Posts tagged “Resensi

Nopels

Sebenernya beberapa novel ini udah saya baca beberapa waktu lalu, tapi pengen saya tulisin aja biar saya inget apa isinya. Oke ini dia…

To Kill a Mockingbird

Ini adalah salah satu novel klasik modern yang sering masuk 100 besar novel terbaik sepanjang masa berbagai versi (BBC, Times, dll). Hebatnya, novel ini adalah tulisan pertama sang penulis, Harper Lee, yang langsung dianugerahi penghargaan Pulitzer. Dan saya bilang sih novel ini memang sangat layak untuk itu.

Dari sudut pandang gadis enam tahun, novel ini bercerita tentang kondisi pada saat itu yang kental akan rasialisme. Tentang keluarga dan kehidupan sosial di masa pertengahan abad 19. Yang menjadikan novel ini menarik menurut saya jelas alur ceritanya, ketika idealisme harus bertarung dengan kondisi masyarakat yang ada. Karena puncak cerita berkembang ketika tokoh ayah yang bekerja sebagai pengacara memilih untuk membela seorang pemuda berkulit hitam atas dakwaan pemerkosaan terhadap gadis kulit putih.

Selain dari segi cerita, menurut saya latar dan penokohannya juga disampaikan dengan baik. Mungkin karena (walaupun dibantah oleh penulisnya) banyak orang-orang di sekitar penulis yang menganggap novel ini mirip kisah sang penulis di masa kecilnya, jadi semacam autobiografi lah. Mungkin karena itu penulis bisa sangat menghayati tulisannya. Apapun itu, buat saya ini salah satu novel cantik yang menawarkan kaya pesan moral namun tetap dibungkus dalam bahasa yang ringan.

“They’re certainly entitled to think that, and they’re entitled to full respect for their opinions… but before I can live with other folks I’ve got to live with myself.  The one thing that doesn’t abide by majority rule is a person’s conscience.” By  Atticus Finch.
“I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand.  It’s when you know you’re licked before you begin but you begin anyway and you see it through no matter what.  You rarely win, but sometimes you do.” By Atticus Finch.

Makasih buat Mia yang udah minjemin buku ini di subuh-subuh sebelum kita berangkat kerja 😛

The Alchemist

Wooo ini buku Paolo Coelho pertama yang saya baca, habisnya penasaran banyak banget yang suka sama novel ini (bahkan teman yang setau saya jarang nangis bisa dibuat nangis, siapa cobaaaa…) hingga akhirnya saya beli juga ni buku. Ternyata pas saya cari-cari buku ini juga sering masuk di 100 besar novel terbaik, walau peringkatnya masih cukup jauh di bawah To Kill a Mockingbird.

Jadi apa isi novel ini? Hmm kalau saya bilang sih yang paling menarik dan bikin orang-orang suka pada novel ini karena novel ini bertaburan hikmah, walau saya merasa itu common wisdom. Jadi novel ini bercerita tentang perjalanan seorang pemuda, tentang mimpinya, tentang perjuangannya, tentang hati, tentang kepercayaan. Sebenarnya buku ini mengangkat tema yang cukup berat, tapi dituturkan dengan cukup ringan, hingga tidak terkesan menggurui.

Tapi entahlah, saya (dan amisu, hyaaa ntahvava kami serupa XD) kurang menyukai novel ini. Saya pribadi membandingkan novel ini dengan dengan The Road To Mecca (karena sama-sama bercerita tentang perjalanan) dan saya masih merasa The Road To Mecca menang, selain lebih kaya akan penuturan budaya (di sepanjang novel akan terasa penuturan tentang budaya dan kebiasaan beberapa daerah), lebih menyejarah (latar belakangnya beberapa peperangan), lebih “bercerita” (entah kenapa saya malah hampir melongo setelah menamatkan The Alchemist, “what… that’s it?”), dan lebih menyentuh (huaaa saya nangis di beberapa scene). Tapi sekali lagi itu subjektif sih 😛

Bumi Manusia (Buku pertama Tetralogi Buru)

Hiyaaaa bukunya Pramoedya Ananta Toer lagi! Setelah baca yang ini dan yang ini, akhirnya ada rejeki buat beli buku yang cukup fenomenal ini. Dibanding buku sebelumnya yang pernah saya baca yang berlatar belakang abad lampau, buku ini lebih “dekat” karena berlatar masa kebangkitan nasional di awal abad 19. Dan seperti yang umum diketahui, novel ini ditulis dalam pengasingan.

