sedikit berjuang mempertahankan dirinya untuk melek.

Saat saya naik, hanya ada dua penumpang, sepasang suami istri setengah baya. Tak lama naik dua orang ibu kira-kira usianya 50-an. Dengan susah payah mereka berusaha menaikkan karung besar ke dalam angkot. Kemudian dengan ramahnya mereka menawari sepasang suami istri itu, isi karung mereka yang ternyata ubi. Ubi itu mereka beli dari Jatinangor, dan hendak mereka jual.

Tak berapa lama setelah kedua ibu itu, naik pula seorang gadis muda, sepertinya  masih kuliah. Dan karena sudah menunggu cukup lama, sopir akhirnya memutuskan untuk memberangkatkan kami.

Sampai di sebuah lampu merah, seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun mendekati angkot kami. Bajunya lusuh, rambutnya merah tak beraturan. Tangan kecilnya menengadah menanti recehan yang diulurkan dari penumpang, sambil berkata lirih dengan kosa kata yang tak jelas. Ibu sang anak berdiri tak jauh darinya. Ia menggendong bayi, adik dari anak kecil itu.

Setelah angkot yang saya naiki berlalu agak jauh, komentar-komentar mulai bermunculan dari para penumpang. Suami istri itu berkomentar, “Kasihan ya, masih kecil”. Sementara dua orang ibu penjual ubi berkomentar, “Tega betul ibunya, padahal sesusah apapun kan itu tetap anaknya…”. Sang gadis beda lagi komentarnya, “Emang bisanya bikin anak doang, ngurusnya nggak bisa…”. Sementara saya hanya merem melek sambil tersenyum simpul pada setiap orang yang minta persetujuan saya terhadap komentarnya.

Hummm… apa yang ditangkap? Menurut saya, kejadian itu merepresentasikan sebagian dari sikap dominan yang ada di masyarakat. Sepasang suami istri menurut saya merepresentasikan mayoritas penduduk yang ada di zona nyaman. Mereka memandang “kasihan” pada dua ibu penjual ubi dan si anak kecil, karena memang mereka tak pernah merasakan hal yang dirasakan si penjualubi dan si anak. Tapi sayangnya “kasihan” itu hanya sampai di lisan, tak ada pengejawantahan lain dari “kasihan” itu. Saya pikir itu juga yang terjadi di sebagian besar masyarakat. Kurangnya inisiasi untuk benar-benar bergerak.

Dua orang ibu penjual ubi merepresentasikan masyarakat menengah ke bawah yang tak menyerah dengan keadaan. Mereka terus berjuang mempertahankan harga diri mereka, bahwa “saya masih mampu, dan tak perlu belas kasihan orang lain”. Mereka mengasihani si anak kecil dan ibunya dengan cara yang lain, bukan karena miskin, tapi kasihan karena mereka tak bisa lagi mempertahankan harga diri. Mungkin karena itulah komentar yang keluar adalah “perbandingan” antara kondisi diri mereka dengan dirinya. Menurut saya, masyarakat jenis ini sudah jarang ada di kota. Masyarakat jenis ini banyaknya di daerah dan pedesaan, dimana mereka hidup masih dengan “ciri khas Indonesia yang sering didengungkan saat SD: gotong royong, ramah, dll.”

Menurut saya si gadis merepresentasikan masyarakat “terpelajar” yang bisanya hanya berkomentar. Komentarnya mungkin berbobot, tapi rapuh. Masyarakat yang hanya bisa memandang dari satu sisi untuk kemudian men-judge berdasarkan apa yang ia lihat. Ia tak pernah tahu, dan mungkin tak mau tahu kenapa si ibu tega membiarkan anaknya yang masih kecil berkeliaran di antara mobil yang berlalu lalang, mengemis, padahal anak itu adalah “anaknya”… darah dagingnya, yang pada masyarakat menengah ke atas begitu dimanja dan dilindungi. Ia hanya melihat pada “bagaimana seharusnya” untuk kemudian membandingkan pada apa yang ia lihat dan mengharuskan apa yang ia lihat untuk menjadi “seperti seharusnya”.

