Latest

Once Upon a Time in a Bus

Kalo di film Once Upon a Time in China tokoh utamanya itu Wong Fei Hung, nah di postingan ini tokoh utamanya adalah seorang dosen ITB. Yup, kami duduk bersebelahan dalam suatu perjalanan dari Bandung ke Jakarta, dan dalam pembicaraan kami yang kemana-mana, beliau tiba-tiba berujar…

“Saya prihatin anak-anak SMP sekarang pacaran udah pada pegang-pegangan tangan.”

Karena penasaran saya pun bertanya padanya, “Kalau putra Bapak masih sekolah?”

“Iya, yang paling besar masih SMP.”

“Hooo… kalo Bapak sendiri mencegah anak-anak Bapak biar nggak kayak gitu gimana?”

“Ah ya kembalikan saja ke dasarnya.”

Mengerutkan dahi, “Maksudnya?”

“Ya saya ajarkan Al Qur’an, tiap abis shubuh kami baca Qur’an dan mendiskusikan artinya. Dengan sendirinya dia tau mana yang baik dan mana yang nggak, jadi ya gampang kalo dia mau berbuat sesuatu saya tinggal tanya dia mau masuk surga atau neraka. Toh dia tau itu bukan kata-kata saya, tapi langsung dari Pencipta-nya.”

Saya mengangguk-angguk.

“Tahajud juga dia nggak usah disuruh udah ngerjain sendiri, meski sambil ngantuk-ngantuk, yang penting dia berusaha. Dan kalau dia berbuat salah malah dia yang mengakui.”

Dan lagi-lagi saya cuma bisa mengangguk-angguk.

“Orang-orang sekarang sibuk cari cara mendidik anak-anak, ala barat lah… padahal semuanya udah ada di Al Qur’an… ”

Saya tersenyum mengiyakan dalam hati.

I think I’ve found the best answer to my anxiety about my children. Yeah, I wish I could teach my children as you teach yours, Sir. But could I? Won’t I feel like a hypocrite then?

1212

Heu lagi pengen sering nulis, tapi mudah-mudahan nggak nulis yang nggak jelas, meski keknya kali ini postingannya emang nggak jelas. Well, nggak berniat ikut-ikutan 2012 yang bikin kontroversi, ini hanya tentang dua hari yang lalu, 12 Desember. Ada apa emang? Nggak ada apa-apa sih, bagi saya itu hanya bertepatan dengan lima bulan kami menikah :D. Sebenarnya nggak berniat buat memperingati secara khusus sih, cuma pengen jalan-jalan mumpung masih bisa pacaran sebelum ada yang bergerak-gerak di perut saya (aamiin…) :D.

Kami pun memutuskan untuk mengunjungi suatu tempat di daerah Jakarta karena amisu sedang magang disana. Karena uang di dompet pas-pasan, amisu bersikukuh mencari ATM dulu. Ternyata karena mencari ATM itu, kami terdampar di suatu pinggiran Jakarta. Daerah kumuh, dengan hilir sungai yang telah berubah warna menjadi hitam sempurna. Seorang nelayan tua dengan kulit luka dan sakit, berdiri di pinggir sungai dengan tatapan kosong. Pemandangan itu membuat air mata saya meleleh. Saya memang baru kali ini sedikit berkeliling Jakarta, sebelumnya hanya mengunjungi tempat tertentu tanpa berkeliling, dan keadaan ini sungguh membuat saya kaget.

Dan seperti biasanya, jika melihat pemandangan seperti itu, kami pun mulai diskusi tentang pemimpin negeri ini. Mungkin kami tak akan sesedih ini jika hal ini terjadi di suatu desa nun jauh dari ibukota, tapi hey ini terjadi di Jakarta… tidakkah para pemimpin negeri ini pernah berkunjung ke daerah yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempat mereka bercokol? Ah betapa rindu hati ini pada pemimpin seperti Umar bin Khattab yang menengok rakyatnya secara diam-diam, yang membantu mereka dengan tangannya sendiri. Ah tapi ternyata saya sendiri memang belum melakukan apa-apa selain hanya bisa bersedih… ampuni hamba Yaa Rabb karena belum bisa berbuat apa-apa terhadap hamba-Mu yang lain.

