intermezzo

Bersih Karena Kotor, Kotor Karena Bersih

Hihihi… lama banget nggak ngisi blog, sekalinya ngisi malah berniat nyampah… huaaa

Oke, jadi ceritanya selama tiga hari ada sesosok maag yang menyerang hingga seorang oknum AKH terpaksa tidak menghadiri beberapa kuliahnya. Nah salahnya, alih-alih belajar, atau baca-baca pdf yang udah numpuk buat __, atau hal positif lainnya, si AKH ini malah menghabiskan waktunya untuk menonton berbagai film kartun. Beberapa jam ia habiskan untuk menonton Spongebob, Fairly Odd Parents, Chibi Maruko Chan, Time Quest, Avatar, Hey Arnold, Rugrats, dll. Halah halah….

Tapi ternyata ada hal menarik yang didapatnya dari sepotong cerita Spongebob. Ceritanya Spongebob dan Patrick yang persahabatannya sangat kental tiba-tiba bertengkar gara-gara perbedaan mereka. Patrick sangat bangga dengan badannya yang bau, kotor, penuh keringat dan hal-hal menjijikan lainnya yang diekspose dengan gambar yang juga sangat menjijikan (kok bisa mereka punya ide menggambar hal sedemikian ya…). Sementara Spongebob sangat terobsesi dengan kebersihan, baginya tampil mengkilap adalah segalanya.

Mereka lalu terlibat dalam sebuah peperangan, Spongebob berusaha membersihkan Patrick dengan sabun dan alat-alat lain, sementara Patrick tentu saja menghindar. Sampai pada akhirnya Patrick berhasil dibersihkan dengan gelembung sabun dari tubuh Spongebob, sementara Spongebob justru dihujani tong sampah oleh Patrick.

Tapi kaliamt Spongebob selanjutnya yang menarik, kira-kira ia berkata “Terima kasih Patrick dengan ini aku bisa berminggu-minggu membersihkan diri, dan kaupun bisa berlama-lama mandi lumpur lagi. Bukankah kita tahu bersih karena adanya kotor dan kita kotor karena tahu kebersihan…”

Entahlah, tapi bagi saya kalimat itu menarik, walaupun sudah sering mendengarnya rasanya lucu mendengarnya dari sosok Spongebob. Yup, hal yang sejenis, kita tidak tahu kaya kalau tidak ada yang miskin. Kita tidak tahu beruntung jika tak ada sial. Kita tidak tahu sukses jika tak pernah ada gagal. Yup… begitulah Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan (pas Google nyari ayat ini kok nemunya malah blog-nya undangan orang-orang mau nikah ya >.<)

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).


Cuplikan 1 “Balthasar’s Odyssey, Nama Tuhan yang Keseratus”

Senin, 28 Desember 1665

Aku mengajak serta Marta dan Hatem, dan dompet yang cukup penuh untuk memenuhi tuntutan seperti biasa. Abdellatif menerimaku dengan sopan di kantor yang suram yang ia huni bersama tiga pegawai lainnya yang sedang menerima “klien” mereka sendiri saat aku tiba. Ia memberi tanda padaku untuk mendekat, lalu berkata sangat lirih bahwa ia telah melihat dalam semua catatan yang bisa didapatnya, tetapi tak mampou menemukan orang yang kucari. Aku berterima kasih padanya karena telah merepotkannya dan bertanya padanya dengan tangan di dalam dompetku, berapakah biaya penyelidikan itu. Ia menyaringkan suaranya untuk menjawab.

“Biayanya 200 aspre!”

Itu mengejutkanku sebagai sebuah jumlah yang besar, walaupun bukannya tak masuk akal atau diharapkan. Aku tak ingin berdebat dan hanya meletakkan uang itu ke tangannya. Ia berterima kasih padaku dan bangkit untuk menunjukkan padaku jalan keluar. Itu sungguh mengejutkanku. Ia tak merasa harus berdiri ketika aku masuk, atu memintaku duduk, jadi mengapa kini ia harus menggandeng tanganku seakan-akan aku ini seorang kawan lama atau seorang dermawan?