Si ibu dan si anak jelas merepresentasikan masyarakat bawah yang menyerah pada keadaan… yang sayangnya semakin mudah ditemui. Saya yakin kondisi mereka tak hanya stimulus dari kondisi internal mereka yang memang miskin. Kondisi eksternal mereka (dimana kita termasuk di dalamnya) menurut saya punya andil dalam kehidupan mereka.

Lalu saya merepresentasikan apa? Ummm… mungkin saya merepresentasikan masyarakat yang apatis, yang memikirkan  hal-hal seperti… “tugas kuliah saya lebih penting daripada semua pembahasan itu…”

Allahu’alam bishawab

NB: … merindukan seseorang yang di dalam kulkas rumahnya tersedia banyak susu kemasan, setiap harinya ia menyimpan dua sampai tiga susu dalam tasnya untuk ia berikan pada anak kecil malang yang ia temui (seperti anak kecil berusia empat tahun dalam cerita di atas) saat motornya berhenti di perempatan jalan…

Categories: moment Tags:

Propaganda Opini Massa

January 29, 2008 anis 5 comments

Akhir-akhir ini sedang merasa jengah dengan media informasi, karena saya merasa seringkali media massa tidak memberikan informasi berimbang tentang pro-kontra suatu masalah. Saya tidak akan menyebutkan kasus apa yang membuat saya sampai menulis postingan ini, karena saya malas menceritakan hal itu (lagipula tersirat kok dalam tulisan ini). Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa media (terutama yang dekat dengan masyarakat, salah satunya… let we say TV) sangat berpengaruh besar terhadap opini publik.

Beberapa anggota keluarga saya yang tadinya tergabung dalam kelompok kontra tiba-tiba ikut-ikutan merasa simpati dan mengangguk-angguk setuju dengan hal-hal yang pro. Bukan itu saja, secara luas… pembicaraan orang-orang di angkot (termasuk supir angkotnya) yang dulu sekitar tahun 1998 (ketika media pun gencar memberitakan hal yang sifatnya kontra) menjatuhkan, menjelek-jelekkan, kini berubah menjadi kasihan dan membela. Read more…

Categories: perception Tags:

Menggugah Jaman Sejarah Lewat Blogging

December 31, 2007 anis 15 comments

Bukan, bukannya pingin ngebahas tentang pelajaran sejarah di blog. Tapi seperti yang kita tahu kalau jaman sejarah itu dimulai dengan adanya tulisan, maka tulisan ini membahas tentang tulisan. Kebetulan judul Research Report kelompok saya untuk Mata Kuliah PKI adalah “The Blogging Effect for Writing Culture Development in ITB’s Informatics Students” (yang dengan luar biasa kami selesaikan dalam waktu satu hari, ckckck… research sehari! Salut buat Bu Ketua, orang ini, dan orang ini [anggota yang lain… bikin blog dong, biar bisa saya link juga] ^_^). Dan mungkin karena hanya sehari, saya merasa “writing culture”-nya belum tergali. Karena itu saya ingin menuliskannya di sini, walaupun tetap dalam bentuk yang sangat terbatas, hanya berupa persepsi saya, dan tidak seindah dan segagah judul research kami itu.

Read more…

Categories: perception Tags:

Willy E. Coyote dan Manajemen Perubahan

December 31, 2007 anis 1 comment

road runner, willy e. coyote and friendsSiapa Willy E. Coyote? Apa seorang entrepreneur? Atau pakar manajemen? Trainer kah? Hahaha, bukan… dia musuhnya Road Runner di salah satu kartun Warner Brother (temennya Bugs Bunny…). Yup, saya ingin mengomentari kegagalannya dalam menangkap Road Runner (diluar konteks bahwa sutradara memang tidak menginginkan hal itu terjadi sehingga membuat skenario Road Runner selalu menang).