Perjalanan berlanjut, setelah berputar-putar cukup jauh, akhirnya ATM pun ditemukan. Kami pun mengunjungi tempat itu. Menunggu hujan reda, kemudian menaiki perahu yang membawa kami ke suatu pulau. Ternyata perjalanan dengan perahu cukup memakan waktu, memungkinkan saya untuk melamun agak lama. Ditemani ombak yang menggoyang-goyang perahu dengan sedikit sadis hingga kami oleng ke kiri dan ke kanan. Ditemani burung-burung bangau yang terbang berkelompok-kelompok, ada yang terbang rendah, ada pula yang terbang tinggi.

Ah betapa perjalanan hidup mengantarkan saya sampai disini. Ah betapa baiknya Engkau yang telah memberi hamba begitu banyak hal dalam waktu singkat ini. Ah betapa banyak yang harus hamba syukuri Yaa Rabb. Kami tahu perjalanan ini baru kami mulai, tapi izinkanlah kami untuk memulai dan menjalaninya dengan niat yang ikhlas. Kami paham perjalanan ini tidak akan mudah, tapi hiasilah perjalanan ini selalu dengan kesabaran dan kesyukuran karena hanya dengan itu semuanya akan terasa lebih mudah. Jika cinta dan benci harus datang silih berganti, maka jangan biarkan cinta dan benci itu timbul karena hal lain selain pencarian kami atas ridha-Mu. Yaa Rabb, sungguh betapa Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka sungguh mudah Engkau menakdirkan apapun bagi kami. Dan apapun takdir-Mu atas kami Yaa Rabb, jangan pernah tinggalkan kami, jangan pernah tinggalkan kami….

Dan seperti ucapan Ust. Anis Matta dalam bukunya, saya menatapnya lamat-lamat dan mulai bertanya pada diri sendiri, apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama saya?

Quiz: tempat apakah yang kami kunjungi? 😀

Tips Bertengkar

Di google reader, saya nge-feed beberapa blog yang menurut saya cukup spesifik pada tema tertentu dan tentunya bermanfaat. Salah satunya ini. Nah di sana ada artikel tentang pertengkaran. Sebenarnya isinya lebih ke tipikal pertengkaran yang ditujukan secara khusus untuk pasutri, tapi di sini saya akan berusaha menjelaskan (ditambah dari sumber-sumber lain) agar lebih general dan bisa diterima oleh yang belum menikah juga hehehehe. Saya juga nggak akan menjelaskan semuanya, karena di sana poin-poinnya cukup banyak. Oke here they are…

(Biar singkat kita sebut orang yang berkonflik dengan anda sebagai X ya.)

1. Tunjukkan letak kemarahan anda
Mungkin anda merasa bahwa nggak mungkin X nggak paham maksud kemarahan anda, well jangan berasumsi, jelaskan saja dengan jelas, “saya marah karena ZZZ”. Kalau anda mengatakan “cari tau aja sendiri” maka jangan salahkan X jika masalahnya hanya akan semakin panjang. Karena bisa jadi X tak berhasil mencarinya atau malah X malas mencari hingga X akan semakin tak peduli.

2. Tunjukkan bahwa masalah tersebut penting
Adakalanya masalah timbul karena kesalahpahaman, bisa jadi untuk anda hal itu penting sementara untuk X hal itu sama sekali tak penting. Jika hal ini terjadi, katakan saja pada X, “I’m concern about this” dia akan tersadar dan mulai peduli tentang masalah yang anda hadapi.

