moment

Akhirnya…

Setelah penantian panjang (padahal biasa aja), akhirnya putra pertama kami lahir pada tanggal 22 November 2010 dengan berat 2800gram dan panjang 48cm. Cukup kecil untuk ukuran bundanya yang sudah semakin jumbo ini XD. Tadinya berharap si adek muncul di tanggal 01-11-10 sih biar angkanya palindrome haha, tapi apa daya ternyata adek lebih memilih dua angka dobel sebagai hari kelahirannya, saat usia kehamilan mencapai 40 pekan lebih 3 hari.

Dini hari, seperti umumnya ibu hamil yang sulit tidur, saya terbangun karena kontraksi otot pengatur urine. Ba’da qiyamul lail, sekitar jam 2 saya yang memutuskan tidur lagi malah tidak bisa tidur. Mulas-mulas yang saya kira biasa mulai terasa dengan frekuensi 15 menit sekali. Akhirnya saya memutuskan bangun.

Awalnya saya kira mulas-mulasnya bukan karena mau melahirkan, soalnya dari cerita banyak orang mulas-mulas mau melahirkan itu dimulai dari frekuensi beberapa jam sekali dan semakin lama jadi semakin sering, nah saya kan langsung 15 menit sekali. Tapi kakak saya yang kemudian terbangun karena tahu saya terbangun bercerita kalau saat dia akan melahirkan pun mulas-mulasnya langsung berfrekuensi sering. Wew, inikah saatnya kamu lahir Nak?

Tak lama mama juga terbangun. Karena saya sering menjahili mama dengan berpura-pura sudah mulas, awalnya mama tak percaya kalau saya benar-benar mulas XD. Akhirnya setelah beberapa lama beliau percaya juga dan mulai berbenah, baju dan perlengkapan adek yang sedianya sudah rapi dalam satu tas, dibongkar ulang mama hingga hanya menyisakan sedikit untuk dibawa (karena belum 100% percaya saya mulas XD). Dan berangkatlah kami ke rumah bersalin.

Sekitar pukul 4 kami sampai di rumah bersalin. Saya langsung diperiksa dan divonis bukaan 3. Wew, kapan bukaan 1 dan 2 nya ya…. Suster yang menangani memerintahkanagar saya langsung dirawat. Dan karena bawaan perlengkapan yang dibawa cuma sedikit akhirnya mama harus bolak-balik lagi ke rumah. Amisu yang baru kemarin sore pulang ke Jakarta terpaksa balik lagi ke Bandung paginya :P.

Setengah tujuh saya yang sedang berjalan-jalan atas perintah suster berhenti sejenak. Ketika istirahat itulah, ketuban saya pecah dan saya divonis sudah bukaan 5. Mungkin karena ketuban yang pecah duluan itu, saya diperintahkan untuk diinduksi. Mulas makin terasa. Sekitar pukul 10.30 cairan infus baru habis setengahnya dan saya sudah mulas luar biasa, tapi apa daya dokter bilang kepalanya masih di atas, masih bukaan 7-8 dan saya harus menunggu sampai infus habis. Wooot dari mulai diinfus sampai habis setengahnya itu memakan waktu 4 jam, berarti saya harus nunggu 4 jam lagi???

Tapi ternyata tidak, karena sekitar jam 11 saya yang sudah tidak tahan mulai memohon untuk memulai proses persalinan. Suster yang jaga di ruang persalinan hanya satu orang, dan dia pun hanya berkata, “belum bu, tarik nafas keluarkan dari mulut!”. Karena saya keukeuh sambil nangis-nangis, akhirnya saya diperiksa ulang, bukaan lengkap, suster yang tak percaya kemajuan dari bukaan 7-8 sampai bukaan lengkap memakan waktu sebentar ini langsung memanggil dokter dan suster yang lain.

Dengan amisu yang memegangi kaki kiri dan saya sendiri memegangi kaki kanan, satu-dua kali mengejan dan muncullah suara yang kami tunggu…. alhamdulillah Allahu akbar…. selamat datang putraku.

Fakhri Akbar Rasyad

Fakhri Akbar Rasyad

Terima kasih Yaa Rabb telah memudahkan segalanya, dari mulai awal kehamilan hingga lahirnya si kecil. Nampaknya tidak ada kesulitan berarti seperti cerita sahabat-sahabat yang terlebih dahulu bersalin. Walau si kecil sempat dilarikan ke RS karena hiperbilirubin ABO incompatibility, tapi rasanya semuanya begitu dimudahkan hingga si kecil sekarang sudah aktif kembali. Terima kasih juga sudah memberikan saya kekuatan hingga bisa mendampingi si kecil, bolak-balik ke rumah sakit walau masih dalam perawatan pasca melahirkan. Sungguh tak ada kekuatan tanpa izin-Mu.

Terima kasih untuk amisu, atas keliling Jakarta demi pencarian cincau, atas pijatan tengah malam ketika saya kram, atas perhatian ketika saya mual dan pilah-pilih makanan, atas kesediaan bolak-balik Jakarta-Bandung, atas malam minggu yang kita habiskan di ruang tunggu dokter, atas kesediaan menunggui di ruang bersalin.

Terima kasih untuk mama, setelah saya yang merepotkan dulu sewaktu bayi, sekarang mama harus direpotkan lagi oleh bayi saya. Terima kasih atas semuanya, sekarang saya semakin paham betapa sayangnya mama pada saya. Dan atas kepahaman itu, saya semakin sadar bahwa tak akan pernah saya bisa mengganti apa yang mama berikan untuk saya. Mungkin karena itu doa untuk orang tua adalah agar Allah menyayangi dan membalas mereka, karena kasih sayang mereka tak akan terbalas oleh saya.

Terima kasih untuk semua keluarga, saudara, dan rekan-rekan atas semua doa dan dukungan mulai dari awal kehamilan sampai si kecil lahir. Karena doa dan dukungan dari semua, segalanya bisa berjalan dengan lancar.


Tulisan Pertama Untukmu

Sebenarnya dari awal kemunculanmu Bunda udah pengen nulis, tapi baru baru kesampaian sekarang, maaf ya Nak :P. Apalagi baru-baru ini ayah nulis kalau Bunda mulai hiatus dari dunia blog XD, ah sungguh tak bisa diterima…. hehehe.

Maret, hari itu adalah hari-hari yang cukup hectic bagi Bunda. Ya, karena hari itu adalah tenggat waktu pengumpulan persyaratan wisuda Bunda. Tapi tampaknya bukan hanya karena kelulusan Bunda yang membuat Bunda bisa tersenyum sepanjang hari. Bukan juga karena pelangi yang tiba-tiba menghiasi langit Bandung yang kala itu cerah. Ya, itu karena pagi-pagi buta Bunda mendapati dua garis pada testpack yang iseng-iseng Bunda beli. Bunda pikir… subhanallah cerdas sekali kamu Nak, memilih waktu kehadiran saat Bunda sudah lulus dan Ayah sudah mulai mendapat pekerjaan di Indonesia.