Begitu kami sampai di luar ia memberikan kembali uang yang baru kuberikan padanya, melipatkan jemariku agar menggenggam keping-keping uang itu, dan berkata, “Anda tak berutang apapun padaku. Aku hanya memeriksa buku besar dan itu menjadi bagian dari pekerjaanku dimana aku telah digaji. Selamat tinggal, dan semoga Tuhan melindungi dan membantu Anda mencari apa yang Anda cari.”

Aku tercenung. Aku bertanya-tanya apakah ia sungguh-sungguh bertobat atau hanya memainkan tipuan Turki lainnya untuk mencoba mendapatkan lebih banyak uang dariku. Haruskah aku memaksanya mengambil sesuatu, atau hanya berlalu dengan kata-kata terima kasih, seperti yang tampaknya ia sarankan? Namun Marta dan Hatem yang menyaksikan semua ini memuji-muji orang itu seakan-akan mereka baru saja menyaksikan sebuah keajaiban.

“Tuhan memberkati Anda! Anda orang baik, pelayan Sultan terbaik! Semoga Yang Maha Kuasa melindungi Anda dan keluarga Anda!”

“Berhenti!” teriaknya. “Apakah kalian ingin aku mati? Pergilah, dan jangan biarkan aku melihat kalian lagi!”

Maka kami pun pergi, membawa serta pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

————-singkat cerita esoknya Balthasar kembali menemui Abdellatif————–

“Jika Anda disini untuk memberikan 200 aspre, maka Anda menyia-nyiakan waktu Anda,” ujarnya.

“Tidak,” sahutku. “Aku datang untuk kembali mengucapkan terima kasih atas kebaikan Anda. Kemarin kawan-kawanku sempat keberatan karena aku tak mengatakan betapa aku sangat berterima kasih pada Anda. Aku sudah berbulan-bulan mengurus hal ini, dan setiap kali melakukannya aku selalu berlalu sambil mengumpat. Namun, dengan Anda, aku berlalu dengan mengucap syukur pada Tuhan dan pemerintah, meski aku tidak semakin dekat dengan tujuanku karenanya. Sangat ganjil di zaman sekarang ini bisa menemui seseorang yang bermartabat. Aku bisa memahami pujian kawan-kawanku terhadap Anda, tetapi itu hanya menyinggung kebersahajaan Anda, dan Anda meminta mereka berhenti.”

Aku belum juga mempertanyakan apa yang sudah ada diujung lidahku. Lelaki itu tersenyum, mengembuskan napas berat, dan menepuk bahuku.

“Aku tidak bersahaja. Aku hanya berhati-hati saja,” ujarnya.

Ia terdiam sejenak dan tampak menimbang-nimbang kalimatnya. Kemudian ia memandang ke sekelilingnya untuk memastikan tak ada seorang pun yang mengawasi kami.

“Di tempat sebagian besar orang memperlakukan uang dengan wajar, siapapun yang menolaknya akan dilihat orang lain sebagai ancaman, Mungkin saja ada orang yang melapor. Dan mereka akan melakukan apa pun untuk menyingkirkannya. Aku baru saja diperingatkan, ‘Jika kau ingin mempertahankan kepalamu di atas kedua bahumu, lakukan apa yang kami lakukan dan jangan bersikap seakan-akan kau ini lebih baik atau lebih buruk dari kami semua.’ Maka, karena aku sama sekali tidak ingin mati, meski aku juga tidak ingin berbuat dosa dan mendapat hukumannya, aku lebih memilih bersikap seperti yang kulakukan pada Anda kemarin. Di tempat ini, aku menjual diriku, dan di luar aku menebus harga diriku.”

Betapa kita hidup di zaman yang aneh, tatkala kebaikan harus menyamarkan diri di balik pakaian lusuh setan!

Mungkin memang telah tiba saatnya dunia ini kiamat.