Seperti cerita-cerita kartun klasik lainnya mengenai berburu dan diburu, semisal Tom and Jerry, Sylvester and Twety, etc. (tapi cerita Road Runner paling monoton dan paling cocok untuk dijadikan contoh) cerita Road Runner berkisah tentang beragam upaya yang dilakukan Willy E. Coyote dalam menangkap Road Runner, namun selalu gagal. Kegagalannya seringkali berupa suatu kebodohan yang mungkin dilakukan, walau tak jarang hanya khayalan “lucu” sang sutradara.

Yang sering saya pertanyakan adalah, mengapa Willy E. Coyote atau tokoh sejenis tidak menggunakan cara yang sama yang telah dievaluasi dan dibenahi sedemikian rupa dari cara-cara yang sudah gagal? Read more…

Categories: perception Tags:

Budaya “Positif”, Kok “Negatif”?

November 2, 2007 anis 3 comments

Ada space antara aksi dan reaksi manusia, space itu bernama pilihan

Ada banyak kebiasaan aneh yang secara sadar atau tidak sadar berkembang di sekitar kita, bahkan sadar atau tidak masih saya lakukan. Saya menyoroti dua kebiasaan aneh dalam tulisan ini. Kebiasaan itu adalah:

  1. Memuji

Suatu hari saya berada di sebuah sekre menunggu rapat sambil merangkum hasil kuesioner. Seorang teman datang, “Eh hari ini kuis X ya?”

“Dosennya sih bilang gitu,” jawab saya karena memang sang dosen menyuruh kami membaca bab satu dan dua serta bersiap untuk kuis.

Kemudian teman saya itu meminjam buku saya. Saya tak menggunakan buku itu saat itu, karena saya harus menyelesaikan rangkuman kuesioner hari ini, maka rencana saya untuk membaca saya tunda (alasan… padahal mah malas belajar ^_^). Teman saya itu mulai membaca buku.

Lalu beberapa orang yang juga berada di sekre itu mulai berkomentar, kira-kira komentarnya seperti berikut, “Wah rajin bener baca buku X, seumur-umur gw belum baca tuh buku, emang angkatan 2005 keren!”

Dan setelah komentar itu meluncur, selang beberapa menit teman saya berhenti membaca. Ia menutup buku X itu sambil berterima kasih saya telah meminjamkannya.

Saya tak berkomentar. Tapi saya merasa ada yang salah. Apa teman saya terpengaruh komentar itu? Saya tidak tahu…

Tapi hal semacam itu sangat sering terjadi. Misalnya ketika ada orang ke perpustakaan lalu dipuji dengan kalimat, “Deuh rajin bener”. Atau yang suka ke masjid lalu lewat dipuji dengan, “Duh bau surga, bau surga…”

Kalau saya lihat sih sebenernya nggak ada masalah. Yang dipuji harusnya berterima kasih karena sudah didoakan. Dan yang memuji juga kalau niatnya memang memuji ya nggak masalah. Tapi masalahnya adalah ketika yang memuji bukan berniat untuk memuji dan yang dipuji adalah orang yang takut dianggap freak.

Walau hal itu nggak berlaku untuk semua orang. Saya menemukan banyak orang di sekeliling saya yang dapat memfilter “saya sosial” yang negatif untuk mempertahankan “saya diri” yang positif demi “saya ideal” yang mereka idamkan, karena mereka punya tujuan hidup dan bisa mengesampingkan hal-hal diluar tujuan hidup mereka. Tapi tidak jarang saya temukan orang-orang yang belum steady dengan tujuan hidup mereka sehingga mudah terbawa lingkungan.

Jadi jika memang berniat memuji, pujilah dengan tulus, walau mungkin orang yang dipuji menangkap lain dari yang kita maksud, toh niat kita memang benar. Dan kalau kita dipuji, ya bersyukurlah, walau orang yang memuji terlihat tidak tulus, toh kita kan nggak tahu niat mereka.

  1. Menyemangati

Budaya yang satu ini terasa ketika kita berada dalam kelompok untuk mengerjakan sesuatu. Tugas kelompok misalnya. Si A bilang, “Ayo B semangat!”, si B bilang, “Semangat C!” si C bilang, “D ayo semangat!” dan seterusnya (tergantung jumlah orang dalam kelompok, 3 untuk MatKul SI dan IB, 4 untuk OS dan BD, hehe apa sih?).