Novel ini bercerita tentang seorang pemuda yang mendapatkan pendidikan ala Belanda. Yak, buku ini memang bercerita tentang seseorang yang nyata adanya, seorang tokoh pers bernama Raden Tirto Adhi Soerjo. Perkenalannya dengan sebuah keluarga semi Belanda membawanya “berpetualang”. Apa yang menarik? Wooo kalo buku Pram pasti analisis sejarahnya. Saya terkagum-kagum dengan bahasa dan alur ceritanya, seolah saya dilempar ke masa lalu untuk mengetahui tidak hanya perkembangan budaya tapi yang lebih menarik buat saya adalah bagaimana pola pikir orang-orang Belanda, pribumi biasa, dan pribumi ningrat pada masa itu.

Karena ini tetralogi, jadi ceritanya masih bersambung, dan saya masih terseok-seok membaca buku bagian keduanya, hehe. Tapi after all, saya acungi jempol untuk buku ini. Saya merasa lebih mengenal negeri ini dan tingkat nasionalisme saya (wuidih) cukup meningkat setelah membaca buku ini. Well, moga suatu saat Pramoedya tidak hanya jadi salah satu kandidat pemenang Nobel Sastra, karena bagi saya beliau layak menjadi pemenangnya. Oya kabar-kabarnya novel ini akan dibuat filmnya, doh moga filmnya tidak mengecewakan….

“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.”

The Golden Compass

Walau udah nonton filmnya beberapa tahun silam, tapi saya baru baca novelnya, dan kesimpulannya: I’ve got nothing from the movie :D. Yak seperti biasa, jika ada film berbasis novel, maka saya pasti lebih suka novelnya, hmm walau ada beberapa pengecualian sih.

Oke cerita dalam novel ini lebih bersifat fiksi. Buku ini berkisah seputar perjalanan seorang gadis bernama Lyra yang dipercaya sebagai penyelamat, namun tak ada yang boleh memberitahukan apa yang harus ia lakukan. Nah di buku pertama ini, Lyra dan daemonnya berusaha menyelamatkan sahabatnya. Upayanya itu tanpa ia sangka telah membawanya berpetualang menempuh bahaya hingga menemukan dunia baru.

Apa yang menarik? Hmm… sulit saya identifikasi mana bagian terbaik dari novel ini. Tapi bagi saya alur cerita, penokohan, dan latar digambarkan dengan baik. Buku ini memiliki ending yang cukup mengejutkan dan kejutannya itu sangat beruntun hingga orang yang suka membaca dari belakang rasanya tidak akan tertantang lagi untuk membaca dari awal.

Oya, sampai sekarang saya masih bingung kenapa novel ini diberi judul “The Golden Compass” karena katanya sih hal itu tidak merujuk ke alethiometer (suatu device yang cukup jadi pusat cerita di novel ini). Padahal penulisnya, Philip Pullman tadinya memberi judul Northern Lights untuk buku pertama ini dan The Golden Compasses untuk keseluruhan trilogi (sekarang lebih dikenal dengan His Dark Materials). Apa saya yang salah memahami ya :D.

Yak apapun itu, setelah baca buku pertamanya saya langsung penasaran dengan buku keduanya. Karena tidak seperti Harry Potter yang memberikan satu konklusi di setiap akhir bukunya, saya tidak menemukan konklusi apa-apa pada buku pertama ini hingga saya menyimpulkan bahwa saya harus membaca ketiganya dulu, moga tidak mengecewakan 😛

A Thousand Splendid Suns

Hmm, padahal belum baca The Kite Runner XD. Yak ini novel yang saya baca dalam tempo berbulan-bulan, bukan hanya kendala bahasa (haha English saya memang buruk) tapi novel ini juga ketinggalan di Bandung setelah saya berdomisili beberapa bulan di Jakarta (huh ngeles :P).

Katanya sih buku ini ceritanya nggak jauh-jauh dari The Kite Runner, tentang perang di Afghanistan, kondisi masyarakat, sosial dan budayanya. Secara lebih spesifik novel ini bercerita tentang perjuangan dua orang wanita yang menjadi demikian dekat karena pengaruh perang dan suami mereka.

Buku ini memberikan saya gambaran lain tentang pola pikir orang-orang Afghanistan, pandangan mereka terhadap Taliban, terhadap Rusia, dan juga Amerika. Buku ini juga membuat saya baru mengetahui sedemikian buruknya perlakuan terhadap wanita yang Allahu’alam entah benar-benar terjadi atau tidak.

Bagi saya novel ini tidak terlalu menarik sih, rasanya terlalu bertele-tele dan ala sinetron :P. Endingnya pun tidak spesial karena dibuat terlalu panjang sementara di tengah-tengah cerita didominasi oleh kesedihan dan suasana suram. Hanya saja buku ini membuat saya bersyukur saya hidup di Indonesia, alam di mana Islam hidup dalam suasana moderat.

“One could not count the moons that shimmer on her roofs,or the thousand splendid suns that hide behind her walls.”

