Latest

Akhirnya…

Setelah penantian panjang (padahal biasa aja), akhirnya putra pertama kami lahir pada tanggal 22 November 2010 dengan berat 2800gram dan panjang 48cm. Cukup kecil untuk ukuran bundanya yang sudah semakin jumbo ini😄. Tadinya berharap si adek muncul di tanggal 01-11-10 sih biar angkanya palindrome haha, tapi apa daya ternyata adek lebih memilih dua angka dobel sebagai hari kelahirannya, saat usia kehamilan mencapai 40 pekan lebih 3 hari.

Dini hari, seperti umumnya ibu hamil yang sulit tidur, saya terbangun karena kontraksi otot pengatur urine. Ba’da qiyamul lail, sekitar jam 2 saya yang memutuskan tidur lagi malah tidak bisa tidur. Mulas-mulas yang saya kira biasa mulai terasa dengan frekuensi 15 menit sekali. Akhirnya saya memutuskan bangun.

Awalnya saya kira mulas-mulasnya bukan karena mau melahirkan, soalnya dari cerita banyak orang mulas-mulas mau melahirkan itu dimulai dari frekuensi beberapa jam sekali dan semakin lama jadi semakin sering, nah saya kan langsung 15 menit sekali. Tapi kakak saya yang kemudian terbangun karena tahu saya terbangun bercerita kalau saat dia akan melahirkan pun mulas-mulasnya langsung berfrekuensi sering. Wew, inikah saatnya kamu lahir Nak?

Tak lama mama juga terbangun. Karena saya sering menjahili mama dengan berpura-pura sudah mulas, awalnya mama tak percaya kalau saya benar-benar mulas😄. Akhirnya setelah beberapa lama beliau percaya juga dan mulai berbenah, baju dan perlengkapan adek yang sedianya sudah rapi dalam satu tas, dibongkar ulang mama hingga hanya menyisakan sedikit untuk dibawa (karena belum 100% percaya saya mulas XD). Dan berangkatlah kami ke rumah bersalin.

Sekitar pukul 4 kami sampai di rumah bersalin. Saya langsung diperiksa dan divonis bukaan 3. Wew, kapan bukaan 1 dan 2 nya ya…. Suster yang menangani memerintahkanagar saya langsung dirawat. Dan karena bawaan perlengkapan yang dibawa cuma sedikit akhirnya mama harus bolak-balik lagi ke rumah. Amisu yang baru kemarin sore pulang ke Jakarta terpaksa balik lagi ke Bandung paginya😛.

Setengah tujuh saya yang sedang berjalan-jalan atas perintah suster berhenti sejenak. Ketika istirahat itulah, ketuban saya pecah dan saya divonis sudah bukaan 5. Mungkin karena ketuban yang pecah duluan itu, saya diperintahkan untuk diinduksi. Mulas makin terasa. Sekitar pukul 10.30 cairan infus baru habis setengahnya dan saya sudah mulas luar biasa, tapi apa daya dokter bilang kepalanya masih di atas, masih bukaan 7-8 dan saya harus menunggu sampai infus habis. Wooot dari mulai diinfus sampai habis setengahnya itu memakan waktu 4 jam, berarti saya harus nunggu 4 jam lagi???

Tapi ternyata tidak, karena sekitar jam 11 saya yang sudah tidak tahan mulai memohon untuk memulai proses persalinan. Suster yang jaga di ruang persalinan hanya satu orang, dan dia pun hanya berkata, “belum bu, tarik nafas keluarkan dari mulut!”. Karena saya keukeuh sambil nangis-nangis, akhirnya saya diperiksa ulang, bukaan lengkap, suster yang tak percaya kemajuan dari bukaan 7-8 sampai bukaan lengkap memakan waktu sebentar ini langsung memanggil dokter dan suster yang lain.

Dengan amisu yang memegangi kaki kiri dan saya sendiri memegangi kaki kanan, satu-dua kali mengejan dan muncullah suara yang kami tunggu…. alhamdulillah Allahu akbar…. selamat datang putraku.

