Penyesalan Hari Ini

“Padahal handphone-nya masih baru,” pemuda berkulit cokelat matang itu terlihat masih shock dengan kejadian yang menimpanya.

“Ooo…” aku tak mampu berkomentar banyak, rasa bersalah masih menyisakan detak jantung yang tak beraturan.

“Biasanya saya nggak buka-buka handphone di tempat umum, takutnya disangka sombong atau apa, tapi ya tadi ibu saya nelepon,” dari sorot mata dan caranya berbicara aku bisa menduga kalau pemuda ini memang polos, apa adanya, dan sepertinya ia anak bungsu, sepertiku.

“Maaf ya,” kata itu terlontar juga.

“Ah nggak apa-apa, mungkin saya-nya sombong, jadi kayak gini. Mungkin emang bukan rejeki saya. Alhamdulillah cuma handphone, dulu sempet dirampok sampai ditusuk gitu. Waktu itu saya sampai gemeteran, sekarang berasa lemes aja.”

Aku terenyuh, dalam kondisinya ia masih bisa menemukan hal positif untuk dihadirkan dalam kepalanya. Sementara aku terpojok dalam beragam penyesalan….

Seandainya aku langsung curiga ketika…

“Pak ada muatan Pak!” seru seorang pemuda berkemeja kotak-kotak itu memberhentikan sopir angkot. Padahal biasanya sopir sangat awas terhadap calon penumpang, bahkan yang tidak akan naik pun ditawar-tawari untuk naik.

Pemuda berkemeja kotak-kotak itu memain-mainkan sejumlah uang di tangannya sambil cengengesan. Ia duduk menghadap pintu layaknya seorang kernet. Sementara itu sang penumpang baru yaitu seorang pemuda lain dengan wajah bulat telah duduk di samping kiri sang pemuda polos.

Seandainya aku tak hanya bertanya-tanya dalam hati saat…

Si pemuda berwajah bulat itu mencoba menukarkan sejumlah uang dengan si pemuda polos. Tapi kenapa harus dengannya? Bukankah si “kernet” jelas-jelas sedang memain-mainkan uang? Dan lalu kenapa saat tangan kanannya bertransaksi, tangan kiri si pemuda bulat itu bermain-main di bawah tas besar yang tampak kosong itu?

Seandainya aku langsung berteriak untuk mengalihkan perhatian saat…

Seorang pemuda berkaus hitam menaiki angkot. Si “kernet” entah kenapa menjegal si pemuda berkaus hitam ini hingga ia kesulitan untuk duduk . “Permisi mas!!” teriak si pemuda berkaus hitam pada si “kernet” yang malah semakin menjadi membuat si kaus hitam terdesak untuk melesak ke sisi kanan si pemuda polos yang masih dipusingkan dengan transaksi pergantian uang. Kejadian itu berlangsung beberapa saat dan aku tak bisa melihat dengan jelas karena badan besar si muka bulat menghalangi pandangan.

Seandainya aku cukup berani untuk berkata “copeett!!” ketika si kernet dan si kaus hitam turun dari angkot dan bertingkah layaknya sahabat padahal tadi mereka seperti hendak berkelahi.

Seandainya aku punya cukup bukti dengan membidikkan kamera, hingga ketika si pemuda polos menanyakan dimana handphone-nya pada si pemuda bulat aku bisa berkata bahwa si bulat salah satu komplotannya. Tapi tidak, si bulat dengan tenang berkata “handphone-nya diambil ama yang berdua tadi itu”, padahal dengan nalar yang cukup terang, tidak mungkin si bulat bisa langsung mengetahui ke mana handphone itu hilang jika ia tidak termasuk komplotannya. Kalaupun ia tak terlibat dan hanya melihat kejadiannya, kenapa ia tak menghentikan transaksi pergantian uang agar si pemuda polos bisa lebih memperhatikan handphone-nya?

Ah seandainya aku bisa berucap lebih dibanding hanya kalimat yang kuucapkan dengan bibir bergetar, “Astaghfirullah, moga pencuri handphone-nya sadar ya…”

Ah seandainya iman dalam dada ini lebih kuat hingga bisa mencegah kemungkaran dengan tindakan atau dengan kata-kata, tidak hanya dengan hati yang merupakan manifestasi selemah-lemahnya iman.

Dan sepanjang sisa perjalanan itu aku menyesal, menyesal atas kepengecutanku yang membuktikan lemahnya imanku….

Maafkan saya Dik… Ampuni hamba-Mu ini Yaa Rabb…

Advertisements

6 responses

  1. assa.
    wuah pas kpn nih? pulang kmrn nis? yaah emang hrsny teriak copet sih nis, mlihat blogny ray, sang supir pun biasany tau gelagat copet kyk gmn, makany dy suka pilih2 klo ngliat yg kyk gitu, yaa susah juga sih.. smoga yg dicopet diberi ksabaran ama rizki untuk mengganti hapeny amin
    wass.

    iya sih te, saya kelamaan meyakinkan diri kalo mereka bener2 mau nyopet, sementara kejadiannya cepet banget. ada ketakutan juga kalo tiba2 teriak padahal mereka bukan copet… hufff harusnya mikirin cara lain sih, misalnya tiba2 minta turun dan nyuruh si calon korban juga turun…

    iya nggak tau nih sopirnya, padahal waktu kejadian lumayan rame di angkot, si sopir adem2 aja. seudah turun saya bilang aja ke si sopir biar nggak usah naikin 3 orang itu kalo mereka mau naik lagi

    March 20, 2010 at 5:16 am

  2. deg-degan nis…
    mungkin daku di tempat duduk yg sama kayak anis, bakalan sama ga kepikiran cara buat nyelametin

    March 21, 2010 at 4:19 pm

  3. ah.. iya, Teh..
    kalau lagi ngalamin kejadiannya mungkin emang gak kepikir mau ngapain
    padahal sebenernya kan bisa bilang “Mas, tasnya kebuka”, misalnya

    March 26, 2010 at 12:29 pm

  4. saya “berteman akrab” sama yang namanya copet..
    udah pernah sampe pelotot2an sama segerombolan copet..
    udah pernah sampe nangis gara2 udah harus turun padahal belum sempet menyelamatkan pasangan kakek-nenek yang jadu target copet 😦

    April 14, 2010 at 1:38 pm

  5. sabar yach!

    May 20, 2010 at 11:26 pm

  6. ina

    aslm..
    teh, g sengaja na baca tulisan anti n temen2…(teh agtrianan leandini red.) Na dapet ilmu banyak hari ini dr blog teteh…
    bisa minta no. hpnya?
    jazakillah khair…
    ina karlina
    etoser surabaya 2008
    UNAIR

    July 8, 2010 at 11:44 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s