3. Jangan gunakan media umum
Jika anda berkonflik dengan seseorang sebaiknya jangan menggunakan media umum untuk memberitahukannya. Contoh gampangnya status FB. Saya lumayan sering melihat orang yang memasang status emosional seperti, “gw sebeeeeel ama lu!” apalagi di malam hari ketika orang-orang mulai alay dan lebay. Sebenarnya sah sah saja sih, toh itu FB anda, tapi kasian kan temen-temen anda yang nggak salah harus ikut bingung dengan status anda dan menduga-duga jangan-jangan anda sebel padanya. Selain itu cara ini tidak efektif, karena belum tentu X membaca status anda (kecuali anda menggunakan sintaks “@nama_X” :D). Sepertinya jelas bahwa hal ini hanya akan mendatangkan kerugian pada anda karena kemungkinannya cuma dua: pertama komentar akan ramai hingga anda lelah mengklarifikasi, dan yang kedua komentar sepi hingga anda kesal sendiri mengapa X tak juga menunjukkan batang picture profile-nya. Kerugian lain adalah, ketika masalah sudah selesai, status anda itu masih akan terdokumentasikan, meski anda hapus secara fisik, orang-orang yang sempat membacanya (yang mungkin anda tidak tahu siapa saja) mungkin akan masih mengingatnya. Ingatlah, anda tidak bisa menghapus ingatan orang lain kecuali jika anda Romi Rafael atau Uya Kuya XD.

4. Pilih tempat cerita dengan tepat
Jika anda merasa harus berbagi tentang masalah anda pada orang lain sebelum anda meledak, pilihlah orang yang tepat, orang yang bijak dan dapat melihat sesuatu dengan objektif. Jangan cari orang yang akan selalu membenarkan anda, karena ini hanya akan membuat anda merasa jadi orang yang paling benar. Percayalah, orang yang selalu membenarkan anda dan selalu menyalahkan X justru perlu dipertanyakan kadar kebijaksanaannya, apalagi jika ia tidak mengenal X dan/atau tidak memahami masalah yang anda hadapi. Bahkan jika mungkin cari orang yang justru anda tahu akan membela X :D. Mungkin karena itu beberapa orang menerapkan “curhat pada mertua” jika ada masalah dengan pasangannya.

5. Berbicaralah dengan bijak
Orang yang bijak terlihat dari gaya bahasanya. Karena itu ketika anda berkonflik, berbicaralah dengan kepala yang tetap dingin, pandangan yang tetap luas. Dengan itu anda bisa menangkap permasalahan dengan baik dan lebih bijak menghadapinya. Jika anda merasa kepala anda terlalu “panas”, maka minta waktu terlebih dahulu sampai anda merasa lebih baik. Ini telah disiratkan dalam hadis bahwa jika kita marah, dalam kondisi berdiri maka duduklah, jika sudah duduk maka telentanglah (jangan telenpalu XD), jika masih merasa marah maka berwudhulah dan shalat.

6. Jangan berasumsi
Kadang asumsi benar, tapi seringkali asumsi salah (kecuali jika tidak dijelaskan dalam soal maka anda boleh berasumsi. Tuliskan asumsi anda pada kertas soal >.<). Gunakan fakta saja, kumpulkan sebanyak-banyaknya baru ambil kesimpulan tentang masalah yang dihadapi

7. Sepakati solusi bersama
Masalah anda sudah selesai? Benarkah? Jika ya seharusnya anda memiliki solusi-solusi yang anda dan X setujui bersama. Jika anda hanya saling meminta maaf, bisa jadi masalah yang sama akan timbul dan ini tidak sehat. Jadi sepakatilah solusi bersama. Saya setuju dengan pernyataan seorang selebritis tentang rumah tangganya, “kami bukannya jarang bertengkar, kami justru sering bertengkar, buat saya tidak masalah kalau dalam setahun kami bertengkar sebanyak 365 kali, yang penting selama 365 kali itu kami tidak mempertengkarkan hal yang sama”.

Yak sekian dulu…. Dengan berkonflik secara sehat, mudah-mudahan masalah yang anda hadapi akan lebih mudah anda selesaikan. Karena tidak jarang konflik diperlukan untuk merekatkan hubungan :). Dan yang perlu diingat, berkonflik tidak sama dengan marah, karena itu ketika dimintai nasihat, Rasulullah menjawab, “jangan marah!” dan ketika ditanya kedua kalinya, beliau menjawab, “jangan marah!” dan teteup ketiga kalinya pun beliau menjawab, “jangan marah”

Untuk amisu, maaf kalau saya sering marah-marah, but you know I always enjoyed our conflict 😀

Haaah… Baru Baca??!!?