Fakhri Akbar Rasyad

Fakhri Akbar Rasyad

Terima kasih Yaa Rabb telah memudahkan segalanya, dari mulai awal kehamilan hingga lahirnya si kecil. Nampaknya tidak ada kesulitan berarti seperti cerita sahabat-sahabat yang terlebih dahulu bersalin. Walau si kecil sempat dilarikan ke RS karena hiperbilirubin ABO incompatibility, tapi rasanya semuanya begitu dimudahkan hingga si kecil sekarang sudah aktif kembali. Terima kasih juga sudah memberikan saya kekuatan hingga bisa mendampingi si kecil, bolak-balik ke rumah sakit walau masih dalam perawatan pasca melahirkan. Sungguh tak ada kekuatan tanpa izin-Mu.

Terima kasih untuk amisu, atas keliling Jakarta demi pencarian cincau, atas pijatan tengah malam ketika saya kram, atas perhatian ketika saya mual dan pilah-pilih makanan, atas kesediaan bolak-balik Jakarta-Bandung, atas malam minggu yang kita habiskan di ruang tunggu dokter, atas kesediaan menunggui di ruang bersalin.

Terima kasih untuk mama, setelah saya yang merepotkan dulu sewaktu bayi, sekarang mama harus direpotkan lagi oleh bayi saya. Terima kasih atas semuanya, sekarang saya semakin paham betapa sayangnya mama pada saya. Dan atas kepahaman itu, saya semakin sadar bahwa tak akan pernah saya bisa mengganti apa yang mama berikan untuk saya. Mungkin karena itu doa untuk orang tua adalah agar Allah menyayangi dan membalas mereka, karena kasih sayang mereka tak akan terbalas oleh saya.

Terima kasih untuk semua keluarga, saudara, dan rekan-rekan atas semua doa dan dukungan mulai dari awal kehamilan sampai si kecil lahir. Karena doa dan dukungan dari semua, segalanya bisa berjalan dengan lancar.

Nopels

Sebenernya beberapa novel ini udah saya baca beberapa waktu lalu, tapi pengen saya tulisin aja biar saya inget apa isinya. Oke ini dia…

To Kill a Mockingbird

Ini adalah salah satu novel klasik modern yang sering masuk 100 besar novel terbaik sepanjang masa berbagai versi (BBC, Times, dll). Hebatnya, novel ini adalah tulisan pertama sang penulis, Harper Lee, yang langsung dianugerahi penghargaan Pulitzer. Dan saya bilang sih novel ini memang sangat layak untuk itu.

Dari sudut pandang gadis enam tahun, novel ini bercerita tentang kondisi pada saat itu yang kental akan rasialisme. Tentang keluarga dan kehidupan sosial di masa pertengahan abad 19. Yang menjadikan novel ini menarik menurut saya jelas alur ceritanya, ketika idealisme harus bertarung dengan kondisi masyarakat yang ada. Karena puncak cerita berkembang ketika tokoh ayah yang bekerja sebagai pengacara memilih untuk membela seorang pemuda berkulit hitam atas dakwaan pemerkosaan terhadap gadis kulit putih.

Selain dari segi cerita, menurut saya latar dan penokohannya juga disampaikan dengan baik. Mungkin karena (walaupun dibantah oleh penulisnya) banyak orang-orang di sekitar penulis yang menganggap novel ini mirip kisah sang penulis di masa kecilnya, jadi semacam autobiografi lah. Mungkin karena itu penulis bisa sangat menghayati tulisannya. Apapun itu, buat saya ini salah satu novel cantik yang menawarkan kaya pesan moral namun tetap dibungkus dalam bahasa yang ringan.

“They’re certainly entitled to think that, and they’re entitled to full respect for their opinions… but before I can live with other folks I’ve got to live with myself.  The one thing that doesn’t abide by majority rule is a person’s conscience.” By  Atticus Finch.
“I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand.  It’s when you know you’re licked before you begin but you begin anyway and you see it through no matter what.  You rarely win, but sometimes you do.” By Atticus Finch.

Makasih buat Mia yang udah minjemin buku ini di subuh-subuh sebelum kita berangkat kerja😛

The Alchemist

Wooo ini buku Paolo Coelho pertama yang saya baca, habisnya penasaran banyak banget yang suka sama novel ini (bahkan teman yang setau saya jarang nangis bisa dibuat nangis, siapa cobaaaa…) hingga akhirnya saya beli juga ni buku. Ternyata pas saya cari-cari buku ini juga sering masuk di 100 besar novel terbaik, walau peringkatnya masih cukup jauh di bawah To Kill a Mockingbird.