Memang menyemangati sih, tapi seringkali kalimat semangat itu terasa seperti, “Semangat ya ngerjainnya, saya nggak bisa bantu banyak, dan cuma bisa bantu dengan doa! Pokoknya aku padamu lah!”

Nggak berlaku untuk semuanya sih, tapi itu yang sering saya rasakan ketika saya sendiri mengucapkan kalimat semangat itu. Walau pada kenyataannya kita seringkali memang bekerja sama.

Sekali lagi nggak ada yang salah kalau yang mengucapkan memang benar-benar memberi semangat tanpa tujuan lain, dan yang diberi semangat tidak berpikiran buruk.

Tapi itulah menariknya, setiap kita mungkin memiliki persepsi yang berbeda-beda. Bukan masalah, ketika kita bisa mempertahankan yang positif sebagai positif dan jauh lebih baik ketika kita bisa mengubah yang negatif jadi positif.


N.B. Punten pisan kalau ada yang merasa jadi pemeran di cerita saya ini :D … sebenernya saya masih jadi pemeran utamanya kok :D

Categories: perception, review Tags:

Kunjung Kampung

October 22, 2007 anis 2 comments

Malam kedua lebaran, seperti biasanya keluargaku berkunjung ke rumah kakek-nenek di Singaparna, Tasikmalaya. Di sana berkumpul hampir semua paman dan bibiku.

Sedikit menyedihkan, karena tinggal satu kakakku yang belum menikah, dan ia pun tak ikut ke Tasik, maka aku yang jadi sasaran pertanyaan, “Kapan nikah?”, “Siapa calonnya? Udah ada?”, “Mudah-mudahan dimudahkan jodohnya,” bahkan kakekku sampai berkata, “Sekolah jangan lama-lama!”…. Hiks hiks…. Eh bukan ini yang ingin kubahas.

Saat itu keluargaku hendak mengunjungi sanak yang lain, yang masih berada di daerah Tasik. Kami mengendarai mobil masuk ke desa yang makin kecil. Anak-anak yang tengah bermain petasan tradisional (dibuat dari bambu) berhenti sejenak untuk mengejar mobil kami sekadar untuk menyentuhnya. Ck ck ck… serasa sinetron orang kota masuk desa.

Karena tidak tahu pasti alamatnya, kakakku turun untuk bertanya pada seorang bapak yang tengah mencangkul. Ternyata ia tidak tahu karena ia pendatang baru, tapi ia tidak hanya berkata tidak tahu, ia mengetuk pintu tetangganya untuk bertanya. Ketika tetangganya tak juga membuka pintu, mungkin karena tak ada di rumah, ia mengetuk pintu rumah yang lain. Hal yang mungkin biasa ia lakukan untuk membantu orang lain. Tapi bagiku (yang sudah jarang menemukan orang yang mau bolak-balik untuk membantu orang yang bahkan tak ia kenal) apa yang diperbuat bapak itu adalah luar biasa.

Yang lebih mengagumkan, orang-orang yang bukan pendatang baru di sana saling mengenal, karena itu dengan mudah kami bisa menemukan rumah sanak saudara kami itu. Aku malu, karena kadang ditanya alamat tetangga yang satu komplek denganku pun aku tak tahu.

Setelah sampai, sanak saudara kami itu menyambut kami dengan luar biasa. Padahal sudah bertahun-tahun kami tak bertemu. Tak ada rasa sungkan dan kagok, mereka mwnunjukkan keakraban walau dipenuhi dengan kesederhanaan. Lagi-lagi hal itu membuatku malu, kadang aku sulit akrab dengan teman, bahkan masih sering lupa nama teman yang sudah lama dikenal.

