moment

Akhirnya…

Setelah penantian panjang (padahal biasa aja), akhirnya putra pertama kami lahir pada tanggal 22 November 2010 dengan berat 2800gram dan panjang 48cm. Cukup kecil untuk ukuran bundanya yang sudah semakin jumbo ini XD. Tadinya berharap si adek muncul di tanggal 01-11-10 sih biar angkanya palindrome haha, tapi apa daya ternyata adek lebih memilih dua angka dobel sebagai hari kelahirannya, saat usia kehamilan mencapai 40 pekan lebih 3 hari.

Dini hari, seperti umumnya ibu hamil yang sulit tidur, saya terbangun karena kontraksi otot pengatur urine. Ba’da qiyamul lail, sekitar jam 2 saya yang memutuskan tidur lagi malah tidak bisa tidur. Mulas-mulas yang saya kira biasa mulai terasa dengan frekuensi 15 menit sekali. Akhirnya saya memutuskan bangun.

Awalnya saya kira mulas-mulasnya bukan karena mau melahirkan, soalnya dari cerita banyak orang mulas-mulas mau melahirkan itu dimulai dari frekuensi beberapa jam sekali dan semakin lama jadi semakin sering, nah saya kan langsung 15 menit sekali. Tapi kakak saya yang kemudian terbangun karena tahu saya terbangun bercerita kalau saat dia akan melahirkan pun mulas-mulasnya langsung berfrekuensi sering. Wew, inikah saatnya kamu lahir Nak?

Tak lama mama juga terbangun. Karena saya sering menjahili mama dengan berpura-pura sudah mulas, awalnya mama tak percaya kalau saya benar-benar mulas XD. Akhirnya setelah beberapa lama beliau percaya juga dan mulai berbenah, baju dan perlengkapan adek yang sedianya sudah rapi dalam satu tas, dibongkar ulang mama hingga hanya menyisakan sedikit untuk dibawa (karena belum 100% percaya saya mulas XD). Dan berangkatlah kami ke rumah bersalin.

Sekitar pukul 4 kami sampai di rumah bersalin. Saya langsung diperiksa dan divonis bukaan 3. Wew, kapan bukaan 1 dan 2 nya ya…. Suster yang menangani memerintahkanagar saya langsung dirawat. Dan karena bawaan perlengkapan yang dibawa cuma sedikit akhirnya mama harus bolak-balik lagi ke rumah. Amisu yang baru kemarin sore pulang ke Jakarta terpaksa balik lagi ke Bandung paginya :P.

Setengah tujuh saya yang sedang berjalan-jalan atas perintah suster berhenti sejenak. Ketika istirahat itulah, ketuban saya pecah dan saya divonis sudah bukaan 5. Mungkin karena ketuban yang pecah duluan itu, saya diperintahkan untuk diinduksi. Mulas makin terasa. Sekitar pukul 10.30 cairan infus baru habis setengahnya dan saya sudah mulas luar biasa, tapi apa daya dokter bilang kepalanya masih di atas, masih bukaan 7-8 dan saya harus menunggu sampai infus habis. Wooot dari mulai diinfus sampai habis setengahnya itu memakan waktu 4 jam, berarti saya harus nunggu 4 jam lagi???

Tapi ternyata tidak, karena sekitar jam 11 saya yang sudah tidak tahan mulai memohon untuk memulai proses persalinan. Suster yang jaga di ruang persalinan hanya satu orang, dan dia pun hanya berkata, “belum bu, tarik nafas keluarkan dari mulut!”. Karena saya keukeuh sambil nangis-nangis, akhirnya saya diperiksa ulang, bukaan lengkap, suster yang tak percaya kemajuan dari bukaan 7-8 sampai bukaan lengkap memakan waktu sebentar ini langsung memanggil dokter dan suster yang lain.

Dengan amisu yang memegangi kaki kiri dan saya sendiri memegangi kaki kanan, satu-dua kali mengejan dan muncullah suara yang kami tunggu…. alhamdulillah Allahu akbar…. selamat datang putraku.