Jadi apa isi novel ini? Hmm kalau saya bilang sih yang paling menarik dan bikin orang-orang suka pada novel ini karena novel ini bertaburan hikmah, walau saya merasa itu common wisdom. Jadi novel ini bercerita tentang perjalanan seorang pemuda, tentang mimpinya, tentang perjuangannya, tentang hati, tentang kepercayaan. Sebenarnya buku ini mengangkat tema yang cukup berat, tapi dituturkan dengan cukup ringan, hingga tidak terkesan menggurui.

Tapi entahlah, saya (dan amisu, hyaaa ntahvava kami serupa XD) kurang menyukai novel ini. Saya pribadi membandingkan novel ini dengan dengan The Road To Mecca (karena sama-sama bercerita tentang perjalanan) dan saya masih merasa The Road To Mecca menang, selain lebih kaya akan penuturan budaya (di sepanjang novel akan terasa penuturan tentang budaya dan kebiasaan beberapa daerah), lebih menyejarah (latar belakangnya beberapa peperangan), lebih “bercerita” (entah kenapa saya malah hampir melongo setelah menamatkan The Alchemist, “what… that’s it?”), dan lebih menyentuh (huaaa saya nangis di beberapa scene). Tapi sekali lagi itu subjektif sih😛

Bumi Manusia (Buku pertama Tetralogi Buru)

Hiyaaaa bukunya Pramoedya Ananta Toer lagi! Setelah baca yang ini dan yang ini, akhirnya ada rejeki buat beli buku yang cukup fenomenal ini. Dibanding buku sebelumnya yang pernah saya baca yang berlatar belakang abad lampau, buku ini lebih “dekat” karena berlatar masa kebangkitan nasional di awal abad 19. Dan seperti yang umum diketahui, novel ini ditulis dalam pengasingan.

Novel ini bercerita tentang seorang pemuda yang mendapatkan pendidikan ala Belanda. Yak, buku ini memang bercerita tentang seseorang yang nyata adanya, seorang tokoh pers bernama Raden Tirto Adhi Soerjo. Perkenalannya dengan sebuah keluarga semi Belanda membawanya “berpetualang”. Apa yang menarik? Wooo kalo buku Pram pasti analisis sejarahnya. Saya terkagum-kagum dengan bahasa dan alur ceritanya, seolah saya dilempar ke masa lalu untuk mengetahui tidak hanya perkembangan budaya tapi yang lebih menarik buat saya adalah bagaimana pola pikir orang-orang Belanda, pribumi biasa, dan pribumi ningrat pada masa itu.

Karena ini tetralogi, jadi ceritanya masih bersambung, dan saya masih terseok-seok membaca buku bagian keduanya, hehe. Tapi after all, saya acungi jempol untuk buku ini. Saya merasa lebih mengenal negeri ini dan tingkat nasionalisme saya (wuidih) cukup meningkat setelah membaca buku ini. Well, moga suatu saat Pramoedya tidak hanya jadi salah satu kandidat pemenang Nobel Sastra, karena bagi saya beliau layak menjadi pemenangnya. Oya kabar-kabarnya novel ini akan dibuat filmnya, doh moga filmnya tidak mengecewakan….

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.”

The Golden Compass

Walau udah nonton filmnya beberapa tahun silam, tapi saya baru baca novelnya, dan kesimpulannya: I’ve got nothing from the movie😀. Yak seperti biasa, jika ada film berbasis novel, maka saya pasti lebih suka novelnya, hmm walau ada beberapa pengecualian sih.

Oke cerita dalam novel ini lebih bersifat fiksi. Buku ini berkisah seputar perjalanan seorang gadis bernama Lyra yang dipercaya sebagai penyelamat, namun tak ada yang boleh memberitahukan apa yang harus ia lakukan. Nah di buku pertama ini, Lyra dan daemonnya berusaha menyelamatkan sahabatnya. Upayanya itu tanpa ia sangka telah membawanya berpetualang menempuh bahaya hingga menemukan dunia baru.