———————————————–

Wooot kok bacaannya novel semua ini? Hehe iya nih lagi malas baca yang berat-berat (padahal bukunya Bumi Manusia cukup berat kok dari segi massa :D), eh tapi ditengah-tengah saya masih sempetin baca buku-buku tentang kehamilan dan anak kok, tapi rasanya gimanaaa gitu kalo saya bahas disini :P. Yah mudah-mudahan kemalasan ini segera berakhir dan saya bisa membaca buku yang lebih berbobot setelah ini 🙂

Ah ya berhubung tengah terjadi berbagai bencana di Indonesia ini, saya ikut berbela sungkawa. Jika ada yang memandangnya sebagai azab, maka saya ingin ikut beristighfar karena mungkin saya ikut andil dalam dosa negara ini. Jika ada yang memandangnya sebagai ujian, maka saya berharap saya ikut lolos dalam ujian ini karena toh ujian bukan hanya untuk yang dalam kesempitan tapi juga untuk yang dalam kelapangan.

Advertisements

Haaah… Baru Baca??!!?

Beberapa waktu ini saya membaca beberapa buku yang… “Ya ampun telat banget baru baca buku itu”. Yak to the point saja, ini beberapa bukunya:

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga

Biar Kuncupnya Mekar Jadi BungaWow wow, buku apa ini? Kalau Anda berpikir ini buku untuk wanita, maka Anda tidak sepenuhnya benar. Well, buku ini adalah kumpulan tulisan dari Anis Matta, Lc. yang pernah dimuat di kolom ayah Majalah Ummi. Namanya juga kolom ayah, jelas pangsa tulisan ini adalah para ayah/suami. Tapi karena dimuat di Majalah Ummi (1997-1998), tulisan-tulisan ini sebenarnya juga agar para ibu/istri mengetahui sudut pandang seorang ayah/suami.

Hoho… jadi apa isinya? Hmm Pak Anis sendiri bilang, “Saya sedang mewakili diri saya sendiri di sini, dan bukan sekadar pikiran-pikiran saya. Maka mengalirlah tulisan-tulisan itu, dan setiap kata di dalamnya adalah sepotong hati dan seuntai anak pikiran sekaligus. Setiap kata membahasakan denyut nadi kehidupan saya.”

Buku ini menarik buat saya karena seperti tujuannya, saya bisa melihat sisi lain dari pikiran, perasaan yang dimiliki laki-laki. Dan saya pikir buku ini memang layak dibaca oleh laki-laki yang sudah menikah ataupun yang akan menikah untuk mempersiapkan beberapa sendi kehidupan rumah tangganya.

Dan seperti biasa, seperti tulisan Anis Matta yang lain… bahasanya itu loooo… saya bener-bener suka cara beliau meramu setiap untaian kata pengandaian yang manis hingga jika dimaknai akan menjadi suatu hikmah mendalam. Dan kalau biasanya saya nggak begitu suka buku pernikahan yang mehek-mehek, well, untuk yang satu ini saya nggak bisa bilang ini mehek-mehek… ini bukan tipe buku yang melenakan tentang fantasi yang indah mengenai sesuatu yang bernama pernikahan.

Maka begitulah seharusnya Anda mencintai; menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna ini terangkum dalam kata ini; menghidupkan.

Hidup ini adalah simponi yang kita mainkan dengan indah. Maka duduklah sejenak bersama pasangan Anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri; apakah ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama Anda? Mungkinkah suatu saat ia akan mengucapkan puisi Iqbal tentang gurunya, “Dan nafas cintanya meniup kuncupku maka ia mekar menjadi bunga.”

Anne of Green Gables

Anne of Green GablesNah yang satu ini adalah novel yang dibeliin amisu, karena itu novelnya berbahasa Inggris XD. Novel ini bercerita tentang Anne, seorang gadis panti asuhan yang tidak sengaja datang ke sebuah rumah. Awalnya ia tak diinginkan, namun karena segala kelebihan yang sekaligus kekurangannya, semua orang yang menemuinya bisa mencintainya.

Novel karya Lucy Maud Montgomery ini masuk dalam jajaran all time top 100 best novels versi BBC. Maklum novel ini termasuk novel “tua”, usianya sejak pertama kali diterbitkan sampai sekarang sudah mencapai 100 tahun.  Karena itu setting ceritanya pun ada di masa awal abad ke 19.

Kekuatan novel ini kalau kata saya sih ada dalam pembahasaan dan pengkarakteran yang kuat pada setiap tokoh. Bahasa yang digunakan nggak jarang hiperbolis, tapi justru itu yang membuat menarik. Tapi yang lebih penting, pembahasaannya sangat deskriptif, dan menurut saya ini adalah salah satu hal yang penting dalam sebuah narasi. Dan penokohan Anne sangat baik, saya suka cara Anne mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya, kadang menggelitik dan kadang membuat kita berpikir akan kebenaran kata-katanya.