Itulah hal yang membuatku takjub setiap kali bertandang ke kampung (Tasik yang ditinggali keluarga kakek ada di daerah pedesaan). Orang-orangnya…. Ya, orang-orang tulus, ramah, dan selalu siap membantu. Orang-orang sederhana, lugu, dan polos. Orang-orang yang sulit kutemui di kota, bahkan di kampus di mana orang-orangnya merupakan orang-orang terpelajar. Orang-orang yang bahkan jarang kutemui dalam diriku sendiri.

Categories: moment Tags: ,

Lebaran Mereka

October 22, 2007 anis 2 comments

15 Oktober 2007_3 Syawal 1428

Jangan terlalu lama melihat langit, karena langit terlalu indah dan sinar mentarinya menyilaukan. Lihatlah tanah… tanah yang hitam, berdebu, dan kadang berlumpur, tapi ternyata itulah yang kauinjak. Jangan terlalu lama melihat ke atas, karena itu bisa membuatmu jadi manusia serakah. Lihatlah ke bawah dan kau akan menemukan banyak hal untuk kau syukuri.

Menjelang Ramadhan berakhir dan euphoria menjelang Idul Fitri mulai terasa, entah kenapa saya justru berpikir tentang orang-orang yang “tidak merayakannya”. Ya, entah karena pekerjaan mereka, atau karena “keterbatasan” mereka dalam merayakannya.

Banyak orang yang saya temui ketika hari H, tapi masih juga bertugas sebagaimana biasanya bahkan lebih keras justru karena moment Idul Fitri. Sebutlah polisi, yang bahkan di satu ketika di kawasan Nagrek, mereka “rela” mengenakan topeng badut untuk menghibur para pengguna jalan yang dilanda macet. Padahal para pengguna jalan itu notabene tengah “merayakan” Idul Fitri dengan bermacet-macet ria untuk mudik, tidak seperti para badut jadi-jadian itu.

Para wartawan, kameramen, jurnalis, dan petugas televisi lainnya. Bagaimana ya Idul Fitri mereka, sementara mereka terus menyediakan berbagai tayangan untuk orang-orang yang merayakan lebaran?

Setelah berkunjung ke sanak saudara, saya sempat menginap di hotel. Dan pemandangan orang-orang yang tidak merayakan lebaran kembali bertebaran di mata saya. Ya, para petugas hotel itu masih juga sibuk, bahkan lebih sibuk karena masa Idul Fitri adalah masa liburan. Padahal mereka melayani orang-orang yang “merayakan” Idul Fitri tidak seperti mereka. Hal itu terjadi juga di banyak tempat wisata yang lain.

Dalam sebuah koran yang saya baca, saya menemukan lagi sosok lain yang “merayakan” lebaran justru dengan menyapu jalanan. Ia menyapu jalan lebih lama dan lebih luas dari biasanya justru karena petugas yang lain libur untuk merayakan lebaran.

Masih di koran juga, para penghuni panti jompo “merayakan” lebaran dengan sepi. Tak ada ketupat atau kari ayam. Tak ada ramai-ramai silaturahim, karena bahkan sanak keluarga mereka pun tak juga datang untuk menjenguk.

Dan masih saya pertanyakan, bagaimana ya Idul Fitri yang “dirayakan” para anak jalanan? Apa mereka merayakannya juga? Atau “cukup kenyang” melihat orang lain yang merayakannya? Apa yang mereka makan saat saya makan opor ayam plus sambal goreng kentang? Apa yang mereka kenakan saat saya mengenakan baju baru? Apa mereka menerima ucapan selamat Idul Fitri ketika saya mendapat lebih dari 40 SMS?

Lalu bagaimana dengan para ayah yang tidak mampu? Yang mungkin salah satunya diberitakan di TV dengan kriminalitas beralasan untuk merayakan Idul Fitri? Hatinya mungkin teriris ketika anaknya menatap sedih temannya yang “merayakan” Idul Fitri dengan segala yang baru, yang dibeli dengan uang.

Bagaimana dengan ibu yang tidak bisa memasakkan masakan enak saat Idul Fitri, bukan karena ia tidak jago memasak, tapi yang ada di dapurnya hanya ada beras bahkan mungkin tak ada apapun.