Beberapa waktu ini saya membaca beberapa buku yang… “Ya ampun telat banget baru baca buku itu”. Yak to the point saja, ini beberapa bukunya:

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

Biar Kuncupnya Mekar Jadi BungaWow wow, buku apa ini? Kalau Anda berpikir ini buku untuk wanita, maka Anda tidak sepenuhnya benar. Well, buku ini adalah kumpulan tulisan dari Anis Matta, Lc. yang pernah dimuat di kolom ayah Majalah Ummi. Namanya juga kolom ayah, jelas pangsa tulisan ini adalah para ayah/suami. Tapi karena dimuat di Majalah Ummi (1997-1998), tulisan-tulisan ini sebenarnya juga agar para ibu/istri mengetahui sudut pandang seorang ayah/suami.

Hoho… jadi apa isinya? Hmm Pak Anis sendiri bilang, “Saya sedang mewakili diri saya sendiri di sini, dan bukan sekadar pikiran-pikiran saya. Maka mengalirlah tulisan-tulisan itu, dan setiap kata di dalamnya adalah sepotong hati dan seuntai anak pikiran sekaligus. Setiap kata membahasakan denyut nadi kehidupan saya.”

Buku ini menarik buat saya karena seperti tujuannya, saya bisa melihat sisi lain dari pikiran, perasaan yang dimiliki laki-laki. Dan saya pikir buku ini memang layak dibaca oleh laki-laki yang sudah menikah ataupun yang akan menikah untuk mempersiapkan beberapa sendi kehidupan rumah tangganya.

Dan seperti biasa, seperti tulisan Anis Matta yang lain… bahasanya itu loooo… saya bener-bener suka cara beliau meramu setiap untaian kata pengandaian yang manis hingga jika dimaknai akan menjadi suatu hikmah mendalam. Dan kalau biasanya saya nggak begitu suka buku pernikahan yang mehek-mehek, well, untuk yang satu ini saya nggak bisa bilang ini mehek-mehek… ini bukan tipe buku yang melenakan tentang fantasi yang indah mengenai sesuatu yang bernama pernikahan.

Maka begitulah seharusnya Anda mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna ini terangkum dalam kata ini; menghidupkan.

Hidup ini adalah simponi yang kita mainkan dengan indah. Maka duduklah sejenak bersama pasangan Anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri; apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama Anda? Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya, “Dan nafas cintanya meniup kuncupku maka ia mekar menjadi bunga.”

Anne of Green Gables

Anne of Green GablesNah yang satu ini adalah novel yang dibeliin amisu, karena itu novelnya berbahasa Inggris XD. Novel ini bercerita tentang Anne, seorang gadis panti asuhan yang tidak sengaja datang ke sebuah rumah. Awalnya ia tak diinginkan, namun karena segala kelebihan yang sekaligus kekurangannya, semua orang yang menemuinya bisa mencintainya.

Novel karya Lucy Maud Montgomery ini masuk dalam jajaran all time top 100 best novels versi BBC. Maklum novel ini termasuk novel “tua”, usianya sejak pertama kali diterbitkan sampai sekarang sudah mencapai 100 tahun.  Karena itu setting ceritanya pun ada di masa awal abad ke 19.

Kekuatan novel ini kalau kata saya sih ada dalam pembahasaan dan pengkarakteran yang kuat pada setiap tokoh. Bahasa yang digunakan nggak jarang hiperbolis, tapi justru itu yang membuat menarik. Tapi yang lebih penting, pembahasaannya sangat deskriptif, dan menurut saya ini adalah salah satu hal yang penting dalam sebuah narasi. Dan penokohan Anne sangat baik, saya suka cara Anne mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, kadang menggelitik dan kadang membuat kita berpikir akan kebenaran kata-katanya.

Sayangnya, menurut saya novel ini cenderung membosankan. Ceritanya datar dan plain banget. Secara keseluruhan cerita ini “hanya” mengenai riak-riak keseharian Anne. Tidak ada satu bagian konflik hidupnya yang benar-benar ditonjolkan, karena itu nggak ada klimaks dalam ceritanya.

Oya novel ini juga ada sekuelnya, masih terusan dari kehidupan Anne ketika menjelang dewasa, menikah dan punya anak. Nah karena kebayangnya novel ini bakal mirip dengan novel pertama, saya belum baca terusannya, walo amisu beli sepaket lengkap (maaf ya :D).