Sayangnya, menurut saya novel ini cenderung membosankan. Ceritanya datar dan plain banget. Secara keseluruhan cerita ini “hanya” mengenai riak-riak keseharian Anne. Tidak ada satu bagian konflik hidupnya yang benar-benar ditonjolkan, karena itu nggak ada klimaks dalam ceritanya.

Oya novel ini juga ada sekuelnya, masih terusan dari kehidupan Anne ketika menjelang dewasa, menikah dan punya anak. Nah karena kebayangnya novel ini bakal mirip dengan novel pertama, saya belum baca terusannya, walo amisu beli sepaket lengkap (maaf ya :D).

Well, that is one of the things to find out sometime. Isn’t it splendid to think of all the things there are to find out about? It just makes me feel glad to be alive—it’s such an interesting world. It wouldn’t be half so interesting if we know all about everything, would it? There’d be no scope for imagination then, would there?

Arok Dedes

Arok DedesWoooo… kalo Anne agak ringan, nah ini novel yang cukup berat. Hmmm bukannya berat gimana sih, tapi kalo dibilang ini tulisannya Pramoedya Ananta Toer, pasti penggemar tulisan beliau bisa nangkap kenapa ini agak berat.

Seperti tulisan disini, berbeda dari Anne, kekuatan Pramoedya justru ada pada ceritanya. Pada penelitian sejarahnya. Pada kedalaman budayanya. Pada peramuan narasi  para tokoh dalam sejarah yang mungkin sudah kita kenal sejak SMP, tapi dulu mungkin terasa membosankan. Membuat saya berpikir, harusnya buku sejarah dibuat dalam karya sastra seperti ini saja ya 😛

Well, dari judulnya jelas kan novel ini mengusung siapa? Yak yak… novel ini bercerita tentang pemberontakan yang dipimpin oleh Ken Arok atas pemerintahan Tunggul Ametung yang tidak memuaskan masyarakat. Kalo tentang hal itu, kayaknya banyak orang yang tau, tapi saya sendiri baru tau kenapa pemberontakan itu terjadi, bagaimana itu dimulai, bagaimana pertentangan antara penganut Syiwa dan Wisnu, bagaimana penggambaran kasta-kasta dan gejolak masyarakat dalam masa ketika tingkatan kasta-kasta itu dipaksa menjadi blur. Dan dengan semua itulah novel ini menjadi sangat menarik.

Saya bener-bener suka bagaimana sejarah begitu hidup dalam sebuah cerita. Bagaimana sebuah budaya benar-benar tergambarkan. Rasanya penelitiannya begitu mendalam, sampai-sampai Pramoedya menggambarkan ciri fisik seorang kasta brahmana dengan kasta sudra yang berbeda.

Dan tentu saja hal menarik lainnya adalah intrik politik dalam novel itu. Yang masih juga berlaku sampai saat ini (memang dimaksudkan sebagai cerminan sih :P), ketika konflik kepentingan berlangsung. Ketika kekuasaan menjadi sesuatu yang membuat seseorang berubah meski awalnya terasa sangat manusiawi.

Yak, Pramoedya benar-benar penulis yang baik menurut saya, dan saya ragu akan ada penulis lain yang bisa menyampaikan sejarah, budaya, politik, agama, dan romantisme dalam saat yang bersamaan.

Thanks to my father in law who has lend me this book and explained about Javanese culture eagerly ^^.

Menjadi Manusia Pembelajar

Menjadi Manusia PembelajarHuwaaaa… ini buku yang sangat terlambat saya baca. Padahal teman-teman SMA saya sudah memperkenalkan penulisnya pada saya sejak kami masih sekolah. Siapa mang penulisnya? Andrias Harefa. Seorang pendobrak yang tidak menyukai bagaimana pendidikan formal di Indonesia berlangsung, sampai ia memutuskan untuk berhenti kuliah padahal “hanya” tinggal menyelesaikan skripsinya.

Sistem yang menjadikan pendidik hanya berfungsi sebagai pengajar. Ketika guru adalah penguasa di depan kelas dan siswa harus duduk dan menerima setiap apa yang dikatakannya. Yang menjadikan manusia-manusia Indonesia kehilangan kreatifitasnya dan akhirnya hanya mampu menjadi pekerja yang berpikir untuk bekerja di perusahaan sampai pensiun, dan kemudian ongkang-ongkang di hari tua meski mungkin kenyataannya tidak seperti itu.

Intinya buku ini mengajak kita jadi manusia pembelajar yang tidak hanya “belajar” pada institusi pendidikan. Mengajak kita untuk berpikir tentang hakikat hidup; membedakan pembelajaran, pengajaran dan pelatihan; menjadi manusia dewasa yang merdeka; menjadi pemimpin hingga akhirnya bisa menjadi guru bangsa. Bukan dalam taraf teknis, tapi dalam tataran konsep. Ini menjadikan buku ini berbeda dari buku-buku pengembangan diri pada umumnya.