Apa yang menarik? Hmm… sulit saya identifikasi mana bagian terbaik dari novel ini. Tapi bagi saya alur cerita, penokohan, dan latar digambarkan dengan baik. Buku ini memiliki ending yang cukup mengejutkan dan kejutannya itu sangat beruntun hingga orang yang suka membaca dari belakang rasanya tidak akan tertantang lagi untuk membaca dari awal.

Oya, sampai sekarang saya masih bingung kenapa novel ini diberi judul “The Golden Compass” karena katanya sih hal itu tidak merujuk ke alethiometer (suatu device yang cukup jadi pusat cerita di novel ini). Padahal penulisnya, Philip Pullman tadinya memberi judul Northern Lights untuk buku pertama ini dan The Golden Compasses untuk keseluruhan trilogi (sekarang lebih dikenal dengan His Dark Materials). Apa saya yang salah memahami ya😀.

Yak apapun itu, setelah baca buku pertamanya saya langsung penasaran dengan buku keduanya. Karena tidak seperti Harry Potter yang memberikan satu konklusi di setiap akhir bukunya, saya tidak menemukan konklusi apa-apa pada buku pertama ini hingga saya menyimpulkan bahwa saya harus membaca ketiganya dulu, moga tidak mengecewakan😛

A Thousand Splendid Suns

Hmm, padahal belum baca The Kite Runner😄. Yak ini novel yang saya baca dalam tempo berbulan-bulan, bukan hanya kendala bahasa (haha English saya memang buruk) tapi novel ini juga ketinggalan di Bandung setelah saya berdomisili beberapa bulan di Jakarta (huh ngeles :P).

Katanya sih buku ini ceritanya nggak jauh-jauh dari The Kite Runner, tentang perang di Afghanistan, kondisi masyarakat, sosial dan budayanya. Secara lebih spesifik novel ini bercerita tentang perjuangan dua orang wanita yang menjadi demikian dekat karena pengaruh perang dan suami mereka.

Buku ini memberikan saya gambaran lain tentang pola pikir orang-orang Afghanistan, pandangan mereka terhadap Taliban, terhadap Rusia, dan juga Amerika. Buku ini juga membuat saya baru mengetahui sedemikian buruknya perlakuan terhadap wanita yang Allahu’alam entah benar-benar terjadi atau tidak.

Bagi saya novel ini tidak terlalu menarik sih, rasanya terlalu bertele-tele dan ala sinetron😛. Endingnya pun tidak spesial karena dibuat terlalu panjang sementara di tengah-tengah cerita didominasi oleh kesedihan dan suasana suram. Hanya saja buku ini membuat saya bersyukur saya hidup di Indonesia, alam di mana Islam hidup dalam suasana moderat.

“One could not count the moons that shimmer on her roofs,or the thousand splendid suns that hide behind her walls.”

———————————————–

Wooot kok bacaannya novel semua ini? Hehe iya nih lagi malas baca yang berat-berat (padahal bukunya Bumi Manusia cukup berat kok dari segi massa :D), eh tapi ditengah-tengah saya masih sempetin baca buku-buku tentang kehamilan dan anak kok, tapi rasanya gimanaaa gitu kalo saya bahas disini😛. Yah mudah-mudahan kemalasan ini segera berakhir dan saya bisa membaca buku yang lebih berbobot setelah ini🙂

Ah ya berhubung tengah terjadi berbagai bencana di Indonesia ini, saya ikut berbela sungkawa. Jika ada yang memandangnya sebagai azab, maka saya ingin ikut beristighfar karena mungkin saya ikut andil dalam dosa negara ini. Jika ada yang memandangnya sebagai ujian, maka saya berharap saya ikut lolos dalam ujian ini karena toh ujian bukan hanya untuk yang dalam kesempitan tapi juga untuk yang dalam kelapangan.

Gara-Gara Kaskus

Spoiler alert: tulisan ini nggak akan banyak membahas tentang kaskus😛

Akhir-akhir ini jadi lumayan rajin ngaskus, seringnya nongkrong di lounge. Ada banyak artikel yang bikin saya menemukan “wow” karena keunikannya, ada banyak artikel yang ngasih masukan dan membuat saya berpikir, namun banyak juga artikel yang nampaknya hanya sampah. Ya… dan seringkali sampah-sampah itu membuat saya terpikir akan masa depan si adek yang akan segera lahir ini.