Well, that is one of the things to find out sometime. Isn’t it splendid to think of all the things there are to find out about? It just makes me feel glad to be alive—it’s such an interesting world. It wouldn’t be half so interesting if we know all about everything, would it? There’d be no scope for imagination then, would there?

Arok Dedes

Arok DedesWoooo… kalo Anne agak ringan, nah ini novel yang cukup berat. Hmmm bukannya berat gimana sih, tapi kalo dibilang ini tulisannya Pramoedya Ananta Toer, pasti penggemar tulisan beliau bisa nangkap kenapa ini agak berat.

Seperti tulisan disini, berbeda dari Anne, kekuatan Pramoedya justru ada pada ceritanya. Pada penelitian sejarahnya. Pada kedalaman budayanya. Pada peramuan narasi  para tokoh dalam sejarah yang mungkin sudah kita kenal sejak SMP, tapi dulu mungkin terasa membosankan. Membuat saya berpikir, harusnya buku sejarah dibuat dalam karya sastra seperti ini saja ya 😛

Well, dari judulnya jelas kan novel ini mengusung siapa? Yak yak… novel ini bercerita tentang pemberontakan yang dipimpin oleh Ken Arok atas pemerintahan Tunggul Ametung yang tidak memuaskan masyarakat. Kalo tentang hal itu, kayaknya banyak orang yang tau, tapi saya sendiri baru tau kenapa pemberontakan itu terjadi, bagaimana itu dimulai, bagaimana pertentangan antara penganut Syiwa dan Wisnu, bagaimana penggambaran kasta-kasta dan gejolak masyarakat dalam masa ketika tingkatan kasta-kasta itu dipaksa menjadi blur. Dan dengan semua itulah novel ini menjadi sangat menarik.

Saya bener-bener suka bagaimana sejarah begitu hidup dalam sebuah cerita. Bagaimana sebuah budaya benar-benar tergambarkan. Rasanya penelitiannya begitu mendalam, sampai-sampai Pramoedya menggambarkan ciri fisik seorang kasta brahmana dengan kasta sudra yang berbeda.

Dan tentu saja hal menarik lainnya adalah intrik politik dalam novel itu. Yang masih juga berlaku sampai saat ini (memang dimaksudkan sebagai cerminan sih :P), ketika konflik kepentingan berlangsung. Ketika kekuasaan menjadi sesuatu yang membuat seseorang berubah meski awalnya terasa sangat manusiawi.

Yak, Pramoedya benar-benar penulis yang baik menurut saya, dan saya ragu akan ada penulis lain yang bisa menyampaikan sejarah, budaya, politik, agama, dan romantisme dalam saat yang bersamaan.

Thanks to my father in law who has lend me this book and explained about Javanese culture eagerly ^^.

Menjadi Manusia Pembelajar

Menjadi Manusia PembelajarHuwaaaa… ini buku yang sangat terlambat saya baca. Padahal teman-teman SMA saya sudah memperkenalkan penulisnya pada saya sejak kami masih sekolah. Siapa mang penulisnya? Andrias Harefa. Seorang pendobrak yang tidak menyukai bagaimana pendidikan formal di Indonesia berlangsung, sampai ia memutuskan untuk berhenti kuliah padahal “hanya” tinggal menyelesaikan skripsinya.

Sistem yang menjadikan pendidik hanya berfungsi sebagai pengajar. Ketika guru adalah penguasa di depan kelas dan siswa harus duduk dan menerima setiap apa yang dikatakannya. Yang menjadikan manusia-manusia Indonesia kehilangan kreatifitasnya dan akhirnya hanya mampu menjadi pekerja yang berpikir untuk bekerja di perusahaan sampai pensiun, dan kemudian ongkang-ongkang di hari tua meski mungkin kenyataannya tidak seperti itu.

Intinya buku ini mengajak kita jadi manusia pembelajar yang tidak hanya “belajar” pada institusi pendidikan. Mengajak kita untuk berpikir tentang hakikat hidup; membedakan pembelajaran, pengajaran dan pelatihan; menjadi manusia dewasa yang merdeka; menjadi pemimpin hingga akhirnya bisa menjadi guru bangsa. Bukan dalam taraf teknis, tapi dalam tataran konsep. Ini menjadikan buku ini berbeda dari buku-buku pengembangan diri pada umumnya.