Buku yang worth to read menurut saya (walo belum saya beresin nih :D), saya suka cara berpikir penulis yang menjungkir-balikkan  kondisi ideal. Saya juga suka nulikan-nukilan yang diambil dari berbagai orang yang belum pernah saya ketahui, namun begitu mengena. Dari segi bahasa, siap-siap aja untuk mendapati kata-kata yang kadang terasa terlalu jujur :P.

“Saya harap buku ini dapat menjadi warisan bagi kedua putri saya yang masih balita, terutama agar kelak mereka tidak pernah kecil hati karena ayahnya bukan sarjana, bukan doctor, tetapi “hanya” (berusaha menjadi) manusia pembelajar” –Andrias Harefa—

“Aku bukan Hatta, aku bukan Soekarno, bukan Syahrir, bukan Natsir, bukan Marx, dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan… aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari  dan terus-menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus-menerus berproses menjadi aku. Aku adalah aku pada saat sakratul maut” –Ahmad Wahib–

Digital Fortress

Digital FortressGNA… OMG… saya baru baca? Hahaha iya, padahal meski novel ini tergolong “baru” tapi sepertinya orang-orang di sekeliling saya sudah membacanya. Apalagi karena novel ini bercerita tentang kriptografi yang notabene merupakan salah satu mata kuliah di program studi saya.

Nah karena pasti udah banyak yang baca, saya nggak akan berkomentar panjang. Novel ini menarik, sepertinya sangat nyata dalam dunia intelijen. Banyak hal menegangkan, banyak hal tak terduga. Tapi buat saya juga rasanya terlalu banyak “kebetulan baik” yang terjadi dalam novel ini. Ceritanya diramu sangat baik, tapi menurut saya sih penokohannya kurang mantap :P.

Gyaaa… ini buku Dan Brown pertama yang saya baca, punya amisu yang saya culik dari Malang, sayangnya saya lupa menculik novel-novel Dan Brown lain yang dimilikinya 😀

Hufff huff, masih banyak buku yang pengen saya baca… masih banyak e-book ngantri di hard disc, masih numpuk buku di rak kakak, tapi sepertinya masih lama juga saya bisa menyelesaikan si ** agar saya bisa membaca dengan agak luang 😦


Cuplikan 1 “Balthasar’s Odyssey, Nama Tuhan yang Keseratus”

Senin, 28 Desember 1665

Aku mengajak serta Marta dan Hatem, dan dompet yang cukup penuh untuk memenuhi tuntutan seperti biasa. Abdellatif menerimaku dengan sopan di kantor yang suram yang ia huni bersama tiga pegawai lainnya yang sedang menerima “klien” mereka sendiri saat aku tiba. Ia memberi tanda padaku untuk mendekat, lalu berkata sangat lirih bahwa ia telah melihat dalam semua catatan yang bisa didapatnya, tetapi tak mampou menemukan orang yang kucari. Aku berterima kasih padanya karena telah merepotkannya dan bertanya padanya dengan tangan di dalam dompetku, berapakah biaya penyelidikan itu. Ia menyaringkan suaranya untuk menjawab.

“Biayanya 200 aspre!”

Itu mengejutkanku sebagai sebuah jumlah yang besar, walaupun bukannya tak masuk akal atau diharapkan. Aku tak ingin berdebat dan hanya meletakkan uang itu ke tangannya. Ia berterima kasih padaku dan bangkit untuk menunjukkan padaku jalan keluar. Itu sungguh mengejutkanku. Ia tak merasa harus berdiri ketika aku masuk, atu memintaku duduk, jadi mengapa kini ia harus menggandeng tanganku seakan-akan aku ini seorang kawan lama atau seorang dermawan?

Begitu kami sampai di luar ia memberikan kembali uang yang baru kuberikan padanya, melipatkan jemariku agar menggenggam keping-keping uang itu, dan berkata, “Anda tak berutang apapun padaku. Aku hanya memeriksa buku besar dan itu menjadi bagian dari pekerjaanku dimana aku telah digaji. Selamat tinggal, dan semoga Tuhan melindungi dan membantu Anda mencari apa yang Anda cari.”

Aku tercenung. Aku bertanya-tanya apakah ia sungguh-sungguh bertobat atau hanya memainkan tipuan Turki lainnya untuk mencoba mendapatkan lebih banyak uang dariku. Haruskah aku memaksanya mengambil sesuatu, atau hanya berlalu dengan kata-kata terima kasih, seperti yang tampaknya ia sarankan? Namun Marta dan Hatem yang menyaksikan semua ini memuji-muji orang itu seakan-akan mereka baru saja menyaksikan sebuah keajaiban.

