Batas Kehormatan

Saya tengah melewati sebuah lapang kampus ketika sepasang pemuda-pemudi berjalan berpapasan dengan saya. Mereka tampak tengah asyik bercanda sambil saling menyilangkan tangan, berangkulan, bukan di bahu, tapi di perut. Mungkin saya terlalu berpikiran negatif, tapi rasanya mereka tidak tampak seperti sepasang suami istri (saya dan suami saya kalau berjalan di kampus bahkan menghindari berpegangan tangan… rasanya malu, malu kenapa? entahlah…) pun tidak tampak seperti adik-kakak apalagi ayah-anak atau ibu-anak XD.

Hal itu membuat saya teringat kejadian saat SMA. Saat itu karena kesalahan komunikasi kelompok drama saya tidak tahu hari dimana kami akan tampil, dan karena tidak siap, kami berakting penuh improvisasi. Saat itulah teman saya meletakkan tangannya di bahu saya karena kami berperan sebagai suami-istri. Entahlah, mungkin ada yang menganggap hal itu wajar, toh kami hanya bermain drama, toh itu improvisasi karena tak ada latihan sebelumnya… tapi pada akhirnya saya  cuma bisa menangis di kelas karena merasa batas kehormatan saya telah dilampaui.

Saya paham jika setiap orang punya batas kehormatan yang berbeda-beda. Tapi benarkah telah terjadi degradasi dari zaman ke zaman? Jika ya, kenapa? Apakah ada hubungannya dengan tayangan TV misalnya? Jika ya, bukankah para pembuat tayangan itu bersikukuh pembuatan tayangan itu berdasarkan fakta lapangan? Jadi siapa mempengaruhi siapa?

“Laki-laki itu dimana-mana ABCD, alligator, buaya, crocodile, dragon… jadi wanitalah yang berperan untuk menjaga dirinya…” sebuah kalimat dari seorang yang saya hormati. Dulu saya meningkahi kalimat itu dengan tawa, tapi ya… sekarang saya mengamininya. Meski laki-laki pun juga bisa, tapi sepertinya wanitalah yang bisa lebih berperan untuk menentukan batas kehormatannya.

Allahu’alam bishawab

Advertisements

7 responses

  1. Lama tak berkunjung. Nais post bu…

    June 6, 2010 at 11:48 am

  2. siapa yang colak colek? siapa yang colak colek?

    June 6, 2010 at 7:39 pm

  3. nah lho… ada yang marah tuh di komen kedua 😀

    June 7, 2010 at 8:01 am

  4. assa.
    stuju.. gw rasa si laki-laki pun brtindak krn si wanita tidak menolaknya..
    wass.

    June 8, 2010 at 10:43 pm

  5. @reisha: iya ya, tampaknya saya juga lama tak berkunjung ke blogmu, tapi selalu mengikuti perkembangannya lewat google reader kok :). hatur nuhun
    @febrian: colak colek cit**ku (ditayangkan pasca mo**gi) 😀
    @ray: nggak marah itu mah ray, cuma cemburu (iya gitu XD)
    @ricong: iya, tapi idealnya dua-duanya menahan diri sih ya 😛

    June 9, 2010 at 12:26 pm

  6. wew, abcd.. 😆

    waah, itu harusnya teteh ga usah malu berjalan di kampus..
    kan udah suami istri..

    hehehe takutnya orang-orang yang liat iri chenk 😀

    August 2, 2010 at 1:35 pm

  7. contoh yang bagus itu tidak bermesra2an di depan umum meski sudah suami istri 🙂

    gak bikin iri, gak bikin desas-desus (yang salah), gak bikin yang jelek2 deh 🙂

    hehehe, iya kami berusaha untuk itu 😛

    August 23, 2010 at 3:52 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s