Fakhri Akbar Rasyad

Fakhri Akbar Rasyad

Terima kasih Yaa Rabb telah memudahkan segalanya, dari mulai awal kehamilan hingga lahirnya si kecil. Nampaknya tidak ada kesulitan berarti seperti cerita sahabat-sahabat yang terlebih dahulu bersalin. Walau si kecil sempat dilarikan ke RS karena hiperbilirubin ABO incompatibility, tapi rasanya semuanya begitu dimudahkan hingga si kecil sekarang sudah aktif kembali. Terima kasih juga sudah memberikan saya kekuatan hingga bisa mendampingi si kecil, bolak-balik ke rumah sakit walau masih dalam perawatan pasca melahirkan. Sungguh tak ada kekuatan tanpa izin-Mu.

Terima kasih untuk amisu, atas keliling Jakarta demi pencarian cincau, atas pijatan tengah malam ketika saya kram, atas perhatian ketika saya mual dan pilah-pilih makanan, atas kesediaan bolak-balik Jakarta-Bandung, atas malam minggu yang kita habiskan di ruang tunggu dokter, atas kesediaan menunggui di ruang bersalin.

Terima kasih untuk mama, setelah saya yang merepotkan dulu sewaktu bayi, sekarang mama harus direpotkan lagi oleh bayi saya. Terima kasih atas semuanya, sekarang saya semakin paham betapa sayangnya mama pada saya. Dan atas kepahaman itu, saya semakin sadar bahwa tak akan pernah saya bisa mengganti apa yang mama berikan untuk saya. Mungkin karena itu doa untuk orang tua adalah agar Allah menyayangi dan membalas mereka, karena kasih sayang mereka tak akan terbalas oleh saya.

Terima kasih untuk semua keluarga, saudara, dan rekan-rekan atas semua doa dan dukungan mulai dari awal kehamilan sampai si kecil lahir. Karena doa dan dukungan dari semua, segalanya bisa berjalan dengan lancar.

Advertisements

Tulisan Pertama Untukmu

Sebenarnya dari awal kemunculanmu Bunda udah pengen nulis, tapi baru baru kesampaian sekarang, maaf ya Nak :P. Apalagi baru-baru ini ayah nulis kalau Bunda mulai hiatus dari dunia blog XD, ah sungguh tak bisa diterima…. hehehe.

Maret, hari itu adalah hari-hari yang cukup hectic bagi Bunda. Ya, karena hari itu adalah tenggat waktu pengumpulan persyaratan wisuda Bunda. Tapi tampaknya bukan hanya karena kelulusan Bunda yang membuat Bunda bisa tersenyum sepanjang hari. Bukan juga karena pelangi yang tiba-tiba menghiasi langit Bandung yang kala itu cerah. Ya, itu karena pagi-pagi buta Bunda mendapati dua garis pada testpack yang iseng-iseng Bunda beli. Bunda pikir… subhanallah cerdas sekali kamu Nak, memilih waktu kehadiran saat Bunda sudah lulus dan Ayah sudah mulai mendapat pekerjaan di Indonesia.

Trisemester pertama, waktu yang sering dikhawatirkan karena memang cukup rawan. Bunda baca dan dengar kebanyakan keguguran terjadi pada masa ini. Tapi Alhamdulillah meski kamu dibawa gonjang-ganjing naik motor berkeliling Jabodetabek demi pencarian tempat tinggal, kamu tetap sehat. Selain itu Bunda juga bersyukur betapa kamu tidak rewel hingga Bunda tidak mengalami morning sick, mual-mual berlebihan, atau ngidam yang aneh-aneh. Ah sekali lagi subhanallah, kamu cerdas ya Nak….

Layar hitam putih (yang sebenarnya tak Bunda pahami :D) adalah media pertama Bunda melihatmu. Dokter bilang jantungmu sudah terbentuk dan sudah berfungsi dengan baik. Takjub, mungkin kata itu juga tak cukup mendefinisikan perasaan Bunda. Ah betapa Allah Maha Kuasa ya Nak, tak akan pernah habis dikaji bagaimana proses kehidupan terbentuk, bagaimana rahim bisa menjadi tempat ideal untuk tumbuh dan berkembang, dan itu terjadi dalam tubuh Bunda!! Bukankah itu hal yang paling mengagumkan yang bisa dirasai oleh wanita…