“Tuhan memberkati Anda! Anda orang baik, pelayan Sultan terbaik! Semoga Yang Maha Kuasa melindungi Anda dan keluarga Anda!”

“Berhenti!” teriaknya. “Apakah kalian ingin aku mati? Pergilah, dan jangan biarkan aku melihat kalian lagi!”

Maka kami pun pergi, membawa serta pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

————-singkat cerita esoknya Balthasar kembali menemui Abdellatif————–

“Jika Anda disini untuk memberikan 200 aspre, maka Anda menyia-nyiakan waktu Anda,” ujarnya.

“Tidak,” sahutku. “Aku datang untuk kembali mengucapkan terima kasih atas kebaikan Anda. Kemarin kawan-kawanku sempat keberatan karena aku tak mengatakan betapa aku sangat berterima kasih pada Anda. Aku sudah berbulan-bulan mengurus hal ini, dan setiap kali melakukannya aku selalu berlalu sambil mengumpat. Namun, dengan Anda, aku berlalu dengan mengucap syukur pada Tuhan dan pemerintah, meski aku tidak semakin dekat dengan tujuanku karenanya. Sangat ganjil di zaman sekarang ini bisa menemui seseorang yang bermartabat. Aku bisa memahami pujian kawan-kawanku terhadap Anda, tetapi itu hanya menyinggung kebersahajaan Anda, dan Anda meminta mereka berhenti.”

Aku belum juga mempertanyakan apa yang sudah ada diujung lidahku. Lelaki itu tersenyum, mengembuskan napas berat, dan menepuk bahuku.

“Aku tidak bersahaja. Aku hanya berhati-hati saja,” ujarnya.

Ia terdiam sejenak dan tampak menimbang-nimbang kalimatnya. Kemudian ia memandang ke sekelilingnya untuk memastikan tak ada seorang pun yang mengawasi kami.

“Di tempat sebagian besar orang memperlakukan uang dengan wajar, siapapun yang menolaknya akan dilihat orang lain sebagai ancaman, Mungkin saja ada orang yang melapor. Dan mereka akan melakukan apa pun untuk menyingkirkannya. Aku baru saja diperingatkan, ‘Jika kau ingin mempertahankan kepalamu di atas kedua bahumu, lakukan apa yang kami lakukan dan jangan bersikap seakan-akan kau ini lebih baik atau lebih buruk dari kami semua.’ Maka, karena aku sama sekali tidak ingin mati, meski aku juga tidak ingin berbuat dosa dan mendapat hukumannya, aku lebih memilih bersikap seperti yang kulakukan pada Anda kemarin. Di tempat ini, aku menjual diriku, dan di luar aku menebus harga diriku.”

Betapa kita hidup di zaman yang aneh, tatkala kebaikan harus menyamarkan diri di balik pakaian lusuh setan!

Mungkin memang telah tiba saatnya dunia ini kiamat.


Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources

Kalau ditanya, siapa aja tokoh di film Ayat-Ayat Cinta, dan siapa pemerannya, mungkin banyak diantara kita yang hapal. Tapi kalau ditanya… siapa aja sahabat Rasul yang dijamin masuk surga? Atau siapa aja assabiquunal awwaluun? Atau siapa aja putra-putri nabi? Saya pun belum tentu lancar menjawabnya.

Malu… ya…. Padahal ada banyak pelajaran ketika kita belajar sirah nabi. Padahal ada banyak hal yang mengharu hijau (pinjem istilah orang ini) dalam setiap kisah perjalanan beliau. Padahal ada banyak yang harus diteladani. Ada banyak hal yang menjadikan kuat dan menguatkan.

Saya memang nangis baca novel Ayat-Ayat Cinta (pas si Fahri mimpi ketemu Ibnu Mas’ud yang tentu aja nggak ada di filmnya :p, tapi anehnya saya nggak nangis pas Maria meninggal :p). Tapi seingat saya, baca Sirah Nabawiyah memaksa saya menangis lebih “banyak”.

Jadi di resensi kali ini, saya pingin cerita tentang salah satu buku tentang Rasulullah. Yup buku karya seorang muallaf bernama asli Martin Lings ini mungkin memang terlihat biasa aja, nggak jauh beda sama buku tentang Rasulullah yang lain. Yang membuat saya pingin baca adalah karena si penulisnya seorang muallaf asal Inggris 🙂 dan buku ini udah diterjemahin ke lebih dari 10 bahasa.

Buku ini nggak “senovel” buku Dialah Muhammad, tapi nggak juga “seanalitik” Sirah Nabawiyah karya Al-Buthy apalagi Manhaj Harakiy-nya Al-Ghadban. Mungkin cukup mirip sama Sirah Nabawiyah-nya Mubarakfurry.