Time Of Your Life

Another turning point, a fork stuck in the road
Time grabs you by the wrist, directs you where to go
So make the best of this test, and don’t ask why
It’s not a question, but a lesson learned in time

It’s something unpredictable, but in the end it’s right.
I hope you had the time of your life.

So take the photographs, and still frames in your mind
Hang it on a shelf in good health and good time
Tattoos of memories and dead skin on trial
For what it’s worth it was worth all the while

It’s something unpredictable, but in the end it’s right.
I hope you had the time of your life.

It’s something unpredictable, but in the end it’s right.
I hope you had the time of your life.

It’s something unpredictable, but in the end it’s right.
I hope you had the time of your life.

(Green Day)

everyone who bored, stumble, tired of something called “6”
it’s just one of many time of our life
I hope you had the time of your life πŸ™‚


Tempat Buat Menyepi

Ketika kadar melankolis sedang meninggi, atau muak sama tugas yang nggak berhenti kek kereta, atau mulai autis… apa yang sering dilakukan? Kalau saya sih kadang “menyepi” di suatu tempat. Nah, sayangnya, di labtek V ini saya nggak nemu tempat yang bener-bener nyaman buat “menyepi”. Tapi guess what… saya nemu tempat yang lumayan asik buat “menyepi” di ITB ini. Walau sebenernya ya… biasa aja sih, tapi lumayan lah daripada lumayan dong (eeekk… nggak jelas…).

Di mana? Nah yang itu tebak sendiri ya… klo saya kasi tau ntar pada berdatangan minta tanda tangan saya, jadinya saya nggak bisa “menyepi” lagi deh… (aaarrrggghhh…. ketidakjelasan semakin memuncak).

Oke ini clues-nya

image007.jpg

Nah foto di atas ini menunjukkan apa yang tergambar klo kita menatap lurus ke depan… walaupun sebenernya nggak ada benda optik yang dapat menangkap sesuatu lebih indah dibanding mata….

image005.jpg

Nah tuh keliatan ada si labtek V πŸ˜› ini klo kita menatap ke arah kanan

Hayooo di manakah saya? Saya kasih hadiah deh buat yang berhasil nebak saya ada di mana. Hadiahnya apa ya? Ummm gimana klo seporsi mashed potato buatan saya? Atau hadiahnya saya doain deh tiap habis saya shalat selama sepekan, (hadiah yang aneh ya πŸ˜› kek do’a saya tuh makbul aja, padahal banyak dosa). Hehehe apa ada yang mau ya? πŸ˜›

Oh ya, kuis berhadiah ini nggak berlaku buat NIM 13505125, soalnya anak ini tau dan udah ke tempat ini bersama saya πŸ˜› juga nggak berlaku buat anak jurusan yang kuliahnya di gedung tempat saya berada ini, walaupun keknya nggak akan ada yang baca deh anak jurusan itu πŸ˜›

Mudah-mudahan next time nemu tempat yang lebih indah lagi….

Rabbana maa khalaqta haadzaa baathilaa… subhanaka faqinaa ‘adzaa bannar


Pertanyaan dan Nyengir Kuda

X : Nis kok jilbab lu gede banget kayak taplak meja?
A : (sambil nyengir kuda) Hehe, iya sekalian biar hemat
Y : Nis jilbab lu kok gede nggak kecil, kan lucu kalo kecil?
A : (sambil nyengir kuda) Lho kalau gede kan gaya… gaya beratnya makin besar gitu…
Z : Nis, sebenernya yang pakai jilbab itu harusnya nutupin apa sih? Rambutnya aja emang? (Z… anak cowok yang sering ngeliat perempuan berjilbab turun dari angkot sambil membungkuk… dan…)
A : (sambil nyengir kuda) Hehe (dan bingung mau ngomong apa)

Dan masih banyak pertanyaan lucu lain yang muncul karena jilbab saya ini. Ada banyak julukan pula yang saya dapat… diantaranya:

– Ninja (untungnya nggak pakai embel-embel “kura-kura”, paling parah juga embel-embelnya “Hatori”)

– Baby Huey (ntar ini tutup kepalanya si Baby Huey yang mirip jilbab saya atau saya yang emang kayak bebek ya?)