Trisemester pertama, waktu yang sering dikhawatirkan karena memang cukup rawan. Bunda baca dan dengar kebanyakan keguguran terjadi pada masa ini. Tapi Alhamdulillah meski kamu dibawa gonjang-ganjing naik motor berkeliling Jabodetabek demi pencarian tempat tinggal, kamu tetap sehat. Selain itu Bunda juga bersyukur betapa kamu tidak rewel hingga Bunda tidak mengalami morning sick, mual-mual berlebihan, atau ngidam yang aneh-aneh. Ah sekali lagi subhanallah, kamu cerdas ya Nak….

Layar hitam putih (yang sebenarnya tak Bunda pahami :D) adalah media pertama Bunda melihatmu. Dokter bilang jantungmu sudah terbentuk dan sudah berfungsi dengan baik. Takjub, mungkin kata itu juga tak cukup mendefinisikan perasaan Bunda. Ah betapa Allah Maha Kuasa ya Nak, tak akan pernah habis dikaji bagaimana proses kehidupan terbentuk, bagaimana rahim bisa menjadi tempat ideal untuk tumbuh dan berkembang, dan itu terjadi dalam tubuh Bunda!! Bukankah itu hal yang paling mengagumkan yang bisa dirasai oleh wanita…

Di awal trisemester kedua, Bunda sempat menangis semalaman karena bercak darah yang muncul. Bunda kira Bunda kehilangan kamu Nak, tapi esoknya dokter memastikan kalau kamu baik-baik saja. Alhamdulillah rasanya luar biasa lega. Dan di akhir trisemester kedua ini Bunda mulai bisa merasai gerakan-gerakan kecil yang kamu lakukan. Subhanallah, rasanya lucu, geli yang aneh :P. Setelah Bunda melakukan percobaan kecil, Bunda bersumsi kamu bergerak lebih aktif jika diperdengarkan bacaan Qur’an dan beberapa lagu klasik, atau jika Bunda mengajakmu ngobrol. Dan anehnya kamu bergerak cukup aktif seringkali di malam hari… hmm Bunda nggak keseringan ngajak kamu begadang kan Nak?

Oh ya, awalnya Ayah dan Bunda pikir kamu bergender perempuan, ternyata dokter bilang “burung”mu sudah terlihat, hihihi. Padahal sudah ada beberapa perbincangan antara Ayah dan Bunda tentang kemungkinan nama dan benda-benda yang ingin dibeli nanti kalau kamu perempuan. Yak kami harus mulai perdebatan baru kalau gitu :P.

Sekarang awal trisemester ketiga, rasanya Bunda udah kangen pingin ketemu. Ada kebahagiaan tersendiri saat melihatmu lewat layar hitam putih setiap kali kunjungan Bunda ke dokter. Ah Nak, seperti apa dirimu? Sungguh Bunda tidak akan khawatir jika kamu mewarisi gen gemuk dari Bunda. Bunda tak khawatir rupamu mewarisi rupa Bunda atau Ayah. Sungguh Bunda ingin mengamini sebait lagu dari Raihan bahwa iman tak dapat diwarisi, karena keimanan Bunda yang lemah ini yang Bunda khawatirkan.

Ah, Nak, jadilah anak yang shalih ya… meski mungkin Bunda tak mampu menjadi prototype yang baik untukmu, dan Bunda sungguh minta maaf untuk itu. Ah Nak, seperti nenekmu pernah bilang pada Bunda bahwa kebahagiaannya bukan ketika anak-anaknya pintar dan mencapai prestasi tertentu meski itu pun pasti menyiratkan senyum bagi orang tua manapun. Ya, kebahagiaan sejatinya adalah ketika melihat anak-anaknya menjadi anak yang shalih. Maka Bunda hanya bisa berdoa moga Allah senantiasa menjagamu ya Nak, membimbingmu, karena Ia-lah sebaik-baik Pembimbing dan Penjaga sementara Bunda hanya orang yang beruntung dititipi dirimu.

Sampai ketemu ya Nak, moga Bunda bisa jadi ibu yang bijak dalam mengiringi tumbuh kembangmu.


Penyesalan Hari Ini

“Padahal handphone-nya masih baru,” pemuda berkulit cokelat matang itu terlihat masih shock dengan kejadian yang menimpanya.

“Ooo…” aku tak mampu berkomentar banyak, rasa bersalah masih menyisakan detak jantung yang tak beraturan.

“Biasanya saya nggak buka-buka handphone di tempat umum, takutnya disangka sombong atau apa, tapi ya tadi ibu saya nelepon,” dari sorot mata dan caranya berbicara aku bisa menduga kalau pemuda ini memang polos, apa adanya, dan sepertinya ia anak bungsu, sepertiku.

“Maaf ya,” kata itu terlontar juga.

“Ah nggak apa-apa, mungkin saya-nya sombong, jadi kayak gini. Mungkin emang bukan rejeki saya. Alhamdulillah cuma handphone, dulu sempet dirampok sampai ditusuk gitu. Waktu itu saya sampai gemeteran, sekarang berasa lemes aja.”

Aku terenyuh, dalam kondisinya ia masih bisa menemukan hal positif untuk dihadirkan dalam kepalanya. Sementara aku terpojok dalam beragam penyesalan….

Seandainya aku langsung curiga ketika…

“Pak ada muatan Pak!” seru seorang pemuda berkemeja kotak-kotak itu memberhentikan sopir angkot. Padahal biasanya sopir sangat awas terhadap calon penumpang, bahkan yang tidak akan naik pun ditawar-tawari untuk naik.

Pemuda berkemeja kotak-kotak itu memain-mainkan sejumlah uang di tangannya sambil cengengesan. Ia duduk menghadap pintu layaknya seorang kernet. Sementara itu sang penumpang baru yaitu seorang pemuda lain dengan wajah bulat telah duduk di samping kiri sang pemuda polos.

Seandainya aku tak hanya bertanya-tanya dalam hati saat…

Si pemuda berwajah bulat itu mencoba menukarkan sejumlah uang dengan si pemuda polos. Tapi kenapa harus dengannya? Bukankah si “kernet” jelas-jelas sedang memain-mainkan uang? Dan lalu kenapa saat tangan kanannya bertransaksi, tangan kiri si pemuda bulat itu bermain-main di bawah tas besar yang tampak kosong itu?

Seandainya aku langsung berteriak untuk mengalihkan perhatian saat…

Seorang pemuda berkaus hitam menaiki angkot. Si “kernet” entah kenapa menjegal si pemuda berkaus hitam ini hingga ia kesulitan untuk duduk . “Permisi mas!!” teriak si pemuda berkaus hitam pada si “kernet” yang malah semakin menjadi membuat si kaus hitam terdesak untuk melesak ke sisi kanan si pemuda polos yang masih dipusingkan dengan transaksi pergantian uang. Kejadian itu berlangsung beberapa saat dan aku tak bisa melihat dengan jelas karena badan besar si muka bulat menghalangi pandangan.

Seandainya aku cukup berani untuk berkata “copeett!!” ketika si kernet dan si kaus hitam turun dari angkot dan bertingkah layaknya sahabat padahal tadi mereka seperti hendak berkelahi.