Di awal trisemester kedua, Bunda sempat menangis semalaman karena bercak darah yang muncul. Bunda kira Bunda kehilangan kamu Nak, tapi esoknya dokter memastikan kalau kamu baik-baik saja. Alhamdulillah rasanya luar biasa lega. Dan di akhir trisemester kedua ini Bunda mulai bisa merasai gerakan-gerakan kecil yang kamu lakukan. Subhanallah, rasanya lucu, geli yang aneh :P. Setelah Bunda melakukan percobaan kecil, Bunda bersumsi kamu bergerak lebih aktif jika diperdengarkan bacaan Qur’an dan beberapa lagu klasik, atau jika Bunda mengajakmu ngobrol. Dan anehnya kamu bergerak cukup aktif seringkali di malam hari… hmm Bunda nggak keseringan ngajak kamu begadang kan Nak?

Oh ya, awalnya Ayah dan Bunda pikir kamu bergender perempuan, ternyata dokter bilang “burung”mu sudah terlihat, hihihi. Padahal sudah ada beberapa perbincangan antara Ayah dan Bunda tentang kemungkinan nama dan benda-benda yang ingin dibeli nanti kalau kamu perempuan. Yak kami harus mulai perdebatan baru kalau gitu :P.

Sekarang awal trisemester ketiga, rasanya Bunda udah kangen pingin ketemu. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihatmu lewat layar hitam putih setiap kali kunjungan Bunda ke dokter. Ah Nak, seperti apa dirimu? Sungguh Bunda tidak akan khawatir jika kamu mewarisi gen gemuk dari Bunda. Bunda tak khawatir rupamu mewarisi rupa Bunda atau Ayah. Sungguh Bunda ingin mengamini sebait lagu dari Raihan bahwa iman tak dapat diwarisi, karena keimanan Bunda yang lemah ini yang Bunda khawatirkan.

Ah, Nak, jadilah anak yang shalih ya… meski mungkin Bunda tak mampu menjadi prototype yang baik untukmu, dan Bunda sungguh minta maaf untuk itu. Ah Nak, seperti nenekmu pernah bilang pada Bunda bahwa kebahagiaannya bukan ketika anak-anaknya pintar dan mencapai prestasi tertentu meski itu pun pasti menyiratkan senyum bagi orang tua manapun. Ya, kebahagiaan sejatinya adalah ketika melihat anak-anaknya menjadi anak yang shalih. Maka Bunda hanya bisa berdoa moga Allah senantiasa menjagamu ya Nak, membimbingmu, karena Ia-lah sebaik-baik Pembimbing dan Penjaga sementara Bunda hanya orang yang beruntung dititipi dirimu.

Sampai ketemu ya Nak, moga Bunda bisa jadi ibu yang bijak dalam mengiringi tumbuh kembangmu.


Penyesalan Hari Ini

“Padahal handphone-nya masih baru,” pemuda berkulit cokelat matang itu terlihat masih shock dengan kejadian yang menimpanya.

“Ooo…” aku tak mampu berkomentar banyak, rasa bersalah masih menyisakan detak jantung yang tak beraturan.

“Biasanya saya nggak buka-buka handphone di tempat umum, takutnya disangka sombong atau apa, tapi ya tadi ibu saya nelepon,” dari sorot mata dan caranya berbicara aku bisa menduga kalau pemuda ini memang polos, apa adanya, dan sepertinya ia anak bungsu, sepertiku.

“Maaf ya,” kata itu terlontar juga.

“Ah nggak apa-apa, mungkin saya-nya sombong, jadi kayak gini. Mungkin emang bukan rejeki saya. Alhamdulillah cuma handphone, dulu sempet dirampok sampai ditusuk gitu. Waktu itu saya sampai gemeteran, sekarang berasa lemes aja.”

Aku terenyuh, dalam kondisinya ia masih bisa menemukan hal positif untuk dihadirkan dalam kepalanya. Sementara aku terpojok dalam beragam penyesalan….

Seandainya aku langsung curiga ketika…

“Pak ada muatan Pak!” seru seorang pemuda berkemeja kotak-kotak itu memberhentikan sopir angkot. Padahal biasanya sopir sangat awas terhadap calon penumpang, bahkan yang tidak akan naik pun ditawar-tawari untuk naik.