Pergaulan, terutama dengan lawan jenis. Tak hanya sekali saya menemukan orang yang tanpa malu mengungkapkan aib-nya dan mempostingnya untuk sekadar dapat cendol atau bahkan mencari bata (doh yang nggak suka ngaskus mungkin kurang paham ya :D). Dan jauh lebih sering lagi orang yang memposting aib orang lain yang bahkan tak mereka kenal. Tak perlulah post-nya dibaca, dilihat sekilas judul thread-nya pun sudah menjelaskan hal itu. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa para pelaku aib ini masih pelajar/mahasiswa.

Cinta, sayang, dks (dan kata sejenisnya) sering mereka jadikan alasan, pembenaran. Jika benar cinta alasannya maka berpikirlah beribu kali sebelum berdua-duaan karena setan mudah memperdaya saat itu. Sebelumnya berpikirlah beribu kali sebelum memutuskan berpacaran, karena pada umumnya berdua-duaan yang berbahaya itu bersama pacar bukan? Dan berpikirlah beribu-ribu kali sebelum jatuh cinta, karena kalau bukan karena jatuh cinta maka secara logis kemungkinannya lebih kecil untuk pacaran dan berdua-duaan. Mungkin terlalu digeneralisasi, tapi sulit bagi saya untuk menjabarkan yang sifatnya kasuistis.

Saya sendiri bersyukur bahwa saya tidak jatuh cinta pada suami saya, tapi saya mencintainya. Cinta yang saya yakini sebagai kata kerja, dan karena itu ia menjadi suatu usaha tersendiri. Saya bersyukur tidak mengenal suami saya sampai waktu-waktu dimana kami memutuskan untuk menikah. Saya bahkan bersyukur baru mengetahui sosok suami saya saat ia berkunjung ke rumah untuk memperkenalkan diri pada orang tua saya. Saya bersyukur karena saya memilih untuk mencintai bukan untuk jatuh cinta.

Teringat kisah Umar bin Abdul Aziz yang jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya melarangnya untuk menikah lagi. Di saat-saat kekhalifahannya, beliau bekerja sangat keras hingga sakit. Pada saat sakit itulah sang istri yang ingin memberikan dukungan mengizinkannya menikahi sang gadis. Namun rupanya karena cinta dan cinta yang lebih tinggi, beliau justru menolaknya dan justru menikahkan sang gadis dengan pemuda lain. Entah benar atau tidak, tapi saya merasakan adanya pergeseran dari “jatuh cinta” menjadi “mencintai” pada kisah tersebut. Cinta yang lebih bermakna. (kisah selengkapnya bisa dibaca dari artikel “Cinta Di Atas Cinta” oleh Anis Matta Lc.)

Saya tidak berharap cendol, dan kalau ada yang melempar bata juga saya terima-terima saja. Toh itu adalah pilihan… untuk mencintai atau jatuh cinta, dan sebagaimana biasanya… pilihan selalu disertai dengan konsekuensi.

Allahu’alam bishawab

Tulisan Pertama Untukmu

Sebenarnya dari awal kemunculanmu Bunda udah pengen nulis, tapi baru baru kesampaian sekarang, maaf ya Nak😛. Apalagi baru-baru ini ayah nulis kalau Bunda mulai hiatus dari dunia blog😄, ah sungguh tak bisa diterima…. hehehe.

Maret, hari itu adalah hari-hari yang cukup hectic bagi Bunda. Ya, karena hari itu adalah tenggat waktu pengumpulan persyaratan wisuda Bunda. Tapi tampaknya bukan hanya karena kelulusan Bunda yang membuat Bunda bisa tersenyum sepanjang hari. Bukan juga karena pelangi yang tiba-tiba menghiasi langit Bandung yang kala itu cerah. Ya, itu karena pagi-pagi buta Bunda mendapati dua garis pada testpack yang iseng-iseng Bunda beli. Bunda pikir… subhanallah cerdas sekali kamu Nak, memilih waktu kehadiran saat Bunda sudah lulus dan Ayah sudah mulai mendapat pekerjaan di Indonesia.