Buku yang worth to read menurut saya (walo belum saya beresin nih :D), saya suka cara berpikir penulis yang menjungkir-balikkan  kondisi ideal. Saya juga suka nulikan-nukilan yang diambil dari berbagai orang yang belum pernah saya ketahui, namun begitu mengena. Dari segi bahasa, siap-siap aja untuk mendapati kata-kata yang kadang terasa terlalu jujur :P.

“Saya harap buku ini dapat menjadi warisan bagi kedua putri saya yang masih balita, terutama agar kelak mereka tidak pernah kecil hati karena ayahnya bukan sarjana, bukan doctor, tetapi “hanya” (berusaha menjadi) manusia pembelajar” –Andrias Harefa—

“Aku bukan Hatta, aku bukan Soekarno, bukan Syahrir, bukan Natsir, bukan Marx, dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan… aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari  dan terus-menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus-menerus berproses menjadi aku. Aku adalah aku pada saat sakratul maut” –Ahmad Wahib–

Digital Fortress

Digital FortressGNA… OMG… saya baru baca? Hahaha iya, padahal meski novel ini tergolong “baru” tapi sepertinya orang-orang di sekeliling saya sudah membacanya. Apalagi karena novel ini bercerita tentang kriptografi yang notabene merupakan salah satu mata kuliah di program studi saya.

Nah karena pasti udah banyak yang baca, saya nggak akan berkomentar panjang. Novel ini menarik, sepertinya sangat nyata dalam dunia intelijen. Banyak hal menegangkan, banyak hal tak terduga. Tapi buat saya juga rasanya terlalu banyak “kebetulan baik” yang terjadi dalam novel ini. Ceritanya diramu sangat baik, tapi menurut saya sih penokohannya kurang mantap :P.

Gyaaa… ini buku Dan Brown pertama yang saya baca, punya amisu yang saya culik dari Malang, sayangnya saya lupa menculik novel-novel Dan Brown lain yang dimilikinya 😀

Hufff huff, masih banyak buku yang pengen saya baca… masih banyak e-book ngantri di hard disc, masih numpuk buku di rak kakak, tapi sepertinya masih lama juga saya bisa menyelesaikan si ** agar saya bisa membaca dengan agak luang 😦

M-nya Besar

Sebenernya canggung juga nulis cerita tentang ini, tapi karena diminta sebagai pelengkap cerita ini dari sudut pandang yang lain, maka yah inilah.

“Siapa ya pria malang yang bakal jadi suami saya,” sepertinya itu gumaman batin yang sering saya lontarkan kalau mengingat-ingat pernikahan. Sungguh bukan doa, tapi saya hanya merasa bahwa saya punya kekurangan yang sangat banyak hingga saat itu saya merasa perlu untuk mengasihani seseorang yang kelak menjadi suami saya. Tapi Allah ternyata mengabulkan gumaman hati saya, alih-alih pria malang, Allah menjadikan seorang pria Malang sebagai suami saya.

Dan cerita pun bergulir hingga sampai hari yang bersejarah (setidaknya bersejarah bagi kami berdua). Pagi itu saya sudah duduk di ruang rias, sambil terus mengutak-atik handphone memastikan keberadaan beberapa orang terkait. Ibu perias dengan sigapnya mengolas-oles wajah saya. Entah berapa macam bahan kimia yang dioleskannya, saya sendiri sampai heran sebanyak itukah zat yang harus dipasangkan pada muka saya. Hingga akhirnya riasan selesai dan saya merasa seperti ondel-ondel yang siap tampil….

Sebetulnya saya ingin mengikuti acara dari awal, tapi karena riasan yang belum selesai, saya terpaksa hanya mendengar sayup-sayup ketika Al-Qur’an mulai dibacakan. Dan ketika riasan selesai, saya didudukkan di belakang panggung dan bisa mulai mendengar keseluruhan acara dengan lebih khidmat.

“Saya terima nikahnya….”

