Posts tagged “cinta

Gara-Gara Kaskus

Spoiler alert: tulisan ini nggak akan banyak membahas tentang kaskus 😛

Akhir-akhir ini jadi lumayan rajin ngaskus, seringnya nongkrong di lounge. Ada banyak artikel yang bikin saya menemukan “wow” karena keunikannya, ada banyak artikel yang ngasih masukan dan membuat saya berpikir, namun banyak juga artikel yang nampaknya hanya sampah. Ya… dan seringkali sampah-sampah itu membuat saya terpikir akan masa depan si adek yang akan segera lahir ini.

Pergaulan, terutama dengan lawan jenis. Tak hanya sekali saya menemukan orang yang tanpa malu mengungkapkan aib-nya dan mempostingnya untuk sekadar dapat cendol atau bahkan mencari bata (doh yang nggak suka ngaskus mungkin kurang paham ya :D). Dan jauh lebih sering lagi orang yang memposting aib orang lain yang bahkan tak mereka kenal. Tak perlulah post-nya dibaca, dilihat sekilas judul thread-nya pun sudah menjelaskan hal itu. Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa para pelaku aib ini masih pelajar/mahasiswa.

Cinta, sayang, dks (dan kata sejenisnya) sering mereka jadikan alasan, pembenaran. Jika benar cinta alasannya maka berpikirlah beribu kali sebelum berdua-duaan karena setan mudah memperdaya saat itu. Sebelumnya berpikirlah beribu kali sebelum memutuskan berpacaran, karena pada umumnya berdua-duaan yang berbahaya itu bersama pacar bukan? Dan berpikirlah beribu-ribu kali sebelum jatuh cinta, karena kalau bukan karena jatuh cinta maka secara logis kemungkinannya lebih kecil untuk pacaran dan berdua-duaan. Mungkin terlalu digeneralisasi, tapi sulit bagi saya untuk menjabarkan yang sifatnya kasuistis.

Saya sendiri bersyukur bahwa saya tidak jatuh cinta pada suami saya, tapi saya mencintainya. Cinta yang saya yakini sebagai kata kerja, dan karena itu ia menjadi suatu usaha tersendiri. Saya bersyukur tidak mengenal suami saya sampai waktu-waktu dimana kami memutuskan untuk menikah. Saya bahkan bersyukur baru mengetahui sosok suami saya saat ia berkunjung ke rumah untuk memperkenalkan diri pada orang tua saya. Saya bersyukur karena saya memilih untuk mencintai bukan untuk jatuh cinta.

Teringat kisah Umar bin Abdul Aziz yang jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya melarangnya untuk menikah lagi. Di saat-saat kekhalifahannya, beliau bekerja sangat keras hingga sakit. Pada saat sakit itulah sang istri yang ingin memberikan dukungan mengizinkannya menikahi sang gadis. Namun rupanya karena cinta dan cinta yang lebih tinggi, beliau justru menolaknya dan justru menikahkan sang gadis dengan pemuda lain. Entah benar atau tidak, tapi saya merasakan adanya pergeseran dari “jatuh cinta” menjadi “mencintai” pada kisah tersebut. Cinta yang lebih bermakna. (kisah selengkapnya bisa dibaca dari artikel “Cinta Di Atas Cinta” oleh Anis Matta Lc.)

Saya tidak berharap cendol, dan kalau ada yang melempar bata juga saya terima-terima saja. Toh itu adalah pilihan… untuk mencintai atau jatuh cinta, dan sebagaimana biasanya… pilihan selalu disertai dengan konsekuensi.

Allahu’alam bishawab


Ah Koi Ga!!!

Sebuah ruang di rumah sakit, 15 Desember 2007

Tak ada lagi yang terlihat menarik dari mereka. Kerutan yang memenuhi permukaan kulit, rambut putih yang hampir merata di kepala, gigi yang mulai ompong…. Tidak, secara fisik mungkin memang sudah tak lagi terlihat menarik. Tapi menakjubkan melihat mereka demikian saling mengasihi. Sang kakek dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya terus berusaha membesarkan hati sang nenek yang tengah dilanda sakit. Ia terus-menerus membetulkan letak selimut sang nenek setiap kali sang nenek mengubah posisi tidurnya. Ia juga senantiasa mendekatkan telinganya ke bibir sang nenek setiap kali sang nenek berbicara, mungkin agar sang nenek tidak perlu berbicara terlalu keras yang bisa membuatnya kelelahan.

Memperhatikan adegan itu membuat beragam pertanyaan muncul, benarkah cinta bertumbuh karena sesuatu yang bersifat fisik? Atau benarkah cinta mampu bertahan karena sesuatu yang ter-indera-kan? Jika tidak, lalu apa yang bisa membuat mereka seperti itu? Apa yang membuat mereka menikah kemudian kuat untuk mempertahankannya sedemikian lama?

Cinta… dulu saya demikian benci bahkan jijik pada kata ini. (more…)


Bukan Untuk Dicari

Ketika cinta terucap dalam kata dan terejawantahkan menjadi laku

Beberapa hari yang lalu saya sempat menonton sebuah acara televisi. Acara tersebut menceritakan tentang sebuah yayasan penampungan orang-orang sakit jiwa. Di sana mereka dirawat dan diobati.

Sang pendiri secara sederhana mengungkapkan latar belakang mengapa ia mendirikan yayasan itu, “Saya lihat panti asuhan sudah banyak, panti jompo juga sudah ada, tapi orang-orang yang sakit jiwa ditelantarkan begitu saja.”