Yang saya suka dari buku ini adalah, saya dapat cukup banyak hal baru yang nggak saya temui dari keempat buku yang saya tulis di atas (walau dari keempat buku itu saya dapat hal yang lain juga, yaaah intinya saling melengkapi lah). Salah satunya adalah silsilah yang cukup lengkap. Kalau dulu saya bingung denger Khadijah bilang ke Rasulullah, “Wahai anak pamanku…” kirain itu cuma istilah Arab doang buat romantis-romantisan :p, ternyata emang mereka masih ada ikatan darah.

Hal lain yang saya suka adalah cara si penulis menyisip-nyisipkan ayat Al Qur’an. Rasanya pas dan manis. Selain itu, gaya bahasanya nggak berlebihan, dan apa adanya.

Walau ada beberapa pendapat yang mempermasalahkan beberapa isi dari buku ini, menurut saya itu justru menambah daya tarik untuk mengkajinya lebih dalam yang mana yang benar (gyahahaha, iya gitu Nis? sok sokan banget :p).

Dan jangan salah sangka dulu ya, karena sebenarnya saya belum selesai baca buku ini, tapi udah pingin posting tentang buku ini 😀

I miss u yaa Rasulullah…


Road To Mecca

Pernah baca buku ini? Sebenernya udah cukup lama saya baca buku ini, tapi entah kenapa akhir-kahir ini kepikiran lagi, dan pingin nulisin tentang buku ini.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Isinya tentang apa? Yaaa perjalanan menuju Mekah… hehe, secara eksplisit

sih begitu, tapi secara implisit… subtantivelyindeed… novel ini mengisahkan perjalanan seorang manusia bernama Leopold Weiss alias Muhammad Asad (si pengarang sendiri) menuju Islam.

Walaupun dibawakan dengan alur yang maju mundur maju mundur maju terus mundur lagi, dan walau nggak se-nyastra Leo Tolstoy atau Pramoedya Ananta Toer, tapi karena latar belakang si pengarang yang merupakan seorang jurnalis, penuturannya tetap nikmat dikemil dengan bahasa yang mudah dicerna (ini bacaan atau cemilan???).

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Di beberapa scene, saya nangis… terutama saat si penulis bertemu seseorang dalam mimpinya. Orang yang kemudian membawanya menuju sebuah jalan. Menurut penakwilan seorang ulama, orang dalam mimpinya itu adalah Rasulullah…. Padahal kalau saya nggak salah, saat ia bermimpi, ia masih seorang Yahudi. Mimpi bertemu Rasulullah… sebuah mimpi yang saya sungguh tak berani untuk bermimpi untuk memimpikannya….

Dengan latar perang dunia 2, Leopold menceritakan pengalamannya berkelana. Kerasnya padang pasir…. Persaudaraan dalam Islam…. Ia juga sempat bertemu dengan Umar Mukhtar (Si Lion Of The Desert itu lho…) di Libya.

Dan wow, baru tau juga pas buka-buka ini, ternyata udah dibikin film lho. Huhu ada yang punya…?

Sering malu… seorang mualaf, biasanya lebih bersemangat belajar Islam lebih dari seorang muslim yang mengaku muslim sejak lahir. Sering aneh… padahal Islam itu indah, tapi banyak yang hanya melihatnya dari paradigma yang salah (nggak mau ngebahas film… :P). Sering takut… seandainya saya….

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Q.S. Ali Imran: 102)


Setan Angka

Setan AngkaBTW rajin banget sih saya posting? Maaf ya, buat yang bosen nggak usah baca aja :p

Yup, kali ini mau cerita tentang sebuah buku berjudul Setan Angka karya Hans Magnus Enzenberger. Buku ini bukan tentang setan dan hal-hal mistis macam uka-uka, bukan juga tentang angka-angka yang dipercaya punya “kekuatan gaib”, dan bukan buat nakut-nakutin Matematika kok… justru mengetengahkan Matematika dan angka sebagai sesuatu yang bisa dipandang dari sisi lain.

Buku ini bener-bener menggabungkan sisi lain dari cara memahami Matematika dengan khayalan yang mungkin cuma dilakukan oleh anak kecil. (more…)


Arus Balik dan Makna Kepahlawanan

Arus Balik karya Pramoedya Ananta ToerSuka tulisan Pramoedya Ananta Toer? Kalau ya, pasti nggak akan ngelewatin novelnya yang satu ini: Arus Balik. Novel lama sih, tahun 95, tapi seperti tulisan Pramoedya yang lain, novel ini tetap asyik dikunyah kapanpun.

Saya penggemar Pramoedya? Bukan, bahkan novel ini baru novel pertama-nya yang saya baca (masalahnya nggak punya, dan belum punya link buat minjem ^^’). Lagipula saya nggak hobi baca, cuma gara-gara saya hobi nulis, saya harus rajin baca buat referensi yang akan saya tulis, yah seperti teko yang harus berisi kalau mau nuang air ke gelas (ini merendah atau justru sok-sokan? >_<).