Pemuda berkemeja kotak-kotak itu memain-mainkan sejumlah uang di tangannya sambil cengengesan. Ia duduk menghadap pintu layaknya seorang kernet. Sementara itu sang penumpang baru yaitu seorang pemuda lain dengan wajah bulat telah duduk di samping kiri sang pemuda polos.

Seandainya aku tak hanya bertanya-tanya dalam hati saat…

Si pemuda berwajah bulat itu mencoba menukarkan sejumlah uang dengan si pemuda polos. Tapi kenapa harus dengannya? Bukankah si “kernet” jelas-jelas sedang memain-mainkan uang? Dan lalu kenapa saat tangan kanannya bertransaksi, tangan kiri si pemuda bulat itu bermain-main di bawah tas besar yang tampak kosong itu?

Seandainya aku langsung berteriak untuk mengalihkan perhatian saat…

Seorang pemuda berkaus hitam menaiki angkot. Si “kernet” entah kenapa menjegal si pemuda berkaus hitam ini hingga ia kesulitan untuk duduk . “Permisi mas!!” teriak si pemuda berkaus hitam pada si “kernet” yang malah semakin menjadi membuat si kaus hitam terdesak untuk melesak ke sisi kanan si pemuda polos yang masih dipusingkan dengan transaksi pergantian uang. Kejadian itu berlangsung beberapa saat dan aku tak bisa melihat dengan jelas karena badan besar si muka bulat menghalangi pandangan.

Seandainya aku cukup berani untuk berkata “copeett!!” ketika si kernet dan si kaus hitam turun dari angkot dan bertingkah layaknya sahabat padahal tadi mereka seperti hendak berkelahi.

Seandainya aku punya cukup bukti dengan membidikkan kamera, hingga ketika si pemuda polos menanyakan dimana handphone-nya pada si pemuda bulat aku bisa berkata bahwa si bulat salah satu komplotannya. Tapi tidak, si bulat dengan tenang berkata “handphone-nya diambil ama yang berdua tadi itu”, padahal dengan nalar yang cukup terang, tidak mungkin si bulat bisa langsung mengetahui ke mana handphone itu hilang jika ia tidak termasuk komplotannya. Kalaupun ia tak terlibat dan hanya melihat kejadiannya, kenapa ia tak menghentikan transaksi pergantian uang agar si pemuda polos bisa lebih memperhatikan handphone-nya?

Ah seandainya aku bisa berucap lebih dibanding hanya kalimat yang kuucapkan dengan bibir bergetar, “Astaghfirullah, moga pencuri handphone-nya sadar ya…”

Ah seandainya iman dalam dada ini lebih kuat hingga bisa mencegah kemungkaran dengan tindakan atau dengan kata-kata, tidak hanya dengan hati yang merupakan manifestasi selemah-lemahnya iman.

Dan sepanjang sisa perjalanan itu aku menyesal, menyesal atas kepengecutanku yang membuktikan lemahnya imanku….

Maafkan saya Dik… Ampuni hamba-Mu ini Yaa Rabb…


Ten Things I Hate About You

I hate when you drive your motorcycle… with no map, with no direction. It just makes me feel that I am losing time. Losing time for a terrible trips, but that aren’t trip anyway… those are adventures.

I hate when you buy me something… and buy yourself a-mini-version-of-something or even worse… a-no-thing. It just makes me feel greed… greed for your kindness and defeatism.

I hate when you talk… about unlucky peoples and you’ll start to sad for them. I hate when you push me to give some money to old green-grocery sitting in front of minimarket. I hate it cause it just makes me cry… for how generous you are.

I hate when you come to my family’s house. I hate when you understand them better than me. I hate when mom cooks for you and not for me. I hate it because it just keeps me for realizing that married is not just about you and me… it’s also about our family, and I hate that you’ve suit my family while I’m afraid I haven’t suit yours.

I hate when you can solve my problem. I hate when you help me with my final project. I hate when you always there every time I need a hand. I hate all those things because those things just make me sad for never been the same way for you.