Bagaimana ya, Idul Fitri para penghuni LP? Apa mereka merayakan Idul Fitri karena mendapat keringanan hukuman dari pemerintah? Apa Ramadhan berdampak pada mereka?

Bagaimana ya? Sementara sebuah tulisan di sebuah koran mengkalkulasikan pengeluaran masyarakat Bandung dalam mengisi Ramadhan dan Idul Fitri mencapai angka 900 miliar?

Dan masih banyak lagi orang-orang yang ingin saya tanyai tentang cara mereka “merayakan” Idul Fitri. Tak pelak saya bertanya pada diri saya sendiri, “Gimana kamu merayakannya Nis?” Apa dengan cukup dengan berbahagia masih bisa menikmati masakan mama yang luar biasa enak… ketupat, kari ayam, sambal goring kentang, acar dan berbagai kue kering? Cukup dengan senang masih bisa mengunjungi nenek dan kakek serta sanak keluarga yang lain? Cukup dengan senyum terkembang setiap kali bersilaturahim dengan tetangga atau menerima SMS? Cukup dengan bersenang-senang menikmati liburan bersama kelurga?

Ternyata saya sendiri pun masih tak banyak bersyukur atas apa yang saya miliki, saya terima, saya lakukan. Banyak hal yang luput dari rasa syukur saya. Banyak, bahkan terlalu banyak. Nikmat-Nya memang tidak pernah bisa terukur, tapi bukan merupakan kesalahan jika kita berusaha “menghitung-hitungnya”.

Dan kau, bagaimana kau “merayakan” lebaran? Setujukah bahwa lebaran bukan untuk dirayakan?

Categories: perception Tags:

Alat Ukur Kelembutan Hati

October 10, 2007 anis 3 comments

Alat ukur kelembutan hati? Emang ada? Siapa yang ngerancang Sistem Informasi-nya? Itu termasuk Artificial Intelligence ya? Bikinnya pakai Basis Data? Operating System-nya pakai memory management yang monoprogramming ya? Bisa dipasarkan jadi usaha kecil? (duh kalau ada yang nanya kayak gitu pasti dah keracunan mata kuliah tingkat tiga! Siap UTS deh!^_^)

Kelembutan hati… apaan sih? Apa hati ayam yang dimasak jadi sambal goreng rasanya lembut? (waduh puasa…) atau hati yang nggak bisa menetrasi racun saking lembutnya? Atau Hepatitis kah? Walah bukan….!

Emang sulit mendefinisikan kelembutan hati, tapi buat saya ada beberapa hal yang bisa jadi indikator kelembutan hati saya.

1. kalau saya lagi naik Mercedes Benz (duh gaya banget) berbentuk kotak bertuliskan “DAMRI”, dan saya dapat tempat duduk, terus ada orang naik dan nggak kebagian tempat duduk. Saya ngerasa hati saya sedang dalam kondisi baik kalau saya dengan senang hati (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan) ngasihin kursi tempat duduk saya buat orang lain, terutama orang tua, yang nggak kebagian tempat duduk itu.

2. kalau saya lagi naik angkot, saya ngerasa hati saya dalam kondisi yang baik kalau saya mau geser ke belakang (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan) pas ada penumpang yang baru naik walau tempat tujuan saya tinggal sekerjap mata lagi.

3. kalau ada orang, terutama orang yang udah lebih dari separuh baya, bawa barang banyak. Saya ngerasa hati saya dalam kondisi yang baik kalau saya mau menghampirinya dan bertanya, “Bisa saya bantu?” (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan).

4. kalau ada orang yang terlihat membutuhkan. Saya merasa hati saya sedang dalam kondisi baik kalau saya mau memberi sesuatu (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan) yang saya suka sama orang tersebut.

5. kalau ada waktu senggang, saya ngerasa hati saya sedang dalam kondisi yang baik kalau saya (tanpa ngedumel atau ngerasa hebat) memanfaatkan waktu itu buat hal-hal yang bermanfaat.