Dalam tayangan itu, diperlihatkan bagaimana para pengurus yayasan merawat para pesakitan itu. Dengan sabar mereka “melayani” para pesakitan yang tentu saja perbuatannya aneh-aneh.

Apa yang mereka punya hingga bisa melakukan itu? Cinta?

Mungkin ya, saya selalu percaya bahwa cinta bukan kata benda. Cinta adalah kata kerja. Ia bukan sesuatu untuk dicari tapi untuk dilakukan. Bagi saya cinta bukan sesuatu yang statis, yang diberikan atau diterima kemudian mengendap. Ia adalah sesuatu yang akan terus tumbuh dan berkembang, yang terus berubah dan bergerak, yang harus terus dipelajari.

Begitulah, seperti yang saya lihat dari para pengurus yayasan itu. Mereka belajar mencintai para pesakitan dengan cara memberi… Mereka memberi walau mereka sadar bahwa mereka tak bisa mengharapkan cinta balasan dari para pesakitan itu. Dan saya yakin itu membutuhkan proses, dan saya juga yakin proses itu tak akan mereka hentikan. Saya yakin mereka akan terus mencari formasi terbaik dalam mencurahkan cinta mereka, karena seorang pecinta sejati tak akan pernah berhenti belajar mencintai.

Dan seperti yang pernah diucapkan ibu Dulce Maria pada telenovela Carita De Angel, “Cinta bukan sepotong kue, ia tak akan pernah habis walau terus dibagi”

Jadi berhentilah mencari cinta, belajarlah untuk mencintai dengan ajaran yang tak pernah henti. Karena terlalu banyak orang yang harus dicintai, karena cinta bukan untuk dicari.


Puisi Cinta

Ada satu puisi cinta yang sampai sekarang selalu saya ingat. Walau saya juga penggemar puisi cinta “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono yang liriknya :

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

tapi puisi yang satu ini tak hanya saya gemari tapi juga saya tangisi….

Jika cinta adalah ketertawanan

Maka tawankah aku dengan cinta-Mu

Agar tak ada lagi yang mampu menawanku

Jika rindu adalah rasa sakit yang tak bermuara

Maka penuhilah rasa sakitku dengan kerinduan kepada-Mu

Dan jadikanlah kematianku sebagai muara pertemuanku dengan-Mu

Sesungguhnya hati ini hanya cukup untuk satu cinta

Jika ku tak memenuhinya dengan cinta-Mu

Akan kupalingkan kemana lagi wajahku?

Yusuf Qardhawi

Apa yang terasa?

Kalau saya, waktu pertama baca puisi itu, saya kagum atas rimanya. Saya menikmatinya seperti seorang pendengar yang mendengarkan pujangga kawakan pujaannya.

Semakin saya baca, saya semakin menyukai diksinya. Pilihan kata yang pas dan terasa manis. Saya menikmatinya seperti seorang murid yang mendengarkan guru favoritnya mengajar hingga setiap kata ia perhatikan.

Semakin saya renungi, saya makin gandrung dengan maknanya. Makna yang terkandung dalam rangkaian diksi yang berrima. Saya menikmatinya seperti seorang pesakitan yang mendengarkan dokter yang dipercaya akan menyembuhkannya.

Ya… cinta…. kalau Ti Pat Kay (si panglima yang dikutuk jadi siluman babi dalam cerita Son Go Ku alias kera sakti) bisa berkata, “Dari dulu memang begitulah cinta, deritanya tiada akhir…” maka saya bisa bilang, “Cintanya salah tuh!”

Ya, cinta adalah ketertawanan. Ketika kita jatuh cinta, maka pikiran kita tertawan oleh ia yang kita cinta. Kita akan mulai sering melamun, dan memikirkan ia yang kita cinta. Bahkan laku kita pun mulai tertawan, karena ingin terlihat sempurna (dan kalaupun ingin terlihat apa adanya, itupun karena ingin diperhatikan) oleh ia yang tercinta. Tapi seringkali kita tak menyadari bahwa kita telah jadi tawanan, karena cinta seringkali merupakan lena yang melenakan.

Ya, rindu itu menyakitkan. Karena menyiksa… karena tersiksa oleh keinginan untuk bertemu, untuk berinteraksi dengan ia yang tercinta. Mungkin karena itu banyak yang sulit tidur, tak enak makan, karena rasa rindu. Dan takkan pernah puas, walau berapa lama pun bertemu, ketika berpisah, sang rindu kembali menghantui… kembali menyakiti…. tapi seringkali kita tak menyadari bahwa kita tersakiti, karena kita menikmati rasa sakit itu dengan lamunan-lamunan yang tiada akhir.

Ya, hati ini hanya cukup untuk satu cinta. Satu cinta bukan berarti satu orang, tapi pilihan antara “cinta yang benar” dan “cinta yang salah”. Dan ketika kita memilih “cinta yang salah”, maka jangan hidup di dunia yang diciptakan oleh Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”. Maka jangan makan dengan anugerah Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”. Maka bersembunyilah, jangan sampai engkau ketahuan memiliki “cinta yang salah” oleh Yang Maha Pencinta, Pemilik “cinta yang benar”, karena Ia Maha Pencemburu.

Maafkan hamba-Mu ini Ya Rabb jika ternyata, sadar ataupun tidak, ada “cinta yang salah” yang menjangkiti hati ini.