Puisi Cinta

Ada satu puisi cinta yang sampai sekarang selalu saya ingat. Walau saya juga penggemar puisi cinta “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono yang liriknya :

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

tapi puisi yang satu ini tak hanya saya gemari tapi juga saya tangisi….

Jika cinta adalah ketertawanan

Maka tawankah aku dengan cinta-Mu

Agar tak ada lagi yang mampu menawanku

Jika rindu adalah rasa sakit yang tak bermuara

Maka penuhilah rasa sakitku dengan kerinduan kepada-Mu

Dan jadikanlah kematianku sebagai muara pertemuanku dengan-Mu

Sesungguhnya hati ini hanya cukup untuk satu cinta

Jika ku tak memenuhinya dengan cinta-Mu

Akan kupalingkan kemana lagi wajahku?

Yusuf Qardhawi

Apa yang terasa?

Kalau saya, waktu pertama baca puisi itu, saya kagum atas rimanya. Saya menikmatinya seperti seorang pendengar yang mendengarkan pujangga kawakan pujaannya.

Semakin saya baca, saya semakin menyukai diksinya. Pilihan kata yang pas dan terasa manis. Saya menikmatinya seperti seorang murid yang mendengarkan guru favoritnya mengajar hingga setiap kata ia perhatikan.

Semakin saya renungi, saya makin gandrung dengan maknanya. Makna yang terkandung dalam rangkaian diksi yang berrima. Saya menikmatinya seperti seorang pesakitan yang mendengarkan dokter yang dipercaya akan menyembuhkannya.

Ya… cinta…. kalau Ti Pat Kay (si panglima yang dikutuk jadi siluman babi dalam cerita Son Go Ku alias kera sakti) bisa berkata, “Dari dulu memang begitulah cinta, deritanya tiada akhir…” maka saya bisa bilang, “Cintanya salah tuh!”

Ya, cinta adalah ketertawanan. Ketika kita jatuh cinta, maka pikiran kita tertawan oleh ia yang kita cinta. Kita akan mulai sering melamun, dan memikirkan ia yang kita cinta. Bahkan laku kita pun mulai tertawan, karena ingin terlihat sempurna (dan kalaupun ingin terlihat apa adanya, itupun karena ingin diperhatikan) oleh ia yang tercinta. Tapi seringkali kita tak menyadari bahwa kita telah jadi tawanan, karena cinta seringkali merupakan lena yang melenakan.

Ya, rindu itu menyakitkan. Karena menyiksa… karena tersiksa oleh keinginan untuk bertemu, untuk berinteraksi dengan ia yang tercinta. Mungkin karena itu banyak yang sulit tidur, tak enak makan, karena rasa rindu. Dan takkan pernah puas, walau berapa lama pun bertemu, ketika berpisah, sang rindu kembali menghantui… kembali menyakiti…. tapi seringkali kita tak menyadari bahwa kita tersakiti, karena kita menikmati rasa sakit itu dengan lamunan-lamunan yang tiada akhir.

Ya, hati ini hanya cukup untuk satu cinta. Satu cinta bukan berarti satu orang, tapi pilihan antara “cinta yang benar” dan “cinta yang salah”. Dan ketika kita memilih “cinta yang salah”, maka jangan hidup di dunia yang diciptakan oleh Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”. Maka jangan makan dengan anugerah Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”. Maka bersembunyilah, jangan sampai engkau ketahuan memiliki “cinta yang salah” oleh Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”, karena Ia Maha Pencemburu.

Maafkan hamba-Mu ini Ya Rabb jika ternyata, sadar ataupun tidak, ada “cinta yang salah” yang menjangkiti hati ini.

Advertisements

2 responses

  1. terkadang puisi menyentakan kita yang terpaku, menyadarkan kita pada kenyataan. kita benar-benar terkontaminasi dengan setiap bait-baitnya dan merasa itu adalah gambaran diri kita sendiri. cinta tak pernah salah jika kita mampu memahami arti yang sesungguhnya, yang salah terkadang hanyalah proses menuju kehakikiannya. ingat semua cinta datang dari Tuhan, karena nama lain dari Tuhan adalah cinta. hirrahmannirrahim… yang mengasihi legi menyayangi. met kenal ya…

    May 8, 2008 at 5:49 am

  2. 37degree

    klo menurut saya, cinta yg datang sebelum waktunya itu yg jadi masalah,,,
    bikin serba salah,,,
    jauh salah – dekat salah
    mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia (hihihi, seperti lagu aja)
    padahal blm tentu jg namanya yg tepahat di lauhul mahfuz sana

    dan bintang tak kan bisa kabarkan namanya
    apakah si A, si B, si C dst
    hanya Dia yg Maha Mengetahui dan akan senantiasa Memberikan yg Terbaik bagi Kita ketika cinta itu memang sdh waktunya ^^

    NB : dilink ya blognya nis

    uiii tiba-tiba di link??? btw ini siapa?

    June 29, 2008 at 3:21 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s