Di luar konteks kisah hidupnya yang juga menarik disimak, novel ini cukup menarik terutama buat penggemar sejarah, sastra atau sekadar kata-kata tentang alam yang puitis (karena memang ini yang jadi salah satu penyebab saya bertahan membaca novel yang hampir setebal buku AI itu [sekitar 700 halaman], kekuatan personifikasi yang memang melekat pada diri Pramoedya).

Arus Balik, secara general, bercerita tentang upaya mengembalikan arus dari selatan ke utara yang pernah terjadi pada masa kejayaan Majapahit (di novel ini diceritakan bahwa pada masa kejayaannya, Majapahit dapat mempengaruhi bangsa-bangsa di utara lho, jadi sedikit bertanya, “Wah, emang iya ya?” à Anis, Anis kok skeptis dengan bangsa sendiri sih?). Karena arus yang melanda pada saat itu berubah menjadi arus utara ke selatan, pemikiran, budaya, teknologi, hampir semuanya…. Dan yang saya pikir, novel ini “menantang” orang-orang kini untuk menyelesaikan upaya “arus balik” yang belum juga purna (atau bahkan belum dimulai ya? Atau bahkan kita tak pernah berpikir tentang itu, “Ya so what gitu, yang penting saya nyaman dengan kondisi saya, tak peduli saya ikut arus yang mana…”).

Oke cukup pembukaannya, saya sebenarnya ingin membahas makna yang saya tangkap (dengan susah payah >_<) setelah membaca novel itu: kepahlawanan. Novel itu bercerita tentang sepasang orang ndeso bernama Wiranggaleng dan Idayu dan usaha mereka mempertahankan idealisme mereka di tengah perubahan yang mendesak mereka: kehadiran Peranggi (Portugis), dalam setting Nusantara lama, kekalutan perebutan kekuasaan, upaya menyatukan nusantara kembali seperti pada jaman Majapahit, “kekaguman” akan bangsa berkulit putih dan peralatan canggihnya (meriam), dan usaha mengusir penjajah atau berkompromi dengan mereka.

Singkat cerita, Galeng yang tadinya seorang petani sederhana, setelah melalui beragam kemelut, berhasil menjadi seorang panglima besar demi mempertahankan Nusantara dari tangan penjajah (kalau mau tahu cerita lengkapnya baca aja ya, hehe tapi jangan pinjam sama saya, soalnya saya juga pinjam ^^’). Ia sesungguhnya sangat mampu menjadi bagian dari buku sejarah yang beredar di kalangan siswa SD sebagai pahlawan Nasional (jika Galeng bukan tokoh fiktif, karena yang saya tangkap, novel itu dibuat berdasarkan pengamatan dan penelitian yang cukup mendetail), namun idealisme-nya justru membuatnya “hanya” dikenang oleh orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya.

Menjadi pahlawan, memang sebuah pilihan. Bukan hanya mengenai bakat dan kesempatan, ia juga mewakili keterdesakan kebutuhan akan hadirnya pahlawan itu sendiri, dan pastinya seperti yang sudah disebutkan: pilihan.

Bukan, bagi saya pahlawan bukan berarti seseorang yang memiliki sayap hingga bisa terbang, atau bisa melayang dengan jaring laba-laba, atau lainnya (karena itu termasuk kategori superhero bukan hero, ya kan?). Di mata saya pahlawan lebih pada seseorang yang dengan kemampuan yang ia miliki, kesempatan yang menghampirinya, dan pilihan sadar yang ia buat, ia berani menjawab kebutuhan lingkungannya, dengan beragam konsekuensi yang akan menghampirinya.

Sayang, saya jarang menemukan orang seperti Galeng yang demikian sederhana namun memegang kuat apa yang ia yakini sehingga “rela” melepaskan godaan menjadi seorang pahlawan besar untuk kemudian “cukup” menjadi pahlawan di hati orang-orang yang ia cintai. Bukan, saya bukannya menyalahkan orang-orang yang memang memiliki kapabilitas untuk menjadi pahlawan bagi banyak orang (walau tidak meniatkan dirinya untuk dielukan sebagai “pahlawan”). Saya hanya menyayangkan keinginan berlebihan untuk meraih prestige sebagai pahlawan namun melupakan orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi “korban kepahlawanan” pertamanya. Sehingga justru orang terdekatnyalah yang menjadi musuhnya.

Allahu’alam bishawab

Untuk seseorang yang masih juga ingin dielukan sebagai pahlawan untuk setiap kebaikan kecil yang ia lakukan. (wah siapa tuh Nis? Ya… saya sendiri! >_<)