Trisemester pertama, waktu yang sering dikhawatirkan karena memang cukup rawan. Bunda baca dan dengar kebanyakan keguguran terjadi pada masa ini. Tapi Alhamdulillah meski kamu dibawa gonjang-ganjing naik motor berkeliling Jabodetabek demi pencarian tempat tinggal, kamu tetap sehat. Selain itu Bunda juga bersyukur betapa kamu tidak rewel hingga Bunda tidak mengalami morning sick, mual-mual berlebihan, atau ngidam yang aneh-aneh. Ah sekali lagi subhanallah, kamu cerdas ya Nak….

Layar hitam putih (yang sebenarnya tak Bunda pahami :D) adalah media pertama Bunda melihatmu. Dokter bilang jantungmu sudah terbentuk dan sudah berfungsi dengan baik. Takjub, mungkin kata itu juga tak cukup mendefinisikan perasaan Bunda. Ah betapa Allah Maha Kuasa ya Nak, tak akan pernah habis dikaji bagaimana proses kehidupan terbentuk, bagaimana rahim bisa menjadi tempat ideal untuk tumbuh dan berkembang, dan itu terjadi dalam tubuh Bunda!! Bukankah itu hal yang paling mengagumkan yang bisa dirasai oleh wanita…

Di awal trisemester kedua, Bunda sempat menangis semalaman karena bercak darah yang muncul. Bunda kira Bunda kehilangan kamu Nak, tapi esoknya dokter memastikan kalau kamu baik-baik saja. Alhamdulillah rasanya luar biasa lega. Dan di akhir trisemester kedua ini Bunda mulai bisa merasai gerakan-gerakan kecil yang kamu lakukan. Subhanallah, rasanya lucu, geli yang aneh😛. Setelah Bunda melakukan percobaan kecil, Bunda bersumsi kamu bergerak lebih aktif jika diperdengarkan bacaan Qur’an dan beberapa lagu klasik, atau jika Bunda mengajakmu ngobrol. Dan anehnya kamu bergerak cukup aktif seringkali di malam hari… hmm Bunda nggak keseringan ngajak kamu begadang kan Nak?

Oh ya, awalnya Ayah dan Bunda pikir kamu bergender perempuan, ternyata dokter bilang “burung”mu sudah terlihat, hihihi. Padahal sudah ada beberapa perbincangan antara Ayah dan Bunda tentang kemungkinan nama dan benda-benda yang ingin dibeli nanti kalau kamu perempuan. Yak kami harus mulai perdebatan baru kalau gitu😛.

Sekarang awal trisemester ketiga, rasanya Bunda udah kangen pingin ketemu. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihatmu lewat layar hitam putih setiap kali kunjungan Bunda ke dokter. Ah Nak, seperti apa dirimu? Sungguh Bunda tidak akan khawatir jika kamu mewarisi gen gemuk dari Bunda. Bunda tak khawatir rupamu mewarisi rupa Bunda atau Ayah. Sungguh Bunda ingin mengamini sebait lagu dari Raihan bahwa iman tak dapat diwarisi, karena keimanan Bunda yang lemah ini yang Bunda khawatirkan.

Ah, Nak, jadilah anak yang shalih ya… meski mungkin Bunda tak mampu menjadi prototype yang baik untukmu, dan Bunda sungguh minta maaf untuk itu. Ah Nak, seperti nenekmu pernah bilang pada Bunda bahwa kebahagiaannya bukan ketika anak-anaknya pintar dan mencapai prestasi tertentu meski itu pun pasti menyiratkan senyum bagi orang tua manapun. Ya, kebahagiaan sejatinya adalah ketika melihat anak-anaknya menjadi anak yang shalih. Maka Bunda hanya bisa berdoa moga Allah senantiasa menjagamu ya Nak, membimbingmu, karena Ia-lah sebaik-baik Pembimbing dan Penjaga sementara Bunda hanya orang yang beruntung dititipi dirimu.

Sampai ketemu ya Nak, moga Bunda bisa jadi ibu yang bijak dalam mengiringi tumbuh kembangmu.