6. kalau harus membicarakan masalah-masalah serius dan berat, semisal amanah, tanggung jawab, kewajiban, dll. Saya ngerasa hati saya sedang dalam kondisi baik kalau saya (tanpa ngedumel atau ngerasa hebat) bisa nangis karena ketakutan atas apa yang harus saya pertanggungjawabkan.

7. kalau ngeliat ada sampah tergeletak, saya ngerasa hati saya sedang dalam kondisi yang baik kalau saya (tanpa ngedumel atau ngerasa jadi pahlawan) memungut sampah itu dan memasukkannya ke tempat sampah.

Dan sebenernya masih banyak kondisi lain yang bisa jadi parameter… banyak… banyak banget… tapi syetan itu pinter. Bisa aja ketika kita merasa hati kita dalam kondisi yang baik, justru itu dilakukan syetan biar kita merasa puas, merasa hebat.

Termasuk ketika saya nulis ini. Hahahaha bisa aja saya nulis ini emang karena saya sombong. Dan bisa jadi ketika saya bilang kalau saya sombong karena nulis ini, itupun karena saya pingin dibilang nggak sombong. Dan bisa jadi ketika saya bilang kalau saya pingin dibilang nggak sombong gara-gara bilang saya sombong karena nulis ini, itupun karena saya pingin dianggap keren. Dan bisa jadi ketika saya bilang saya pingin dianggap keren gara-gara bilang saya nggak sombong karena bilang saya sombong untuk tulisan ini, itupun karena saya pingin dianggap ikhlas. Dan bisa jadi ketika saya bilang pingin dianggap ikhlas (euleuh euleuh iraha beresna?)

Ya begitulah ikhlas itu berlapis-lapis. Jadi yang bener-bener tahu kita tuh ikhlas atau nggak, ya cuma Sang Pemilik hati. Jadi yang saya tulis itu cuma catatan kecil, yang buat saya bisa jadi pengukur kelembutan hati saya (walau nggak mutlak dan saklek), tapi yang lebih penting, itu tak hanya bisa jadi pengukur tingkat kelembutan hati. Jika dipaksakan untuk dilaksanakan, insya Allah bisa juga jadi alat pembuat lembut hati.

Pembuat lembut hati? Wah yang ini buatan software house mana? Siapa yang ngerancang Sistem Informasi-nya? aaarrgghh jangan mulai lagi!

Categories: perception Tags: ,

Mahasiswa Kupu-Kupu

October 10, 2007 anis 7 comments

Akhir Maret 2007

Hari itu setelah kuliah pagi, saya berkunjung ke SMA untuk menghadiri sebuah acara DKM. Karena jam tiga ada kuliah lagi, saya pamit duluan dan segera nongkrong di angkot Kelapa-Dago.

Di perjalanan kembali ke kampus, saya berpapasan dengan rombongan kecil mahasiswa, mereka mengacung-acungkan kertas berukuran A3, dan semuanya mengenakan jas hijau tua, jas almamater ITB. Ooh mereka lagi ngadain aksi toh! Saya cuma bisa ngasih semangat dalam hati.

Ternyata pak supir dan seorang penumpang yang duduk di samping pak supir ikut memperhatikan rombongan kecil itu.

“Lagi demo naon nya?” tanya pak supir.

“Kayaknya sih demo itu, masalah pembangunan di Punclut, KBU, Kawasan Bandung Utara.” Jawab si penumpang.

Aku ikut menikmati pembicaraan itu, ya saat itu memang sedang masalah KBU sedang hangat dibicarakan. Pembangunan di kawasan itu kabarnya bisa merusak daerah resapan air. Dan lagi uang ganti untuk masyarakat dikatakan minim.

“Ooh meni sepi nya?” tanya pak supir lagi.

Ya, memang sangat sepi, hanya satu mobil bak terbuka yang ditumpangi sekitar lima sampai tujuh orang. Lalu di belakang mobil ada beberapa orang yang berjalan kaki.

“Yaah, kalau dulu jaman saya mahasiswa, kalau ada demo kayak gini semua mahasiswa tuh turun. Sekarang mah mahasiswanya kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang, bobogohan wae di kost-an.” Komentar sang penumpang pedas.