I hate when you call me with epithet… “ndut”, “mon”, “mbrot”…. I hate it even I consider it’s reasonable for you to call me that way. I hate it because no one ever calls me so. I hate it because I know that the sobriquet is just the way you loving-kindness.

I hate it when you hit me. However, I know you only hit me when I’m about tickling you, and it also without your awareness of hitting me. Therefore, seeing you laugh aloud when I’m tickling you makes me forget that you ever hit me because of it.

I hate when you say “mau tau aja”… and try to surprise me every time you have a chance. It just makes me asking fussily. Anyhow, your coming into my life has become a big surprise for me. Since the very beginning, you’ve done many amazement things and now I’m curious for more stagger things you’ll do to startle me until our very end.

I hate when I have to write this for your birthday. It just makes me sad for knowing I have nothing to give you. I have nothing but to assure you that I’ll try my best for always stand beside you… to know you better… to accept more thing about you that I may hate.

I hate you for being my husband. I hate all the things you’ve done to me. I hate it because I conscious of how ungrateful I am for what He has granted me… you.


Once Upon a Time in a Bus

Kalo di film Once Upon a Time in China tokoh utamanya itu Wong Fei Hung, nah di postingan ini tokoh utamanya adalah seorang dosen ITB. Yup, kami duduk bersebelahan dalam suatu perjalanan dari Bandung ke Jakarta, dan dalam pembicaraan kami yang kemana-mana, beliau tiba-tiba berujar…

“Saya prihatin anak-anak SMP sekarang pacaran udah pada pegang-pegangan tangan.”

Karena penasaran saya pun bertanya padanya, “Kalau putra Bapak masih sekolah?”

“Iya, yang paling besar masih SMP.”

“Hooo… kalo Bapak sendiri mencegah anak-anak Bapak biar nggak kayak gitu gimana?”

“Ah ya kembalikan saja ke dasarnya.”

Mengerutkan dahi, “Maksudnya?”

“Ya saya ajarkan Al Qur’an, tiap abis shubuh kami baca Qur’an dan mendiskusikan artinya. Dengan sendirinya dia tau mana yang baik dan mana yang nggak, jadi ya gampang kalo dia mau berbuat sesuatu saya tinggal tanya dia mau masuk surga atau neraka. Toh dia tau itu bukan kata-kata saya, tapi langsung dari Pencipta-nya.”

Saya mengangguk-angguk.

“Tahajud juga dia nggak usah disuruh udah ngerjain sendiri, meski sambil ngantuk-ngantuk, yang penting dia berusaha. Dan kalau dia berbuat salah malah dia yang mengakui.”

Dan lagi-lagi saya cuma bisa mengangguk-angguk.

“Orang-orang sekarang sibuk cari cara mendidik anak-anak, ala barat lah… padahal semuanya udah ada di Al Qur’an… ”

Saya tersenyum mengiyakan dalam hati.

I think I’ve found the best answer to my anxiety about my children. Yeah, I wish I could teach my children as you teach yours, Sir. But could I? Won’t I feel like a hypocrite then?


1212

Heu lagi pengen sering nulis, tapi mudah-mudahan nggak nulis yang nggak jelas, meski keknya kali ini postingannya emang nggak jelas. Well, nggak berniat ikut-ikutan 2012 yang bikin kontroversi, ini hanya tentang dua hari yang lalu, 12 Desember. Ada apa emang? Nggak ada apa-apa sih, bagi saya itu hanya bertepatan dengan lima bulan kami menikah :D. Sebenarnya nggak berniat buat memperingati secara khusus sih, cuma pengen jalan-jalan mumpung masih bisa pacaran sebelum ada yang bergerak-gerak di perut saya (aamiin…) :D.

Kami pun memutuskan untuk mengunjungi suatu tempat di daerah Jakarta karena amisu sedang magang disana. Karena uang di dompet pas-pasan, amisu bersikukuh mencari ATM dulu. Ternyata karena mencari ATM itu, kami terdampar di suatu pinggiran Jakarta. Daerah kumuh, dengan hilir sungai yang telah berubah warna menjadi hitam sempurna. Seorang nelayan tua dengan kulit luka dan sakit, berdiri di pinggir sungai dengan tatapan kosong. Pemandangan itu membuat air mata saya meleleh. Saya memang baru kali ini sedikit berkeliling Jakarta, sebelumnya hanya mengunjungi tempat tertentu tanpa berkeliling, dan keadaan ini sungguh membuat saya kaget.