Apaaaa???? Sudah ijab kabul? Dan meski otak ini baru selesai menangkap fakta tersebut, rasa-rasanya air mata ini ingin segera tumpah. Ya Allah, Ya Rabb, hanya dengan kalimat itu Ya Rabb, Engkau mengubah kedudukan kami. Ya Rabb, benarkah? Sebuah mitsaaqan ghalidza telah diucapkan, dan kali ini menyangkut diri hamba? Tanggung jawab… pemenuhan separuh agama… kewajiban… sebuah janji… amanah… semua hal itu berputar-putar di kepala saya.

Tapi air mata yang ingin segera tumpah itu harus saya tahan. Kasihan ibu perias kalau saya merusak riasan yang dibuatnya lebih dari dua jam hanya dalam waktu beberapa menit. MC pun memberi aba-aba bagi saya untuk keluar dari persembunyian. Seolah teroris yang sedang dicari, saya disambut dengan teriakan oleh segenap teman dan sahabat yang telah hadir.

Ia menyambut saya. Penuh gugup saya menyambut dan mencium tangannya. Setelah bertahun-tahun saya menjaga diri saya dari sekadar menyentuh lawan jenis, sekarang hanya dengan kalimat yang baru saja ia lafazkan, semuanya menjadi halal, dan itu merupakan momentum yang terasa demikian ganjil bagi saya.

Khutbah nikah dibacakan. Terasa semakin berat kewajiban yang siap menyambut kami. Air mata semakin sulit saya tahan hingga berkali-kali saya harus menyusut sudut mata yang basah sebelum ia tumpah dan mengaliri celak hitam untuk kemudian menghitamkan pipi saya.

Dan pada saat acara sungkeman, akhirnya air mata tak dapat saya bending lagi. Saya biarkan ia membanjiri pipi saya, seiring beribu perasaan yang juga membanjiri hati saya. Dosa, tak berbakti, kelakuan saya yang hanya merepotkan, perasaan tak berguna dan bersalah, segala hal yang telah mama dan keluarga saya lakukan untuk saya, semuanya membayang di pelupuk mata. Mama dan kakak tertua saya, maaf dan terima kasih untuk semuanya. Dan tak lupa kerinduan pada ayah… semuanya menjadi tumpah ruah bersama tangisan. Dan ketika itu kakak tertua saya hanya mampu membisikkan, “Sabar…!” di telinga saya.

Awalnya saya tidak paham mengapa harus “sabar” yang dipilih kakak saya pada waktu yang memang sangat singkat itu. Tapi setelah beberapa lama mengarungi kehidupan baru, saya mulai paham bahwa saya memang sangat memerlukan kata itu. Jika ada yang berkata pernikahan adalah sesuatu yang indah, itu benar, tapi keindahan itu memerlukan sesuatu untuk jadi bayarannya, dan kesabaran merupakan salah satu mahar untuk keindahan tersebut.

Dan sekarang inilah kami, ia disana dan saya disini, masih berusaha menghapus jenak-jenak keterasingan di antara kami. Masih berusaha belajar untuk saling memenuhi agama kami. Masih berusaha belajar untuk jadi manusia yang lebih baik dengan segala keterbatasan kami. Masih berusaha bersinergi untuk menjadi bagian dari peradaban yang lebih baik. Masih berusaha…. Masih belajar….

Kami yakin ke depan semuanya akan lebih berat untuk kami hadapi, tapi juga yakin bahwa Allah tidak pernah memberikan ujian yang tidak sanggup untuk kami tanggung. Inilah jawaban doa istikharah kami selama ini.

Dan saya pun berdoa, semoga pria Malang ini tidak menjadi malang karena menikahi saya….

“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan itu”. (HR Al Bukhari)

13 Hari

Meski tidak genap dua pekan, seharusnya 13 hari merupakan waktu yang cukup lama. Kenyataannya 13 hari masih jauh dari cukup bagiku untuk mengenalmu. Namun paling tidak sudah cukup banyak hal-hal yang kutemukan….

Hal yang paling membuatku bangga bukanlah ketika kau bisa menjawab semua pertanyaanku. Bukan ketika kutemukan transkripmu hanya dipenuhi A dan B. Bukan ketika kau berkutat dengan buku dan dalam separuh waktu bacaku kau melibas bacaan yang kubaca. Meski itu semua memang membuatku bangga, tapi aku jauh lebih bangga ketika dalam shalat berjama’ah kau membacakan surat baru pertanda hafalanmu bertambah.