Seandainya aku punya cukup bukti dengan membidikkan kamera, hingga ketika si pemuda polos menanyakan dimana handphone-nya pada si pemuda bulat aku bisa berkata bahwa si bulat salah satu komplotannya. Tapi tidak, si bulat dengan tenang berkata “handphone-nya diambil ama yang berdua tadi itu”, padahal dengan nalar yang cukup terang, tidak mungkin si bulat bisa langsung mengetahui ke mana handphone itu hilang jika ia tidak termasuk komplotannya. Kalaupun ia tak terlibat dan hanya melihat kejadiannya, kenapa ia tak menghentikan transaksi pergantian uang agar si pemuda polos bisa lebih memperhatikan handphone-nya?

Ah seandainya aku bisa berucap lebih dibanding hanya kalimat yang kuucapkan dengan bibir bergetar, “Astaghfirullah, moga pencuri handphone-nya sadar ya…”

Ah seandainya iman dalam dada ini lebih kuat hingga bisa mencegah kemungkaran dengan tindakan atau dengan kata-kata, tidak hanya dengan hati yang merupakan manifestasi selemah-lemahnya iman.

Dan sepanjang sisa perjalanan itu aku menyesal, menyesal atas kepengecutanku yang membuktikan lemahnya imanku….

Maafkan saya Dik… Ampuni hamba-Mu ini Yaa Rabb…


Ten Things I Hate About You

I hate when you drive your motorcycle… with no map, with no direction. It just makes me feel that I am losing time. Losing time for a terrible trips, but that aren’t trip anyway… those are adventures.

I hate when you buy me something… and buy yourself a-mini-version-of-something or even worse… a-no-thing. It just makes me feel greed… greed for your kindness and defeatism.

I hate when you talk… about unlucky peoples and you’ll start to sad for them. I hate when you push me to give some money to old green-grocery sitting in front of minimarket. I hate it cause it just makes me cry… for how generous you are.

I hate when you come to my family’s house. I hate when you understand them better than me. I hate when mom cooks for you and not for me. I hate it because it just keeps me for realizing that married is not just about you and me… it’s also about our family, and I hate that you’ve suit my family while I’m afraid I haven’t suit yours.

I hate when you can solve my problem. I hate when you help me with my final project. I hate when you always there every time I need a hand. I hate all those things because those things just make me sad for never been the same way for you.

I hate when you call me with epithet… “ndut”, “mon”, “mbrot”…. I hate it even I consider it’s reasonable for you to call me that way. I hate it because no one ever calls me so. I hate it because I know that the sobriquet is just the way you loving-kindness.

I hate it when you hit me. However, I know you only hit me when I’m about tickling you, and it also without your awareness of hitting me. Therefore, seeing you laugh aloud when I’m tickling you makes me forget that you ever hit me because of it.

I hate when you say “mau tau aja”… and try to surprise me every time you have a chance. It just makes me asking fussily. Anyhow, your coming into my life has become a big surprise for me. Since the very beginning, you’ve done many amazement things and now I’m curious for more stagger things you’ll do to startle me until our very end.

I hate when I have to write this for your birthday. It just makes me sad for knowing I have nothing to give you. I have nothing but to assure you that I’ll try my best for always stand beside you… to know you better… to accept more thing about you that I may hate.

I hate you for being my husband. I hate all the things you’ve done to me. I hate it because I conscious of how ungrateful I am for what He has granted me… you.


Once Upon a Time in a Bus

Kalo di film Once Upon a Time in China tokoh utamanya itu Wong Fei Hung, nah di postingan ini tokoh utamanya adalah seorang dosen ITB. Yup, kami duduk bersebelahan dalam suatu perjalanan dari Bandung ke Jakarta, dan dalam pembicaraan kami yang kemana-mana, beliau tiba-tiba berujar…

“Saya prihatin anak-anak SMP sekarang pacaran udah pada pegang-pegangan tangan.”

Karena penasaran saya pun bertanya padanya, “Kalau putra Bapak masih sekolah?”

“Iya, yang paling besar masih SMP.”

“Hooo… kalo Bapak sendiri mencegah anak-anak Bapak biar nggak kayak gitu gimana?”

“Ah ya kembalikan saja ke dasarnya.”

Mengerutkan dahi, “Maksudnya?”

“Ya saya ajarkan Al Qur’an, tiap abis shubuh kami baca Qur’an dan mendiskusikan artinya. Dengan sendirinya dia tau mana yang baik dan mana yang nggak, jadi ya gampang kalo dia mau berbuat sesuatu saya tinggal tanya dia mau masuk surga atau neraka. Toh dia tau itu bukan kata-kata saya, tapi langsung dari Pencipta-nya.”

Saya mengangguk-angguk.

“Tahajud juga dia nggak usah disuruh udah ngerjain sendiri, meski sambil ngantuk-ngantuk, yang penting dia berusaha. Dan kalau dia berbuat salah malah dia yang mengakui.”

Dan lagi-lagi saya cuma bisa mengangguk-angguk.

“Orang-orang sekarang sibuk cari cara mendidik anak-anak, ala barat lah… padahal semuanya udah ada di Al Qur’an… ”

Saya tersenyum mengiyakan dalam hati.

I think I’ve found the best answer to my anxiety about my children. Yeah, I wish I could teach my children as you teach yours, Sir. But could I? Won’t I feel like a hypocrite then?


1212

Heu lagi pengen sering nulis, tapi mudah-mudahan nggak nulis yang nggak jelas, meski keknya kali ini postingannya emang nggak jelas. Well, nggak berniat ikut-ikutan 2012 yang bikin kontroversi, ini hanya tentang dua hari yang lalu, 12 Desember. Ada apa emang? Nggak ada apa-apa sih, bagi saya itu hanya bertepatan dengan lima bulan kami menikah :D. Sebenarnya nggak berniat buat memperingati secara khusus sih, cuma pengen jalan-jalan mumpung masih bisa pacaran sebelum ada yang bergerak-gerak di perut saya (aamiin…) :D.

Kami pun memutuskan untuk mengunjungi suatu tempat di daerah Jakarta karena amisu sedang magang disana. Karena uang di dompet pas-pasan, amisu bersikukuh mencari ATM dulu. Ternyata karena mencari ATM itu, kami terdampar di suatu pinggiran Jakarta. Daerah kumuh, dengan hilir sungai yang telah berubah warna menjadi hitam sempurna. Seorang nelayan tua dengan kulit luka dan sakit, berdiri di pinggir sungai dengan tatapan kosong. Pemandangan itu membuat air mata saya meleleh. Saya memang baru kali ini sedikit berkeliling Jakarta, sebelumnya hanya mengunjungi tempat tertentu tanpa berkeliling, dan keadaan ini sungguh membuat saya kaget.

Dan seperti biasanya, jika melihat pemandangan seperti itu, kami pun mulai diskusi tentang pemimpin negeri ini. Mungkin kami tak akan sesedih ini jika hal ini terjadi di suatu desa nun jauh dari ibukota, tapi hey ini terjadi di Jakarta… tidakkah para pemimpin negeri ini pernah berkunjung ke daerah yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempat mereka bercokol? Ah betapa rindu hati ini pada pemimpin seperti Umar bin Khattab yang menengok rakyatnya secara diam-diam, yang membantu mereka dengan tangannya sendiri. Ah tapi ternyata saya sendiri memang belum melakukan apa-apa selain hanya bisa bersedih… ampuni hamba Yaa Rabb karena belum bisa berbuat apa-apa terhadap hamba-Mu yang lain.

Perjalanan berlanjut, setelah berputar-putar cukup jauh, akhirnya ATM pun ditemukan. Kami pun mengunjungi tempat itu. Menunggu hujan reda, kemudian menaiki perahu yang membawa kami ke suatu pulau. Ternyata perjalanan dengan perahu cukup memakan waktu, memungkinkan saya untuk melamun agak lama. Ditemani ombak yang menggoyang-goyang perahu dengan sedikit sadis hingga kami oleng ke kiri dan ke kanan. Ditemani burung-burung bangau yang terbang berkelompok-kelompok, ada yang terbang rendah, ada pula yang terbang tinggi.

Ah betapa perjalanan hidup mengantarkan saya sampai disini. Ah betapa baiknya Engkau yang telah memberi hamba begitu banyak hal dalam waktu singkat ini. Ah betapa banyak yang harus hamba syukuri Yaa Rabb. Kami tahu perjalanan ini baru kami mulai, tapi izinkanlah kami untuk memulai dan menjalaninya dengan niat yang ikhlas. Kami paham perjalanan ini tidak akan mudah, tapi hiasilah perjalanan ini selalu dengan kesabaran dan kesyukuran karena hanya dengan itu semuanya akan terasa lebih mudah. Jika cinta dan benci harus datang silih berganti, maka jangan biarkan cinta dan benci itu timbul karena hal lain selain pencarian kami atas ridha-Mu. Yaa Rabb, sungguh betapa Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka sungguh mudah Engkau menakdirkan apapun bagi kami. Dan apapun takdir-Mu atas kami Yaa Rabb, jangan pernah tinggalkan kami, jangan pernah tinggalkan kami….

Dan seperti ucapan Ust. Anis Matta dalam bukunya, saya menatapnya lamat-lamat dan mulai bertanya pada diri sendiri, apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama saya?

Quiz: tempat apakah yang kami kunjungi? 😀


M-nya Besar

Sebenernya canggung juga nulis cerita tentang ini, tapi karena diminta sebagai pelengkap cerita ini dari sudut pandang yang lain, maka yah inilah.

“Siapa ya pria malang yang bakal jadi suami saya,” sepertinya itu gumaman batin yang sering saya lontarkan kalau mengingat-ingat pernikahan. Sungguh bukan doa, tapi saya hanya merasa bahwa saya punya kekurangan yang sangat banyak hingga saat itu saya merasa perlu untuk mengasihani seseorang yang kelak menjadi suami saya. Tapi Allah ternyata mengabulkan gumaman hati saya, alih-alih pria malang, Allah menjadikan seorang pria Malang sebagai suami saya.

Dan cerita pun bergulir hingga sampai hari yang bersejarah (setidaknya bersejarah bagi kami berdua). Pagi itu saya sudah duduk di ruang rias, sambil terus mengutak-atik handphone memastikan keberadaan beberapa orang terkait. Ibu perias dengan sigapnya mengolas-oles wajah saya. Entah berapa macam bahan kimia yang dioleskannya, saya sendiri sampai heran sebanyak itukah zat yang harus dipasangkan pada muka saya. Hingga akhirnya riasan selesai dan saya merasa seperti ondel-ondel yang siap tampil….

Sebetulnya saya ingin mengikuti acara dari awal, tapi karena riasan yang belum selesai, saya terpaksa hanya mendengar sayup-sayup ketika Al-Qur’an mulai dibacakan. Dan ketika riasan selesai, saya didudukkan di belakang panggung dan bisa mulai mendengar keseluruhan acara dengan lebih khidmat.

“Saya terima nikahnya….”

Apaaaa???? Sudah ijab kabul? Dan meski otak ini baru selesai menangkap fakta tersebut, rasa-rasanya air mata ini ingin segera tumpah. Ya Allah, Ya Rabb, hanya dengan kalimat itu Ya Rabb, Engkau mengubah kedudukan kami. Ya Rabb, benarkah? Sebuah mitsaaqan ghalidza telah diucapkan, dan kali ini menyangkut diri hamba? Tanggung jawab… pemenuhan separuh agama… kewajiban… sebuah janji… amanah… semua hal itu berputar-putar di kepala saya.

Tapi air mata yang ingin segera tumpah itu harus saya tahan. Kasihan ibu perias kalau saya merusak riasan yang dibuatnya lebih dari dua jam hanya dalam waktu beberapa menit. MC pun memberi aba-aba bagi saya untuk keluar dari persembunyian. Seolah teroris yang sedang dicari, saya disambut dengan teriakan oleh segenap teman dan sahabat yang telah hadir.

Ia menyambut saya. Penuh gugup saya menyambut dan mencium tangannya. Setelah bertahun-tahun saya menjaga diri saya dari sekadar menyentuh lawan jenis, sekarang hanya dengan kalimat yang baru saja ia lafazkan, semuanya menjadi halal, dan itu merupakan momentum yang terasa demikian ganjil bagi saya.

Khutbah nikah dibacakan. Terasa semakin berat kewajiban yang siap menyambut kami. Air mata semakin sulit saya tahan hingga berkali-kali saya harus menyusut sudut mata yang basah sebelum ia tumpah dan mengaliri celak hitam untuk kemudian menghitamkan pipi saya.

Dan pada saat acara sungkeman, akhirnya air mata tak dapat saya bending lagi. Saya biarkan ia membanjiri pipi saya, seiring beribu perasaan yang juga membanjiri hati saya. Dosa, tak berbakti, kelakuan saya yang hanya merepotkan, perasaan tak berguna dan bersalah, segala hal yang telah mama dan keluarga saya lakukan untuk saya, semuanya membayang di pelupuk mata. Mama dan kakak tertua saya, maaf dan terima kasih untuk semuanya. Dan tak lupa kerinduan pada ayah… semuanya menjadi tumpah ruah bersama tangisan. Dan ketika itu kakak tertua saya hanya mampu membisikkan, “Sabar…!” di telinga saya.

Awalnya saya tidak paham mengapa harus “sabar” yang dipilih kakak saya pada waktu yang memang sangat singkat itu. Tapi setelah beberapa lama mengarungi kehidupan baru, saya mulai paham bahwa saya memang sangat memerlukan kata itu. Jika ada yang berkata pernikahan adalah sesuatu yang indah, itu benar, tapi keindahan itu memerlukan sesuatu untuk jadi bayarannya, dan kesabaran merupakan salah satu mahar untuk keindahan tersebut.

Dan sekarang inilah kami, ia disana dan saya disini, masih berusaha menghapus jenak-jenak keterasingan di antara kami. Masih berusaha belajar untuk saling memenuhi agama kami. Masih berusaha belajar untuk jadi manusia yang lebih baik dengan segala keterbatasan kami. Masih berusaha bersinergi untuk menjadi bagian dari peradaban yang lebih baik. Masih berusaha…. Masih belajar….

Kami yakin ke depan semuanya akan lebih berat untuk kami hadapi, tapi juga yakin bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian yang tidak sanggup untuk kami tanggung. Inilah jawaban doa istikharah kami selama ini.

Dan saya pun berdoa, semoga pria Malang ini tidak menjadi malang karena menikahi saya….

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu”. (HR Al Bukhari)


13 Hari

Meski tidak genap dua pekan, seharusnya 13 hari merupakan waktu yang cukup lama. Kenyataannya 13 hari masih jauh dari cukup bagiku untuk mengenalmu. Namun paling tidak sudah cukup banyak hal-hal yang kutemukan….

Hal yang paling membuatku bangga bukanlah ketika kau bisa menjawab semua pertanyaanku. Bukan ketika kutemukan transkripmu hanya dipenuhi A dan B. Bukan ketika kau berkutat dengan buku dan dalam separuh waktu bacaku kau melibas bacaan yang kubaca. Meski itu semua memang membuatku bangga, tapi aku jauh lebih bangga ketika dalam shalat berjama’ah kau membacakan surat baru pertanda hafalanmu bertambah.

Hal yang paling membuatku bahagia bukanlah ketika menemukan kenyataan bahwa kita sama-sama menyukai F1. Bukan ketika kau membelikanku beberapa hadiah. Bukan ketika kau mengajakku berpetualang menjelajah ruang dan rasa. Meski itu semua memang membuatku bahagia, tapi aku merasa jauh lebih bahagia melihatmu bangun lebih pagi dariku untuk qiyamul lail, ketika kau membangunkanku untuk bergabung denganmu untuk menghadap-Nya.

Hal yang paling membuatku terharu bukanlah ketika kau memegang tanganku saat aku hampir terjatuh. Bukan saat kau meminta maaf ketika kau salah. Bukan ketika kau membantuku mencuci piring. Meski ya… itu semua membuatku sangat terharu, tapi ketika kau menghentikan bacaan Qur’an-mu untuk mendengar koreksi dariku, itu jauh lebih membuatku terharu.

Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari mengenalmu, tapi mengenalmu kini adalah pekerjaan seumur hidupku. Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari sempurna, tapi ketika Dia menitipkanku padamu aku yakin Dia ingin menyempurnakanku dengan keberadaanmu.


A Little Girls Question

(In order to learn English, since my English was horrible XD)

I’d capture a story about a little girl. I guessed her age were about three to four years at that time. Once she was looking upon the sky. A beautiful night sky with a lovely full moon and scattered stars. Then a thought cross of her mind, she found something to ask. Therefore, she decided to ask straightaway, without waiting any seconds to keep the question in her mind. Then she said, “Why moon always follow after me wherever I go?”

People who had listened to her question were laughing at her. They maybe think that she was so funny. Moon doesn’t follow anyone. Moon doesn’t even have any feet to walk. People kept laugh at her and didn’t realize that something might go wrong. Well, maybe there was nothing wrong. Neither the question, nor peoples who laugh at her. Maybe the question was very cute, so was her expression when she asked that. But the girl had grasped something that she shouldn’t even catch.

From that day, if she had any question to ask, she would think many… many times before she got the question came out her mind and transformed into words. Scare, shame, always come around her when she think she have to ask. She scared that the question might very fool so it would only bother the others. She would feel ashamed if her question was just the things that had been explained.

When she at the elementary school, she went with a car. She saw trees in a range formation. Some of them are in front of the others. She was watching it, and trying to understand that when she was moving with the car, the trees were doing the same thing in her sight. The frontage trees seemed leaving her faster than the back one. In her sight, she found that the back range trees following her before they actually going backward. She got the “aha” about her own question that she had asked many years ago. It should have been explained by the theory about time, velocity, and distance. Moon might didn’t following her that night, the distance between moon and her that made it seemed to move and go along her.

Therefore, she decided to find and answer her own question. She lived in her own mind. She often wonders about the answers that others would give for her questions. She has trying to figure out and answering her own questions so many years in her life. She made self-addressed questions. If someone asked, she would try to guessing and answering the question, even the question wasn’t for her.

Then she grew old. She still kept her question about “following moon”. She never lost her curiosity about many things yet still tried to answer her questions by herself. She learned so many things in her life, but so many questions that should have been asked just being threw by her. Time goes by and latter on, she found that she had wasted so many times because of her fatuity.

Nobody knows what would happen if peoples who listened her question didn’t laugh at her, neither she would. Nobody knows what would happen if the people answered her question appropriately. If they just pretended not to hear her question. If they just smiled at her and said, “You’ll find out why moon is chasing after you”. If they made a joke for her by saying, “Yeah… look… it is coming after you… watch out!! Oh no it is becoming bigger and bigger!! Be careful… it may fall into you!! Noooo… booom… kazoom!!!!”

Well for me, her story was inspiring. Our action, no matter how small it was, it could affect others. I believe that every action was neutral yet every reaction that made something become negative or positive. There was a space between every action and every reaction… something called selection. I’m hoping that I could give my best reaction for every action that came to me, especially when it related to children.


Mukrab, Sebuah Catatan Pinggir 2

Pendahuluan: Haduh, basi nian ini postingan, sebenarnya ini saya tulis sehari setelah mukrab, tapi baru ada kesempatan untuk ngepost sekarang. Yah, walau mukrab sudah berlalu, tapi pesan dalam postingan ini mudah-mudahan tidak akan berlalu dengan mudahnya 🙂

Dua pasang mata bulat bening itu tengah saling menjelajah. Bermain kemudian bertengkar, menggoda lalu menjerit manja. Si kakak tengah memainkan kaki sementara si adik belum juga berhenti terbatuk ketika si ibu menyapaku.

“Punten Neng, bisa minta uang buat ongkos?”

Dalam hati terbersit ketidakikhlasan, bukankah ini cara meminta-minta yang sangat umum dijumpai? Tapi akhirnya kukeluarkan juga sejumlah uang, “Mau kemana Bu? Emang Ibu tinggal di mana?”

“Ibu mah kemana-mana, nggak punya tempat tinggal, tidur juga di emperan sama anak-anak,” ia menatap sejenak kedua putri lucunya, yang kelucuannya sedikit tertutupi oleh baju dan muka mereka yang kotor coreng-moreng, “ini mau ke Caringin ke tempat saudara, siapa tahu mau nampung,” ujar sang ibu sambil tak henti berterima kasih atas uang yang tak seberapa itu.

Uang yang diterima si ibu serta merta direbut si kakak, nampak jelas anak itu sangat senang sekaligus sangat jarang melihat apalagi menggenggam uang. Si adik lalu meronta-ronta meminta bagian dari kakaknya.

Turun dari angkot pikiranku masih mengelana, mengapa begitu menyedihkan negeri ini. Ketika yang miskin tak punya harga diri hingga minta-minta dan berputus asa untuk berusaha, hingga tak punya kebanggaan lagi untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sementara itu yang kaya semakin tak punya hati, menjadikan harta sebagai tujuan bahkan tuhan, membenarkan apa yang salah dan menyalahkan yang apa benar.

Aku menatap bungkusan di tanganku, sebentuk kepala Doraemon yang akan digunakan untuk properti acara himpunan bernama Mukrab. Pengelanaan otakku sampai pada satu titik dimana aku mempertanyakan, “Di luar konteks niat sang ibu meminta-minta, apa pikiran itu masih bentuk halus dari ketidakikhlasanku?”

Ya Allah, padahal begitu mudah aku mengeluarkan uang untuk hal yang lain. Padahal uang yang kukeluarkan untuk membuat kepala Doraemon itu besarnya 3x lipat uang yang kuberikan pada sang ibu, dan aku mengeluarkan uang itu dengan senang hati. Padahal aku tahu pasti kepala Doraemon itu hanya akan berakhir di sebuah tong sampah di kampus. Padahal aku tahu pasti pemilik dua pasang mata bulat bening itu lebih membutuhkan uang untuk sekadar mengisi perut mereka.

Dan pengelanaan pikiranku berakhir pada suatu titik: Bahwa kita seringkali merasa ringan mengeluarkan jumlah uang yang besar untuk sesuatu yang mungkin sepele, sementara terasa begitu berat untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang sama untuk hal yang mungkin lebih beresensi. Tak hanya uang… waktu, pikiran, tenaga pun ternyata memiliki nasib yang sama: lebih terasa ringan untuk dicurahkan pada hal yang mungkin esensinya lebih rendah.

Pengelanaan pikiranku terhenti pada pertanyaan: Begitu kesat dan keras kah hatiku hingga memberi dalam jumlah sekecil itu terasa berat?


Keluarga…

Tinggal jauh dari keluarga dan harus menumpang tinggal di beberapa keluarga yang saya kunjungi ternyata memberikan saya pengalaman yang bagi saya cukup menarik.

Memperhatikan budaya yang berbeda, kebiasaan yang tidak sama, suasana yang tidak biasa… semuanya demikian menarik. Pertama, saya tinggal bersama keluarga pamannya Reisha yang berlatar belakang budaya Minang, tapi karena lama tinggal di Surabaya, budaya Jawa juga terlihat dari sisi-sisi kesehariannya… terutama bahasanya. Kedua, keluarga bibi-paman saya yang latar belakang budayanya Sunda-Madura. Ketiga, sempat beberapa hari tinggal di sebuah keluarga rekan kakak saya yang latar belakang budayanya full Jawa Timur.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujuraat: 13)

Hal yang menjadikan ini menarik adalah memperhatikan interaksi antar anggota keluarga. Terutama peran ayah….

Allahumaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fuanhu


Malang

Bukan, kami belum jalan-jalan ke Malang kok (insya Allah akan… hehehe aamiiin). Malang itu ngikut-ngikut Bolang, hehe udah nemu kepanjangannya? Yosh, mahasiswa petualang hahaha, terdengar menjijikkan, tapi yah terserahlah.

Lho emang di Surabaya KP apa jalan-jalan? Yah sekali merengkuh dayung dua tiga tempat wisata pulau terlewati 😀

Hahaha… jadi setelah (padahal baru aja… ) 4 hari KP, maka pada hari Sabtu saya dan seorang teman memutuskan untuk keliling Surabaya. Jadi sehari sebelumnya, kami bertanya pada Mbah Gugel, “Mbah… dimanakah tempat-tempat wisata di Surabaya?” dan dengan sigap Mbah Gugel memuntahkan sebuah peta wisata beserta trayek mikrolet di Surabaya. Malam harinya, dengan penuh pertimbangan, kami mencari tempat wisata mana saja yang akan kami sambangi. Dan setelah melalui debat yang cukup alot (duh mudah-mudahan teman saya nggak baca, soalnya saya banyak membesar-besarkan isi postingan kali ini :D) terpilihlah 3 tempat wisata untuk kami kunjungi.

Tet teret teret…. inilah road-map nya (more…)


another mitsaaqan ghaliidza

Aku menunduk mencoba untuk merenung dengan takzhim. Entah kenapa begitu banyak hal yang melintas di benakku. Ayahku yang mungkin tengah menyaksikan kami dari alam sana… mama yang telah berjuang membesarkan kami sendirian…. Dan ke-Maha-Besar-an-NYA yang telah menjadikan suatu mitsaaqan ghaliiza….

“Abdi nikahkeun anjeun sareng putri teges Bapak…..”

“Tarima Abdi nikah sareng putri teges Bapak….”

Dan air mata ini mulai meluncur perlahan diantara riuh suara hamdalah di sekitarku. Dan sekali lagi suatu perjanjian yang berat telah terucapkan. (more…)


Memangnya Ke Mana Ibunya?

Seorang gadis manis masuk ke dalam angkot yang saya naiki (lagi-lagi kisah di angkot… huhu gimana lagi, klo saya hitung-hitung, saya sudah menjalani hidup saya selama sekitar setengah tahun di angkot :D). Di belakangnya, dua orang laki-laki mengikutinya memasuki sang angkot. Sepertinya salah satu dari laki-laki itu mengenal keluarga sang gadis.

Gadis itu mengenakan seragam sebuah sekolah menengah kejuruan. Matanya sayu (bukan sayang uang :P) dan sendu (dan bukan seneng duit :D). Walau masih putih, seragamnya terlihat agak lusuh, mungkin karena ada bercak hitam seperti bekas cat di bagian bahunya. Kalau saja kulitnya putih terawat, dan rambutnya agak panjang, maka ia tak ubahnya gadis Jepang di video klip Konayuki (saya masih normal kan klo suka ngeliatin cewek cantik???? >_<).

Salah satu laki-laki itu mulai membuka pembicaraan dengan gadis itu, mulai dari pertanyaan standar, seperti, “Mau ke mana?” “Masih sekolah, atau kerja?” sampai pertanyaan yang tidak saya duga, “Ibu di mana sekarang?” (sebenarnya dalam bahasa Sunda sih, tapi saya Indonesiakan :D, saya baik ya, memperhatikan pembaca yang bukan orang Sunda… hueeekkss :D)

Dan gadis itu menggeleng, “Nggak tahu…”

Laki-laki yang bertanya sedikit berbisik pada laki-laki satunya, “Kasihan, ibunya udah nggak tahu di mana, nggak sayang sama anak-anaknya.”

Dan dari sisa pembicaraan mereka, saya hanya bisa menangkap kalau gadis itu memang ditinggal ibunya, sementara ayahnya hanya sesekali pulang karena bekerja di Jakarta. Jadi berpikir, memangnya ke mana ibunya? Pertanyaan saya itu membawa saya ke berbagai kemungkinan… kemungkinan yang pada akhirnya membuat saya bersyukur memiliki keluarga yang sangat baik.

“Give thanks to Allah, for the moon and the stars… prays in all day full, what is and what was… Take hold of your iman, dont givin to shaitan. Oh you who believe please give thanks to Allah.” (Give thanks to Allah, Michael Jackson)


Pembicaraan Yang “Tidak-Tidak”

Mozart – Oboe Concerto – 1st Movement masih mengalun lembut dari speaker laptop sementara sequence diagram yang telah saya selesaikan baru diagram ke-14 dari 52 diagram.Tiba-tiba kakak tertua saya yang sedang ada di rumah masuk ke kamar dan mengajak ngobrol, awalnya hanya pembicaraan normal sampai ia mulai mengatakan yang “tidak-tidak”. Ummm mungkin wajar, karena di rumah ia sudah seperti “pengganti” ayah saya yang sudah lama meninggal… tapi bagi saya tetap saja isi pembicarannya itu “tidak-tidak”…..

K: “Nis, kalau kamu udah punya calon, ya nikah aja…”

(more…)


Once Upon A Time In Angkot

Awal Maret

Pagi itu saya buru-buru naik angkot jurusan Caheum-Ledeng, lumayan masih kosong, jadi saya bisa memposisikan diri di tempat duduk paling pojok. Kenapa paling pojok? Ummm soalnya saya bersiap untuk sejenak membiarkan mata tertutup setelah malamnya sedikit berjuang mempertahankan dirinya untuk melek.

Saat saya naik, hanya ada dua penumpang, sepasang suami istri setengah baya. Tak lama naik dua orang ibu kira-kira usianya 50-an. Dengan susah payah mereka berusaha menaikkan karung besar ke dalam angkot. Kemudian dengan ramahnya mereka menawari sepasang suami istri itu, isi karung mereka yang ternyata ubi. Ubi itu mereka beli dari Jatinangor, dan hendak mereka jual.

Tak berapa lama setelah kedua ibu itu, naik pula seorang gadis muda, sepertinya  masih kuliah. Dan karena sudah menunggu cukup lama, sopir akhirnya memutuskan untuk memberangkatkan kami.

Sampai di sebuah lampu merah, seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun mendekati angkot kami. Bajunya lusuh, rambutnya merah tak beraturan. Tangan kecilnya menengadah menanti recehan yang diulurkan dari penumpang, sambil berkata lirih dengan kosa kata yang tak jelas. Ibu sang anak berdiri tak jauh darinya. Ia menggendong bayi, adik dari anak kecil itu.

Setelah angkot yang saya naiki berlalu agak jauh, komentar-komentar mulai bermunculan dari para penumpang. Suami istri itu berkomentar, “Kasihan ya, masih kecil”. Sementara dua orang ibu penjual ubi berkomentar, “Tega betul ibunya, padahal sesusah apapun kan itu tetap anaknya…”. Sang gadis beda lagi komentarnya, “Emang bisanya bikin anak doang, ngurusnya nggak bisa…”. Sementara saya hanya merem melek sambil tersenyum simpul pada setiap orang yang minta persetujuan saya terhadap komentarnya.

Hummm… apa yang ditangkap? Menurut saya, kejadian itu merepresentasikan sebagian dari sikap dominan yang ada di masyarakat. Sepasang suami istri menurut saya merepresentasikan mayoritas penduduk yang ada di zona nyaman. Mereka memandang “kasihan” pada dua ibu penjual ubi dan si anak kecil, karena memang mereka tak pernah merasakan hal yang dirasakan si penjualubi dan si anak. Tapi sayangnya “kasihan” itu hanya sampai di lisan, tak ada pengejawantahan lain dari “kasihan” itu. Saya pikir itu juga yang terjadi di sebagian besar masyarakat. Kurangnya inisiasi untuk benar-benar bergerak.

Dua orang ibu penjual ubi merepresentasikan masyarakat menengah ke bawah yang tak menyerah dengan keadaan. Mereka terus berjuang mempertahankan harga diri mereka, bahwa “saya masih mampu, dan tak perlu belas kasihan orang lain”. Mereka mengasihani si anak kecil dan ibunya dengan cara yang lain, bukan karena miskin, tapi kasihan karena mereka tak bisa lagi mempertahankan harga diri. Mungkin karena itulah komentar yang keluar adalah “perbandingan” antara kondisi diri mereka dengan dirinya. Menurut saya, masyarakat jenis ini sudah jarang ada di kota. Masyarakat jenis ini banyaknya di daerah dan pedesaan, dimana mereka hidup masih dengan “ciri khas Indonesia yang sering didengungkan saat SD: gotong royong, ramah, dll.”

Menurut saya si gadis merepresentasikan masyarakat “terpelajar” yang bisanya hanya berkomentar. Komentarnya mungkin berbobot, tapi rapuh. Masyarakat yang hanya bisa memandang dari satu sisi untuk kemudian men-judge berdasarkan apa yang ia lihat. Ia tak pernah tahu, dan mungkin tak mau tahu kenapa si ibu tega membiarkan anaknya yang masih kecil berkeliaran di antara mobil yang berlalu lalang, mengemis, padahal anak itu adalah “anaknya”… darah dagingnya, yang pada masyarakat menengah ke atas begitu dimanja dan dilindungi. Ia hanya melihat pada “bagaimana seharusnya” untuk kemudian membandingkan pada apa yang ia lihat dan mengharuskan apa yang ia lihat untuk menjadi “seperti seharusnya”.

Si ibu dan si anak jelas merepresentasikan masyarakat bawah yang menyerah pada keadaan… yang sayangnya semakin mudah ditemui. Saya yakin kondisi mereka tak hanya stimulus dari kondisi internal mereka yang memang miskin. Kondisi eksternal mereka (dimana kita termasuk di dalamnya) menurut saya punya andil dalam kehidupan mereka.

Lalu saya merepresentasikan apa? Ummm… mungkin saya merepresentasikan masyarakat yang apatis, yang memikirkan  hal-hal seperti… “tugas kuliah saya lebih penting daripada semua pembahasan itu…”

Allahu’alam bishawab

NB: … merindukan seseorang yang di dalam kulkas rumahnya tersedia banyak susu kemasan, setiap harinya ia menyimpan dua sampai tiga susu dalam tasnya untuk ia berikan pada anak kecil malang yang ia temui (seperti anak kecil berusia empat tahun dalam cerita di atas) saat motornya berhenti di perempatan jalan…


Memulai Dengan Kematian

From those around I hear a Cry,
A muffled sob, a Hopeless sigh,
I hear their footsteps leaving slow,
And then I know my soul must Fly!

A chilly wind begins to blow,
Within my soul, from Head to Toe,
And then, Last Breath escapes my lips,
It’s Time to leave. And I must Go!

So, it is True (But it’s too Late)
They said: Each soul has its Given Date,
When it must leave its body’s core,
And meet with its Eternal Fate.

Oh mark the words that I do say,
Who knows? Tomorrow could be your Day,
At last, it comes to Heaven or Hell
Decide which now, Do NOT delay!
Come on my brothers let us pray
Decide which now, Do NOT delay!

Oh God! Oh God! I cannot see!
My eyes are Blind! Am I still Me
Or has my soul been led astray,
And forced to pay a Priceless Fee

Alas to Dust we all return,
Some shall rejoice, while others burn,
If only I knew that before
The line grew short, and came my Turn!

And now, as beneath the sod
They lay me (with my record flawed),
They cry, not knowing I cry worse,
For, they go home, I face my God!

(more…)


FallEnTire

Karena berdasarkan mitos dan beberapa penelitian katanya cokelat itu bisa membuat bahagia, maka malam-malam saat orang-orang rumah bersiap tidur saya malah nyalain kompor, masukin air, cokelat blok bekas bikin puding, susu dan gula, dan mulai memasak sambil berharap “kebahagiaan” akan datang.

(more…)


Ternyata Susu!!!

Setelah tidak begitu sukses dengan puding, esoknya tanpa menyerah sampai titik darah penghabisan (halah…) saya masak lagi. Kali ini korban saya adalah spaghetti.

Spaghetti, saya cukup sering memasak pasta jenis ini, tapi entah kenapa rasa sausnya kurang mak nyuss. Tanpa kenal lelah demi sesosok daging cincang di lemari es yang merengek ingin dimakan, maka saya mulai memutar otak untuk mencari cara membuatnya enak. (berlebihan banget ya…)

Seperti biasa spaghetti direbus, jangan lupa tambahkan sedikit minyak sayur agar tidak lengket dan sedikit garam agar cepat lunak dan agar rasa spaghetti tidak hambar. Jangan terlalu lembek, karena jika sausnya siap, spaghetti akan dimasak lagi untuk meresapkan sausnya. Lagipula, lebih enak kalau agak kenyal.

Untuk sausnya, (more…)


Balada Sepasang Puding

Yup, beberapa hari ini karena nggak ada kerjaan, saya mulai ngutak-ngatik lemari dan menemukan beberapa bahan makanan yang meraung-raung ingin dimasak dan dimakan (soalnya tanggal kadaluarsa-nya sebentar lagi, hihi). Maka jadilah saya memasak setelah sekian lama tidak menyentuh kompor.

Tertarik bikin puding cokelat seudah ngeliat ada sebatang cokelat blok yang nganggur cukup lama di lemari es. Maka sang cokelat blok itu segera saya lumerkan (tahu kan cara melumerkan cokelat biar nggak gosong?) lalu merebus air, gula pasir, dan adonan agar-agar. Setelah mendidih, cokelat yang sudah cair itu dimasukkan. Lalu biarkan sampai mendidih lagi sambil diaduk-aduk. Setelah itu masukkan ke loyang/cetakan dan biarkan dingin.

Lalu jadinya seperti apa saudara-saudara? (more…)


Ulang Tanggal

Iseng-iseng liat blog stats, ternyata terjadi lonjakan yang cukup tinggi di hari yang bertepatan dengan tanggal kelahiran saya (saya sebut ulang tanggal, bukan ulang tahun, karena buat saya aneh kalau disebut ulang tahun, rasanya saya nggak pernah mengulang tahun… >__<) saya memang masih menganggap birthday sebagai sesuatu yang istimewa. Masa yang pas untuk “berhenti sejenak”.

Tapi sekarang, entah kenapa, saya lebih suka untuk tidak menjadikannya istimewa lagi. (walau demikian, saya sangat… sangat… sangat… berterima kasih dan sangat menghargai orang-orang yang telah memberi perhatian untuk saya dengan mengingat tanggal kelahiran saya dan mengucapkan selamat ulang tahun lewat media apapun, dan saya tetap merasa terharu dan senang untuk itu). (more…)


Cita-Cita?

Setiap kali ada kesempatan, saya sering nanya pada ponakan saya apa cita-cita mereka, dan jawabannya sungguh aneh bin ajaib…

  • ponakan 1: mau jadi robot
  • ponakan 2: jadi Samurai X
  • ponakan 3: jadi mobil
  • ponakan 4: jadi kambing ompong (yang ini baru tiga tahun, nampaknya sangat terinspirasi oleh lagu-nya Melisa yang salah satu syairnya, “jadi anak jangan suka bohong, klo bohong digigit kambing ompong”) eh harimau ompong aja… (dia ngeralat)

Dan sebenarnya masih banyak jawaban aneh lain yang udah saya lupa. Hummm, sebenarnya apa yang salah ya? Mungkin usia mereka memang masih kecil untuk memikirkan tentang cita-cita, tapi kadang saya memang merasa aneh dengan diri saya sendiri. Dulu waktu kecil pun cita-cita saya aneh-aneh kok, misalnya mau jadi mata-mata (jadinya sangat suka main mencari jejak atau polisi-polisian). Dan seudah agak ngerti tentang cita-cita, cita-cita saya adalah jadi arsitek… dan ternyata malah nyasar ke IF….

Apa ada yang salah dengan pembinaan anak-anak Indonesia hingga kebanyakan cita-cita mereka seringkali tidak sesuai dengan realitanya? (ini kata temen yang pernah ke Swedia…)

Apa ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia hingga angka orang-orang yang merasa “salah jurusan”, “tidak berada di tempat yang diinginkan” atau sebangsanya itu cukup tinggi?


Hal Yang Hilang

Adanya adalah berkah dan tiadanya merupakan kehilangan yang sangat

Aku rindu saat-saat dimana orang-orang saling menanyakan kabar dengan seulas senyum tanpa ingin ditanya kabarnya terlebih dahulu

Aku rindu saat-saat dimana orang-orang tersenyum tulus, orang-orang yang tak memberi kesempatan orang lain untuk mengetahui luka hatinya

Aku rindu saat-saat dimana yang ada hanya semangat dan saling memberi semangat

Aku rindu saat-saat dimana orang-orang saling memberikan kesempatan untuk masuk ke WC terlebih dahulu padahal masing-masing pun mempunyai kebutuhan untuk masuk ke dalamnya

Aku rindu ketika diskusi merupakan kebiasaan dan nasehat adalah budaya

Aku rindu ketika rapat bukanlah sesuatu formalitas untuk menentukan hal-hal teknis, tapi untuk silaturahim, untuk mengetahui keadaan saudaranya

Aku rindu saat-saat dimana orang-orang mau mengulurkan tangannya padahal merekapun membutuhkannya, karena dalam pikiran mereka hanyalah Allah sebaik-baik penolong

I miss u guys… damn I really miss u…

Ternyata kerinduanku itu hanyalah bentuk dari ketidakmampuanku untuk menjadi seperti mereka…

untuk teman-teman SMA-ku yang sangat kurindukan

Melodi Kala UTS

Sebenernya cerita ini harusnya udah basi, tapi karena postingan saya sebelum ini kata beberapa orang agak2 berat, makanya saya selingi dengan postingan ini. 🙂

7602, pukul 11.20

Aku duduk di barisan keempat paling ujung. Di sebelahku seorang teman yang NIM-nya hanya terpaut beberapa angka dariku. Kami sudah menundukkan kepala sejak beberapa menit yang lalu, mencoba menekuri dan menenggelamkan diri dalam soal yang hanya beberapa baris. Udara mulai terasa dingin karena AC yang menyala.

Sepi… hening…? Oh ya? Tidak juga karena ternyata aku dan temanku itu membuat semacam melodi di tengah keheningan. Ya karena kami dipaksa menundukkan kepala untuk berkubang dalam soal, karena AC yang membuat ruangan menjadi terasa begitu dingin, karena kami sama-sama tak membawa tisyu, karena kami sama-sama sedang terkena flu…

Melodi itu berbunyi… srok… srook srook… srok srok… srooooook…. 😀

Hehe maaf jorok 🙂 hikmahnya jagalah kesehatan saat ujian, bukan hanya mengganggu dirimu tapi mengganggu ketenangan yang lain…