Batas Kehormatan

Saya tengah melewati sebuah lapang kampus ketika sepasang pemuda-pemudi berjalan berpapasan dengan saya. Mereka tampak tengah asyik bercanda sambil saling menyilangkan tangan, berangkulan, bukan di bahu, tapi di perut. Mungkin saya terlalu berpikiran negatif, tapi rasanya mereka tidak tampak seperti sepasang suami istri (saya dan suami saya kalau berjalan di kampus bahkan menghindari berpegangan tangan… rasanya malu, malu kenapa? entahlah…) pun tidak tampak seperti adik-kakak apalagi ayah-anak atau ibu-anak😄.

Hal itu membuat saya teringat kejadian saat SMA. Saat itu karena kesalahan komunikasi kelompok drama saya tidak tahu hari dimana kami akan tampil, dan karena tidak siap, kami berakting penuh improvisasi. Saat itulah teman saya meletakkan tangannya di bahu saya karena kami berperan sebagai suami-istri. Entahlah, mungkin ada yang menganggap hal itu wajar, toh kami hanya bermain drama, toh itu improvisasi karena tak ada latihan sebelumnya… tapi pada akhirnya saya  cuma bisa menangis di kelas karena merasa batas kehormatan saya telah dilampaui.

Saya paham jika setiap orang punya batas kehormatan yang berbeda-beda. Tapi benarkah telah terjadi degradasi dari zaman ke zaman? Jika ya, kenapa? Apakah ada hubungannya dengan tayangan TV misalnya? Jika ya, bukankah para pembuat tayangan itu bersikukuh pembuatan tayangan itu berdasarkan fakta lapangan? Jadi siapa mempengaruhi siapa?

“Laki-laki itu dimana-mana ABCD, alligator, buaya, crocodile, dragon… jadi wanitalah yang berperan untuk menjaga dirinya…” sebuah kalimat dari seorang yang saya hormati. Dulu saya meningkahi kalimat itu dengan tawa, tapi ya… sekarang saya mengamininya. Meski laki-laki pun juga bisa, tapi sepertinya wanitalah yang bisa lebih berperan untuk menentukan batas kehormatannya.

Allahu’alam bishawab

Penyesalan Hari Ini

“Padahal handphone-nya masih baru,” pemuda berkulit cokelat matang itu terlihat masih shock dengan kejadian yang menimpanya.

“Ooo…” aku tak mampu berkomentar banyak, rasa bersalah masih menyisakan detak jantung yang tak beraturan.

“Biasanya saya nggak buka-buka handphone di tempat umum, takutnya disangka sombong atau apa, tapi ya tadi ibu saya nelepon,” dari sorot mata dan caranya berbicara aku bisa menduga kalau pemuda ini memang polos, apa adanya, dan sepertinya ia anak bungsu, sepertiku.

“Maaf ya,” kata itu terlontar juga.

“Ah nggak apa-apa, mungkin saya-nya sombong, jadi kayak gini. Mungkin emang bukan rejeki saya. Alhamdulillah cuma handphone, dulu sempet dirampok sampai ditusuk gitu. Waktu itu saya sampai gemeteran, sekarang berasa lemes aja.”

Aku terenyuh, dalam kondisinya ia masih bisa menemukan hal positif untuk dihadirkan dalam kepalanya. Sementara aku terpojok dalam beragam penyesalan….

Seandainya aku langsung curiga ketika…

“Pak ada muatan Pak!” seru seorang pemuda berkemeja kotak-kotak itu memberhentikan sopir angkot. Padahal biasanya sopir sangat awas terhadap calon penumpang, bahkan yang tidak akan naik pun ditawar-tawari untuk naik.

Pemuda berkemeja kotak-kotak itu memain-mainkan sejumlah uang di tangannya sambil cengengesan. Ia duduk menghadap pintu layaknya seorang kernet. Sementara itu sang penumpang baru yaitu seorang pemuda lain dengan wajah bulat telah duduk di samping kiri sang pemuda polos.

Seandainya aku tak hanya bertanya-tanya dalam hati saat…

Si pemuda berwajah bulat itu mencoba menukarkan sejumlah uang dengan si pemuda polos. Tapi kenapa harus dengannya? Bukankah si “kernet” jelas-jelas sedang memain-mainkan uang? Dan lalu kenapa saat tangan kanannya bertransaksi, tangan kiri si pemuda bulat itu bermain-main di bawah tas besar yang tampak kosong itu?