Saya sedikit panas mendengarnya. Ya, walau merasa tidak termasuk mahasiswa kupu-kupu (karena nggak mungkin kuliah-pulang kuliah-pulang karena rumah saya jauh), apalagi bobogohan di kost-an (ya iyalah, orang saya nggak nge-kost ^_^), tapi memang harus saya akui peran saya sebagai mahasiswa belum benar-benar saya lakonkan dengan baik.

Sebelum turun dalam perjalanan singkat itu, saya masih sempat mendengar pak supir berkomentar, “Ya iyalah kayak gitu, da ayeuna mah nu karuliahna oge anak-anak kaya.”

Saya hanya tersenyum miris. Teringat wawancara yang pernah saya lakukan untuk tugas PPAB HMIF waktu masih tingkat satu. Tugas itu untuk mewawancarai petinggi-petinggi kabinet KM. Waktu itu kelompok saya kebagian mewawancarai Menteri PM (Pengabdian Masyarakat). Banyak hal yang diutarakan oleh beliau, tapi yang paling saya ingat adalah ketika beliau mengungkapkan analisis beliau ketika ditanyakan mengapa demo selalu sepi. Intinya beliau mengatakan karena mahasiswa sekarang tak merasakan langsung kesulitan yang dirasakan masyarakat. Jika masyarakat menengah ke bawah sudah merasa sangat kesulitan dengan naiknya harga BBM, maka mahasiswa ITB yang sekarang mayoritas merupakan kelas menengah ke atas tak akan merasakan langsung beban itu, kalaupun merasakan, karena masih mampu, ya tidak akan merasa begitu terbebani.

Apa itu benar ya? Saya memang sering dengar tentang kekritisan mahasiswa “jaman dulu”. Jaman ketika diskusi adalah pemandangan biasa di sudut-sudut kampus, bahkan mereka rela berdiskusi sampai pagi menjelang. Jaman ketika ada seorang anak SMA yang bahkan ingin masuk ITB karena melihat mahasiswanya melakukan aksi. Jaman ketika mahasiswanya hidup sederhana (bahkan saya pernah dengar ada mahasiswa yang tak mampu membeli buku, ia kemudian menginap di kost-an temannya, ia menunggu temannya selesai belajar. Ketika temannya sudah tertidur, baru ia meminjam buku milik temannya itu)

Atau ini memang bukan jamannya lagi? Apa diskusi sudah merupakan hal yang kuno, makanya bukan diskusi yang ditemui di sudut kampus tapi pasangan-pasangan yang sedang berasyik masyuk?

Ya, banyak yang beralasan, “Buat apa sih aksi? Bikin ricuh aja, lebih baik kan tindakan nyata aja! Konkret aja deh!” Saya pribadi sangat setuju dengan kata-kata itu, konkret… tapi benarkah orang-orang yang berkata konkret itu sudah menkonkretkan kalimatnya? Jika ya syukurlah, jika tidak….

Banyak juga yang berkata, “Udah bukan jamannya lagi yang kayak gitu, apalagi beban akademis yang makin menggila, udah nggak ada waktu lagi.”

Saya hanya bisa berkomentar, duh kasian bener mahasiswa sekarang, saking sibuknya, mereka udah nggak bisa lagi nonton di bioskop, kasian banget nggak bisa jalan-jalan di mall, kasian mereka nggak ada waktu buat baca komik.

Lalu sebenarnya mahasiswa itu harusnya gimana sih? Wah klo itu sih jangan tanya saya, tanya aja sama orang-orang yang bikin perguruan tinggi dan menjadikan manusia-manusia yang masuk ke dalamnya jadi bernama mahasiswa! ^_^

Hahaha… tulisan yang aneh bukan? Nggak ada konklusinya, ya biar pada nyari sendiri, pencarian oleh diri biasanya lebih “lucu dan menarik”.

Klo pak supir tadi bisa berkomentar, kira-kira dia bakal bilang “Euh goreng tungtung!” ^_^

Categories: moment, perception Tags: