poem

matahariku

Matahariku
Tak ada yang ingin kupinta, tapi tolong tunjukkan sang bumi
Bumi yang di pelatarannya tergambar berlikunya jalan
Lalu tunjukkan padaku jalan yang benar
Jalan yang dengannya aku menemukan
indah untuk kupandang, merdu untuk kudengar, sejuk untuk kuhirup, hangat untuk kurasa
Dan bersinarlah untukku, berikan aku kehangatan untuk kuat menapaki jalan itu
Tapi tunjukkan pula padaku jalan yang salah
Jalan yang dengannya aku hanya menemukan gelisah dan kecewa
Dan teriklah untukku, untuk mencegahku menuju jalan itu (more…)

Advertisements

Epilog Sajadah

Hanya malam biasa seperti malam-malam biasanya
Malam ketika semua terasa sepi dan senyap tanpa suara

Malam ketika Ia mengabulkan do’a
Malam ketika malaikat diutus turun ke bumi
Malam ketika aku rindu suara isak tangis
Malam ketika aku masih terlipat rapi dalam lemari
Malam ketika aku melihatmu masih pulas dalam balutan selimut hangat

Bandung, 27 Juli 2007


Dungu Menunggu

Ke mana? Ke mana setiap detik kerinduanku pada syurga?

Kubuang ke mana kekhawatiranku terhadap neraka?

Ketika aku tiba-tiba menjadi seorang penentang yang nyata dalam segala kelemahan dan ketidakberdayaanku

Ke mana air mata yang mengiringi takut, harap, dan cinta tertinggi hanya untuk-Nya?

Kupungut dari mana tawa lena yang melenakan?

Ketika aku tak juga tersadar dari tidurku yang terjaga, dari kesunyian, kesendirian dan kemunafikan

Ketika kaki ini semakin sulit untuk melangkah

Dianya diperparah oleh segala yang menjadi sebab yang disebab-sebabkan

Ketika tangan ini semakin sulit bekerja

Dianya diperparah oleh segala apa yang tak tahu apa-apa selain tak tahu

Ketika hati ini beku dan membatu

Dianya diperparah oleh segala yang ia pertentangkan dalam dianya sendiri

Aku menunggu

Diam dalam diam yang dalam

Ini akan berakhir dan senyum geli akan adalah penutupnya

Aku menunggu

Sunyi dalam sepi yang menulikan

Berharap satu eposide buruk segera berganti tayangan

Aku hanya menunggu

Dalam segala kedunguanku akan arti menunggu

Karena yang kutunggu adalah diri

Diri dari diri yang menunggu

Bandung, 27 Juli 2007


Puisi Cinta

Ada satu puisi cinta yang sampai sekarang selalu saya ingat. Walau saya juga penggemar puisi cinta “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono yang liriknya :

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

tapi puisi yang satu ini tak hanya saya gemari tapi juga saya tangisi….

Jika cinta adalah ketertawanan

Maka tawankah aku dengan cinta-Mu

Agar tak ada lagi yang mampu menawanku

Jika rindu adalah rasa sakit yang tak bermuara

Maka penuhilah rasa sakitku dengan kerinduan kepada-Mu

Dan jadikanlah kematianku sebagai muara pertemuanku dengan-Mu

Sesungguhnya hati ini hanya cukup untuk satu cinta

Jika ku tak memenuhinya dengan cinta-Mu

Akan kupalingkan kemana lagi wajahku?

Yusuf Qardhawi

Apa yang terasa?

Kalau saya, waktu pertama baca puisi itu, saya kagum atas rimanya. Saya menikmatinya seperti seorang pendengar yang mendengarkan pujangga kawakan pujaannya.

Semakin saya baca, saya semakin menyukai diksinya. Pilihan kata yang pas dan terasa manis. Saya menikmatinya seperti seorang murid yang mendengarkan guru favoritnya mengajar hingga setiap kata ia perhatikan.

Semakin saya renungi, saya makin gandrung dengan maknanya. Makna yang terkandung dalam rangkaian diksi yang berrima. Saya menikmatinya seperti seorang pesakitan yang mendengarkan dokter yang dipercaya akan menyembuhkannya.

Ya… cinta…. kalau Ti Pat Kay (si panglima yang dikutuk jadi siluman babi dalam cerita Son Go Ku alias kera sakti) bisa berkata, “Dari dulu memang begitulah cinta, deritanya tiada akhir…” maka saya bisa bilang, “Cintanya salah tuh!”

Ya, cinta adalah ketertawanan. Ketika kita jatuh cinta, maka pikiran kita tertawan oleh ia yang kita cinta. Kita akan mulai sering melamun, dan memikirkan ia yang kita cinta. Bahkan laku kita pun mulai tertawan, karena ingin terlihat sempurna (dan kalaupun ingin terlihat apa adanya, itupun karena ingin diperhatikan) oleh ia yang tercinta. Tapi seringkali kita tak menyadari bahwa kita telah jadi tawanan, karena cinta seringkali merupakan lena yang melenakan.

Ya, rindu itu menyakitkan. Karena menyiksa… karena tersiksa oleh keinginan untuk bertemu, untuk berinteraksi dengan ia yang tercinta. Mungkin karena itu banyak yang sulit tidur, tak enak makan, karena rasa rindu. Dan takkan pernah puas, walau berapa lama pun bertemu, ketika berpisah, sang rindu kembali menghantui… kembali menyakiti…. tapi seringkali kita tak menyadari bahwa kita tersakiti, karena kita menikmati rasa sakit itu dengan lamunan-lamunan yang tiada akhir.

Ya, hati ini hanya cukup untuk satu cinta. Satu cinta bukan berarti satu orang, tapi pilihan antara “cinta yang benar” dan “cinta yang salah”. Dan ketika kita memilih “cinta yang salah”, maka jangan hidup di dunia yang diciptakan oleh Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”. Maka jangan makan dengan anugerah Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”. Maka bersembunyilah, jangan sampai engkau ketahuan memiliki “cinta yang salah” oleh Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”, karena Ia Maha Pencemburu.

Maafkan hamba-Mu ini Ya Rabb jika ternyata, sadar ataupun tidak, ada “cinta yang salah” yang menjangkiti hati ini.