Dan seperti biasanya, jika melihat pemandangan seperti itu, kami pun mulai diskusi tentang pemimpin negeri ini. Mungkin kami tak akan sesedih ini jika hal ini terjadi di suatu desa nun jauh dari ibukota, tapi hey ini terjadi di Jakarta… tidakkah para pemimpin negeri ini pernah berkunjung ke daerah yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempat mereka bercokol? Ah betapa rindu hati ini pada pemimpin seperti Umar bin Khattab yang menengok rakyatnya secara diam-diam, yang membantu mereka dengan tangannya sendiri. Ah tapi ternyata saya sendiri memang belum melakukan apa-apa selain hanya bisa bersedih… ampuni hamba Yaa Rabb karena belum bisa berbuat apa-apa terhadap hamba-Mu yang lain.

Perjalanan berlanjut, setelah berputar-putar cukup jauh, akhirnya ATM pun ditemukan. Kami pun mengunjungi tempat itu. Menunggu hujan reda, kemudian menaiki perahu yang membawa kami ke suatu pulau. Ternyata perjalanan dengan perahu cukup memakan waktu, memungkinkan saya untuk melamun agak lama. Ditemani ombak yang menggoyang-goyang perahu dengan sedikit sadis hingga kami oleng ke kiri dan ke kanan. Ditemani burung-burung bangau yang terbang berkelompok-kelompok, ada yang terbang rendah, ada pula yang terbang tinggi.

Ah betapa perjalanan hidup mengantarkan saya sampai disini. Ah betapa baiknya Engkau yang telah memberi hamba begitu banyak hal dalam waktu singkat ini. Ah betapa banyak yang harus hamba syukuri Yaa Rabb. Kami tahu perjalanan ini baru kami mulai, tapi izinkanlah kami untuk memulai dan menjalaninya dengan niat yang ikhlas. Kami paham perjalanan ini tidak akan mudah, tapi hiasilah perjalanan ini selalu dengan kesabaran dan kesyukuran karena hanya dengan itu semuanya akan terasa lebih mudah. Jika cinta dan benci harus datang silih berganti, maka jangan biarkan cinta dan benci itu timbul karena hal lain selain pencarian kami atas ridha-Mu. Yaa Rabb, sungguh betapa Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka sungguh mudah Engkau menakdirkan apapun bagi kami. Dan apapun takdir-Mu atas kami Yaa Rabb, jangan pernah tinggalkan kami, jangan pernah tinggalkan kami….

Dan seperti ucapan Ust. Anis Matta dalam bukunya, saya menatapnya lamat-lamat dan mulai bertanya pada diri sendiri, apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama saya?

Quiz: tempat apakah yang kami kunjungi? 😀


M-nya Besar

Sebenernya canggung juga nulis cerita tentang ini, tapi karena diminta sebagai pelengkap cerita ini dari sudut pandang yang lain, maka yah inilah.

“Siapa ya pria malang yang bakal jadi suami saya,” sepertinya itu gumaman batin yang sering saya lontarkan kalau mengingat-ingat pernikahan. Sungguh bukan doa, tapi saya hanya merasa bahwa saya punya kekurangan yang sangat banyak hingga saat itu saya merasa perlu untuk mengasihani seseorang yang kelak menjadi suami saya. Tapi Allah ternyata mengabulkan gumaman hati saya, alih-alih pria malang, Allah menjadikan seorang pria Malang sebagai suami saya.

Dan cerita pun bergulir hingga sampai hari yang bersejarah (setidaknya bersejarah bagi kami berdua). Pagi itu saya sudah duduk di ruang rias, sambil terus mengutak-atik handphone memastikan keberadaan beberapa orang terkait. Ibu perias dengan sigapnya mengolas-oles wajah saya. Entah berapa macam bahan kimia yang dioleskannya, saya sendiri sampai heran sebanyak itukah zat yang harus dipasangkan pada muka saya. Hingga akhirnya riasan selesai dan saya merasa seperti ondel-ondel yang siap tampil….

Sebetulnya saya ingin mengikuti acara dari awal, tapi karena riasan yang belum selesai, saya terpaksa hanya mendengar sayup-sayup ketika Al-Qur’an mulai dibacakan. Dan ketika riasan selesai, saya didudukkan di belakang panggung dan bisa mulai mendengar keseluruhan acara dengan lebih khidmat.

“Saya terima nikahnya….”

Apaaaa???? Sudah ijab kabul? Dan meski otak ini baru selesai menangkap fakta tersebut, rasa-rasanya air mata ini ingin segera tumpah. Ya Allah, Ya Rabb, hanya dengan kalimat itu Ya Rabb, Engkau mengubah kedudukan kami. Ya Rabb, benarkah? Sebuah mitsaaqan ghalidza telah diucapkan, dan kali ini menyangkut diri hamba? Tanggung jawab… pemenuhan separuh agama… kewajiban… sebuah janji… amanah… semua hal itu berputar-putar di kepala saya.

Tapi air mata yang ingin segera tumpah itu harus saya tahan. Kasihan ibu perias kalau saya merusak riasan yang dibuatnya lebih dari dua jam hanya dalam waktu beberapa menit. MC pun memberi aba-aba bagi saya untuk keluar dari persembunyian. Seolah teroris yang sedang dicari, saya disambut dengan teriakan oleh segenap teman dan sahabat yang telah hadir.

Ia menyambut saya. Penuh gugup saya menyambut dan mencium tangannya. Setelah bertahun-tahun saya menjaga diri saya dari sekadar menyentuh lawan jenis, sekarang hanya dengan kalimat yang baru saja ia lafazkan, semuanya menjadi halal, dan itu merupakan momentum yang terasa demikian ganjil bagi saya.

Khutbah nikah dibacakan. Terasa semakin berat kewajiban yang siap menyambut kami. Air mata semakin sulit saya tahan hingga berkali-kali saya harus menyusut sudut mata yang basah sebelum ia tumpah dan mengaliri celak hitam untuk kemudian menghitamkan pipi saya.

Dan pada saat acara sungkeman, akhirnya air mata tak dapat saya bending lagi. Saya biarkan ia membanjiri pipi saya, seiring beribu perasaan yang juga membanjiri hati saya. Dosa, tak berbakti, kelakuan saya yang hanya merepotkan, perasaan tak berguna dan bersalah, segala hal yang telah mama dan keluarga saya lakukan untuk saya, semuanya membayang di pelupuk mata. Mama dan kakak tertua saya, maaf dan terima kasih untuk semuanya. Dan tak lupa kerinduan pada ayah… semuanya menjadi tumpah ruah bersama tangisan. Dan ketika itu kakak tertua saya hanya mampu membisikkan, “Sabar…!” di telinga saya.

Awalnya saya tidak paham mengapa harus “sabar” yang dipilih kakak saya pada waktu yang memang sangat singkat itu. Tapi setelah beberapa lama mengarungi kehidupan baru, saya mulai paham bahwa saya memang sangat memerlukan kata itu. Jika ada yang berkata pernikahan adalah sesuatu yang indah, itu benar, tapi keindahan itu memerlukan sesuatu untuk jadi bayarannya, dan kesabaran merupakan salah satu mahar untuk keindahan tersebut.

Dan sekarang inilah kami, ia disana dan saya disini, masih berusaha menghapus jenak-jenak keterasingan di antara kami. Masih berusaha belajar untuk saling memenuhi agama kami. Masih berusaha belajar untuk jadi manusia yang lebih baik dengan segala keterbatasan kami. Masih berusaha bersinergi untuk menjadi bagian dari peradaban yang lebih baik. Masih berusaha…. Masih belajar….

Kami yakin ke depan semuanya akan lebih berat untuk kami hadapi, tapi juga yakin bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian yang tidak sanggup untuk kami tanggung. Inilah jawaban doa istikharah kami selama ini.

Dan saya pun berdoa, semoga pria Malang ini tidak menjadi malang karena menikahi saya….

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu”. (HR Al Bukhari)