– Kobo Chan atau Shinchan (yang ini nggak tau dari mana, nggak ada angin nggak ada ujan, mirip dari mananya?)

Dan setiap kali saya disinggung tentang itu saya cuma bisa nyengir kuda (sampai-sampai kuda harusnya nanya, “Kok saya nggak bisa nyengir manusia?”).

Maaf… emang ilmu saya nggak cukup untuk bisa menjawab semua pertanyaan kalian dengan baik. Maaf… padahal saya ingin sekali bisa menjawab seperti Rasulullah menjawab Umar bin Khattab yang menjadikannya berubah 180 derajat. Seperti Mushab bin Umair menjawab yang menjadikan hampir seluruh Madinah menerima Islam. Maaf… saya baru bisa menjawab dengan nyengir…


Melodi Kala UTS

Sebenernya cerita ini harusnya udah basi, tapi karena postingan saya sebelum ini kata beberapa orang agak2 berat, makanya saya selingi dengan postingan ini. πŸ™‚

7602, pukul 11.20

Aku duduk di barisan keempat paling ujung. Di sebelahku seorang teman yang NIM-nya hanya terpaut beberapa angka dariku. Kami sudah menundukkan kepala sejak beberapa menit yang lalu, mencoba menekuri dan menenggelamkan diri dalam soal yang hanya beberapa baris. Udara mulai terasa dingin karena AC yang menyala.

Sepi… hening…? Oh ya? Tidak juga karena ternyata aku dan temanku itu membuat semacam melodi di tengah keheningan. Ya karena kami dipaksa menundukkan kepala untuk berkubang dalam soal, karena AC yang membuat ruangan menjadi terasa begitu dingin, karena kami sama-sama tak membawa tisyu, karena kami sama-sama sedang terkena flu…

Melodi itu berbunyi… srok… srook srook… srok srok… srooooook…. πŸ˜€

Hehe maaf jorok πŸ™‚ hikmahnya jagalah kesehatan saat ujian, bukan hanya mengganggu dirimu tapi mengganggu ketenangan yang lain…


Balon Pecah

Kejadian ini terjadi waktu aku masih duduk di bangku SMP. Biasanya setiap hari Ahad aku menyempatkan diri lari pagi ke pasar Gede Bage walau sendirian. Start dari rumah jam setengah enam dan pulang sekitar jam delapan.

Hari itu ketika hendak pulang, aku kelelahan dan memutuskan pulang naik angkot. Akhirnya aku naik angkot yang tengah ngetem. Aku duduk di ujung dan orang-orang mulai memadati angkot yang aku naiki. Sampai seorang ibu yang tengah menggendong anaknya masuk. Anak kecil itu memegang sebuah balon gas. Ternyata balon itu menyentuh kawat yang ada di lampu angkot. Dan… β€œDarrr…” balon itu meletus.

Seketika itu juga sang kenek langsung bertepuk tangan dan bernyanyi, β€œSelamat ulang tahun…” dan spontanitas sang kenek disambut penumpang yang lain hingga seisi angkot itu bernyanyi atau minimal bertepuk tangan termasuk aku. Padahal anak kecil itu sudah memonyongkan bibirnya bersiap menangis, tapi setelah semuanya bernyanyi untuknya, ia justru tersenyum malu dan bersembunyi ke pelukan ibunya.

Sepanjang perjalanan pulang aku tak bisa menyembunyikan senyum geliku. Betapa spontanitas yang menyenangkan. Spontanitas yang lahir dari kepedulian. Tapi aku tersenyum bukan hanya karena itu, aku juga tak bisa berhenti memikirkan sang kenek dan aksinya itu. Mimiknya itu lho… gak tahaaaan!