Hal yang paling membuatku bahagia bukanlah ketika menemukan kenyataan bahwa kita sama-sama menyukai F1. Bukan ketika kau membelikanku beberapa hadiah. Bukan ketika kau mengajakku berpetualang menjelajah ruang dan rasa. Meski itu semua memang membuatku bahagia, tapi aku merasa jauh lebih bahagia melihatmu bangun lebih pagi dariku untuk qiyamul lail, ketika kau membangunkanku untuk bergabung denganmu untuk menghadap-Nya.

Hal yang paling membuatku terharu bukanlah ketika kau memegang tanganku saat aku hampir terjatuh. Bukan saat kau meminta maaf ketika kau salah. Bukan ketika kau membantuku mencuci piring. Meski ya… itu semua membuatku sangat terharu, tapi ketika kau menghentikan bacaan Qur’an-mu untuk mendengar koreksi dariku, itu jauh lebih membuatku terharu.

Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari mengenalmu, tapi mengenalmu kini adalah pekerjaan seumur hidupku. Terima kasih, aku tahu aku masih sangat jauh dari sempurna, tapi ketika Dia menitipkanku padamu aku yakin Dia ingin menyempurnakanku dengan keberadaanmu.

A Little Girls Question

(In order to learn English, since my English was horrible XD)

I’d capture a story about a little girl. I guessed her age were about three to four years at that time. Once she was looking upon the sky. A beautiful night sky with a lovely full moon and scattered stars. Then a thought cross of her mind, she found something to ask. Therefore, she decided to ask straightaway, without waiting any seconds to keep the question in her mind. Then she said, “Why moon always follow after me wherever I go?”

People who had listened to her question were laughing at her. They maybe think that she was so funny. Moon doesn’t follow anyone. Moon doesn’t even have any feet to walk. People kept laugh at her and didn’t realize that something might go wrong. Well, maybe there was nothing wrong. Neither the question, nor peoples who laugh at her. Maybe the question was very cute, so was her expression when she asked that. But the girl had grasped something that she shouldn’t even catch.

From that day, if she had any question to ask, she would think many… many times before she got the question came out her mind and transformed into words. Scare, shame, always come around her when she think she have to ask. She scared that the question might very fool so it would only bother the others. She would feel ashamed if her question was just the things that had been explained.

When she at the elementary school, she went with a car. She saw trees in a range formation. Some of them are in front of the others. She was watching it, and trying to understand that when she was moving with the car, the trees were doing the same thing in her sight. The frontage trees seemed leaving her faster than the back one. In her sight, she found that the back range trees following her before they actually going backward. She got the “aha” about her own question that she had asked many years ago. It should have been explained by the theory about time, velocity, and distance. Moon might didn’t following her that night, the distance between moon and her that made it seemed to move and go along her.

Therefore, she decided to find and answer her own question. She lived in her own mind. She often wonders about the answers that others would give for her questions. She has trying to figure out and answering her own questions so many years in her life. She made self-addressed questions. If someone asked, she would try to guessing and answering the question, even the question wasn’t for her.

Then she grew old. She still kept her question about “following moon”. She never lost her curiosity about many things yet still tried to answer her questions by herself. She learned so many things in her life, but so many questions that should have been asked just being threw by her. Time goes by and latter on, she found that she had wasted so many times because of her fatuity.

Nobody knows what would happen if peoples who listened her question didn’t laugh at her, neither she would. Nobody knows what would happen if the people answered her question appropriately. If they just pretended not to hear her question. If they just smiled at her and said, “You’ll find out why moon is chasing after you”. If they made a joke for her by saying, “Yeah… look… it is coming after you… watch out!! Oh no it is becoming bigger and bigger!! Be careful… it may fall into you!! Noooo… booom… kazoom!!!!”

Well for me, her story was inspiring. Our action, no matter how small it was, it could affect others. I believe that every action was neutral yet every reaction that made something become negative or positive. There was a space between every action and every reaction… something called selection. I’m hoping that I could give my best reaction for every action that came to me, especially when it related to children.