Seandainya aku langsung berteriak untuk mengalihkan perhatian saat…

Seorang pemuda berkaus hitam menaiki angkot. Si “kernet” entah kenapa menjegal si pemuda berkaus hitam ini hingga ia kesulitan untuk duduk . “Permisi mas!!” teriak si pemuda berkaus hitam pada si “kernet” yang malah semakin menjadi membuat si kaus hitam terdesak untuk melesak ke sisi kanan si pemuda polos yang masih dipusingkan dengan transaksi pergantian uang. Kejadian itu berlangsung beberapa saat dan aku tak bisa melihat dengan jelas karena badan besar si muka bulat menghalangi pandangan.

Seandainya aku cukup berani untuk berkata “copeett!!” ketika si kernet dan si kaus hitam turun dari angkot dan bertingkah layaknya sahabat padahal tadi mereka seperti hendak berkelahi.

Seandainya aku punya cukup bukti dengan membidikkan kamera, hingga ketika si pemuda polos menanyakan dimana handphone-nya pada si pemuda bulat aku bisa berkata bahwa si bulat salah satu komplotannya. Tapi tidak, si bulat dengan tenang berkata “handphone-nya diambil ama yang berdua tadi itu”, padahal dengan nalar yang cukup terang, tidak mungkin si bulat bisa langsung mengetahui ke mana handphone itu hilang jika ia tidak termasuk komplotannya. Kalaupun ia tak terlibat dan hanya melihat kejadiannya, kenapa ia tak menghentikan transaksi pergantian uang agar si pemuda polos bisa lebih memperhatikan handphone-nya?

Ah seandainya aku bisa berucap lebih dibanding hanya kalimat yang kuucapkan dengan bibir bergetar, “Astaghfirullah, moga pencuri handphone-nya sadar ya…”

Ah seandainya iman dalam dada ini lebih kuat hingga bisa mencegah kemungkaran dengan tindakan atau dengan kata-kata, tidak hanya dengan hati yang merupakan manifestasi selemah-lemahnya iman.

Dan sepanjang sisa perjalanan itu aku menyesal, menyesal atas kepengecutanku yang membuktikan lemahnya imanku….

Maafkan saya Dik… Ampuni hamba-Mu ini Yaa Rabb…

Ten Things I Hate About You

I hate when you drive your motorcycle… with no map, with no direction. It just makes me feel that I am losing time. Losing time for a terrible trips, but that aren’t trip anyway… those are adventures.

I hate when you buy me something… and buy yourself a-mini-version-of-something or even worse… a-no-thing. It just makes me feel greed… greed for your kindness and defeatism.

I hate when you talk… about unlucky peoples and you’ll start to sad for them. I hate when you push me to give some money to old green-grocery sitting in front of minimarket. I hate it cause it just makes me cry… for how generous you are.

I hate when you come to my family’s house. I hate when you understand them better than me. I hate when mom cooks for you and not for me. I hate it because it just keeps me for realizing that married is not just about you and me… it’s also about our family, and I hate that you’ve suit my family while I’m afraid I haven’t suit yours.

I hate when you can solve my problem. I hate when you help me with my final project. I hate when you always there every time I need a hand. I hate all those things because those things just make me sad for never been the same way for you.

I hate when you call me with epithet… “ndut”, “mon”, “mbrot”…. I hate it even I consider it’s reasonable for you to call me that way. I hate it because no one ever calls me so. I hate it because I know that the sobriquet is just the way you loving-kindness.

I hate it when you hit me. However, I know you only hit me when I’m about tickling you, and it also without your awareness of hitting me. Therefore, seeing you laugh aloud when I’m tickling you makes me forget that you ever hit me because of it.

I hate when you say “mau tau aja”… and try to surprise me every time you have a chance. It just makes me asking fussily. Anyhow, your coming into my life has become a big surprise for me. Since the very beginning, you’ve done many amazement things and now I’m curious for more stagger things you’ll do to startle me until our very end.

I hate when I have to write this for your birthday. It just makes me sad for knowing I have nothing to give you. I have nothing but to assure you that I’ll try my best for always stand beside you… to know you better… to accept more thing about you that I may hate.

I hate you for being my husband. I hate all the things you’ve done to me. I hate it because I conscious of how ungrateful I am for what He has granted me… you.